Meira

Meira
BAB. 44



Sudah tiga hari ini Meira tidak bertemu kak Al Al nya lagi, sejak tiga hari yang lalu Zaden sebagai pimpinan perusahaan atau yang sering disebut CEO dengan ditemani Alando selaku Chief Technology Officer (CTO) serta Steven, mereka pergi ke luar kota untuk melakukan perjalan bisnis.


Mereka cuma bisa berkomunikasi lewat pesan singkat atau cuma sekedar mengobrol sebentar lewat telepon itu pun hanya pada malam hari karena Alando memang sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Dan berhubung Meira lagi malas menunggu jemputan Rado, yang katanya lagi ada kegiatan di sekolah jadi hari ini dia mau naik angkot saja. Sebenarnya tadi teman-temannya Meira sudah menawarinya untuk pulang bareng tapi karena Meira mau menunggu jemputan Rado akhirnya dia menolak. Setelah semua teman-temannya pulang, barulah muncul panggilan dari Rado yang mengatakan dia masih ada kegiatan di sekolah jadi agak sedikit lama menjemputnya.


Dan di sinilah dia, di dalam angkot yang mengantarnya pulang. Namun tiba-tiba angkot tersebut perlahan berhenti di tepi jalan, bahkan ibu-ibu di sampingnya pada melontarkan kalimat protesnya.


"Maaf ya Ibu-ibu dan Adek-adek, sepertinya angkot saya mogok. Jadi tidak bisa mengantar kalian lebih dari sini." Kata Bapak-bapak pengemudi angkot itu dengan muka bersalahnya.


"Yah Pak, kalau mobilnya sudah rusak nggak usah dibawa narik dong!" protes Ibu-ibu yang tidak terima ditelantarkan di pinggir jalan.


"Iya, maaf bu." Jawab bapak itu lagi.


Mau tidak mau Meira juga harus mencari jalan pulangnya sendiri, tapi masalahnya Meira tidak tau harus menaiki angkot yang mana lagi, ini pertama kalinya dia terlantar di pinggir jalan.


"Meira harus kemana ya...?" bingungnya, menoleh ke kanan dan kirinya namun tidak ada angkot satu pun. Meira akhirnya memutuskan kembali menelpon Rado adiknya, namun saat telponnya tersambung tiba-tiba klik mati.


"Yahh, kok mati sih?" Meira lupa charger handphonenya semalam, entah kenapa kesialan menyapanya hari ini. Meira tambah bingung mau pergi ke kanan atau ke kiri.


"Ya udah sana aja." Putus Meira, seolah sekarang dia memiliki teman bicara. Meira terus melangkah sudah hampir setengah jam namun dia tidak melihat angkot dan sadar atau tidak justru perjalanan menuju rumahnya semakin jauh, lagi-lagi Meira kesasar. Inilah yang paling ditakutkan keluarga Meira terutama adiknya yang tau betul bagaimana kerja otak Meira yang buta arahnya sangat parah.


Karena cape apalagi dengan udara yang cukup panas Meira menuju pepohonan dan duduk di bawahnya, sambil menunggu orang lewat yang bisa membantunya pulang.


****


Christ kesal, kenapa ibunya terus-terusan berusaha menjodoh-jodohkannya dengan anak teman-teman sosialitanya sih? Bukan cuma itu ibunya terus-terusan bertanya apakah dia sudah punya pacar, memang cari pacar semudah beli gorengan di pinggir jalan apa. Jangan salah meski Christ itu orang kaya tapi jajanannya masih sering di pinggir jalan.


"Harusnya kamu itu ajak ngobrol si Vivi bukannya malah diam-diam aja, mami itu ajak kamu kesana biar kamu dapat pasangan tidak ngejomblo seperti ini, masa hobinya keluyuran tidak jelas gitu." Omel mami Christ, mami Sisi yang cantiknya nandingin artis Mona Ratuliu.


"Aduuh Mii, aku itu bukannya keluyuran nggak jelas ya? Pagi aku kuliah, siangnya aku kerja di perusahaan yang baru aku dan teman-temanku rintis, terus malamnya aku kan juga butuh istirahat Mii. Nah sekarang ini baru bisa dikatakan aku lagi keluyuran nggak jelas sama mami padahal seharusnya aku lagi ada di kantor, kerja! Bukannya ikut perjodohan ala Mami." Sanggah Christ yang tidak terima tuduhan maminya.


"Ngapain sih membuat perusahaan baru? Toh nantinya kamu juga akan menggantikan posisi papa kamu di kantor." Ujar mami Sisi cerewet.


Mami Christ memang sedikit cerewet sama anak-anaknya, apalagi setelah anak-anaknya pada gede, rumah terasa sepi jadinya.


Anak-anaknya lebih banyak berada di luar rumah dari pada di dalam rumah, kadang-kadang dia berharap punya anak perempuan yang bisa dia ajak jalan-jalan. Karena itulah Maminya Christ mengikuti banyak acara sosialita untuk membunuh kejenuhannya.


"Justru itu Mii, aku harus belajar dari sekarang. Nanti saat aku menggantikan posisi Papi setidaknya aku sudah siap dan aku sudah memiliki banyak pengalaman, lagi pula papi juga sudah setuju kok." Jelas Christ panjang lebar.


"Iya... Iya, terserah kamu lah." Sahut maminya pasrah dari pada terus berdebat dengan anak sulungnya ini.


"Loh... loh... itu kan Meira!" ucap Christ, kaget saat melihat Meira duduk di pinggir jalan sendirian di bawah pohon dengan muka memelas.


"Meira siapa?" tanya maminya.


"Teman aku Mi, pacarnya Alando." Jelasnya singkat.


"Wah Alan sudah punya pacar toh? Kalah kamu sama temanmu itu Christ, ya ampun anak Mami kok menyedihkan banget sih?" seru maminya, yang memang jago drama.


"Please deh Mii, aku tuh nggak menyedihkan cuma belum ketemu aja yang cocok." Sanggahnya, sambil menghentikan mobilnya di dekat Meira kemudian membuka pintu mobilnya, nampak wajah Meira yang terlihat begitu senang melihatnya.


"Ya ampun Meira...! Ngapain kamu menggelandang di sini emang kamu belum puas menggelandang di kampus?" omel Christ dengan mulut pedasnya. Kok bisa-bisanya Meira sampai di sini, padahal jalan ini cukup jauh dari rumahnya.


"Kak Kris kris Meira bukan gelandangan, Meira cuma nyasar nggak tau jalan pulang. Meira boleh ikut pulang kak Kris Kris ya...? Meira takut di sini." Mohon Meira.


"Nggak boleh! Kamu nginap aja di sini." Ketus Christ dan melotot padanya.


"Ya Tuhan, mimpi apa Mami punya anak seperti kamu. Kok ngomongnya jahat gitu sih sama cewek manis ini. Pantesan kamu nggak laku-laku sampai sekarang." Omel Maminya.


"Yahh... Mii, kok ngomongnya gitu sih sama anak sendiri? Aku kan cuma bercanda mana mungkin aku setega itu." Sahutnya.


"Oh jadi kamu pacar..." belum selesai ngomong ucapan Maminya Christ tiba-tiba di potong oleh anaknya sendiri.


"Meira bukan pacar aku Mii, nggak mungkinlah aku punya pacar masih bocah kayak Meira gini bisa mati sehari aku Mi." Bantah Christ, dia tidak mau maminya salah paham. Bisa habis dia di tangan Alando, lagi pula sudah ada gadis yang dia suka.


"Meira itu pacarnya Kak Al Al bukan kak Kris kris...! Kak Kris Kris itu bawel, suka marahin Meira, suka bohongin Meira terus..."


"Duuh Meira... stop ngomongnya, mau aku tinggal di sini!" ancam Christ, dia cuma ingin menggertak mana bisa dia meninggalkan Meira di sini, sekesal-kesalnya dia sama Meira dia juga tidak mungkin sampai sejahat itu. Bagaimana seandainya dia tidak bertemu Meira di tempat ini? Bahkan membayangkan Meira bertemu dengan orang-orang jahat saja sudah membuatnya ngeri.


"Jangan kak Kris kris Meira takut." Mohon Meira dengan rengekannya serta kedua tangan yang terus memegang tangan Christ seolah takut ditinggalkan begitu saja.


Seandainya Alando melihat hal ini dia pasti akan sangat cemburu, karena Alando sekarang sudah berubah menjadi cowok posesif.


"Ya ampun kalian cocok banget...!" gemes Maminya, Mami Christ memang termasuk salah satu anggota emak-emak absurd.


"Cocok apanya sih Mi, dia ini pacar Alando." Jelas Christ setengah kesal.


"Memang Mami tadi bilang kalian cocok pacaran? Enggak kan? Mami cuma mau bilang kalian itu cocok banget kalau jadi kakak adik. Suka berantem hahaa..."


"Adik seperti Meira...? Idih, punya adik seperti Jason aja merepotkan apalagi ditambah sama nih Dora." Ejek Christ, dia bisa stress dalam sehari. Tidak kebayang kalau harus jadi Rado, salut deh Christ sama anak songong itu, pikirnya.


"Meira apa Dora sih? Kok Mami jadi bingung." Tanya Maminya Christ yang terus menatap kedua orang di depannya.


"Meira tante."


"Dora Mii"


Sahut mereka bersamaan, hingga membuat Mami Christ tertawa bahagia. Pasalnya dari dulu dia sangat ingin punya anak perempuan yang manis dan Meira adalah gadis yang sangat manis di mata Maminya.


"Kak Kris Kris nanti Meira aduin sama Kak Al Al biar Kak Kris Kris merah-merah dan jelek kaya Rado." Omel Meira, dia kesal selalu di panggil Dora oleh kak Christ.


"Hah... merah-merah? Kiss mark maksudnya?" kaget Christ, tidak menyangka Alando seperti itu. Otak Christ bawaannya memang kotor.


"Kiss mark apaan sih tante?" polos Meira, hanya saja kali ini dia bertanya pada tante di depannya. Karena kalau dia bertanya pada kak Kris kris dia pasti dibohongi, pikir Meira.


"Tuh jawab mami nggak mau ikut-ikutan makanya jangan sembarangan ngomong." Omel maminya.


"Hehee... Ya ituh tanda merah yang dibuat Alando." Jawab Christ sebisanya.


"Oh jadi merah-merah di muka Radodo itu namanya kiss mark? Tadinya Meira mau ikut, tapi nanti muka Meira jadi jelek, Meira juga nggak mau dipukul, kan sakit...?" ceritanya dengan mimik wajah seperti orang ketakutan.


"Apa...? Duuh... ini sebenarnya ngomongin apa sih! Kok membingungkan banget. Terus apa yang dipukul?"


"Muka Radodo, setiap minggu Radodo kan latihan taekwondo. Terus muka Rado banyak kiss marknya." Jelas Meira, mengingat kejadian minggu-minggu lalu.


"Duuh... Celaka dua belas ini namanya." Dia salah ngomong lagi, kalau omongannya ini sampai didengar Alando kemungkinan besar wajahnya lah yang penuh tanda-tanda merah.


"Hahaa... Kamu lucu banget sih sayang! Seandainya aja kamu anak tante?" Mami Christ jadi gemes melihat kepolosan Meira, baru kali ini dia ketemu anak gadis seperti Meira.


"Iya lucu Mi, saking lucunya besok-besok wajah anakmu ini yang penuh kiss mark gara-gara nih anak, mendingan Jason aja deh yang Mami dandanin ala barbie." Usul Christ, dia ikhlas adiknya itu yang dijadikan tumbal dari pada harus punya adik seperti Meira.


"Hitung-hitung kamu latihan taekwondo, nggak apa-apalah sedikit jelek hahaa... lagi pula Mami lebih suka dandani kamu kayak barbie dari pada adik kamu." Ejek maminya.


"Kak Kris Kris pasti cantik." Seru Meira dan cuma dibalas pelototan Christ.


"Meira, kamu ikut tante dulu aja ya? Setelah itu nanti tante anterin kamu pulang." Ajak maminya Christ, yang nggak jauh beda sifatnya dari anak sulungnya itu, hanya saja maminya lebih lembut.


"Iya, Meira mau tante. Meira takut disini." sahut Meira.


Di dalam mobil maminya Christ terus mengajak Meira bicara, bahkan mereka sudah mengabaikan seseorang yang sudah menjadi sopir mereka di depan. Apa lagi dua perempuan yang berbeda generasi itu memiliki kesamaan, suka ngomong tanpa berhenti-henti hingga terus berlanjut dan tidak ada pangkal ujungnya. Christ rasanya mau lompat aja dari mobil, pusing harus mendengarkan celotehan dua orang berisik yang sangat memekakkan telinganya.


"Loh kok berhenti sih Christ?" asik-asik ngobrol sama gadis manis di sampingnya tiba-tiba saja mobil berhenti.


"Mami please deh, lihat ini tempat apa? Kita sudah sampai Mi!" ucapnya pelan, mau marah takut durhaka.


"Hahaa... Mami nggak sadar, keasyikan ngobrol sama Meira sih." Ucap Mami Christ senang.


"Ayo Meira, kita makan dulu di sini ya? Setelah itu tante anterin pulang ke rumah kamu." Ajak mami Christ.


"Tapi Meira cuma punya 20 ribu tante, nanti Meira nggak bisa bayar." Jujurnya.


"Sudah tenang aja tante yang traktir pokoknya."


Mereka makan di restoran yang lumayan mewah, tidak setiap hari mereka bisa berkumpul seperti ini. Setelah Maminya mengancam anak sulungnya untuk menghadiri acara perjodohan antar dua teman yang sudah diatur Maminya itu namun sayangnya ternyata gagal. Kini giliran anak keduanya yang masih SMA untuk datang ke acara makan bersama keluarga. Acamannya sih cuma satu, semua fasilitas yang didapat anak-anaknya akan diambil Maminya, dan tentu saja pada akhirnya mereka semua menurut. Sedangkan Papinya tidak bisa ikut makan bersama karena masih ada pekerjaan di luar negeri.


"Adik kamu mana, kok belum datang?" tanya maminya Christ sambil membuka menu makanan.


"Sebentar lagi Mi masih di parkiran." Sahutnya santai.


"Meira kamu pesan aja ya? Pesan yang kamu mau." Suruh maminya Christ lembut.


"Meira nggak ngerti, tante aja ya yang pesenin?" Meira memang nggak ngerti dengan menu makanannya pasalnya semua makanan bertuliskan bahasa Inggris dan itu membuatnya pusing, seumur-umur Meira belum pernah makan di restoran mahal dan ini untuk pertama kalinya Meira merasakannya. Tapi tentu saja dia akan lebih bahagia seandainya keluarganya lah dan kak Al Al nya yang ada di sini.


"Oh baiklah, tante pesanin yang paling enak buat kamu." Antusiasnya, Mami Christ tentu saja dia sangat senang. Karena dia berasa punya anak perempuan.


Sedangkan Christ dia malah senyum-senyum sendiri, dia lagi mau usil sama Alando jadi dia memfoto kedua orang perempuan di depannya yang kelihatan sangat akrab bercengkrama dan segera mengirim fotonya pada Alando dengan caption:


"Maaf Lan, gue terpaksa nikung loe! Habisnya Mami gue terlanjur suka banget sama Meira. Meira itu menantu idaman katanya." Klik, pesan terkirim.


"Hahaa... " Tanpa sadar dia malah tertawa keras. Hingga kedua perempuan di depannya ikut memperhatikan gerak-gerik Christ.


"Kamu kenapa sih Christ kok ketawa gitu?" selidik ibunya.


"Iya, kak Kris Kris pasti gila ya..?" tuduh Meira.


"Enak aja, masih waras nih." Sewotnya pada Meira, gadis ini benar-benar ahli dalam membuat darah tingginya kumat.


"Huhh... Kenapa sih Mi pake ngancam-ngancam segala?" tiba-tiba seorang pemuda seumuran Rado datang mencak-mencak dan duduk di samping Christ.


"Kalau Mami nggak ngancem, kamu pasti nggak mau datang!" omel Mami Sisi pada anak keduanya Jason, yang bandelnya melebihi Christ maklum lah masih remaja SMA yang jiwanya masih labil.


"Siapa sih Mi? Mami mau jodohin kak Christ sama dia ya?" tanyanya penasaran, karena bukan sekali ini saja maminya berusaha menjodohkan kakaknya itu dengan anak-anak perempuan teman maminya tapi sayang tidak ada yang membuat kakaknya tertarik.


"Sembarangan...! Dia Meira pacar Alando." Jelas Christ.


"Kok bisa di sini? Kak Meira mending sama aku dari pada sama kak Alando mukanya serem gitu, pemarah lagi! Iih... menakutkan."


Jason bergidik kalau mengingat teman kakaknya itu, auranya bikin merinding. Semua keluarga Christ memang sudah mengenal Alando, karena memang Alando juga sering menginap di rumah Christ.


"Yang sopan Jason." Ingatkan maminya. Kedua anaknya memang suka seenaknya, ngomong tidak pernah difilter terlebih dahulu.


"Loe mau gue tampol hah...?" ancam Christ pada adiknya.


"Kak Al Al selalu baik dan sayang kok sama Meira terus kak Al Al juga ganteng pake banget... nggak menakutkan kok." Polos Meira dengan wajahnya yang super lugu serta senyum nggak jelas yang tiba-tiba mengembang di bibirnya.


"Hahh...!" seketika Jason terdiam, dia berasa ngomong sama seorang adik bukan seseorang yang lebih tua darinya.


"Tutup tuh mulut loe! Nggak enak banget dilihat." Tegur Christ pada adiknya yang terheran-heran menatap Meira.


"Drttt... drttt..." panggilan masuk ke handphone Christ, tertera nama Alando si Raja Iblis.


Vote, like dan koment yaa...