
Hari ini pun sama, Alando sama sekali tidak bicara sepatah kata pun, bahkan dia sempat memukul meja saat teman-teman sekelasnya pada bercanda dan berisik. Hingga seisi kelas langsung terdiam tanpa ada satu pun membuat suara bahkan saat ada yang ingin batuk pun dia berusaha mati-matian menahan mulutnya dari pada kena amuk Alando yang sedang kena tempel makhluk jahat, kan gawat. Bahkan sampai kelas selesai pun semua orang memilih diam dan saling cepat-cepatan keluar.
"Lan sebaiknya kita bicara!" tegas Zaden tanpa mau dibantah.
"Tidak sekarang, gue..."
"Sekarang! Kalau loe masih anggap gue sebagai sahabat." potong Zaden, dia kesal karena Alando terus menolak untuk membahas Meira, Zaden tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlarut-larut seperti ini. Dan Ini sudah hari keempat sejak pertengkarannya dengan Meira. Zaden sudah memberikan waktu yang cukup untuk Alando menenangkan dirinya namun yang ada emosi Alando semakin tidak stabil. Bahkan sudah berkali-kali Meira dan ketiga temannya berusaha menemui Alando namun selalu di abaikan oleh sikap dingin Alando. Diantara semua teman-temannya memang cuma Zaden yang berani menghadapi sikap marah Alando.
"Apa yang harus gue dengar? Tentang Meira?" Alando mencoba untuk duduk santai di kursinya dan menahan emosinya yang akhir-akhir ini sering memuncak.
"Meira tidak berbohong, kita semua sudah mengenalnya seperti apa terutama loe yang sudah dekat beberapa minggu ini. Loe tau jauh lebih baik dari kita semua! Meira bilang dia pernah mengalami kecelakaan saat SMA, mungkin itulah yang membuat dia tidak mengenal Reno bahkan lupa dengan banyak hal dan peristiwa. Kalau loe masih peduli sama Meira sebaiknya cari tahu apa yang sudah terjadi padanya, mungkin orang terdekat Meira bisa menjelaskan semuanya." ucap Zaden, setidaknya dia sudah mengatakan apa yang ingin dia katakan, selebihnya biarlah Alando yang memutuskan.
"Sekarang gue sudah selesai bicara. Loe boleh percaya boleh tidak, loe yang putusin. Gue duluan." selesai mengungkapkan semuanya, Zaden langsung beranjak pergi. Biarlah Alando merenungkan semuanya sendiri.
* * *
Dan di sinilah dia, di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah Meira. Menunggu seseorang yang selama ini menurutnya tidak kalah mengesalkannya dengan Meira, namun itu dulu sebelum dia membuka hatinya untuk Meira. Tapi untuk yang satu ini selamanya dia tetap akan menyandang orang paling mengesalkan seplanet bumi.
"Gue harap ini penting, karena kalau tidak loe harus ganti rugi untuk waktu rebahan gue yang paling berharga!"
Tanpa disuruh pemuda itu langsung duduk di hadapannya. Benarkan? dasar bocah songong. Apa benar Rado adik kandungnya Meira? tapi ya sudahlah, dia membutuhkan Rado. Beruntung nomor telpon Rado masih tersimpan di handphonenya Alando ketika Meira meminjam handphonenya untuk menghubungi adiknya tersebut, karena saat itu Meira kehabisan pulsa.
"Gue ingin tahu tentang Meira, loe pasti tahukan?" to the point. Alando tidak suka berbelit-belit apalagi dengan bocah satu ini.
Semakin cepat urusannya selesai semakin cepat pula dia menjauh dari Rado. Dan untungnya cafe tidak terlalu banyak pengunjung, jadi mereka lebih leluasa untuk bicara.
"Tentang apa?" Rado masih bingung dengan maksud Ale Ale di depannya ini.
"Benar Meira pernah mengalami kecelakaan? ini penting, gue harus tahu!" tatapan Alando penuh intimidasi pada adik lelaki Meira, namun tatapan seperti itu tidak berlaku pada Rado yang badungnya melebihi kapasitas.
"Lalu setelah loe tahu, loe akan menjauhi kakak gue, gitu?" tanya Rado balik, ada rasa tidak terima seandainya itu yang akan terjadi.
"Jawab saja pertanyaan gue?" kesal Alando, Rado seakan mengulur waktu batas kesabarannya.
"Iya... iya... nggak sabaran banget sih. Oke. Memang tiga tahun yang lalu saat kakak gue kelas sebelas SMA..." mengalir lah cerita yang pernah dialami Meira dari dia kecelakaan, koma, dan semua yang dialami Meira pada dirinya hingga bisa seperti sekarang. Namun ini versi Rado, dia hanya mengetahui kejadian saat sudah mengalami kecelakaan bukan kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Kakak gue sudah mengalami banyak kesakitan, dia juga melupakan banyak hal seakan kembali menjadi anak kecil yang belum mengerti kehidupan orang dewasa, beruntung selama terapi sedikit demi sedikit membuatnya pulih meski tidak seperti semula tapi itu sudah cukup buat kami." ucap Rado dengan penjelasannya. Oke. Sekarang Alando mengerti kenapa Meira bisa berbeda dari kebanyakan cewek-cewek yang ada selama ini.
"Dan siapa Reno bagi Meira?"
"Reno? Siapa lagi sih tuh Reno? Mana gue tahu." ketus Rado, kok nanya sama dia sih.
"Dia orang yang ngaku pacar Meira sejak SMA. Itu benar?" dari pada Alando semakin penasaran sekalian aja dia bertanya pada Rado siapa tahu aja Rado tahu.
"Enak aja ngaku-ngaku tuh orang, kakak gue mana pernah pacaran. Gue masukin neraka baru tahu rasa tuh orang." kesal Rado sampai ke ubun-ubun. Dia sangat tahu kakaknya, dia akan selalu cerita pada keluarganya terutama ibunya kalau dekat dengan seseorang.
"Oke. Gue sudah tahu sekarang, gue pergi dulu." baru hendak beranjak Alando langsung dihadang Rado.
"Ehh... tidak bisa langsung pergi gitu aja dong."
"Apa?" tanya Alando.
"Gue sudah cape-cape datang kemari dengan perut laper, haus. Udaranya panas gini lagi, masa gue nggak diberi makan sama minum sih?"
Masa jauh-jauh datang ke cafe yang menghabiskan tenaga dan waktu rebahannya cuma untuk meladeni pertanyaannya Ale Ale saja sih, pikir Rado.
Alando mengerti apa maksud Rado dan segera mengambil uang di dompetnya. "Nih..." kasih Alando seratus ribu dan menaruhnya di atas meja. Huhh... untung dia baru gajihan.
"Yah... cuma seratus ribu sih? ini masih kurang." songongnya. Dengan kesal Alando mengambil uang seratus ribuan lagi dari dompetnya dan kembali menaruh di meja. Pastikan Alando tidak berurusan lagi sama nih bocah pemeras.
"Ini masih..."
"Eitts... barang yang sudah diberikan tidak boleh diambil kembali. Gue ambil ini." cengir Rado tanpa dosa dan memegang uangnya erat. Alando cuma berdecak heran dengan kelakuan adik dari gadis yang dicintainya saat ini. Tanpa mempedulikan Rado yang lagi senyum-senyum seperti penghuni RSJ, Alando pun memutuskan pergi dari cafe dan langsung pergi ke kantor tempat dia bekerja.
***
Selesai kuliah tujuannya hanya satu mencari kak Al Alnya. Siapa tahu kak Al Al nya hari ini sudah tidak marah dan kembali baik sama Meira. Namun sedari tadi sulit sekali mencari kak Al Al nya bahkan pesan WA nya saja sama sekali tidak dibaca.
"Meira...?" panggil seseorang, yang ternyata Reno. Membuat Meira takut dan ingin pergi dari sana namun kakinya yang lamban sangat mudah untuk disusul. Mau tidak mau Reno terpaksa mencekal tangan Meira agar gadis itu tidak lari lagi darinya.
"Lepasin Meira!" Meira mencoba berontak.
"Aku hanya ingin bicara sama kamu Meira, kita bicara baik-baik dan aku janji akan lepasin kamu." janji Reno, berharap Meira mau menuruti permintaannya.
"Janji." sahut Meira pelan meski ada rasa takut menghinggapinya.
"Iya. Aku janji, kita duduk disana saja." ajak Reno dan membawa Meira duduk di sebuah kursi yang ada di taman kampus. Cukup lama ada jeda, sebelum Reno memulai untuk berbicara.
"Aku minta maaf untuk kejadian waktu itu, tidak seharusnya aku memaksa kamu dan membuat kamu takut sama aku. Meski sekarang kamu sudah tidak mengenaliku lagi, apa bisa kita tetap berteman seperti dulu?" tulus Reno, dia sadar sudah membuat Meira ketakutan.
Walau bagaimanapun mereka sudah lama tidak bertemu apalagi dengan Meira yang tidak mengingatnya.
"Meira mau berteman tapi jangan jahat lagi sama Meira." polosnya, Meira sangat mudah untuk memaafkan orang lain baginya asalkan orang itu bersikap baik padanya, semua bisa menjadi temannya.
"Hahaa... kamu jadi lucu gini ya, padahal dulu..." Reno masih ingat ketika Meira masih SMA sifatnya sangat jauh berbeda dari sekarang, dulu Meira sangat dewasa, lembut dan anggun, "Oke lupakan, kita berteman lagi kan?" tanya Reno lagi dan mengangkat tangannya untuk bersalaman.
"Reno Nigara. Kamu boleh panggil aku kak Reno seperti dulu." Reno masih menunggu balasan dari jabat tangan Meira.
"Meira nggak suka salaman sama cowok kecuali sama kak Al Al nya Meira." jujur Meira dengan terkekeh lucu, Meira selalu tertawa bahagia, begitulah dia kalau sudah membahas kak Al Al nya.
"Hahaa... Oh Alando itu. Dia pacar kamu?" tanya Reno meski cemburu dia cukup bahagia melhat Meira bisa bahagia sekarang. Dia sadar kecelakaan waktu itu sedikitnya juga disebabkan olehnya, Reno sadar kalau Ami menyukainya tapi tanpa perasaan malah menyatakan perasaannya pada Meira dan hampir saja membuat kedua sahabat tersebut berselisih paham.
Meira cuma menggelengkan kepalanya, "Bukan, tapi Meira suka. Kak Al Al juga selalu menggandeng tangan Meira, tapi sekarang kak Al Al lagi marah sama Meira." muka Meira berubah menjadi sedih dan mendung.
"Itu pasti karena aku."
"Tentu saja karena kak Reno! sekarang kak Reno mau apa di sini? menyakiti Meira lagi."
Omel Ami, dia tidak suka Reno mengganggu Meira lagi, padahal beberapa minggu ini Meira terlihat bahagia bersama kak Alando, laki-laki yang dia sukai yang juga bisa menerima kekurangan Meira, namun gara-gara laki-laki di depannya ini hubungan mereka jadi rusak.
"Ami...?" Reno kaget karena tiba-tiba Ami datang dan marah-marah padanya.
"Aku kemari cuma mau minta maaf sama Meira, aku tahu aku salah." Reno menyesal karena waktu itu tidak bisa mengontrol emosinya. Itu karena selama tiga tahun ini Reno masih memendam perasaannya pada Meira namun saat bertemu kembali, Meira bahkan melupakannya begitu saja apalagi setelah melihat kedekatannya dengan lelaki itu. Ada rasa tidak terima dalam dirinya hingga membuatnya sangat cemburu, tapi sekarang dia mencoba untuk mengikhlaskan Meira.
Cukup lama Ami memikirkannya dan memandang Reno menyelidik mencari tahu apakah ada kebohongan yang tersimpan, namun dia tidak menemukannya. "Kak Reno tidak bohongkan?"
"Aku ikhlas kalau Meira lebih suka pada orang lain, mungkin kami memang tidak berjodoh. Ya kan haahaa.." kekehnya, seolah mentertawakan dirinya.
"Sekarang aku cuma ingin berteman dengan Meira dan kalau bisa? Kita bertiga berteman lagi seperti dulu." minta Reno tulus.
"Meira ikut apa kata Mimi!" Meira merangkul lengan Ami sahabatnya yang selalu ada dan mengerti tentangnya.
"Ya sudah, kita berteman. Lagi pula tidak baik kan punya musuh." Ami kembali tersenyum melupakan kejadian di masa lalu dan berdamai dengan rasa bersalahnya yang penting sekarang dia akan selalu menjadi sahabat Meira.
Namun tidak jauh dari mereka, seorang lelaki sedang menatap ke arah di mana mereka sedang bersenda gurau, dengan rahang yang mengeras dan tatapan tidak sukanya Alando menjauh dari tempat itu, padahal tadinya dia ingin berbicara dengan Meira dan membicarakan semua masalah yang sedang terjadi.
***
Vote, like and coment yaa...