Meira

Meira
BAB. 36



"ALANDO...!


"MEIRA....!


Teriak mereka bergantian, Zaden, Kenny, Steven dan Christ beserta rombongan bala bantuan melanjutkan pencarian mereka saat matahari mulai terbit. Mereka menyusuri tempat terakhir kali bertemu Alando terus berlanjut ke tempat yang belum mereka telusuri. Dan tidak lama setelah itu mereka menemukan jejak-jejak tanda yang mungkin sengaja Alando buat untuk memudahkan mereka menemukannya.


"Hei lihat ini...? jalan ini sepertinya pernah di lewati orang." tunjuk Zaden pada rerumputan yang rebah dan beberapa ranting seperti sengaja ditancapkan sepanjang jalan tersebut.


"Mungkin ini memang dibuat Alando untuk menandai jejaknya." Sahut Steven, dia kenal seperti apa Alando, dia pasti sudah memikirkan ini untuk memudahkannya untuk kembali atau sebaliknya untuk memudahkan mereka untuk menemukannya. Tidak mungkin Alando pergi begitu saja tanpa memikirkan keselamatannya.


"Ya, kalau begitu tunggu apalagi? Ayo kita telusuri jejak-jejak ini." Semangat Christ, jujur dia juga sangat khawatir pada sahabatnya itu, apalagi pada gadis lugu yang selalu bisa membuat dia tertawa sekaligus kesal secara bersamaan akan tingkahnya itu. Bukan apa-apa, bagi Christ Meira itu seorang perempuan yang sulit untuk menjaga dirinya sendiri bisa dikatakan dia itu lemah berbanding terbalik dengan Alando, dia seorang laki-laki yang mampu mengatasi banyak kesulitan bahkan Christ percaya kalau Alando sekarang baik-baik saja. Dia cuma berharap Alando sudah menemukan Meira dan sekarang mereka berdua berada di tempat yang aman.


"Ayo...!" ucap Zaden dan diikuti semua rombongan yang bersama mereka. Tidak lupa teriakkan-teriakkan memanggil nama Alando dan Meira yang terus bergema di sepanjang jalan itu. Tanpa peduli para penunggu tempat itu pada protes. Lagi pula di kelompok mereka ada Kenny yang katanya ingin mengikuti jejak Jurnalrisa, dan sekarang mereka sudah memberi kesempatan untuknya membuktikan diri.


Sebenarnya jalannya tidak terlalu sulit, bahkan jalannya cukup aman untuk dilewati hanya saja mereka tidak menyangka bagaimana bisa Meira sampai sejauh ini. Itu pun kalau memang benar Meira ada di tempat ini bahkan bisa dikatakan pemandangannya justru sangat bagus. Dan tidak jauh dari mereka terlihat sungai kecil yang memanjang, mungkin mereka harus mengikuti arah sungai siapa tau Alando atau Meira juga mengikuti arah sungai tersebut. Tapi kalau dipikir-pikir rasanya tidak aneh kalau mereka bisa berjalan sejauh ini karena saat itu harinya pun sudah mulai gelap mungkin mereka cuma mengandalkan kaki serta insting mereka tanpa tahu apa yang ada di sekitarnya.


"Jangan-jangan ini ulah loe Christ!" tuduh Steven. Tidak serius, hanya ingin membuat sahabatnya itu kesal saja.


"Ulah gue apaan emang?" Christ bahkan tidak mengerti dengan omongan Steven, memangnya dia sudah membuat ulah apa?.


"Loe kan pernah mengancam Meira untuk membuat dia tersesat waktu itu?" Steven mengingatkan kembali omongan mereka waktu itu. Meski dia tau itu cuma sekedar candaan yang pada akhirnya seperti doa yang didengarkan Tuhan. Dan sekarang Meira benar-benar tersesat dengan bonus Alando pun ikut menghilang.


"Wah... benar nih, kapan loe merencanakannya sih Christ kok bisa sehalus gini?" Kenny ikut menyudutkan Christ.


"Gila aja loe berdua! loe kira gue bisa sejahat itu sama Meira. Lihat mukanya aja gue nggak tega mau marahin tuh anak apa lagi sampai nyasarin kayak gini!" sahut Christ kesal dengan tuduhan kedua temannya.


"Slow bro, bercanda mah kita. Habisnya dari tadi kita semua juga pada setres." Kenny merangkul sahabatnya sambil terus berjalan.


"Ngapain sih kalian pada drama? yang benar jalannya. Gue yakin mereka nggak jauh dari sini!" Tegur Zaden, ikut-ikutan kesal melihat mereka yang berjalan sangat lamban.


Padahal mereka harus bergerak cepat dan segera menemukan teman mereka.


"Iya... maaf boss!" Mereka akhirnya mengikuti langkah Zaden dengan cepat dan kembali bersemangat menyusuri setiap jejak.


"ALANDO... MEIRA..."


"ALANDO... MEIRA..."


Teriak mereka, berharap kali ini ada yang menjawab teriakkan mereka. Tidak ada jawaban sama sekali, namun selang beberapa menit terdengar suara sahutan dari arah sungai. Suara bariton yang sudah sangat familiar di telinga mereka.


"HEII KAMI DI SINI."


Zaden menghentikan langkahnya, kaget sekaligus senang. "Hei... Kalian dengar? itu suara Alando!"


"Asalnya dari sana!" tunjuk Steven, arah sungai yang memang ingin mereka sambangi.


"Ayo...!" akhirnya mereka menuju ke arah sungai yang memang tersembunyi dan tertutupi beberapa pohon besar.


Dan benar saja saat mereka menuju sungai tersebut tampaklah dua orang yang sedang mereka cari, Alando dan Meira. Lega, itulah yang mereka rasakan. Apalagi melihat mereka berdua baik-baik saja tanpa ada yang kurang sedikit pun.


"Kak Zad Zad... Kak Stip tip... " lambaian tangan Meira menyambut kedatangan mereka. Dia senang bisa bertemu mereka kembali karena itu artinya sekarang mereka berdua bisa kembali pulang.


**** 


Saat ini mereka sudah berada di mobil, setelah Alando dan Meira ditemukan mereka memutuskan untuk langsung pulang. Selain jadwalnya hari ini mereka memang haruslah kembali pulang ditambah kondisi yang letih juga membuat mereka ingin segera pulang.


Meira tampak diam, dia tidak seperti biasanya yang banyak bicara dan cerewet. Meira memang baru minum obat penurun panas dan mungkin efeknya membuat dia sangat mengantuk sehingga sepanjang perjalanan Meira cuma tidur di samping Ami yang sangat perhatian pada Meira.


"Meira tidak apa-apa itu?" tanya Zaden, karena Meira tidak seceria seperti biasanya.


Ami menyentuh dahi Meira. "Sudah nggak panas lagi kok kak, mungkin karena efek dari obat aja!" sahut Ami yang berada di samping Meira.


"Oh ya... kalian mau saya antar langsung rumah saja? biar cepat sampai." tanya Zaden menghilangkan kesunyian diantara mereka.


"Oh nggak usah kak, turunkan kami di depan kampus saja. Ada yang jemput kok."


"Oke. Kalau begitu Meira biar kami antar sampai rumah." karena Meira yang lagi tidak enak badan tidak mungkin juga Zaden membiarkan Meira turun di tengah jalan dan menunggu jemputan. Setelah kawanan Meira turun di depan kampusnya, Zaden dan Alando mengantar Meira ke rumahnya.


Mobil berhenti di depan rumah Meira pukul 17.00 sore. Rumah Meira pun tampak sepi, sepertinya warung pisang goreng ibunya Meira sudah tutup.


"Iya, nggak masalah. Gue bisa naik ojek lah gampang, loe duluan aja. Gue antarin Meira masuk dulu." Sahut Alando.


"Oke. Sampai besok." Zaden menghidupkan mesin mobilnya dan melaju setelah Meira keluar mobilnya.


"Meira masih ngantuk."


"Kamu bisa lanjutin tidur di dalam." Alando menarik Meira yang seakan tidak mau bergerak dari halaman depan.


"Tok... Tok..." Alando mengetuk pintu rumah Meira, tidak sopan seandainya dia langsung meninggalkan Meira di depan pintu sedangkan Meira cuma diam aja dari tadi.


"Kreek..." pintu terbuka. "Eeh... nak Al nganterin Meira, bagaimana campingnya?" Ibu Meira senang bisa melihat Alando lagi, anak baik dan sopan di mata ibunya.


"Yahh... lumayan seru tante." Alando bingung mau menceritakan kejadian semalam atau tidak. Takutnya ibu Meira akan marah padanya.


"Ibu... Meira ngantuk." adu Meira pada ibunya dengan manja. Meira memang sangat mengantuk karena tidurnya sangat sedikit selain itu karena efek obatnya juga.


"Ya sudah masuk, sana tidur." Suruh ibunya.


"Tapi Meira mau sama kak Al Al." omongan Meira membuat ibunya kaget, bahkan Alando juga merasa tidak enak sama ibunya Meira. Jangan sampai Ibunya jadi salah paham karena ucapan Meira.


"Jangan sembarangan ngomong, anak ini ckkckk..."


Kesal ibunya, Meira memang suka ngomong sembarangan. Tapi untungnya ibunya paham tentang putrinya itu.


"Kalau begitu aku pulang dulu tante." Alando benar-benar tidak enak hati sekarang.


"Jangan pulang, temani Meira dulu kak Al Al." rengek Meira.


"Nak Al pasti belum makan, bagaimana kalau makan dulu." Suruh ibunya dan membawa Alando masuk ke dalam, kebetulan ayah Meira juga ada di rumah ditambah adiknya Meira si Rado yang dari tadi terus menatapnya sinis. Sambil menunggu ibu Meira menyiapkan makanan ayah Meira mengajaknya bicara bahkan Rado juga kadang-kadang menimpali namun lebih sering memojokkan Alando.


"Kamu tinggal dengan orang tuamu sekarang?" tanya ayah Meira ingin tau lebih banyak tentang Alando.


"Mama sudah meninggal om jadi saya tinggal sendirian." jujur Alando.


"Oh, om minta maaf ya kalau sudah mengingatkan tentang mama kamu. Tapi papa kamu masih ada kan?"


"Ehmm... papa dan mama saya sudah bercerai dari saya kecil jadi saya juga nggak tau om." bohong Alando, dia hanya tidak suka membahas tentang papanya.


"Oh. Ya sudah, ayo kita makan dulu, sepertinya ibunya Meira sudah menyiapkan makanan." ajak ayahnya. Dia sudah tidak enak membuat Alando tidak nyaman dan segera mengalihkan pembicaraan yang lebih ringan.


"Eits... tidak boleh dekat-dekatan, gue duduk di sini." Rado menyerobot saat Alando akan duduk di dekat Meira.


Rasanya Alando ingin menggeplak nih bocah songong seandainya saja dia tidak ingat sedang berada di rumah Meira, apalagi sekarang ada kedua orang tuanya. Mau tidak mau dia yang waras harus mengalah.


"Radodo jahat, Meira kan pengen dekat kak Al Al nya Meira." Meira kesal dengan adiknya yang selalu menyebalkan itu.


"Nggak boleh! nanti ada setan ikut duduk di tengah kalian." nasihat Rado sok tahu.


"Berarti Radodo sekarang jadi setan ya?" tanya Meira karena sekarang Rado duduk diantara mereka berdua.


"Aku? ya bukanlah, masa cowok seganteng aku gini dibilang setan. Setannya ada di samping kanan aku nih...!" tunjuk Rado pada Alando yang tidak sudi mempedulikan omongannya Rado.


"Kak Al Al juga ganteng!" Meira makin kesal sama adiknya.


"Ale Ale kamu bilang ganteng? ganteng dari mananya?" perdebatan adik dan kakak memang sudah biasa dilihat di rumah ini.


"Yang sopan kalau ada tamu, seharusnya kamu memanggil Alando dengan sebutan kakak. Dia lebih tua dari kamu Do!" Ayah Meira tidak suka kalau anaknya tidak sopan dengan orang lain, dia selalu mengajari anak-anaknya untuk bersikap ramah pada semua orang.


"Iya yah... bercanda kok. Ya kan kak Ale Ale?" Rado bersikap manis namun sayang hanya di depan ayahnya saja.


"Ayo kita makan, Alan jangan sungkan. Maaf kalau makanannya cuma sederhana."


"Nggak apa-apa om, ini juga sudah enak." balas Alando sopan, dan obrolan-obrolan ringan pun berlanjut. Meski Rado suka membuatnya kesal tapi dia suka suasana kekeluargaan yang tidak didapatnya setelah kedua orang tuanya bercerai.


Vote, like dan koment ya...