Meira

Meira
Zaden dan Kara. 11



Kara sedang duduk sendiri menikmati paginya yang cerah dan hangat, tidak seperti kemaren yang diwarnai banyak drama percintaan, hari ini Kara aman tanpa gangguan kekasih abal-abalnya itu.


Masih ada sekitar satu jam lagi sebelum kuliahnya di mulai, Kara memang terbiasa datang lebih cepat untuk menghindari kemacetan.


Dan pagi seperti ini biasanya Kara duduk di taman dekat parkiran di bawah rindang pohon dan malah menghindari sinar pagi yang menyehatkan untuk tubuhnya hanya karena tidak ingin berkeringat sambil menunggu kedatangan temannya Zia.


"Nih..."


Tiba-tiba ada satu roti kemasan kecil dan satu air mineral botol terletak di samping kursi yang Kara duduki.


Kara sempat bingung dan memperhatikan lelaki yang kini duduk di sampingnya. "Ini apa?" tanya Kara, tujuan dari memberinya roti dan minuman tentu saja pasti ada sesuatu di baliknya.


"Bukan apa-apa, cuma mau mengajak kenalan bolehkan?" sahutnya, perawakannya sih tinggi, bersih, rapi dan ganteng juga tapi nggak seganteng pacarnya tentu saja. Oh kenapa Kara harus mengingat lelaki itu terus sih.


"Gue Ragil." ucapnya memperkenalkan diri dan menyodorkan telapak tangannya.


Kara dilema, antara ingin bersopan santun atau kah melaksanakan pesan Zaden, karena tidak enak juga kalau Kara langsung menolak orang yang ingin berkenalan doang, itu sangat tidak sopankan? kesannya Kara sombong banget, memangnya dia siapa.


Tapi kalau sebaliknya, Kara menerima dan berkenalan dengan lelaki lain terus kalau Zaden tau, dia bisa kena hukuman Zaden lagi.


Kara menggaruk kepalanya yang tidak gatal masih bingung. " Aku Kara." sambut Kara akhirnya, karena tidak enak dan sedikit was-was tapi bukan karena dia ingin selingkuh, membuat Zaden marah sama saja mengakhiri masa kuliahnya.


"Eeh... apa-apaan nih, lepas nggak." tiba-tiba dengan sangat cepat ada tangan yang melepas jabatan tangan mereka berdua.


"Hahh...?" Kara Kaget dengan orang-orang di belakang mereka.


"Zaden sudah titip pesan buat kami, jadi selama teman kami itu tidak ada di sini, kau Santan berada dalam pengawasan kami. Jadi jangan coba-coba selingkuh dari sahabat kami itu, mengerti!" tutur Kenny sahabat dari Zaden.


"Siapa yang selingkuh?"


"Loe, tuh buktinya. Coba gue terlambat sedikit aja, kalian pasti sudah selingkuh." ujarnya sok benar.


Kara baru tau anggota ZACKS yang bernama Kenny kayak emak-emak PMS yang keponya di atas level rata-rata.


"Kenalan kan bukan berarti selingkuh, masa orang ngajak kenalan doang aku tolak sih, memangnya aku siapa sih, artis?"


"Loe kekasih Zaden!" balas Steven datar, sedatar papan reklame yang baru dipajang. "Kami sudah mengenalnya seperti apa? jadi jangan membuatnya marah." lanjutnya.


"Hemm... itu benar, dia bisa jadi Hulk kalau sudah marah, mengerikan." sambung Kenny.


"Loe nggak usah cari masalah dengan Zaden, kalau nggak mau terusir dari kampus ini." kali ini Alando yang bersuara, tapi ditujukan untuk lelaki yang mengajak Kara kenalan.


"Oh, oke! Gue pergi." ucapnya dan beranjak dari hadapan mereka.


"Iya, aku nggak akan macam-macam." ucap Kara pasrah, percuma membela dirinya. Ternyata Zaden sangat menyebalkan dibanding yang dia tau selama ini.


"Oke, gue awasin." ucap Kenny dan menyusul kedua temannya yang lebih dulu berjalan ke gedung kampus, tumben Meira tidak bersamanya, pikir Kara.


Dering handphonenya berbunyi dan tertera panggilan dari lelaki yang membuat otaknya penuh.


"Halo."


"Kau di mana?"


"Di kampus."


"Kau tidak macam-macam kan?"


"Enggak, tadi saja ada laki-laki yang mengajak ku kenalan, teman-temanmu sudah datang memberi peringatan, jadi menurutmu?"


"Baguslah, jadi jangan kecentilan."


"Siapa yang centil? Bukannya kamu yang selalu mesum sama aku."


"Oh... kak Al Al juga selalu mesum sama Meira."


"Ya ampun Meira." Kara kaget hampir saja dia kejengkang karena tiba-tiba Meira ada di sampingnya dan menguping pembicaraannya dengan Zaden.


****


"Ada apa?" tanya Christ penasaran melihat Zaden tertawa.


"Bukan hal yang penting, ayo." Kini mereka berada di restoran, melakukan pertemuan dengan beberapa investor perusahaan sekaligus memperkenalkan terobosan baru perusahaan mereka.


Nampak Zaden yang kini ditemani Christ bersama dengan beberapa orang sedang melakukan pembicaraan penting yang terlihat begitu serius. Pertemuan ini memang diadakan untuk para investor yang sudah memberikan investasi mereka pada perusahaan yang kini mulai menunjukkan perkembangan yang pesat.


Ada beberapa perubahan yang harus mereka lakukan dan pembicaraan itu pun sudah berlangsung cukup lama hingga menghasilkan satu kesepakatan dari semua pihak.


Hampir satu jam waktu yang dihabiskan untuk meeting dan setelahnya cuma obrolan singkat sekedar basa-basi, mereka berada di sebuah restoran mewah yang memiliki ruangan khusus untuk meeting.


"Zaden..." panggil Malika, salah satu rekan kerja dan investor di perusahaan mereka, setelah semua orang pergi kini cuma Malika beserta Christ yang tertinggal.


"Ya...?" Zaden menunggu Malika untuk mengucapkan apa yang ingin dia katakan.


"Sepertinya kita sudah lama banget tidak mengobrol ya? Kau punya waktu?" tanya Malika berharap Zaden mau meluangkan waktu untuknya walau cuma sebentar.


Sebenarnya mereka sudah saling mengenal saat SMA, saat itu mereka sama-sama di sekolah internasional elite, namun sayangnya setelah 6 bulan Zaden tiba-tiba pindah sekolah dan sejak itu mereka tidak pernah bertemu lagi. Dan baru dipertemukan saat beberapa bulan yang lalu untuk urusan bisnis.


Saat itu Malika sudah menyimpan perasaan untuk lelaki tampan di depannya ini, namun karena mereka tidak terlalu dekat dan cuma sebatas teman satu kelas akhirnya Malika cuma bisa menjadi secret admirernya Zaden dan kali ini Malika bertekad akan berjuang untuk bisa mendapatkan hatinya seorang Zaden Pramudya.


Zaden sedikit bingung dan menatap ke arah Christ. "Tenang aja, gue bisa pulang sendiri silahkan kalian mengobrol." ucap Christ memberikan privasi buat Zaden dan Malika, tapi sebelum Christ beranjak ada yang ingin dia bicarakan dulu dengan sahabat sekaligus bosnya tersebut.


Christ menarik Zaden dan memberi jarak dari tempat Malika. "Jangan selingkuh ya bos! Ingat Santan itu temannya Meira, bisa nggak mau ngomong lagi tuh anak sama loe nanti, dan imbasnya juga pasti ke gue, otomatis my Sansan gue juga nggak mau ngomong lagi sama gue entar." ingatkan Christ.


Zaden cuma menatap sinis ke arah Christ. "Siapa yang selingkuh?" tanya Zaden tidak terima dengan tuduhan Christ, meski hubungannya dengan Kara seperti main-main tapi Zaden bukan laki-laki yang bisa mengobral kata pacaran dengan banyak wanita. Kalau memang Zaden ingin menjalin hubungan dengan pasangan yang baru berarti harus ada kata putus dari pasangannya sekarang, yaitu Kara.


"Jangan pura-pura **** deh, Malika itu jelas-jelas tertarik banget sama loe." sahut Christ dengan senyum menggoda.


"Mau bagaimana lagi, gue kan memang sudah ganteng sejak di kandungan." narsis Zaden memuji dirinya sendiri dan kenyataannya memang seperti itu.


"Tau ah, bodo amat! Gue pergi dulu, ingat pesan gue." ujar Christ dan berlalu dari pandangan dua orang berbeda gender tersebut yang masih bersikap santai di sana.


Malika memang sangat cantik dan berkelas dan dia juga memiliki status sosial yang hampir sama dengan dirinya, dan buat Zaden Malika memang sangat menarik apalagi dengan gaya busana yang stylist dan sexy tapi Malika tidak bisa membuatnya tergoda sama seperti saat bersama Kara. Bahkan saat mengingatnya saat ini saja sudah membuat Zaden membayangkan wajah cantik kekasihnya yang menggoda itu.


"Bagaimana?" tanya Malika harap-harap cemas.


"Kita ngobrolnya di cafe depan saja, rasanya lebih nyaman." ajak Zaden dan langsung berjalan menuju cafe yang memang tidak jauh dari sana juga.


"Oh, oke." sahut Malika senang, ada banyak harapan yang kini berputar dalam hatinya, semakin banyak waktu yang mereka miliki untuk bersama maka semakin banyak peluang Malika untuk mendapatkan hati Zaden, apalagi dirinya termasuk cewek yang menarik dan tidak sulit untuk menarik perhatian Zaden, pikir Malika.


Zaden Membawa Malika ke sebuah meja yang dekat jendela kaca, tampak cantik dengan dekorasi classic elegantnya dengan tanaman pepohonan hijau yang menghiasi setiap sudutnya. Dan baru saja Zaden duduk sudah ada yang menyapanya.


"Zaden...?"


Merasa ada yang memanggilnya, Zaden pun menoleh ke arah orang yang kini sudah ada di sampingnya. "Pa, Papa kok ada di sini?"


"Papa ada pertemuan dengan beberapa klien." dilihatnya ada seorang gadis cantik yang sedang duduk bersama Putra semata wayangnya. "Kau sedang berkencan?"


"Pa...!" tegur Zaden, sedikit tidak nyaman. "Dia salah satu pemegang saham di perusahaan ku dan kami sedang membicarakan masalah perusahaan." jelas Zaden.


"Iya Om, kami cuma membicarakan tentang perusahaan. Kenalkan saya Malika Keandara." ucap Malika memperkenalkan dirinya dengan sopan.


"Keandara? Kamu putri dari keluarga Keandara?" tanya Papa Zaden.


Nama keluarga Keandara memang sudah dikenal di kalangan para pengusaha yang memang memiliki banyak usaha dalam banyak bidang.


"Iya Pak."


"Oh ya sudah, kalian silahkan dilanjutkan obrolannya." sambil menepuk bahu anak lelakinya sebagai tanda dia setuju dengan pilihan putranya tersebut kemudian pergi menyusul rekan kerjanya yang lebih dulu pergi.


"Papa mu orang yang baik ya?" ucap Malika, dia senang setidaknya Papa Zaden memberikan kesan yang positif saat bertemu dengannya tinggal bagaimana cara meluluhkan hati Zaden selanjutnya.


"Hemmm..." jawab Zaden seadanya, moodnya sudah terlanjur buruk setelah bertemu Papanya tadi, pasti saat ini orang tua itu akan berusaha menjodohkannya dengan gadis yang ada di depannya saat ini, dan kalau itu sudah terjadi Zaden harus mencari cara untuk memberontak lagi, meski dia harus merelakan kehilangan investor perusahaannya dan kemungkinan terburuknya adalah Malika akan menarik seluruh investasinya.


Obrolan berlanjut dengan suasana yang tidak terlalu menyenangkan buat Zaden, karena dari tadi dia cuma mendengarkan dan sesekali menanggapi seadanya apa yang diobrolkan oleh Malika dan kebanyakan memang membahas tentang masa SMA mereka yang bagi Zaden dia bahkan sudah lupa tentang Malika saat itu.


Vote, like dan koment.