Meira

Meira
BAB. 23



Tidak terasa pertandingan basket yang sudah lama ditunggu Golden world dan para penggemar mereka sebentar lagi dimulai. Para mahasiswa terutama cewek berlarian untuk memenuhi hall basket yang memang tersedia cukup untuk menampung banyak mahasiswa.


Pertandingan basket biasanya sangat di manfaatkan oleh cewek-cewek untuk sekedar cuci mata karena jelas selain mereka memiliki kemampuan basket yang mumpuni mereka juga memiliki wajah di atas rata-rata terutama para ZACKS meski kadang kadang mereka membuat para mahasiswa pada takut. Selain itu tentu saja mereka memberikan dukungan untuk tim basket kampus mereka. Semua mahasiswa pada tahu kalau lawan tim basket kampus mereka saat ini adalah Satria Andalan yang merupakan musuh bebuyutan dari tim Golden World. Sudah banyak pertandingan yang mereka ikuti dan mempertemukan Golden World dan Satria Andalan di babak final dan hasilnya kadang-kadang dimenangkan kampus mereka atau sebaliknya tim lawan mereka. Namun meski begitu mereka dari kedua kubu tetap bersikap sportif meski kadang sikap arogan yang terjadi di lapangan adalah menjadi pemandangan biasa.


"Mimit, Sansan ayo... Nanti kita terlambat." tarik Meira kepada kedua tangan teman-temannya.


"Loh, yang membuat kita terlambat siapa?" tanya Sany dengan sikap judesnya menatap Meira kesal. Namun yang di tatap seolah tanpa merasa memiliki kesalahan.


"Siapa?" tanya Meira karena merasa di tatap oleh Sany dan mita.


"Ya kamu lah Meira! nih... nih... Siapa yang minta kami untuk membuat tulisan-tulisan nggak ada faedahnya kayak gini, hah...?" kesal Sany dengan berkacak pinggang, padahal mereka terlambat gara-gara Meira minta bantuan untuk membuat poster-poster berisi tulisan penyemangat buat kak Al Alnya. Seperti Go Go kak Al Al, Kak Al Al saranghaeyo, kak Al Al semangat.


"Oh. Meira lupa." terkekeh dengan gaya andalannya muka lugu tanpa dosa.


"Tapi ini tuh banyak faedahnya Sansan, kak Al Al bisa..."


"Entar aja ngomongnya kalau nggak mau terlambat, ayo...!" Mita langsung beranjak meninggalkan kedua temannya yang selalu ribut nggak tahu situasi, padahal sekarang mereka berada di tengah-tengah mahasiswa yang juga mau menuju gedung basket.


"Tunggu..."


"Tunggu Meira." ucap keduanya bersamaan.


Sayang aja saat ini Ami sedang tidak bisa bergabung dengan mereka karena dia harus mengantar neneknya cek up ke rumah sakit, biasaalah penyakit orang tua.


Setelah sampai dan memasuki gedung itu tampak semua kursi hampir penuh terisi oleh mayoritas dari kaum hawa. Mereka terlihat antusias apalagi katanya banyak cowok-cowok dari tim lawan yang memiliki wajah yang nggak kalah dari oppa-oppa korea minus kulit sebening embunnya. Tentu saja orang-orang Indonesia memiliki ciri khasnya tersendiri, hitam manis atau kuning langsat dan sawo matang. Namun ada juga sih beberapa yang memiliki kulit putih, silahkan lihatlah sepuas-puasnya sesuai selera kalian. Mungkin itulah yang ada dalam pemikiran kaum hawa yang ada di tempat itu. Bukannya cowok-cowok yang ada di tim kampus mereka tidak ganteng hanya saja mereka dari Golden World sudah menjadi pemandangan yang biasa mereka lihat setiap hari.


Sementara para cowok tentu saja ada yang benar-benar murni mendukung tim mereka dan ada juga yang sangat antusias hanya ingin melihat para mahasiswi cantik kampus mereka.


"Penuh banget..." Mita menggandeng tangan Meira dengan mata mengawasi sekelilingnya, rupanya tempat ini sudah dipenuhi para mahasiswa.


"Itu... di sana ada tempat kosong." tunjuk Sany, akhirnya mereka melangkah ke tempat kosong tersebut, beruntung posisi mereka ada di tengah-tengah jadi lebih nyaman untuk melihat pertandingan.


Pertandingan akan segera dimulai dengan diawali pertunjukkan dari maskot tim basket mereka dan disambut sorak-sorakan antusias mahasiswa-mahasiswi yang ada di sana.


Setelah berakhirnya pertunjukkan dari maskot tim kini muncullah sekelompok cowok-cowok pemeran utama lapangan basket dengan seragamnya yang berwarna merah-merah yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi, namun justru karena mereka lah hall basket ini penuh. Sorak-sorak keras pun semakin bergema menyambut kedatangan mereka.


Diikuti sekelompok dari tim lawan yang menggunakan seragam berwarna putih-putih dan disambut dengan meriah pula tidak kalah dari tuan rumah.


"Golden world...!"


"Satria Andalan..."


"Christ..."


"Kenny..."


"Reno..."


"Rico..."


Teriakan teriakan memenuhi tempat itu memberikan semangat pada idola masing-masing. Tanpa takut ada yang menegur mereka.


"Kak Al Al..." tidak mau kalah dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya Meira pun ikut meneriakkan nama seseorang yang sudah menemaninya kurang lebih tiga minggu ini.


Mungkin itu waktu yang singkat untuk mendekati seorang Alando dan hanya Meira yang bisa melakukannya. Padahal selama ini untuk berbicara dengan Alando saja butuh keberanian dan tentu harus memiliki muka setebal baja untuk bisa menahan malu saat orang itu diabaikan begitu saja oleh Alando dan untungnya keberuntungan juga menyertai Meira karena mendapat dukungan dari Zaden sahabat terdekatnya Alando. Meski hubungan mereka masih berlabel hubungan tanpa status alias HTS.


"Kak Al Al semangat, kak Al Al saranghaeyo...!" teriak Meira lagi dengan mengangkat poster tinggi-tinggi tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang menoleh kepadanya, antara bingung dan bertanya-tanya siapa sih Al Al yang dimaksud.?


"Sansan dan Mimit juga, ayo berdiri...!" suruh Meira, menarik tangan kedua temannya untuk berdiri mengikutinya. Mau tidak mau terpaksa mereka mengikuti kemauan Meira dari pada nih anak tambah bawel pikir mereka.


"Go go kak Alando..."


"Semangat kak Alando..."


 


* * *


 


Alando melihat ke arah duduk penonton dan mencoba mencari keberadaan Meira, namun rasanya sulit di mana saat ini tempat duduk tersebut dipenuhi para mahasiswa bahkan ada juga beberapa mahasiswa/i dari kampus lawan yang ikut memberi dukungan pada tim mereka. Padahal tempat ini akan selalu kosong di saat tidak ada acara seperti ini, kecuali ketika tim basket menggunakan tempat ini untuk latihan.


Apalagi dengan kondisi tempat yang di dominasi para cewek dan teriakkan mereka yang bagi Alando sangat mengganggu kecuali satu orang yaitu Meira. Sekarang bagi Alando, Meira bukan lagi menjadi pengganggu melainkan seorang mood booster untuknya.


"Lan..." tepuk Zaden di bahu Alando yang dari tadi dia lihat matanya terarah pada bangku penonton.


"Hemm..." Alando cuma berdehem sebagai jawabannya dan mata yang terarah pada Zaden sebagai pengganti pertanyaannya.


"Kalau loe cari Meira tuh...!" tunjuk Zaden pada baris tengah, dengan gadis yang memegang poster besar yang tulisannya.


"Kak Al Al saranghaeyo." yang sama sekali tidak di mengerti Alando, dia bukanlah seseorang kpopers atau apalah namanya yang sering disebut Meira. Meski begitu dia cukup senang dengan dukungan Meira padanya.


"Ayo..." panggil Zaden pada tim mereka untuk berkumpul menuju ke tengah lapangan.


Kini tim mereka saling berhadapan antara Golden world dengan Satria Andalan, ini bukan pertama kali mereka bertemu jadi sudah tidak asing lagi. Bahkan mereka sudah saling kenal nama dan kemampuan masing-masing bahkan kelemahannya. Tidak ada dendam atau pun marah yang ada cuma, 'kami pasti kan mengalahkan kalian' tentu cuma ada di pikiran mereka masing-masing.


Permainan dimulai dengan jumpball yang artinya pada awal permainan, wasit akan melempar bola basket ke atas sedangkan kedua kapten saling berhadapan untuk meloncat dan memukul bola basket tersebut ke arah teman pemainnya.


Babak pertama berlangsung sengit dan masing-masing saling berebut mendapatkan bola dan memasukannya ke ring masing-masing. Ternyata tim dari Satria Andalan semakin kuat terutama dari kapten tim mereka yaitu Reno yang memiliki nomor punggung 09 dan temannya Alif yang bernomor punggung 11.


"Priitt..." babak pertama berakhir dan untuk sementara babak pertama dimenangkan oleh Satria Andalan.


Sorakan semangat langsung bergaung di ruang tersebut. Mereka saling meneriakkan nama tim dukungan mereka, membuat tim Golden World semakin semangat dan kali ini mereka harus menang. Untuk sekarang belum ada pergantian pemain, masih Zaden kapten basket untuk posisi point guard, Alando pada posisi shooting guard, Peter posisi power forward, Steven posisi small forward, dan Edo posisi center karena badannya yang paling tinggi.


"Ayo kak Al Al pasti bisa...!" teriak Meira lagi.


"Kok aku kesel ya sama tuh Reno, ih pengen doain kakinya keseleo deh." Sany gregetan sama jalannya pertandingan, soalnya tim kampus mereka ketinggalan 10 angka, dan itu gara-gara si Reno yang mainnya sangat baik.


"Yah... jangan dong, kan ganteng." sahut Mita yang tidak terima.


"Terus loe maunya tim kita yang kalah gitu!" sewot Sany.


"Yang akan menang kak Al Al pokoknya, titik nggak pake koma!" marah Meira.


"Iya... iya..." sahut mereka berdua.


Babak kedua permainan dari Golden World semakin bagus terutama Alando yang terus memberikan skor.


"Yee kak Al Al hebat." teriak Meira kegirangan.


Babak kedua berakhir dengan skor yang menyusul bahkan melampaui tim lawan, hingga babak ketiga yang mendapat pergantian pemain dengan dimasukannya Kenny menggantikan Edo, serta Christ yang menggantikan Steven. Beruntung babak ketiga pun di tim Zaden unggul tipis 3 angka.


Terus berlanjut ke babak keempat, babak yang menentukan kemenangan tim Golden World. Pertandingan semakin seru hingga saling susul menyusul angka. Sorakan semangat semakin terdengar bergaung untuk tim masing-masing. Namun pada akhirnya tim basket terkuatlah yang akan menang atau bisa juga karena faktor keberuntungan yang menyertai mereka pada hari ini.


"Priitt..." bunyi pluit panjang menandakan babak pertandingan sudah berakhir dan tentu saja semua sudah tahu siapa yang menang. Ada yang sedih kecewa namun ada juga tertawa bahagia dan itu adalah bagian dari sebuah pertandingan. Setelah puas merayakan kemenangan tim mereka dengan sorak sorai bahagia, akhirnya perlahan mereka beranjak dan keluar satu-persatu dari tempat tersebut.


"Yah kok nangis sih...? Udah sana temui kak Alando." suruh Sany, sedangkan mereka hendak mengikuti langkah orang-orang yang sudah lebih dahulu keluar dari gedung basket ini.


"Mimit, Sansan nggak mau ikut Meira?"


"Nggak ah, takut! kami pulang duluan deh." ucap Mita sekalian pamit sama Meira begitu pun Sany.


"Ya udah, dadah Mimit, Sansan..." setelah kedua temannya keluar, Meira segera menghampiri kak Al Alnya di tengah lapangan dengan berlari kecil dan langsung menghambur memeluk kak Al Alnya yang masih penuh keringat, Meira tidak peduli itu. Bahkan saat orang-orang menatap mereka dengan penuh minat dan saling menggoda dia juga tidak peduli, Meira hanya ingin memeluk kak Al Alnya. Namun ada satu orang yang berada di sana merasa familiar dengan seorang Meira, seseorang di masa lalu yang pernah hadir di kehidupan Meira.


Vote, like, dan koment yaa...