
Acara pernikahan telah selesai dari lima jam yang lalu, para tamu yang terdiri dari keluarga, tetangga dan sahabat kedua mempelai pengantin juga sudah pulang satu persatu, tadinya hanya ada beberapa keluarga dekat Meira yang masih bertahan tapi selesai maghrib mereka pun akhirnya balik ke rumah masing-masing.
"Oh iya... Alan! mungkin kamu sudah cape, ya sudah istirahat saja di kamar Meira. Lagi pula semua keluarga juga sudah pulang." ujar Ayah Meira ramah.
Dari tadi Alando memang ikut bergabung dengan para keluarga, dia tidak enak meninggalkan mereka masuk kamar begitu saja. Berbeda dengan Meira, semua keluarga bahkan selalu menyuruh Meira untuk beristirahat dan menjaga kondisi tubuhnya, mungkin mereka masih trauma dengan kondisi pasca kecelakaan 3 tahun yang lalu di mana saat itu keadaan Meira sangat menyedihkan dan karena itu juga lah mereka tidak ingin melihat Meira kelelahan meski saat ini bisa dikatakan kondisi Meira tidak bermasalah sedikit pun kecuali dengan sifatnya yang tidak akan bisa kembali normal. Bukannya keluarga Meira tidak melakukan apa pun, bahkan sudah banyak cara yang mereka tempuh dari mendatangi dokter ahli saraf dan mengikuti banyak terapi. Dari fisioterapi, terapi saraf sampai terapi okupasi dan entahlah apalagi hanya untuk memulihkan kondisi Meira namun sekali lagi semuanya atas kehendak Tuhan dan memang tidak semua penyakit bisa disembuhkan.
"Loh kok di kamar Meira sih? sudah lah, kak Ale Ale di kamarku saja." protes Rado, dia masih belum bisa menerima kalau kakak perempuannya yang biasanya bersikap kekanak-kanakan kini tiba-tiba menjadi wanita dewasa. Berdua-dua'an di kamar dengan seorang laki-laki, meski laki-laki itu sudah sah menjadi suaminya, tapi tetap saja membayangkan apa yang akan mereka lakukan di kamar itu mengerikan.
'Meira tidak mungkin segenit itu kan? Geli gue... anak kecil masa mau buat anak kecil.'
"Hus... Hus..." usir Rado seperti menghapus gambar tak kasat mata yang kini terbayang di atas kepalanya.
"Kalau kau lupa, aku dan Meira sudah menikah tadi pagi." cengir Alando dengan pandangan yang mengejek pada adik iparnya tersebut. Bahkan kini Alando dan Rado tidak menggunakan kata gue-loe lagi demi peraturan dan kesopanan yang di buat oleh Ibu Meira.
"Greek... aw... aw... aduh bu! ini telinga Rado bisa lepas." teriaknya, lagi-lagi dia harus mendapat jeweran pedas di telinganya hadiah dari sang ibu tercinta. Ibunya memang memiliki tangan ajaib dan penuh sihir, pikir Rado. Karena setiap dia mendapat jeweran di telinganya maka secara otomatis Rado akan menjadi anak penurut dan manis.
"Makanya jangan sembarangan ngomong, mereka sudah menikah" omel ibunya "Ya sudah nak Al, kamu istirahat saja ya." suruh ibunya dan masih memegang bahu Rado kalau-kalau dia mengatakan sepatah kata lagi, ibunya bisa langsung memberi cubitan untuk anak laki-lakinya itu.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu Bu, Ayah..." pamit Alando kepada mertuanya dan kembali memandang Rado dengan cengirannya yang hanya dibalas muka cemberut adik iparnya itu.
***
"Tok... Tok..." beberapa kali Alando mengetok pintu kamar namun tidak ada sahutan dari Meira. Mungkin saat ini gadisnya sudah ketiduran, memang hari ini sangat melelahkan ditambah mereka harus menyapa keluarga dan sahabat yang menghadiri pernikahan mereka.
Perlahan Alando memegang gagang pintu "Kreek..." dan benar saja ternyata Meira sudah tertidur, dia pasti sangat kelelahan saat ini. Alando mendekati istrinya yang sedang tertidur, ini pertama kalinya dia melihat Meira tertidur pulas dengan wajah polos bak malaikat tanpa dosa berbeda jauh kalau dia membuka matanya dan berceloteh tanpa jeda, Meiranya nampak seperti anak kecil yang ingin tau banyak hal. Alando mengambil tempat di samping Meira dan memandang wajah istrinya lekat tanpa selimut menutupi tubuhnya, dengan baju tidur terusan berlengan pendek sebatas lutut berbahan satin dengan warna pink kesukaannya, meski nampak sederhana Meiranya nampak anggun dan sedikit dewasa.
Ada banyak pikiran-pikiran kotor mengisi kepalanya saat ini, ibaratnya saat ini dia adalah seekor singa buas dan Meira adalah daging segar yang tersaji di hadapannya, dan jangan lupakan label halal yang menyertainya. Alando menunduk dan mencium gadis itu, melumatnya dengan intens dan menikmati rasa bibir mungil itu.
Alando mengangkat Meira ke dalam pelukannya sedikit menimpa tubuh gadis itu namun sama sekali tidak ada respon darinya bahkan hanya untuk sekedar membuka matanya saja tidak. Puas meluma* bibir Meira perlahan wajahnya menyusuri lekuk leher istrinya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher putih itu dan menyesapnya. Ini pertama kali Alando melakukan hal lebih dari sebuah ciuman dan dia menyukainya sayangnya dia menginginkan lebih, tapi apakah Meira siap memberikan haknya malam ini.
"Eeghhh..." gumam Meira, dia merasa sesak karena saat ini ada seseorang memeluknya erat bahkan sedikit menimpa sebagian tubuhnya yang mungil. Meira mengerjapkan mata bulatnya beberapa kali, mencoba untuk mencerna keadaan sekitarnya namun ada rasa geli dan basah yang kini berada di lehernya hingga Meira sedikit mendorong sesuatu yang berada di atasnya itu.
"Iihh..." gelinya dan seketika wajah kak Al Al nya lah yang dia lihat kini. Meira masih bingung dengan penglihatannya. "Kok kak Al Al ada di sini?" tanya Meira seperti orang linglung, "Nanti Ayah dan Ibu bisa marah!" lanjutnya.
"Ayah dan Ibu tidak akan marah! kamu lupa kita sudah menikah?" Alando sedikit memberikan ruang untuk Meira sedikit bernapas dengan melepas pelukannya tetapi tangannya masih mengurung gadis itu dan menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Meira.
"Menikah...?"
"Hemm..."
"Oh iya, Meira ingat! Tadi pagi kita menikah." senangnya, mengingat kembali peristiwa bahagia tadi pagi, "Jadi kalau menikah, kak Al Al boleh ke kamar Meira?"
"Oh begitu! Kak Ken ken juga bilang pada Meira kalau kak Al Al akan mengajak Meira main iya-iya, itu beneran ya kak Al Al...?"
"Kapan Kenny bilang seperti itu...?" tanya Alando, dia hanya penasaran. Toh apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar yang penting Meira tidak ngomong pada orang lain apalagi di depan umum. Lagi pula mereka juga sudah sah, tidak ada batasan yang akan menghalangi mereka lagi.
"Tadi siang, waktu pamit sama Meira, terus kak Al Al kan lagi ngobrol sama kak Zad Zad" jawab Meira jujur, mengatakan semua yang dia ingat "Kak Al Al berat, Meira mau duduk aja." mintanya dan sedikit mendorong dada Alando, dengan wajah memerah karena dari tadi Alando terus mengurungnya dan menghimpit dirinya dari atas.
"Kita main iya-iya dulu." bisik Alando di telinga Meira, perlahan wajahnya dia tenggelamkan lagi di leher itu dan mengecupnya begitu pun tangannya yang tidak bisa tinggal diam dan menemukan dua benda kenyal yang sepertinya akan menjadi mainan favoritnya kini. Pijatan-pijatan lembut dia berikan untuk Meira. Alando cuma lelaki normal yang tidak bisa berhenti melakukannya apalagi dengan seorang gadis yang sangat dia cintai dan itu adalah istrinya.
"AAAHH... KAK AL AL MESUM...!" teriaknya, dan mendorong Alando kesamping tubuhnya dan segera bangkit menuju pintu kamar dengan tergesa-gesa dia membukanya hendak keluar.
"MEIRA..." geram Alando, siapa yang tidak kesal saat dia sudah sangat menginginkan istrinya dan sedikit lagi mendapatkannya tiba-tiba istrinya ketakutan dan menghentikan aktifitas enak-enaknya.
'Haahh... Alamat puasa gue, Meira kamu mau durhaka sama suamimu ini,' batinnya.
Alando segera mengejar Meira keluar, bukan cuma akan puasa malam ini tapi sepertinya dia akan mempermalukan dirinya di depan kedua orang tua Meira. Mau tidak mau sepertinya Alando harus perlahan-lahan membuat Meira terbiasa akan sentuhannya, dia tidak bisa langsung meminta haknya sebagai suami pada istri lugunya itu, bisa-bisa dia akan ketakutan seperti saat ini.
"Sabar ya..." entah Alando ngomong pada siapa.
"IBU...!" teriak Meira menuju keluar kamar dan mencari keberadaan ibunya. Beruntung Ibunya lagi duduk-duduk santai ditemani Ayah dan Rado. Mereka lagi menikmati sisa kue pernikahan yang sudah dibeli mahal.
"Apa sih Meira, jangan teriak-teriak di dalam rumah. Nggak baik." omel ibu Meira melihat kelakuan anaknya yang terlihat berantakan seperti orang bangun tidur.
"Ibu... Kak Al Al mesum sama Meira..." adunya, "Meira suka dicium kak Al Al tapi kak Al Al kan nggak boleh mesumin Meira." cerita Meira pada kedua orang tuanya dengan rengekan manja. Sedangkan mereka hanya menatap Meira dan menantunya yang baru menyusul di belakang itu dengan pandangan cengo sekaligus malu.
Orang tuanya juga pernah mengalami menjadi pengantin baru, tentu saja mereka tau apa yang dimaksud Meira. Hanya saja anaknya ini kok jujurnya keterlaluan banget.
"Uhukk... Uhukk..." lagi-lagi untuk kedua kalinya Rado kesedakan gara-gara omongan Meira. Ya Tuhan dia masih anak SMA yang polos masa harus mendengar rahasia kamar kakak perempuannya yang masih bocah itu.
"Meira! Kau sudah merusak pikiranku, tau...!!" kesal Rado dan beranjak memasuki kamarnya dengan membawa kue pengantin dan teh hangatnya, tanpa mempedulikan kedua pengantin bocah versi Rado.
"Meira..." panggil Alando dengan wajah memerah menahan malu di depan kedua orang tua Meira.
vote, like koment..
Puasa-puasa kok banyak setannya ya..😁😁
Maaf ya kalau up nya makin lama, saya nulis nya malam aja😀 selama puasa.