Meira

Meira
BAB. 46



Di ruang keluarga berukuran kecil yang hanya tersedia meja dan kursi serta hiasan dinding cantik melengkapi pesona ruangan itu, di atas meja pun kini dihidangkan tiga cangkir teh hangat beserta cemilan andalan ibunya Meira yaitu pisang goreng. Kini mereka hanya bertiga duduk di ruang keluarga minus Meira dan Rado, mereka duduk bersama di satu ruangan karena ini memang permintaan Alando yang ingin berbicara dengan kedua orang tua Meira.


Saat ini Alando memang berada di rumah Meira, setelah mengantar Meira pulang ke rumah, dia pun masih harus menunggu kedatangan ayah Meira dari tempatnya bekerja.


"Diminum dulu nak Al tehnya." Ucap Ibu Meira ramah, ibu Meira memang sangat menyukai Alando, baginya Alando itu pemuda yang baik dan sopan apalagi Alando juga sangat perhatian pada putrinya.


"Iya tante, terima kasih." Sahut Alando.


"Jadi hal penting apa yang ingin kamu bicarakan sama kami?" tanya ayah Meira dengan sikap wibawanya, kemudian meminum tehnya sambil menunggu Alando untuk bicara. Tampak jelas di matanya Alando terlihat gugup, beberapa kali dia berusaha berdehem melegakan tenggorokannya sebelum dia memulai berbicara.


"Saya ingin meminta Meira pada Om dan Tante, ehhmm... maksudnya saya ingin meminta izin untuk menikah dengan Meira." Gugupnya.


Alando bingung memilih kata yang tepat. Dia tau ini sangat tidak sopan, melamar anak gadis orang seorang diri tanpa didampingi keluarga dan tidak berbekal apa-apa selain nekad bahkan tanpa persiapan apa pun.


"Menikah...? Apa ini tidak terlalu cepat, maksud Om kalian berdua kan baru saling mengenal." Ayah Meira masih belum bisa melepas putrinya apalagi mereka masih terlalu muda, apa bisa mereka menghadapi permasalahan rumah tangga nantinya apalagi dengan kondisi putrinya yang memiliki sifat anak kecil, apa Alando sanggup bertahan dan terus mencintai putrinya. Bahkan dalam dirinya pun ada ketakutan suatu hari Alando sudah tidak menginginkan putri kesayangannya itu dan pergi meninggalkannya.


"Kalian berdua tidak melakukan hal yang dilarang kan?" tanya Ayah Meira berusaha tidak panik. Dia hanya merasa ini terlalu terburu-buru, setahunya Alando bahkan belum lulus kuliah.


"Ayah kok ngomong begitu sih?" tegur istrinya, putrinya itu tidak mungkin seperti itu.


"Tentu saja tidak Om, tidak mungkin saya melakukan itu pada Meira. Om dan Tante jangan salah paham, saya menyayangi Meira dan saya tidak mungkin merusaknya. Karena itu saya ingin nenikahi Meira, saya berjanji akan berusaha membuatnya bahagia meski saat ini saya belum punya apa-apa tapi saya akan berjuang untuk Meira. Dan soal biaya hidup dan kuliah Meira saya pasti sanggup menanggungnya." Janji Alando penuh percaya diri.


"Saya tau ini terlalu cepat bahkan kami baru mengenal satu sama lain dalam beberapa bulan ini tapi saya yakin dengan keputusan dan pilihan saya saat ini, saya percaya kalau Meira adalah pasangan yang tepat untuk saya." Semua apa yang ingin Alando katakan sudah dia katakan, kenyataannya memang Meira lah yang dia inginkan untuk menjadi pasangan seumur hudupnya tidak ada perempuan lain yang bisa dia bayangkan selain Meiranya.


"Haahh... maaf kalau Om menanyakan hal seperti itu, tapi kamu pasti akan tau rasanya berada di posisi Om ketika nanti kamu memiliki seorang anak apalagi kalau anak itu adalah perempuan." Tutur ayah Meira dengan menarik napas panjang.


"Iya, saya mengerti Om." Sahut Alando, menurutnya Ayah Meira adalah sosok ayah yang bijaksana dan sangat mencintai keluarganya, tidak seperti papanya yang tidak bertanggung jawab pada keluarganya sendiri.


"Om akan memberikan kalian restu dan Om memberikan izin untuk kamu menikahi Meira putri Om itu asalkan kamu bawa keluarga kamu ke sini. Kamu bilang Mama kamu sudah meninggal kan! Tapi kamu masih memiliki seorang papa. Jadi Om mau kamu minta restu pada papamu terlebih dahulu baru datanglah kemari bersamanya. Om tidak mau pernikahan kalian nanti tidak tenang karena tidak ada restu dari satu-satunya keluarga kamu Alan, Om harap kamu bisa mengerti permintaan seorang Ayah yang ingin melihat putrinya selalu bahagia."


Minta Papa Meira tulus, meski pernikahan dengan adanya restu keluarga bukan berarti sebuah pernikahan akan selalu berjalan baik tapi setidaknya pernikahan putrinya kelak akan lebih tenang dari pada tanpa restu sama sekali.


"Iya Om." Jawab Alando pelan, dia tidak yakin apa dia bisa tapi demi Meira dia akan berusaha membuang egonya. Dia akan menemui papanya sesegera mungkin, memang tidak mudah untuk melupakan tapi mungkin dia bisa untuk memaafkan papanya tapi entahlah ini terasa sulit buat Alando.


****


Saat ini hari sudah gelap, selesai berbicara dengan kedua orang tuanya Meira sekaligus ikut sholat maghrib Alando memutuskan untuk langsung pulang ke rumah atau mungkin dia ke rumah Zaden dulu dan minta pendapatnya. Karena hanya Zaden lah tempatnya berdiskusi dan berkeluh kesah selama ini dan Zaden pulalah yang biasa memberikan solusi untuknya.


Meira hanya bisa mengantar kak Al Al nya di halaman rumah, karena dari tadi dia tidak di perbolehkan mengikuti pembicaraan mereka tapi meski Meira ikut pun Alando rasa Meira tidak terlalu memahami intinya.


"Kak Al Al apa kita akan menikah?" pandangan Meira hanya tertuju pada Kak Al Al nya meski lampu teras tidak mampu memperlihat wajah Alando secara jelas.


"Menurutmu?" tanyanya balik.


"Iya...!" angguk Meira malu-malu.


"Kalau begitu kita akan menikah...! Tapi belum saat ini, tunggu aku." Ucap Alando sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke motor matic yang sudah setia menemaninya selama lima tahun ini.


"Setiap hari Meira akan menunggu kak Al Al."


"Meski akhir-akhir ini aku akan sangat sibuk ingatlah aku selalu merindukanmu." Ucap Alando dan mengecup kening gadisnya dengan sayang setelah dirasanya cukup Alando melepas Meira dan menaiki motornya.


"Masuklah." Suruhnya.


"Meira akan masuk setelah kak Al Al pulang."


"Baiklah...!" Alando menghidupkan motornya dan memandang wajah Meira dengan pencahayaan yang temaram.


"Dadah kak Al Al hati-hati di jalan." Senyum Meira dan lambaian tangannya mengantar kak Al Al nya yang sebentar lagi akan pulang.


"Kenapa kak..." Meira kaget, kak Al Al nya tiba-tiba menarik tangannya dan mencium bibirnya cepat, memaksa Meira untuk menunduk karena posisi kak Al Al nya sedang duduk di motornya. Kali ini berbeda dari ciuman biasanya yang terasa lembut namun saat ini terasa sedikit kuat dan kasar seolah ada amarah di dalamnya. Cukup lama Alando melakukannya dalam keremangan sinar bulan, Alando meluapkan segala emosinya pada bibir kekasihnya itu. Sedang Meira hanya terpaku diam menerima perlakuan kak Al Al nya.


"Maaf, aku.." Alando menyadari kesalahannya.


"Apa aku sudah bersikap kasar?" Alando memegang bibir Meira dengan ibu jarinya.


"Apa sakit...?" tanya Alando khawatir, dia takut karena emosinya Meira justru akan menjauhinya.


"Sedikit, kak Al Al marah ya sama Meira...?"


"Enggak, aku cuma..."


"MEIRA MASUK INI SUDAH MALAM SETAN-SETAN PADA GENTAYANGAN." Teriak Rado dari dalam rumah mengingatkan kakak rasa adik perempuannya itu.


Alando mengerti arti sindiran adik lelaki Meira itu. "Masuklah, kita bertemu besok." sepertinya Rado memang benar, pikirnya.


"Iya, kak Al Al hati-hati ya?"


"Hemm..." Alando kembali menghidupkan mesin motornya dan segera pergi dari sana sepertinya dia memang harus minta pendapat Zaden sahabatnya.


****


"Menurut loe, gue harus memafkannya...?" tanya Alando yang sudah merebahkan dirinya di kasur mahalnya milik Zaden, sekarang dia memang berada di rumahnya tepatnya di kamar mewah yang memiliki ukuran seluas dua kali ruang tamu rumah Alando dengan warna serta furnitur yang elegan dan tentu saja kualitas tinggi.


Dia sangat membutuhkan pendapat dari sahabatnya itu saat ini.


"Loe yakin ingin menikah dengan Meira...?" tanya Zaden balik sekaligus menanyakan keseriusan seorang Alando.


"Tentu saja, gue tidak pernah seyakin ini!" tegas Alando.


"Kalau begitu loe harus bisa memaafkan bokap loe Lan, demi diri loe sendiri dan demi masa depan kalian berdua. Mungkin dulu bokap loe memang salah tapi tidak ada salahnya juga loe sekarang memaafkan segala kesalahannya, lagi pula bokap loe juga sudah meminta maaf kan?"


"Tidak semudah itu."


"Iya, gue tahu. Tapi apa loe mau kehilangan Meira...? Setidaknya bokap loe pernah menyayangi kalian berdua, ingat saja itu."


"Lan loe nggak mau minta pendapat gue?" tiba-tiba Kenny yang dari tadi diam dan hanya jadi pendengar yang baik di depan laptopnya yang terus dia pandangi ikut nimbrung, sedari tadi dia gatal ingin memberikan pendapatnya. Ternyata Kenny juga sedang menginap di rumah Zaden, karena malas berada di rumah.


"Nggak perlu." Sahutnya cepat, pendapat Kenny selalu menyesatkan di mata Alando.


"Menurut gue loe harus memaafkan bokap loe dan berbaikan dengannya, agar loe bisa secepatnya bisa menikahi Meira." Kenny tetap memberikan pendapatnya tanpa diminta, dia kan juga ingin mengungkapkan pendapatnya.


"Gue kasian aja sama loe Lan, pasti loe sudah nggak sabar ehem-ehem sama Meira." Lanjutnya, dan memberikan cengiran seolah mengejek Alando.


"Kenny setan! Loe bener-bener..." Alando secepatnya turun dari rebahannya dan memberikan pelajaran buat Kenny.


"Hahaa... gue ngomong apa adanya, jangan bilang loe tidak menginginkan Meira." Tawa Kenny semakin keras melihat Alando yang salah tingkah, dia sudah sering bergonta-ganti cewek tentu saja dia paling mengerti bagaimana kehidupan sepasang kekasih. Memang tidak semua orang bisa disama ratakan tapi rata-rata emang kayak gitu.


"Berisik loe...!" kesal Alando. Dia memang menginginkan Meira tapi lebih dari itu Alando ingin menjadi seseorang yang bisa menjaga Meira dan bisa terus berada di dekat Meira setiap harinya, katakanlah saat ini Alando sudah menjadi salah satu anggota bucin.


"Terus gimana, kapan loe menemui bokap loe Lan?" Zaden kembali bersuara setelah kedua temannya selesai bermain baku hantam meski matanya tidak lepas dari laptopnya.


"Gue belum tau...! Yang pasti secepatnya dan tentu gue harus mempersiapkan mental terlebih dulu." Karena melihat Papanya itu berarti mengungkit kenangan-kenangan masa pahit yang harus Alando dan mamanya lalui dulu.


Vote, like dan koment ya...