Meira

Meira
BAB. 6



"Meira, nanti setelah pulang kampus kamu langsung ke rumah tante kamu ya? Rumahnya kan nggak jauh dari kampus kamu." minta ibunya yang masih sibuk menata makanan di atas meja.


"Ada barang yang harus kamu ambil di sana." lanjut ibunya.


"Meira nggak ingat jalannya. Meira cuma tahu jalan rumah ke kampus." polos Meira, Meira memang paling tidak bisa mengingat jalan. Dia taunya cuma rumah dan kampus karena setiap hari dia lewati. Untungnya untuk pelajaran dia masih bisa menerimanya meski tidak terlalu pintar.


"Ya sudah, nanti kamu tunggu adik kamu saja di kampus." Suruh ayahnya, dia tahu betul kondisi Meira seperti apa. Mungkin buat orang lain mencari alamat rumah yang pernah didatangi beberapa kali itu mudah tapi buat Meira itu sangat sulit. Dulu saja ayah dan adik Meira harus bergantian mengantar jemput Meira ke kampus, mungkin hampir satu bulanan dan ibunya juga menemani Meira untuk naik angkot mana saja yang boleh digunakan.


"Iya, tunggu aku di kampus. Awas jangan kemana-mana." peringat adiknya. Rado meski menyebalkan dia sangat sayang pada kakaknya yang cuma beda tiga tahun itu. Tiga tahun yang lalu Rado menangis hebat karena hampir kehilangan kakak perempuannya ini, dia pernah berjanji tidak masalah Meira akan merepotkannya seumur hidup, asalkan kakaknya bisa terus hidup.


Rado bahkan memiliki sikap yang lebih dewasa dibanding Meira, sepertinya Rado memang lebih cocok menjadi seorang kakak buat Meira.


 


* * *


 


"Ingat ya Meira, tunggu aku sampai datang menjemput dan jangan kemana-mana." ingatkan Rado lagi setelah mereka sampai dan menurunkan Meira di depan parkir kampusnya yang masih sepi.


Seperti biasa Meira berangkat lebih pagi kalau mau nebeng sama adiknya itu.


"Iya ih..., Radodo bawel banget deh." kesal Meira dengan bibir manyunnya.


"Bawelan mana sama loe?" sindirnya balik.


"Iih... Meira Aduin sama ibu, kalau Radodo pakai kata loe." ancam Meira dengan mengacak pinggang.


"Cuma sekali ini doang." kilahnya, dalam keluarganya memang dilarang menggunakan kata loe-gue.


"Hai Meira." sapa Zaden yang baru memarkirkan mobilnya. Dia dan teman-temannya sengaja datang lebih awal untuk latihan basket.


"Wah putri merah dicuekin pangeran es nih." sambung Christ. Mereka berpapasan di tempat parkir. Sedangkan Alando berlalu begitu saja tanpa mau menoleh.


"Teman kak Zad Zad yang matanya sipit sedang mendongeng ya?" tanya Meira. Dan itu membuat Christ jadi kesal.


'Memang dia tukang dongeng apa?' pikir Christ.


"Wah rasis nih anak." Christ sangat tidak suka kalau ada yang menyindir matanya, "Gue Christ. CHRIST bukan teman kak Zad Zad yang matanya sipit." omel Christ yang kini matanya melotot kepada Meira.


Sedangkan Meira bukannya takut malah melongo menatap Christ bingung.


'Salah Meira apa?'


"Apaan loe, marahin kakak gue?" kesal Rado yang dari tadi melihat kakaknya diomelin orang yang tidak dikenalnya.


"Oh jadi loe adiknya, sekolah mana loe?" Christ memandang Rado yang masih memakai seragam sekolah, seakan meremehkan.


"STM. Ngapain nanya-nanya?" jawab Rado ketus. Tidak peduli orang di depannya lebih tua darinya apalagi ini adalah kampus tempat orang itu kuliah, bisa dikatakan ini adalah wilayahnya.


"Nanya doang, ah sepertinya latihan sudah di mulai." ucapnya dan langsung menjauh dari parkiran. Konon katanya anak STM suka tawuran, karena itu Christ tidak mau mendapat masalah dengan bocah itu.


"Tenang bro, gue nggak ikut-ikutan." jelas Zaden setelah melihat tatapan tidak suka dari adiknya Meira, "Gue jagain Meira di kampus." lanjutnya. Terlihat adiknya ini sangat protectif pada kakak perempuannya.


"Udah sana, nanti Radodo bisa terlambat sekolahnya." suruh Meira kepada Rado.


"Oke. Kalau ada apa-apa telpon aku." sahut Rado  sambil melirik Zaden yang cuma bersikap bodo amat. Rado pun segera mengarahkan motor maticnya ke luar parkiran kampus dan menghilang di balik gerbang kampus itu.


"Kak Zad Zad kok pagi banget datangnya?" tanya Meira.


"Iya, ada latihan basket hari ini. Jadi kami datang lebih pagi." sahut Zaden dengan senyum ramahnya yang selalu dia tunjukan pada Meira.


"Oh. Kirain Meira ada yang mau Kak Zad zad dan Kak Al Al matiin." sahut Meira sambil senyum-senyum mengingat kejadian tiga hari yang lalu.


"Matiin?" beonya, Zaden bingung dengan ucapan Meira.


"Iya, kemarin kan Kak Zad zad dan Kak Al Al datangnya pagi-pagi banget waktu mau matiin Meira." Meira tampak cengengesan mengingatnya.


"Untung nggak jadi, Meira selamat." lanjutnya dengan wajah ceria.


"Haa... haa... oh waktu itu." Zaden mengingat  kejadian 3 hari yang lalu saat dia dan Alando  mendatangi Meira ke kelasnya pagi-pagi sekali hanya ingin memberi pelajaran kepada gadis di depannya ini.


"Tapi kali ini, kami beneran mau latihan basket. Alando juga main, Meira nggak mau melihatnya?" tanya Zaden.


"Meira boleh melihat kak Al Al latihan basket?" tanya Meira senang bahkan loncat-loncat kecil.


"Tentu saja, Alando pasti senang lihat Meira." bohong Zaden, dia sengaja ingin mendekatkan mereka. Sifat Meira yang periang dan lugu pasti mampu mengatasi sifat pemarah Alando, "Ayo." Zaden mengajak Meira berjalan ke arah gedung basket. Lagi pula jam kuliah masih cukup lama, Meira masih punya banyak waktu.


Meira duduk manis di kursi penonton, dan memberi semangat untuk Alando, hingga membuat Alando kesal.


"Kak Al Al fighting." semangat Meira dengan mengangkat kedua tangannya.


"Ngapain sih loe ajak tuh cewek aneh." sewot Alando pada Zaden.


"Terserah siapa pun namanya." Alando menoleh ke arah Meira yang dari tadi terus dadah-dadah dengan senyum lebarnya persis anak umur 5 tahun tanpa peduli sekelilingnya. Bahkan membuat teman tim basketnya pada geleng-geleng kepala melihatnya.


"Meira maniskan?" tanyanya pada Alando dengan tujuan menggoda. "Dia suka banget kayaknya sama loe." tambah Zaden kemudian, dia tertawa puas melihat kekesalan Alando.


Alando menoleh sinis kepada Zaden, "Lupakan." Alando melanjutkan latihannya sendiri ke tengah lapangan mengabaikan godaan-godaan para sahabatnya.


"Serius! Meira suka sama Alando?" tanya Steven pada Zaden dengan gaya cueknya.


"Terlihat kan, Meira dari tadi senyum-senyum memuja gitu, sambil dadah-dadah lagi." bukan Zaden yang menjawab tapi Kenny yang dari tadi memperhatikan tingkah Meira.


"Cocok sih, Alando kan pemarah tuh, sedangkan Meira otaknya entah dia titipin di mana. Jadi tidak akan berpengaruh buat Meira kayaknya." jelas Christ.


"Heii..." Zaden menepuk kencang bahu Christ kesal, "Maksud loe Meira oon gitu?"


"Bukan gue yang bilang loh." Christ langsung pergi dari amukan Zaden.


"Christ jangan kabur loe." kejar Zaden.


                *  *  *


"Meira, mau ikut aku pulang?" tanya Ami ketika melihat Meira masih duduk di taman kampus. Meira menggelengkan kepalanya.


"Meira akan dijemput Radodo." sahutnya.


"Oh ya udah kalau gitu, aku duluan ya?" Ami pergi dengan motornya. Hingga beberapa menit kemudian Meira melihat Alando berjalan menuju parkiran sendirian.


"Kak Al Al..." panggil Meira berlari kecil menghampiri Alando.


"Apa?" tanya Alando jutek ketika Meira sudah ada di dekatnya.


"Kak Al Al mau pulang ya?" sapa Meira dengan tas ransel pink yang setia menggantung di punggungnya.


"Hemm..." Alando menuju motornya tanpa mempedulikan Meira yang mengikutinya dari belakang. Alando sudah menaiki motor dan menghidupkan mesinnya namun Meira tetap berada di dekatnya, "Gue nggak akan mengantar loe lagi." tolehnya pada Meira.


"Meira tau kok, kan Meira lagi nunggu Radodo." jawabnya polos dengan muka lugunya.


"Terus kenapa masih di sini?" tanya Alando kesal.


"Meira mau lihat kak Al Al." dengan senyum manisnya Meira terus memandang Alando yang mukanya makin jutek.


"Haahh...! Sekarang gue tanya, loe suka sama gue?" tanyanya dengan pandangan menyelidik. Bukannya ge'er tapi sikap Meira beberapa hari ini yang menunjukkannya.


"Iya, suka." Meira mengangguk-nganggukkan kepalanya beberapa kali dengan senyum malu-malu kucingnya. "Suka banget." tambahnya dengan mata berbinar.


"Tapi gue nggak suka sama loe." jawab Alando tanpa perasaan.


"Oh... kalau besok?" tanya Meira polos.


"ENGGAK." tegas Alando.


"Besoknya lagi?"


"ENGGAK!"


"Kalau begitu besoknya lagi." Meira tetap dengan pandangan polosnya seolah ingin mendapat jawaban berbeda.


"Haahh..." Alando menarik napas dalam meredakan emosinya, "Gue cape ngomong sama loe." kesal Alando.


"Oh. Ya udah kak Al Al istirahat aja di rumah, terus tidur mimpiin Meira." sahutnya berubah ke mode ceria.


"Never." ketus Alando.


"MEIRA..." panggil Rado dari jauh yang sudah datang menjemput.


"Oh. Radodo sudah jemput Meira." tolehnya pada pelajar berseragam SMA di depan gerbang kampus dan kembali menatap Alando.


"Dadah kak Al Al... Meira pulang dulu." Dia melambaikan tangannya pada Alando yang tampak kesal kemudian Meira pun berlalu menuju jemputannya.


"Sumpah nih cewek bikin kesal gue aja."  Alando bermonolog sendiri setelah kepergian Meira.


****


Alando Garindra



Vote, like dan koment ya...


***