Meira

Meira
BAB. 59



Undangan telah berdatangan, begitu pun Ami dan Mita serta Reno yang juga hadir menemani Ami. Selain mereka ternyata ada tamu yang lebih istimewa.


"Duhh sayang, tante kangen deh sama kamu." Seru maminya Christ yang sangat antusias saat melihat Meira yang tampil sangat manis dengan gaun putihnya. Dengan gemesnya mencium pipi kanan dan kiri Meira. "Tante juga bawa hadiah buat kamu." Tambahnya.


"Terima kasih tante, Meira juga kangen sama tante tapi nggak bisa ketemu, kak Kris kris nggak pernah ajak Meira temuin tante." Sahut Meira.


"Iya, nanti tante marahin tuh anak."


"Mami kok juga ada di sini sih?" tanya Christ kaget, padahal dia tidak pernah mengasih tau tentang pesta ini. Nanti Maminya tau lagi ada perempuan yang sudah dia taksir di kampusnya. Masalahnya teman-temannya tidak bisa jaga rahasia dengan baik. Lagi pula dia masih dalam pendekatan bukan penjajakan, dia belum bisa memperkenalkan gadis itu pada Maminya.


"Kenapa, nggak boleh? Mami kan juga dapat undangannya. Lagi pula Mami kangen banget sama Meira, kan sudah lama nggak bertemu." Tuturnya dan memegang tangan Meira. Rasa ingin memiliki anak perempuan memang masih ada di hatinya tapi berhubung sudah tidak bisa akhirnya Meira lah yang bisa dia anggap menjadi putri idamannya selama ini.


"Meira yang kasih, titip sama kak Zad Zad. Iya kan kak Zad Zad?" tanya Meira lugu dan terlihat bahagia tanpa merasa bersalah atau takut melihat muka kesal kak Kris Kris di sampingnya.


"Iya Meira, lagi pula Tante Sisi memang harus hadir di pesta ini." Cengirnya, sekali-kali dia juga ingin berbuat usil pada Christ, masa dia terus yang diusilin. "Siapa tau di pesta ini Tante Sisi bisa bertemu cewek yang di sukai Christ." Lanjutnya.


"Apaan, Mami bagaimana kalau aku temani ambil makanan." Christ gugup dan berusaha mengalihkan perhatian maminya.


"Cewek yang disukai kak Kris Kris siapa sih kak Zad Zad? Sansan kan sudah ngidam gara-gara kak Kris Kris!" polosnya, dan memandang Zaden penasaran. Tapi bukannya menjawab, Zaden malah ikutan kaget dibuatnya.


"Ngidam...?" kaget Zaden.


"Mampu* gue."


"Meira...!!"


"Hahhh...!!" Seru semua orang, shock.


Suasana jadi kacau, mereka jadi gelagapan dengan pikiran masing-masing, bahkan Mami Christ tampak bingung. Memang Maminya ingin anak lelakinya itu memiliki pacar yang bisa dia ajak jalan-jalan atau sekedar menemaninya mengobrol di saat kesepian tapi bukan hal mengejutkan seperti ini yang ingin dia dengar.


"Meira salah ngomong ya? Maaf." Ujarnya takut ketika melihat semua wajah di sekitarnya terlihat shock dan terpaku diam, tidak tau harus menanggapi apa.


"Itu nggak benar Mi, cuma candaan. Tapi Meira tidak mengerti dengan candaanku." Jelas Christ dengan cengiran yang dipaksakan. Dia bahkan meminta bantuan dari teman-temannya dengan gerakan tubuh. Apalagi semua mata terarah pada kerumunan mereka saat ini, penasaran dan ingin tahu masalah orang lain sudah menjadi sifat alami manusia.


"Iya tante, jangan anggap omongan Meira ini serius. Dia tidak tau kalau omongan Christ itu cuma bercanda." Alando tidak mau terjadi masalah di pestanya ini karena itu dia mengklarifikasi ucapan tunangannya, salahkan Christ yang asal ngomong di depan gadis lugunya ini.


"Oh itu cuma candaan ya kak Al Al?" tanyanya lagi dan diangguki oleh Alando.


"Tentu saja itu cuma candaan Meira, aku nggak mungkin melakukan hal seperti itu." omel Sany, hampir saja semua orang salah paham dengan hubungan mereka. Dia tidak mau harus mengalami nasib seperti tokoh-tokoh novel yang tiba-tiba harus menikah karena salah paham, big no. Dia hanya akan menikah karena cinta.


"Hahh... Mami lega mendengarnya, makanya kalau ngomong itu dipikir dulu. Mami sunat dua kali kamu kalau sampai melakukan hal seperti itu." Omel tante Sisi, "Oh ya, terus yang mana namanya Sansan?" tanya tante Sisi.


"Meira, aku mau cari Ami dulu ya...?" bisik Sany di telinga Meira dan ingin pergi dari sana.


"Tapi kan tante maminya kak Kris Kris lagi nanyain Sansan, kok mau pergi?"


"Meira...!" geram Sany mau tidak mau dia harus memperkenalkan dirinya pada maminya Kak Christ. "Malam tante, aku Sany tante. Tapi sungguh kami nggak ada hubungan apa-apa." Gugupnya.


"Oh, tapi kalau ada hubungan pun tante nggak masalah. Ya udah, bagaimana kalau kita ngobrol di sana aja." Ajak Maminya Christ, "Oh ya sayang kamu mau ikut tante juga nggak." tanyanya pada Meira.


"Iy..."


"Maaf tante, Meira biar sama aku aja." Tolak Alando halus sebelum Meira mengiyakan.


"Oke, tante mengerti hahaa..." dasar anak muda zaman sekarang, batin mami Christ. kemudian menjauh dari sana dan mengajak Sany yang kebingungan ingin menolak secara halus namun tidak sopan sama orang tua, pikir Sany.


Seorang gadis cantik tampak mempesona dengan rambut panjangnya yang lurus dan hitam serta gaun yang indah dan pas di tubuhnya meski terlihat sederhana tapi karena orang yang mengenakannya sangat cantik hingga membuat gaun itu kelihatan indah. Dia melangkah tanpa menghiraukan pandangan orang sekelilingnya dan sesekali menoleh pada sekitarnya mencari seseorang yang sudah mengundangnya.


"Kak Santan..., Meira di sini." Teriakan dan lambaian tangan Meira mau tidak mau membuat Kara mengalihkan perhatiannya. Gadis manis yang sudah mengundangnya, sebenarnya Kara paling malas ke acara seperti ini, apalagi ada seseorang yang selalu memandangnya sinis. Entahlah apa masalah yang sudah dia buat, perasaan dia bukan orang jahat yang selalu mencari masalah dengan orang lain. Apa karena dia dari kalangan bawah, tapi... ya sudahlah bodo amat.


Kara menerbitkan senyumnya ke arah Meira dan mendekat ke tempat dia dan ZACKS yang saat ini sedang berkumpul, "Hai Meira, maaf ya aku terlambat." Ucap Kara basa-basi.


'Pandangan sinis itu lagi, ahhh.. kesel. Dasar cowok sok ganteng untung kaya, tapi emang ganteng sih, batinnya.


'Mau aku pelet ya bang? Entar deh aku cari dukun paling sakti dulu di kampungku.' Pikiran-pikiran aneh terus mengisi otaknya, sepertinya otak Kara udah tidak waras gara-gara mata sinis itu.


Sadar Kara sadar. "Duk..duk.." dia memukul kepalanya untuk menyadarkan diri.


"Kak santan kenapa? Kepalanya kok dipukul-pukul gitu?" tanya Meira heran, melihat tingkah Kara yang tidak biasanya, memang sih dia baru kenal dan belum tau banyak tentang teman barunya itu.


"Oh, eh... itu, kepalaku lagi sakit. Tadi jalanan macet, macet banget hehee..." tawanya. Kara salah tingkah, dia jadi malu sendiri akan sikapnya, ternyata pura-pura jadi gadis kalem itu melelahkan. Sekarang dia mau jadi diri sendiri aja, lagi pula dia sudah tidak bekerja untuk Olivia lagi, udah dipecat tapi dia senang sudah membuat mantan nona majikannya itu kesulitan di kampusnya.


"Kalau begitu kak Santan nggak usah pikirin macet lagi entar kepalanya tambah sakit." saran Meira, "Kak Santan makan aja dulu biar sehat lagi." tambahnya.


"Iya, kurasa aku butuh minum, ya udah aku kesana dulu." Pamit Kara melewati lelaki pemilik mata angkuh itu. Kini dia menatap meja yang penuh makanan lezat yang jarang dia makan, Kara memandang sekitarnya memperhatikan orang-orang yang bergaya sok elegan, cuma memakan satu dua kue seolah kalau memakan banyak makanan akan membuat mereka terlihat kemiskinannya, oh mungkin itu cuma berlaku untuk Kara.


"Bodo amatlah... ini lumayan buat mengirit pengeluaran malam ini." Ucap Kara untuk dirinya sendiri, maklum sekarang dia sudah jadi pengangguran menyedihkan, setidaknya dia harus pandai-pandai mengelola keuangan sampai mendapatkan pekerjaan lagi. Kara mengambil piring dan memenuhi tempat kosong yang ada di piring.


"Ini satu, ini satu, ini juga, oh ini juga.." satu persatu setiap jenis masakan, kue-kue kecil masuk list piringnya. Sekiranya sudah cukup banyak untuk mengganjal perutnya malam ini Kara membawanya ke meja kosong yang paling pojok biar aman dari bisikan orang orang yang suka kepo.


"Waw... ternyata ada yang satu server sama kita." Ucap Dito keras dari samping Kara, tidak menyangka di pesta orang kaya seperti ini ada manusia kere seperti mereka juga, nggak ada jaim-jaimnya mengambil banyak makanan. Parahnya dia adalah perempuan, yang terbiasa bersikap anggun.


Kara menoleh menatap orang yang bicara di sampingnya, "Kamu ngomongin saya, satu server maksudnya apa?" tanyanya berturut-turut pada tiga orang laki-laki yang dia yakin lebih muda darinya.


"Waw... bidadari." Kagum Dito dan Zaki. Terpesona akan kecantikan perempuan yang ada di samping mereka, tempat duduk mereka cuma berjarak satu meja.


"Apa...?"


"Bisa nggak sih kalian jaim dikit, nggak usah malu-maluin." Tegur Rado pada kedua temannya, selalu seperti itu kalau melihat perempuan cantik.


"Kalian belum jawab pertanyaan saya ya." Kesal Kara, dia paling tidak suka kalau pertanyaannya diabaikan begitu saja.


"Hehe... bercanda mbak, habisnya mbaknya cantik banget tapi makannya banyak juga." Cengir Dito takut membuat perempuan itu tersinggung dan tiba-tiba menyiram air kemukanya seperti di film film itu, tapi dia juga paling nggak bisa bohong, "Beda kalau kami bertiga, kami mah sudah dikenal cowok-cowok kece bin kere sesatu sekolah." Lanjutnya.


"Loe aja kali, kita berdua mah enggak kere." Protes Zaki, dia tidak terima dibilang Kere meski kenyataannya memang seperti itu.


"Gue mah calon adik ipar orang kaya di masa depan." bangga Rado yang sebentar lagi kakak perempuannya akan memiliki mertua kaya, siapa tau bisa kecipratan beberapa ratus ribu tiap minggunya, pikir Rado matre mendadak.


"Percuma kan banyak makanan tapi dianggurin, lagi pula saya sudah keluar ongkos taxi kemari. Anggap saja ini ganti rugi uang yang saya keluarkan." Jawab Kara santai tanpa mau memikirkan pandangan mereka terhadap dirinya. Apalagi untuk gadis yang sedang patah hati karena php tuan muda bekas majikannya yang sok baik itu, saat ini dia butuh makan banyak untuk mengganti energi yang habis karena tangisannya seminggu ini.


"Nah, itu benar, gue juga rugi bensin." Sahut Zaki mengiyakan. Rado dan Dito saling berpandangan dan akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya.


'Ternyata ada yang lebih parah dari mereka.'


"Nggak nyangka ternyata makan loe banyak juga? Ckckk..." decak Zaden, yang tiba-tiba menghampiri meja Kara dan mengejeknya.


Vote, like dan komen ya