Meira

Meira
BAB. 27



Padahal keempat teman Alando sudah sangat bersemangat, karena akhirnya Alando mau menemui Meira tapi belum sempat mereka berbicara sudah ada halangan di depan matanya, hingga Alando mengurungkan niatnya menemui Meira. Laki-laki itu lagi, Reno. Tapi sekarang bukan cuma ada mereka berdua tapi di sana juga ada satu temannya Meira dan kelihatan sekali kalau mereka sudah akrab.


"Gagal nih?" tanya Kenny.


"Bukannya kemarin loe bilang mau beresin tuh orang?" tanya Zaden kesal menatap Steven, seharusnya kan Reno tidak akan berani lagi menemui Meira.


"Gue sudah hajar tuh orang, dianya aja yang kepala batu!" jawab Steven santai kayak di pantai. Mereka cuma berkelahi secara laki-laki sih, tidak ada pengeroyokan atau pun kecurangan. Dan untuk orang tua dari Reno, mereka tidak sembarangan menghancurkan orang lain tanpa mencari tahu dahulu.


Kenyataannya orang tua Reno adalah orang yang baik, jiwa sosial mereka yang suka berbagi untuk kaum duafa dan panti asuhan membuat Steven mengurungkan niatnya untuk menghancurkan keluarga Reno.


"Ya sudah, bagaimana kalau cara lain?"


Semua teman-temannya mengarahkan pandangan mereka pada Christ.


"KITA CAMPING" teriak Christ.


* * *


Berhubung waktu luang Meira yang biasanya dia habiskan bersama Alando kini tidak bisa dilakukannya lagi. Mau tidak mau Meira kembali menggelandang seperti anak kucing yang untungnya ada Laura si kucing orange preman kampus yang selama ini setia menemaninya. Yah begitulah hidup ada yang baru yang lama pasti dilupakan, yang baru menghilang yang lama dicari lagi.


Hari ini Meira memang menolak diantar teman-temannya, dia hanya ingin menunggu Rado menjemputnya biar bisa makan bakso di warung Pak Wawan yang terkenal enaknya plus murah cukup di kantong anak SMA. Soalnya pagi tadi Rado bilang dia lagi banyak uang jadi mau traktir Meira makan bakso, tentu saja Meira senang jarang-jarang Rado mau mentraktirnya makan.


"Laura...? Kak Al Al nggak mau lagi ngomong sama Meira. Kan Meira kangen banget sama Kak Al Al."


"Meong." sahut Laura menggeliat di kaki Meira seolah Laura mengerti kesedihannya.


"Meira sedih, sediih banget." curhat Meira pada kucing yang bahkan nggak tau Meira lagi ngomong apa.


"Dari pada Meira sedih, bagaimana kalau besok lusa ikut kami camping?" tiba-tiba Zaden dan ketiga temannya datang menghampiri.


"Masa kucing jelek gini diberi nama Laura sih? Kenapa nggak Inah, Inem, Cocom, kan lebih cocok!" Christ mendekati kucing tersebut dan melihatnya secara teliti.


"Laura nggak jelek! Kak kris kris yang jelek!" marah Meira, karena teman kecilnya si Laura di ejek Christ.


"Hahaa... Itu benar! Loe yang jelek!" ejek Kenny membela Meira, hingga yang lain pun ikut tertawa. Lagian segala nama kucing di urusin.


"Iya... iya... gue yang jelek puas kalian." Christ ngomel-ngomel sendiri.


"Syukur deh kalau loe sadar!" timpal Steven. Setelah puas mentertawakan Christ mereka kembali fokus ke tujuan awal mereka.


"Gimana, Meira ikut kami camping kan?" tanya Zaden lagi memastikan.


"Iya Meira... kita seru-seruan di sana biar nggak sedih lagi, dan ada Alando juga loh yang ikut." bujuk Kenny.


"Meira bisa ketemu kak Al Al lagi dong?" teriaknya senang.


"Meira mau, tapi harus minta izin sama ayah dan ibu Meira dulu." jawab Meira sambil menatap ke arah parkiran di mana kak Al Al nya baru menaiki motornya tanpa menatap ke arahnya.


"Oke. Atau Meira mau kakak aja yang minta izin sama mereka?" tanya Zaden, karena diantara semua temannya cuma Zaden yang paling dekat sama Meira. Bahkan Zaden sudah menganggap Meira seperti adiknya sendiri.


Meira menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Nggak usah! Ibu Meira kan nggak galak. Tapi boleh nggak Meira ajak Mimi, Sansan dan Mimit?"


"Mereka teman Meira?" tanya Zaden. Yang memang tidak terlalu mengenal teman-teman Meira dan cuma pernah melihat beberapa kali saat bersama-sama Meira.


"Iya." angguk Meira.


"Ya udah, kalau begitu ajak aja mereka." Zaden memberikan izinnya, biar di sana Meira juga tidak sendirian. Setidaknya Meira ada teman bicara sesama perempuan.


"Sudah bereskan? Gue duluan kalo gitu." pamit Steven pada semuanya.


"Dadahh... kak Stip tip." lambai Meira dengan senyumnya.


"Hemm..." cuek Steven seperti biasa tidak mau repot - repot menambah kosakata seolah - olah satu kata akan membuatnya mengeluarkan banyak energi.


"Ya sudah kita juga mau balik, Meira mau kakak antar?" Zaden menatap ke arah Meira.


"Enggak, Meira mau nunggu Radodo aja. Soalnya Radodo mau traktir Meira makan bakso di tempat Pak Wawan." cerita Meira, dia sudah janji akan menunggu Rado menjemputnya.


"Oh... anak songong itu ya?" tanya Kenny, dia masih ingat pertemuan mereka di mall waktu itu ditambah dua temannya yang gesrek lengkap deh. Trio badung bin konyol pikir Kenny.


"Ayah Meira namanya bukan songong kok? namanya Suryadi dan ibu Meira namanya Namira bukan songong." polos Meira atau lebih tepatnya tulalit atau juga bisa disebut stupid, oo*, ya suka-suka yang mengartikan deh.


Kenny dan Christ cuma bisa tepok jidat sedangkan Zaden malah terbahak-bahak mendengarnya. Entah apa isi di kepala Meira.


"Makanya jangan asal ngomong di depan Meira!" hardik Christ, tahu sendiri lah Meira seperti apa.


"Meira mau kak Ken Ken traktir bakso mercon nggak?" saking kesalnya Kenny dengan ke oon'annya Meira.


"Iih... Kak Ken Ken jahat sama Meira masa Meira disuruh makan petasan sih kak Zad zad?" adunya sama Zaden plus rengekan yang memekakkan telinga.


"Salah lagi gue! suka-suka loe deh Meira?" kesal Kenny yang sudah mencapai level tertinggi bon cabe seandainya ada.


"Meira nggak suka dipanggil loe, kak Ken Ken..."


"Gue kabur deh..." Kenny memilih ngacir duluan dari pada harus mendengar celotehan Meira yang nggak ada habisnya. Sepertinya yang tahan dengan celotehan nggak jelasnya Meira sekarang cuma tiga orang, Rado, Alando dan Zaden. Mereka akan memilih diam untuk selalu mendengar apa pun yang Meira bicarakan, bahkan Steven yang selalu cuek seketika sakit kepala kalau sudah mendengar Meira menanyakan banyak hal, meski begitu mereka tidak pernah antipati dengan gadis yang menurut mereka jelmaan Dora tersebut.


Vote, like dan comentnya...