
Alando baru mau menjalankan motornya untuk menjemput Meira dan berangkat ke kampus bersama, namun tiba-tiba ada suara seorang perempuan muda memanggilnya.
"Kak Alan tunggu." gadis itu baru turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa menghampiri Alando. Penampilannya cantik dengan pakaian yang sering dipakai putri-putri orang kaya, mahal dan elegant.
"Loe panggil gue?" tatap Alando heran saat perempuan itu sudah ada di hadapannya, Alando tidak pernah mengenal perempuan itu sebelumnya tapi sepertinya dia sudah mengenal Alando.
"Iya, aku Dinda, aku anak tiri papa kak Alan. kita saudara." ucapnya tanpa rasa takut, dia tau orang di depannya ini pasti sangat membenci dia dan ibunya dan Dinda maklum untuk itu. Dia tahu posisi ibunya yang salah di sini, namun dia juga tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga siapa dan bagaimana.
"Gue tidak punya saudara!" ucapnya tegas, Alando tidak suka dengan kenyataan itu. Kenyataan dia memiliki saudara tiri, anak dari wanita yang sudah merebut kebahagiaan mamanya.
"Oke. Kak Alan tidak perlu menganggapku seorang adik. Tapi aku minta kak Alan maafin papa, Papa sangat merindukan kak Alan, papa sakit dan mungkin umurnya tidak lama lagi. Aku mohon kak temui papa, selama ini papa sudah menyesali perbuatannya pada kalian."
"Bagaimana keadaannya?" sebenci-bencinya Alando pada papanya ternyata dia masih peduli dengannya, walau bagaimana pun dia pernah mendapat kasih sayang saat masih kecil hanya saja papanya terlalu buta setelah bertemu dengan wanita itu.
"Papa dirawat di rumah sakit saat ini, keadaannya tidak terlalu baik." sahut Dinda, dia berharap kak Alan bisa menemui papanya walau cuma sebentar.
Setelah memberi kabar pada Meira kalau hari ini dia tidak bisa menjemputnya dan pergi kuliah bersama, Alando pergi ke rumah sakit di mana papanya sedang dirawat. Dari penjelasan Dinda papanya sudah menderita penyakit kanker paru selama setahunan ini. Pantas saja papanya terlihat semakin kurus setiap bertemu dengannya. Dia terus melangkah menyusuri koridor rumah sakit dan berhenti tepat pada ruangan VIP yang kini di tempati papanya. Alando berhenti tepat di depan pintu kamar tersebut, dia masih berperang dengan pikirannya sendiri, antara ingin masuk dan melihat keadaan papanya atau melupakan rencananya untuk menemuinya sampai dia siap.
"Kak Alan..." Dinda memanggilnya dari belakang, karena sedari tadi Alando cuma berdiri di depan pintu dengan perasaan bimbang.
"Masuklah, gue akan segera menyusul." suruhnya pada Dinda, Alando sepertinya harus mempersiapkan mental terlebih dahulu.
Saat waktu yang dirasanya cukup untuk membuatnya siap "Greek..." gagang pintu ditarik, pintu terbuka menampilkan empat pasang mata yang ada di sana, pandangan semua orang kini tertuju padanya "Alan aku sangat merindukanmu." tiba-tiba seorang gadis di masa lalunya memeluk dirinya, erat.
"Gaby...?"
****
"Kak Ken Ken nggak boleh...!" teriak Meira dari belakang mereka berdua. Mereka tampak kaget dengan teriakan Meira sampai-sampai harus menutup telinga.
"Aduuh Meira... mau kamu apa sih? jangan ganggu aku hari ini ya. Tuh di sana ada Christ dan Steven mending kamu ganggu mereka aja." perintah Kenny, padahal dia sedang mesra-mesraan sama pacarnya, nih anak ada aja ulahnya. Kenapa juga Meira bisa melihat dia di sini, pikirnya.
"Meira nggak ganggu, Meira cuma mau bilang kak Ken Ken nggak boleh ciuman itu dosa nanti kak Adedel bisa hamil." Meira memberi nasehat untuk mereka berdua seperti teman-temannya yang juga sudah memberi nasehat untuknya.
"Hamil? Itu ajaran dari mana coba?" ucap Adelia heran.
"Meira kamu juga sudah ciuman sama Alando berarti kamu juga dosa." balas Kenny, membalikan pernyataan Meira.
"Meira sudah tobat kok." ucapnya polos.
"Tapi Alando sepertinya belum tobat." cengir Kenny, temannya itu nggak mungkin tobat semudah itu.
"Oh, nanti Meira kasih tau Kak Al Al deh supaya tobat."
"Bagus itu, pokoknya Meira jangan mau di cium lagi sama Alando ya? Hahaa..." puas deh kalau dia bisa membuat sahabatnya itu frustasi karena tidak bisa mendekati Meira lagi.
"Iya" angguk Meira.
"Nah Meira, kamu tau cewek itu nggak?" tunjuk Kenny pada gadis yang lagi duduk sendirian di bawah pohon.
"Iya, kakak cantik itu pernah ikut bawa Meira ke gudang, tapi kata kak Al Al, kakak cantik itu juga sudah bantuin Meira." ceritanya.
"Ngapain sih bahas cewek lain di depan aku?" kesal Adelia. Dia sudah tau Kenny itu playboy tapi sepertinya cinta sudah membutakan logikanya, sebelum dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Kenny berselingkuh dia tidak akan menyerah sampai di sini.
"Sebentar sayang, aku punya tugas buat Meira!" Kenny sudah memikirkan ini dari kemarin, sepertinya Zaden memang perlu di kerjain biar hidupnya tidak datar-datar banget. Setahunya Zaden memang anti banget sama cewek matrealistis dan menurutnya cewek itu termasuk dalam daftar hitamnya, Kenny iseng aja pengen ngerjain tuh ketua geng mereka dan sekarang dia tau caranya, yaitu lewat Meira.
"Hah...?" Adelia tampak kaget.
"Tugas apa kak Ken Ken? Meira mau... Meira mau..." Meira sangat antusias dengan tugas yang akan diberikan padanya. Tugas dari kampus itu cuma bikin Meira pusing jadi dia ingin dapat tugas baru yang tidak bikin dia pusing.
"Tugas kamu, mendekatkan cewek itu dengan Zaden. Sepertinya Zaden anti banget sama tuh cewek, bawaannya selalu kesal aja kalau melihatnya." Kenny menjelaskan panjang lebar, namun dia lupa yang ada di hadapannya sekarang adalah Meira, otaknya belum mampu mencerna penjelasannya.
"Oh..."
"Mengerti kan Meira?" tanya Kenny, memastikan penjelasannya bisa dimengerti oleh gadis di hadapannya.
"Iya, Meira mengerti." jawabnya pasti, dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya sudah laksanakan, Zaden ada di kelas yang biasa kami gunakan." perintah Kenny, lagi pula dia sedang ingin berdua-duaan dengan pacarnya tanpa gangguan si gadis manis bin ngeselin itu.
"Oke, Meira akan lakukan tugas Meira dulu ya!" pamitnya. Dengan senang Meira melangkah menuju tempat cewek yang di maksud Kenny itu dan menghampirinya.
Cewek itu terlihat sedang duduk termenung sendirian di bawah pohon.
Di mata Meira cewek itu sangat cantik dengan rambut panjang yang terikat ekor kuda, tubuhnya langsing dan berkulit putih dengan dandanan sederhana yang tidak terlalu berlebihan seperti kedua temannya yang jahat itu. Sayang wajahnya terlihat murung matanya merah seperti baru menangis, dia terlihat memikirkan banyak hal hingga tidak melihat atau pun terganggu dengan sekelilingnya.
"Hai kakak cantik, Meira boleh duduk di sini nggak..?" Meira heran karena tidak dapat balasan apa pun, apalagi matanya yang terus menerus menatap ke arah lain seolah Meira cuma bayangan.
"Hai... Meira di sini!" ucap Meira dengan melambai-lambaikan tangannya terus menerus, dan menyadarkan cewek itu kembali.
"Ehh... Oh... Iya, maaf aku melamun tadi." jawabnya kaget, karena tiba-tiba ada gadis manis yang tempo hari dibully oleh Olivia dan Rena kini berdiri di hadapannya. Cewek yang dia tau adalah kekasih dari Alando anggota geng ZACKS, setahunya dia tidak membuat masalah selain hari itu, dan bukankah dia sudah dimaafkan.
"Kata ibu kalau kita melamun sendirian di bawah pohon nanti ada yang nempel, kata kak Zad Zad di pohon ini ada mbak kuntinya, iih Meira jadi takut."
"Apa yang nempel...?" tanyanya penasaran.
"Semut, ulat, semua serangga yang ada di pohon." jawabnya, dengan mata yang mengarah pada pohon.
"Hahaa... Jadi nama kamu Meira?" tawanya, melihat tingkah lucu dari gadis yang baru dia kenal saat ini. "Kenalin aku Kara." lanjutnya memperkenalkan diri.
"Oh... Ibu Meira suka masak pake Kara, rasanya enak." sahut Meira tersenyum pada gadis yang bernama merk santan itu, salah satu bahan makanan yang sering digunakan orang Indonesia. Begitu pun ibunya yang sering memasak dengan menggunakan Kara, karena itu Meira sangat hapal dengan merk tersebut.
"Haahh...?" sayangnya Kara tidak mengerti apa yang dimaksud Meira. Dia lupa namanya dipakai untuk merk bahan makanan.
"Kak santan ikut Meira ya? soalnya Meira punya tugas dan harus dilaksanakan." tanpa permisi Meira langsung menarik Kara menuju kelas di mana ada kak Zad Zad berada.
"Meira, kamu mau membawaku kemana?" sebenarnya Kara ingin protes, tapi dia ingat siapa Meira. Kara tidak ingin berurusan dengan Alando dan gengnya, kalau sampai dia melawan kemauan Meira takutnya dia dalam masalah lagi, sekarang saja masalahnya sudah cukup banyak dia tidak sanggup kalau harus mendapat masalah lain.
"Kak santan ikutin Meira aja ya?" ajak Meira melewati koridor yang juga sudah sering di lalui oleh mereka, bahkan kini mereka jadi sumber perhatian dari para mahasiswa yang mereka lewati, bisikan-bisikan pun kini terlontar dari mulut mereka. Banyak yang menduga Kara dalam masalah besar karena sudah mengganggu Meira kekasih Alando, ada juga yang berpikir Meira mau balas dendam pada Kara. Tapi sayangnya itu cuma bisikan-bisikan dan tidak ada yang mau tau pada nasib gadis itu.
"Nah itu kak Zad Zad." tunjuk Meira pada salah satu kumpulan laki-laki yang sedang duduk di kursi mereka. Meira menarik Kara masuk ke kelas yang masih tampak sepi karena sekarang sudah jam kosong dan cuma mereka bertiga yang menghuninya saat ini.
"Meira ada apa, dia menyakiti kamu?" tanya Zaden, dengan pandangan sinisnya menatap gadis tersebut, dan segera bangkit dari kursinya untuk menjauhkan mereka berdua dan menarik Kara kasar.
"Aww..." Kara menjerit kesakitan saat tangannya dipegang kuat, dia yakin tangannya pasti sangat merah saat ini.
"Iih, kak Zad Zad jangan, kak santan tidak menyakiti Meira kok. Meira cuma mau melaksanakan tugas dari kak Ken ken aja kok." jelas Meira. Dia Membawa Kara duduk di sebuah kursi menjauh dari Zaden.
"Santan? Tugas? Kenny?" Zaden bingung dengan omongan Meira kali ini. Apa Kenny berbuat usil lagi pada Meira, pikirnya.
"Tugas apa sih Dora? yang jelas dong ngomongnya. Kenny sudah memberikan tugas apa sama kamu?" tanya Christ, yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Meira. Setiap harinya ada aja ulah nih anak, meski Alando sekarang tidak ada di kampus tapi Meira masih berkeliaran di sekitar mereka.
"Kak Zad Zad sini..." panggil Meira, mau tidak mau Zaden mendekat ke arah Meira, entah apa yang sedang ada di pikiran anak itu, dia ikutin aja lah.
Meira menarik tangan Zaden menuju ke arah gadis yang dipanggilnya santan itu dan Zaden seperti biasa akan bersikap baik layaknya seorang kakak pada adiknya dengan menuruti kemauan Meira, kalau saja orang yang menariknya itu bukan Meira sudah pasti tempatnya ada di rumah sakit sebentar lagi.
"Nah kak Zad Zad duduk di sini ya? dekat-dekat sama kak santan." Meira membawa Zaden duduk di dekat Kara secara berdampingan dan sekarang mereka sudah duduk sangat dekat, seperti yang disuruh kak Ken ken, bangga Meira.
"Haahh...?" bingung mereka bersamaan, sampai sekarang mereka belum mengerti apa yang dipikirkan Meira, seharusnya ada Alando di sini. Zaden dan Kara bergegas hendak pergi menjauh namun Meira menghalangi.
"Gak boleh, Meira mau foto dulu. Ini sebagai bukti tugas sudah Meira laksanakan." cerewetnya pada mereka berdua.
"Hahahaa..." Christ semakin senang saat melihat muka piasnya Zaden, sepertinya cuma Meira yang bisa ngatur-ngatur ketua geng mereka.
"Sudah turuti saja, dari pada tambah rusuh nih anak." suruh Steven, lumayan dapat pertunjukan menarik, pikir steven.
"Klik, Meira sudah dapat fotonya." senang Meira, nanti fotonya dia kasih sama kak Ken Ken. Hari ini Meira memang sangat bosan makanya dia senang saat kak Kenny memberinya tugas. Biasanya ada kak Al Al nya yang bisa dia pandangi, dia ajak ngobrol meski cuma dia yang ngomong dan Kak Al Al nya yang jadi pendengar, sedangkan teman-temannya paling cuma tahan sebentar mendengar suara Meira.
"Meira sebenarnya Kenny memberi kamu tugas apa sih?" Zaden secepatnya menjauh dari Kara saat Meira sudah tidak fokus pada mereka berdua, karena kini matanya justru lebih fokus pada handphonenya.
"Kak Ken Ken memberi Meira tugas untuk mendekatkan Kak Zad Zad dengan kak Santan, biar kak Zad Zad tidak kesal lagi dan Meira sudah melakukan tugas Meira." jujurnya.
"Kenny...!" geram Zaden, seenaknya aja tuh orang. Rupanya Kenny mau bermain-main dengannya. Oke kita lihat aja nanti, dia pasti akan membalasnya, batin Zaden.
"Tangan kak Santan kenapa merah gini? Oh iya, ini pasti kiss mark dari Kak Zad Zad, kok Kak Zad Zad jahat sih sama kak santan?" tanya Meira dengan muka cemberutnya pada kak Zaden.
"Apa...? Kiss mark?" kaget Zaden, bagaimana dia bisa memberi tanda itu untuk gadis bodoh di hadapannya sedangkan dia tidak mengenalnya sama sekali dan dari mana pula Meira mengenal kata itu, tidak mungkin kan Alando mengajari Meira yang tidak-tidak. Dia tau Alando, rasanya tidak mungkin kata-kata itu keluar dari mulutnya untuk didengar Meira.
"Tidak, bukan karena itu Meira. Kamu salah paham." elak Kara mencoba menjelaskan, bagaimana bisa Meira menyebut kata itu hanya karena tangannya yang merah akibat cengkraman kuat dari Zaden di tangannya.
"Wah... Zaden, bagaimana caranya bisa membuat kiss mark secepat itu? Hahaa..." goda Steven.
"Steve, besok-besok loe yang gue beri kiss mark" ancam Zaden saking kesalnya dengan godaan Steven.
"Oke. Gue nggak ikut campur." cengir Steven.
"Siapa yang kasih tau kamu kata-kata itu Meira? Bukan Alando kan?" tanya Zaden dengan sabar, dia tidak mau terlihat emosi di depan Meira karena dia memang cuma marah pada Kenny dan satu lagi orang yang sudah memberi tahu kata-kata dewasa itu padanya.
"Kata-kata apa kak Zad Zad?" tanya Meira tidak mengerti.
"Kiss mark, dari mana kamu tahu kata itu?" tanya Zaden lagi, meski dia malas menyebutnya.
Sayangnya tidak ada yang memperhatikan gelagat mencurigakan dari Christ yang tiba-tiba perlahan menjauh dari ruangan itu untuk menghindari amukan Zaden. Christ tidak habis pikir Meira akan mengingat ucapannya yang tidak dia sengaja lontarkan, kenapa sih tuh anak harus selugu itu. Meira please jangan sebut namaku, jangan sebut namaku, jangan sebut...! doanya.
"Oh itu, kak Kris Kris." jawab Meira polos. Sambil melihat ke arah pintu di mana kak Christ sedang mengendap-endap seperti maling yang berusaha pergi diam-diam, Meira hanya bingung melihatnya. Begitu pun Zaden yang akhirnya mengikuti arah pandang Meira.
"****** gue!" dengan jurus seribu bayangan yang dia pelajari dari kegemarannya menonton anime Naruto tiap harinya, dan sepertinya memang hari ini lah saat yang tepat untuk dia praktekkan di dunia nyata, kabur.
"Hei Christ jangan kabur...! Sini loe." Zaden meninggalkan ruangan tersebut untuk mengejar Christ dan memberinya pelajaran. Sampai-sampai tidak mendengarkan panggilan Meira lagi.
"Kak Zad Zad...! Meira kok ditinggal?" padahal Meira masih ingin mengobrol dengan kak Zaden, karena hanya dia yang mau mendengarkan omongannya selain kak Al Al tentunya. Lagi pula dia ingin bertanya tentang kak Al Al nya, sudah beberapa kali dia mengirim pesan tapi tidak dibalas-balas bahkan panggilan telponnya juga tidak di angkat.
"Meira, aku pergi dulu ya. Aku harus pulang sekarang." pamit Kara pada Meira, dia berharap Meira tidak menahannya lebih lama lagi di sini dan bertemu ketua geng itu, sungguh dia menakutkan, batinnya.
"Meira ikut." minta Meira, dia bosan menunggu jemputan adiknya Rado.
"Aku mau pulang ke rumahku Meira." sahutnya bohong, sebenarnya dia mau pergi ke tempat kerjanya dan Kara tidak mungkin mengajak Meira.
"Iya, Meira ikut." kekehnya. Dia pengen bermain kerumah teman barunya saat ini, nanti kan Radodo bisa menjemputnya di rumah kak Santan, pikir Meira.
"Tidak boleh! memang kamu mengenalnya?" kalau Steven membiarkannya bisa-bisa Alando mengamuk padanya. Lagian nih anak kok bisa percaya sama orang baru dikenalnya. Kalau Meira sampai hilang lagi mereka juga yang repot nanti, bukan cuma repot tapi panik lebih tepatnya.
"Kenal, tadi kan kita sudah berkenalan, namanya kak Santan." beritahunya pada Kak Steven, bagi Meira kenal itu cuma sebatas tau nama masing-masing. Sedangkan yang di maksud Steven adalah seberapa lama mereka saling tau pribadi masing-masing.
"Namaku Kara, Meira. Bukan santan." jelasnya. Entah kenapa Meira benar-benar terlihat seperti adiknya di kampung. Pengen kesal tapi nggak bisa, Meira terlalu lugu dan itu bukan dibuat-buat untuk sekedar cari perhatian orang-orang di sekitarnya. Tapi masalahnya ini bukan saatnya untuk bermanis-manis dengan gadis itu, dia harus secepatnya pergi dari sini, terserahlah Meira mau memanggilnya apa? Mau santan, mau kelapa dia pasrah aja.
"Kara itu santan, santan itu kara." Meira tetap dengan pendiriannya. Tidak ada bedanya di mata Meira, lagi pula Meira lebih mudah mengingatnya.
"Kak Stip stip Meira benarkan?" Meira sudah tampak senang, menunggu jawaban dari kak steven, kak Steven itu selalu baik sama Meira. "Soalnya kalau Meira beli santan namanya pasti Kara, kalau Meira beli Kara itu isinya pasti santan." lanjutnya dengan kata-katanya yang dia bolak-balik.
"Iya, kamu benar." Steven mau cari aman, kalau dia menyanggah omongan Meira alamat telinganya tidak selamat. Seharusnya Meira itu mencoba merk santan lain biar pengetahuannya lebih luas, seperti mantan Kenny yang namanya juga merk santan.
"Tuh kan, Meira benar?" bangganya pada diri sendiri.
"Haahhh..." pasrah mereka berdua, bersamaan. Tapi tidak apa-apa lah sesekali menyenangkan hati Meira.
"Kalau begitu Meira boleh ikut?" tanyanya lagi pada kak Santan, sambil memandangnya dengan senyum yang terukir manis di bibirnya berharap permintaannya kali ini akan dituruti.
"Tidak boleh! jangan ikut dengan orang asing Meira. Bagaimana kalau dia menguncimu di gudang lagi!" sindir Zaden, dia sudah memberi pelajaran pada Christ, sayangnya dia tidak menemukan Kenny sumber masalahnya. Setelah bosan berkeliling akhirnya dia balik lagi ke kelas ini, dia lupa kalau sudah meninggalkan Meira dengan gadis bodoh dayang-dayang Olivia. Zaden memanggilnya seperti itu karena dia belum mengetahui namanya, tapi kalau tidak salah Meira tadi menyebutnya santan, sungguh itu nama yang aneh, batin Zaden.
"Kak Santan baik kok sama Meira." bela Meira pada Kara.
"Meira kamu ikut pulang sama kakak aja ya? Ini perintah Alando, tadi dia telepon kakak." dia tidak berbohong, Alando memang memintanya untuk mengantar Meira karena adiknya Meira sedang banyak kegiatan di sekolah dan menunggu adiknya datang sangatlah lama, itu membuat Alando khawatir.
"Oh gitu, ya sudah. Tapi kak Santan boleh ikut ya?" pandangan Meira kini tertuju pada Zaden meminta persetujuannya.
"Meira, tidak usah. Aku sudah mau dijemput kok, ya sudah aku pergi dulu." pamit Kara dan secepatnya dia pergi dari sana mumpung ada kesempatan tanpa mendengar jawaban Meira setelahnya. Kara sangat tidak suka dengan pandangan sinis laki-laki angkuh itu, kata orang-orang di sekitarnya Zaden itu cukup ramah pada beberapa orang dan sepertinya dia tidak termasuk beberapa orang itu.
Vote, like dan koment ya...