Meira

Meira
BAB. 15



"Bagaimana kalau kita bikin taruhan?" ucap laki-laki ganteng yang terlihat dari penampilannya saja jelas dia kaum tajir.


"Taruhan? Hadiahnya apa dulu nih?" sahut temannya yang tidak kalah ganteng.


"Gue ikut, kalo taruhannya oke."


"Gue juga ikut, asal jangan aneh-aneh deh."


"Kalian lihat gadis di sana? Kayaknya dia polos banget deh." ucap laki-laki yang mengajak taruhan tadi yang telunjuknya mengarah pada gadis yang memakai baju warna putih.


"Gue sering lihat tuh cewek, sumpah aneh banget. Tapi cantik sih."


"Siapa pun yang bisa dapetin tuh cewe dalam satu minggu, paling lama dua minggu deh. Setelah itu langsung putusin aja! Gue traktir makan di restoran mahal selama seminggu."


"Gue taruhin jam tangan limited edition gue!" temannya yang lain ikut bertaruh.


"Yah... Jangan yang mahal-mahal dong." ucap salah satu dari mereka.


"Ya sudah terserah loe! Siapa yang mau ikut?"


"Oke, tidak masalah. Gue taruhin mainan action figure gue deh."


"Mainan? loe kira kita anak TK?"


"Eits... Jangan salah figure action gue harganya mahal." timpalnya.


"Oke..."


"Gue ikut, gue taruhin kucing persia gue." Kriikk.. Kriikk suara jangkrik terdengar.


Tawa kumpulan empat laki-laki yang merupakan senior dari jurusan Meira memenuhi tempat itu, sayangnya mereka tidak sadar kalau ada seseorang yang memperhatikan dan mendengar percakapan mereka dengan wajah yang tenang dan tersenyum sinis.


"Silakan tertawa sekarang, tapi nanti nikmati lah neraka kalian." orang itu pun langsung menjauh dari sana.


 


* * *


 


"Meira kamu belum jawab ya pertanyaan ku waktu itu. Kemana aja sih, ngilang-ngilang terus?" tanya Ami yang merasa Meira semakin aneh, suka menghilang tanpa pamit.


"Iya... jam kosong ngilang, istirahat ngilang, jam pulang langsung ngacir! Kamu nggak butuh kami lagi?" tanya Sany sewot.


Sekarang mereka lagi ada di taman dengan snack dan minuman di tangan masing-masing. Berhubung mata kuliah masih lama mereka menghabiskan waktu untuk bersantai di bawah pohon yang adem.


"Iih... nggak gitu. Meira kan harus dekat-dekat pangeran Meira." senyum Meira akan selalu merekah kalau sudah mengingat kak Al Alnya, "Meira nggak bisa nggak lihat kak Al Al." jawab Meira.


"Kak Al Al...? Siapa sih?" tanya Mita, bingung.


"Waktu itu kan Meira pernah masuk yutup yutup, di sana ada Jak-Jak, ada kak Al Al nya juga." sahut Meira yang masih ingat hari pertama dia bertemu kak Al Al nya.


Sedangkan ketiga temannya masih berpikir mencerna omongan Meira.


"Oh... ZACKS." Jawab Sany, untung loading otaknya cepat.


"Alando...?" tebak Ami. Yang diiyakan kedua temannya. Meira menganggukkan kepalanya senang.


"Kamu suka kak Alando?" Tanya Mita, tidak percaya dengan cara berpikir Meira.


"Iya. Suka banget!" dengan menganggukkan kepalanya terus-menerus.


"Sekali aja Meira! Kepalamu lepas baru tau rasa!" judes Sany, diantara kedua temannya Sany emang yang paling judes, dia juga sedikit tomboy.


"Kamu tahu nggak, kak Alando itu preman kampus ini? dan kamu pernah lihat sendirikan dia suka mukulin orang!" Ami mencoba membuka pikiran Meira, dia takut kalau kak Alando itu cuma akan menjahatin Meira.


"Iya, Tapi Meira suka. Kak Al Al nggak pernah jahat sama Meira. Ibu Meira juga suka sama kak Al Al."


"Ibu kamu pernah bertemu Kak Alando?" Ami kaget, apa hubungan mereka sudah sejauh itu.


"Iya, dua kali. Kak Al Al antarin Meira pulang." jujur Meira. Membuat Ami lebih tenang, setidaknya ibu Meira sudah tahu tentang kak Alando.


"Oh. Ya sudah kalau gitu." pasrah Ami.


"Tapi kamu jangan bucin dong!" galak Sany melihat tingkah Meira yang tidak berhenti tersenyum dengan mata yang berbinar, tanda tanda orang yang sedang jatuh cinta. Gemes aja pengen masukin Meira kedalam adonan pisang goreng buatan ibunya.


"Bucin? Itu apa... ?" tatap Meira pada Sany dengan muka lugunya. "Meira taunya cuma micin, soalnya ibu suka memasak pakai micin. Apa mereka masih saudaraan?" tanyanya polos.


"Haahhh... Pantes...!" sahut mereka bertiga, pasrah aja dengan nasib mereka yang sudah ditakdirkan menjadi sahabat Meira.


Selesai mata kuliah, Meira langsung pamit kepada ketiga temannya untuk menemui kak Al Alnya. Meira nggak mau dimarahin Sany lagi, Sany lebih menyeramkan dari Laura kucing orange penunggu kampus yang lagi viral kalau lagi marah. Namun saat Meira berada di lapangan kampus, seorang laki-laki tampan namun buat Meira kak Al Alnya jauh lebih tampan, menghampirinya dengan senyum tebar pesona yang cowok itu yakin akan membuat perempuan manapun terpesona padanya. Tapi tentu saja bukan Meira.


"Hai..." Sapanya ramah. Meira bingung dengan laki-laki di depannya yang tiba-tiba menyapanya itu.


"Meira atau Laura?" tunjuk Meira pada dirinya dan kucing berwarna orange di samping kakinya.


"Ihh... Meira tuh nggak suka ya dipanggil loe-gue, Radodo aja Meira marahin. Kak Al Al juga pernah manggil Meira Loe-gue tapi Meira nggak marah sih. Tapi sekarang kak Al Al sudah manggil Meira Aku-Kamu dan Meira sangat suka." senyum manis Meira terbit kalau sudah ngomongin kak Al Alnya.


"Oh... jadi nama kamu Meira...?" tampak laki-laki tersebut heran dan cuma bisa garuk-garuk kepala mendengar celotehan Meira.


"Iya... dan itu Laura." tunjuknya pada kucing orange yang membelit kakinya, biasanya Meira memang suka mengasih makan sama si Laura.


"Gu... Aku Gio, kita satu jurusan loh." senyumnya ramah.


"Tapi aku sudah semester 7." laki-laki itu mengangsurkan tangannya untuk berkenalan dengan Meira. Namun Meira masih bingung dan cuma menatap tangan orang di depannya tanpa membalas jabatan tangan laki-laki itu.


"Meira...? Kamu di sini?" panggil laki-laki yang tidak jauh dari mereka. Sedangkan laki-laki di depannya itu perlahan menurunkan tangannya karena tidak disambut Meira.


"Kak Stip tip..." Meira melambaikan tangannya saat melihat Steven, salah satu dari teman Alando yang kini memanggil Meira dan menghampirinya. Meira memang sudah kenal dengan semua teman-teman kak Al Alnya, hanya saja Steven memang paling jarang bicara dibanding ketiga teman kak Al Alnya.


"Kamu ngapain di sini...? Alando sudah nungguin kamu dari tadi." Sahut Steven dan menatap sinis penuh ancaman pada laki-laki yang ada di depannya saat ini. Steven, Christ dan Kenny juga sudah pernah mendapat omelan yang panjangnya kayak kereta api, gara-gara panggilan loe-gue untuk Meira. Sedangkan Zaden justru puas bahagia melihatnya, Alando seperti biasa bodo amat!. Makanya Steven cari aman, dia tidak mau masuk ke lubang yang sama.


"Oh... Iya, Meira lupa." Meira hendak beranjak pergi namun dia teringat dengan laki-laki yang ada di depannya sekarang. Meira mengangkat si Laura dan menyerahkannya pada Gio.


"Kakak kasih makan si Laura ya...? Dadah..." Meira langsung pergi dari sana. Membuat Gio terpaku di tempatnya dan memandang si Laura yang ada di tangannya.


"Loe dan semua teman loe itu! berurusan sama kami...!" ancam Steven yang sudah mendengar obrolan mereka yang menjadikan Meira sebagai barang taruhan. "Urusin tuh Laura." ejeknya, dan beranjak menyusul Meira.


 


* * *


 


"Kak Al Al...!" seperti biasa Meira akan berteriak bila sudah melihat kak Al Alnya.


Meira menghampiri Alando yang sudah selesai latihan basket. Berhubung pagi tadi mereka belum sempat latihan jadilah diganti dengan jam kosong yang ada. Sedangkan sepulang kuliah mereka harus ke kantor yang baru mereka rintis.


"Nggak usah teriak Meira...!" perintah Alando yang Melihat Meira menghampirinya sedangkan Steven berjalan di belakangnya. Hari ini Steven memang tidak ikut latihan karena tangannya yang masih sakit.


"Meira kan kangen kak Al Al." polosnya tanpa malu dengan orang-orang di sekelilingnya.


"Cie... Cie... ada yang dikangenin nih." goda Christ yang jiwa jomblonya langsung terpanggil.


"Hai Meira... Kangen kak Ken Ken nggak?" goda Kenny yang langsung mendapat gelengan kepala dari Meira dan bonus lemparan botol air mineral yang untungnya sudah kosong dari Alando. "Wah... jahat loe Lan, bisa amnesia nih gue." protes Kenny.


"Lebay loe...!" ejek Zaden pada Kenny. "Hai Meira... Kakak nggak disapa nih...?" kalau Zaden memang sudah terbiasa bersikap manis pada Meira.


"Hai kak Zad Zad... Meira lupa!" senyumnya pada Zaden yang dibalas dengan anggukkan.


"Gerah, gue mandi duluan deh." ucap Zaden, yang sudah penuh keringat habis latihan basket kemudian dia langsung pergi ke ruang ganti.


"Kamu tunggu di sini!" suruh Alando pada Meira yang terus menempelinya. Dia juga harus ke ruang ganti.


"Meira ikut!" kriik... kriik... hening.


"Hahaa... " Kenny dan Christ tertawa geli, melihat kepolosan Meira.


"Neng Meira mau lihat kami nggak pakai baju ya atau mau lihat perut roti sobeknya kak Al Al?" goda kenny pervert.


"Diam loe!" kesal Alando pada Kenny.


"Iih... Meira tuh nggak suka lihat orang nggak pakai baju...! Tapi kalau lihat kak Al Al Meira suka." jawaban ambigu Meira membuat semua orang yang ada di situ pada cengo.


"Jangan centil...!" Alando menutupi kepala Meira dengan jaketnya. "Tunggu di sini, jangan kemana-mana! Steve gue nitip nih anak." tolehnya pada Steven yang duduk di sana.


"Oke..." sahut Steven cuek. Meira menurut dan duduk di samping Steven.


"Meira kan nggak centil...?" adunya pada Steven dengan muka cemberut.


"Iya, kamu nggak centil." iya'in aja dari pada Meira tambah cerewet. Steven nggak suka yang ribet-ribet.


"Kenapa kak Al Al menaruh roti di perutnya?" tanya Meira yang masih bingung. "Roti bukannya untuk dimakan ya...?"


"Haahh..." Steven bingung masih loading mencerna omongan Meira.


"Tadi kan kak Ken Ken nanya? Meira mau lihat perut roti sobeknya kak Al Al yaa?" Meira menirukan cara ngomongnya Kenny tadi.


"Ehmm... Oh itu." Steven berusaha melegakan tenggorokannya, mau ketawa takut dosa.


"Itu... Kamu tanyakan saja langsung pada Alando Oke...!" Suruh Steven yang tidak mau ikut campur dengan menambah pengetahuan Meira.


'Mampu* kamu Alando!' Senyum Steven terbit laksana bintang di kegelapan.


"Terus kak Stip tip juga ikut naruh roti di perut ya?" Speechless, lain kali dia akan menolak perintah Alando untuk jadi baby sitter nih bocah, kapok. Mending jadi baby sitter Laura kucing betina preman kampusnya.


Vote, like dan koment yaa. Terima kasih.