
Jam kuliah sudah berakhir untuk hari ini namun seorang Meira belum dia ketemui sampai sekarang. Tidak biasanya Meira seperti ini, Meira itu ibarat permen karet susah dilepas dan selalu menempel padanya.
Entahlah kenapa! yang pasti Alando sudah terbiasa melihat Meira dan senyum manisnya serta celotehannya yang nggak habis-habis meski itu hanya akan menambah sakit kepalanya. Tapi dengan tidak melihatnya sekarang justru membuat Alando semakin gelisah. Apa Meira benar-benar sudah bosan mengikutinya seperti apa yang dikatakan Kenny sahabatnya itu.
"Zaden...?" pangil Alando pada Zaden yang sekarang berada di depannya, sekarang mereka berempat sudah berada di luar ruangan namun masih dalam lingkungan kampus, bersiap untuk pergi ke kantor mereka.
"Hemm..." Sahut Zaden yang menghentikan langkahnya dan berpaling menghadap Alando yang berada di belakangnya.
"Gue mungkin sedikit telat ke kantor, nggak apa-apa kan?"
"Ya nggak apa-apa. Emang loe mau kemana?" tanya Zaden santai.
"Cari Meira lah pasti, satu hari nggak ketemu rasanya ada yang hilang." goda Kenny yang dari tadi kerjaannya cuma menggombali para mahasiswi cantik yang dia lewati.
"Apanya tuh yang hilang?" tambah Christ. Mereka berdua emang cocok menjadi duo pengganggu.
"Separuh jiwaku yang hilang." sahut Kenny seperti orang yang lagi baca puisi.
"Berisik kalian berdua! sudah gue cabut." pamit Alando.
"Oke." sahut Zaden. Diantara mereka memang Zaden lah yang paling dewasa.
Setelah memisahkan diri dari teman-temannya tentu saja ada seseorang yang harus dia temui. Seorang gadis yang dari tadi membuat Alando gelisah dan tidak berhenti menduga-duga. Jaraknya tidak terlalu jauh cuma beda gedung aja. Alando terus melangkah menuju ke arah tujuan di mana Meira berada.
"Alando...?" seorang gadis cantik nampak ragu-ragu untuk mendekat namun dia sudah bertekad untuk berani meraih Alando. Masa dia kalah sih sama gadis aneh itu, dalam pikirannya mungkin saja Alando mulai berubah dan mau membuka dirinya.
Alando tidak menyahut dia hanya menghentikan langkahnya dan menoleh malas pada gadis berbie itu. Dia adalah Olivia, mereka berada di jurusan yang sama dan untunglah berbeda kelas sehingga Alando tidak merasa terganggu. Bukannya dia tidak tahu kalau Olivia memiliki perasaan padanya bahkan gadis itu sudah menunjukkan rasa sukanya sejak mereka masih ospek hanya saja Alando memang tidak terlalu peduli, dia tidak ingin berurusan dengan drama percintaan yang melibatkan gadis kaya dan manja sepertinya. Apalagi melihat perilaku gadis itu yang dianggapnya sangat tidak menghargai orang-orang yang memiliki status sosial di bawahnya. Dan entah apa yang dilihatnya dari seorang Alando bukankah Alando juga memiliki status sosial yang rendah.
"Apa loe sibuk...?" tanya Olivia dengan gugup.
"Hemm..." Alando cuma menjawab singkat dan kembali menoleh ke arah tujuannya, siapa tahu Meira sudah berada di luar.
"Oh. Gue cuma mau minta tolong sih, ada mata kuliah yang nggak gue ngerti. Loe mau nggak ajarin gue?" tanyanya percaya diri dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Alando cuma menatap Olivia dengan heran, dia kira gadis ini sudah berhenti menyukainya setelah dia bentak waktu itu.
"Kita nggak seakrab itu! gue sibuk, loe cari aja orang lain." Alando hendak beranjak melanjutkan langkahnya namun seketika ada yang memegang tangannya.
"Please... gue bersedia kok membayar loe berapa pun yang loe minta bahkan kalau loe mau beli apa pun gue beliin." Olivia sudah tidak memiliki cara lain hanya cara ini yang terpikir olehnya sekarang. Berharap Alando mau menerima permintaannya, bukankah semua orang butuh uang. Namun bukan penerimaan yang dia dapat justru tepisan kasar di tangannya dan tatapan kebencian yang Olivia terima.
"Loe hamburkan saja uang orang tua loe itu untuk orang-orang di luar sana. Jangan gue." dengan kekesalannya Alando melangkah menjauhi Olivia yang masih diam terpaku.
Alando tidak suka kalau harga dirinya diusik apalagi diremehkan seperti tadi. Mereka tidak seakrab itu hingga mengeluarkan uang untuknya sangatlah mudah, bahkan kebaikan Zaden yang sudah dia anggap saudara saja sering dia tolak apalagi cuma orang luar yang bukan siapa-siapa untuknya.
Alando terus menyusuri koridor dan memasuki kelas yang biasanya digunakan anak seni rupa yang juga merupakan kelas yang sering digunakan Meira. Meira tidak tahu saja kalau Alando masih menyimpan jadwal kuliah Meira yang didapatnya waktu pertama kali akan mengerjai gadis itu karena sudah berani membuat masalah dengan ZACKS.
"Meira nggak mau pulang, nanti saja kalau semua orang sudah pulang." ucap Meira pada teman-temannya yang dari tadi terus membujuknya untuk keluar kelas. Sebenarnya teman-teman Meira bisa saja pulang duluan tanpa memperdulikannya tapi tentu saja itu tidak mereka lakukan. Mereka bertiga merasa khawatir dengan Meira yang seperti ini, biasanya dialah yang paling semangat untuk keluar lebih dulu.
"Iya. kenapa harus nanti?" tanya Ami penasaran, dari tadi Meira sama sekali tidak mau memberikan alasannya.
"Nanti Meira bertemu sama kak Al Al." jawab Meira akhirnya.
"Memang kenapa kalau bertemu denganku?" tanya Alando tiba-tiba. Diam-diam ternyata dia sudah ada di depan pintu.
"Kamu sudah tidak suka denganku lagi?" tanyanya menyelidik dengan tatapan yang masih mengarah pada Meira.
"Kamu aduin aja cewek sakit tadi sama kak Alando biar cewek itu bisa dirawat di rumah sakit." suruh Sany berbisik. Sayangnya rumah sakit yang dimaksud bukanlah rumah sakit biasa tapi rumah sakit jiwa.
"Iya." angguk Meira.
"Kami duluan kak." pamit mereka bertiga dengan sedikit takut. Salut sama Meira yang memiliki keberanian level dewa untuk mendekati Alando.
Setelah kepergian ketiga teman Meira, Alando mendekat, menghampiri Meira dan duduk di sampingnya. Tidak seperti biasanya yang selalu berteriak memanggil namanya setiap kali bertemu, kali ini Meira cuma memandang Alando dengan tatapan rindunya.
"Jadi benaran kamu sudah tidak suka aku lagi?" tanya Alando lagi karena Meira sama sekali tidak mau mengeluarkan suaranya.
"Jadi sekarang kamu kembali lebih suka cokelat dari pada aku?" Alando terus memperhatikan mimik Meira yang berubah-ubah sesuai pertanyaannya. Ternyata Meira memang tidak bisa berbohong, benar-benar polos-sepolos anak kecil. Waktu itu Meira pernah bilang dia sangat suka cokelat tapi sekarang lebih suka kak Al Al.
"Meira masih suka kak Al Al kok, tapi kata kakak cantik tadi Meira nggak boleh dekat-dekat lagi sama kak Al Al, katanya Meira cewek aneh dan caca* mental jadi nggak pantas dekat-dekat sama kak Al Al. Terus Sany bilang kakak cantik tadi lagi sakit jadi suka marah-marah sama orang. Tapi tetap saja Meira sedih dan selalu ingat." jelas Meira yang tidak mau kak Al Alnya mengira kalau Meira kembali lebih menyukai cokelat dari pada kak Al Alnya.
"Siapa yang sudah mengatakan itu sama kamu?" tanya Alando kesal, dia tidak pernah berurusan dengan gadis manapun selain Meira dan apa haknya melarang Meira untuk dekat dengannya.
"Meira nggak tau." polos Meira dengan gelengannya, "Kakak tadi cantik." ucapnya menunduk.
"Lupakan saja apa yang sudah dia katakan. Kamu bilang kamu suka aku kan?" tanya Alando.
"Iya, Meira suka." dengan menganguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kamu harus berani melawan dia, dan jangan pernah mau mengikuti apa yang dia suruh!" perintah Alando, dia berusaha untuk membuat Meira kembali menjadi dirinya yang biasa.
"Aku tidak suka perempuan penakut! yang perlu kamu dengar hanya aku bukan orang asing yang tidak kamu kenal, paham?" jelas Alando panjang lebar.
"Oh... Meira paham. Mulai sekarang Meira akan jadi pemberani supaya kak Al Al suka sama Meira. Tapi Meira boleh dengar kata kata Ayah, Ibu dan Radodo nggak...?" tanya Meira.
"Tentu saja! mereka adalah keluargamu, justru mereka orang yang harus kamu dengarkan untuk pertama kali." nasihat Alando. Entahlah Meira benar-benar polos, kalau sampai dia dekat sama orang yang jahat bisa-bisa salah jalan nih anak.
Sebenarnya Alando sudah sering melihat Meira jauh sebelum peristiwa pelaporan pemukulan tersebut, bahkan mungkin hari pertama Meira kuliah. Meira sering menunggu jemputan di taman dekat parkiran atau di depan gerbang kampus dengan di temani kucing orange yang selalu dia kasih makan. Awalnya sih terlihat aneh melihat gadis itu ngomong-ngomong sendiri sama kucing atau malah nyanyi-nyanyi nggak jelas dengan lagu yang hampir seluruh liriknya dia ubah sesuai apa yang dia lihat di sekitarnya.
Tapi lama-kelamaan justru itu menjadi pemandangan wajib yang harus dia lihat setiap kali menuju tempat parkir, sebelum seorang pelajar SMA menjemputnya yang baru dia ketahui adalah adiknya. Karena itu waktu lutut Meira terluka tanpa bertanya lagi Alando memutuskan untuk langsung mengantarkannya ke rumah tanpa menunggu persetujuan Meira, karena Alando tahu menunggu jemputan dari pelajar SMA itu masih sangat lama.
"Kak Al Al tidak malu dekat Meira?" Meira menatap Alando seakan meminta jawaban. Pertanyaan Meira membuatnya kembali tersadar dari lamunannya.
"Tidak. Kenapa harus malu?"
"Meira aneh." jawab Meira sedih.
"Iya kamu aneh!" ketus Alando. Membuat Meira kembali menunduk.
"Kamu memang aneh! kenapa bisa-bisanya kamu suka padaku?" tatap Alando.
"Aku ini pemarah, tidak romantis, suka berkelahi, aku bukan orang kaya yang bisa mengantarmu dengan mobilnya dan aku juga tidak bisa memberikan barang-barang mahal yang kamu inginkan." jujur Alando, meski dia tahu Meira terlalu polos untuk mengerti hal seperti itu. Alando bahkan yakin walaupun dia cuma memberikan jepitan seharga lima ribu rupiah Meira pasti kegirangan bahagia.
"Tapi cuma kak Al Al yang baik sama Meira dan cuma kak Al Al yang Meira sukai." sahut Meira tulus. Hingga Meira akhirnya bisa menampilkan senyum manisnya kembali yang tiba-tiba membuat jantung Alando semakin berdetak kencang.
"Huhh... Ayo pulang." Alando pun menarik tangan Meira dan menggenggamnya menyusuri setiap langkah dari koridor sampai taman kampus menuju parkiran hingga tak luput dari pandangan banyak mahasiswa termasuk Olivia yang semakin sedih melihat kedekatan mereka.
Vote, like and koment.