
Kampus masih sepi, cuman ada mereka berdua saat ini. Alando sudah terbiasa mengikuti jadwal harian Meira yang memang selalu datang pagi, lagi pula ini justru dia manfaatkan untuk mengobrol dengan Meira karena sebagian banyak waktunya dia habiskan untuk bekerja tentunya untuk masa depan mereka.
"Meira... kamu tidak perlu menceritakan kejadian tadi malam pada siapa pun, terutama orang tua kamu apalagi Rado, oke?" Alando berasa jadi laki-laki jahat yang memanfaatkan keluguan Meira terus mengancamnya untuk tidak berbicara pada orang-orang di sekitarnya.
"Kejadian tadi malam...?" tanya Meira bingung, banyak hal yang dia alami tadi malam terus yang mana tidak boleh dia ceritakan, bingungnya.
"Saat aku mencium kamu tadi malam, ingat...?" mau tidak mau Alando harus mengungkitnya, Meira kalau tidak dikasih tahu untuk diam bisa satu kampus dia ceritain.
"Oh, hehee..." Meira menganggukkan kepalanya malu.
"Kamu nggak boleh cerita sama siapa pun!" ulang Alando, mengingatkan.
"Kenapa...?"
"Tidak boleh, itu cuma jadi rahasia kita berdua. Orang lain tidak boleh tau." Alando memegang tangan Meira lembut, tangan yang tampak lebih kecil darinya itu. Mereka masih duduk di taman dekat parkiran menikmati udara dan sinar pagi hari yang memang baik untuk tubuh sambil menunggu teman-teman kampusnya berdatangan.
"Rahasia? Jadi Meira nggak boleh cerita." Ulang Meira.
"Hemm... aku ngantuk, bangunkan saat orang-orang sudah banyak berdatangan." Alando memejamkan matanya dan bersender pada kursi taman dengan tangan yang masih memegang tangan Meira.
"Kok tidur di sini?" tidak ada jawaban, sepertinya Alando memang masih sangat mengantuk. Akhirnya itu dimanfaatin Meira untuk memfoto dirinya dan kak Al Al nya bersama. Biasanya Alando paling tidak suka difoto, setiap foto yang Meira ambil selalu dihapus Alando meski Meira sudah merengek dia tidak peduli.
"Kali ini Meira akan menyimpannya." Ucapnya pelan.
****
Saat Zaden hendak memasuki gerbang kampusnya, dia berpapasan dengan gadis bodoh dayang-dayangnya Olivia dan Rena. Gadis itu nampak bahagia turun dari mobil mewah seorang laki-laki, kelihatannya lebih dewasa darinya.
"Tiitt..." Klakson dia bunyikan sekeras-kerasnya saat gadis itu menghalangi jalannya. "Minggir...!" perintah Zaden, dia membuka kaca jendela mobilnya ketika gadis itu menoleh kearahnya.
"Oh iya... maaf." Gadis itu menuduk dan segera menyikir dari jalannya.
Zaden memiliki ekspetasi buruk mengenai gadis itu. Berteman dengan Olivia dan Rena, mau jadi suruhan mereka hanya untuk ikut populer dan sekarang diantar cowok kaya. Zaden paling anti yang namanya gadis matrealistis seperti itu. Percuma punya muka cantik tapi kelakuannya jelek, pikir Zaden.
"Meira..." Panggil Zaden saat melihat gadis yang sudah dianggap adiknya itu duduk di taman menemani Alando yang sedang memejamkan matanya atau mungkin sedang tertidur, Alando memang bisa tidur di mana saja bahkan saat di SMA dulu dia sering di hukum membersihkan gudang dan anak itu dengan santainya malah ketiduran di tempat tersebut.
"Kak Zad Zad..." Lambaian tangan dari Meira membuatnya tersenyum, gadis ini selalu membawa keceriaan di mana pun dia berada.
"Kak Al Al nya tidur." Sambungnya dengan bibir yang dikerucutkan lucu.
"Ya sudah, biar kakak yang bangunin." Seru Zaden, "Hei Al... Alan, gue bawa Meira pulang nih." Bohong Zaden, dia tau kelemahan Alando sekarang. Dulu kelemahan Alando adalah mamanya tapi sekarang Meira sudah menggantikan posisinya.
"Hahh... Apaan sih loe?" Alando segera membuka matanya dan kesal pada Zaden.
"Kak Zad Zad mau bawa Meira pulang kemana...?" Meira memandang Zaden minta jawaban.
Zaden menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Cuma bercanda Meira." balas Zaden dengan senyumnya.
"Hai calon pengantin? Wahh sudah mesra-mesraan aja di sini." Sambung Kenny yang baru datang menyusul. "Meira bibir kamu kenapa gitu, habis diserang Alando ya...? Hahaa..." goda Kenny.
"Ken mending loe pergi deh!" usir Alando, di matanya Kenny adalah sahabatnya yang paling rese diantara semuanya bahkan melebihi Christ.
"Kata kak Al Al ini rahasia, Meira nggak boleh kasih tau siapa pun." Jujur Meira dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Meira, teman-teman kamu sepertinya sudah datang. Kamu masuk kelas dulu sana." Oerintah Alando.
"Oh iya... Meira masuk kelas dulu deh. Dadah kak Al Al, dadah kak Zad Zad, dadah kak Ken ken." Pamit Meira pada mereka satu-persatu.
"Wah parah loe Lan, masa Meira loe ajarin kayak gitu. Apa gue bilang dulu, lama-kelamaan loe pasti juga mau hahaa..."
"Bangke loe Ken." Alando meninggalkan kedua teman-temannya yang lagi tertawa bahagia menggodanya. Tapi omongan Kenny emang ada benarnya sih pasti jam terbang sahabatnya itu sudah tinggi, dasar manusia pervert.
****
"Apa... Menikah?" tanya teman-temannya, kaget. Meira memang sudah siap untuk menikah? Mereka kan masih kuliah. Pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala mereka, ada yang negatif dan ada yang konyol juga.
"Kamu hamil...?" tanya Sany blak-blakan, untung tidak banyak orang di kelas mereka. Begitu pun Ami dan Mita yang memiliki pemikiran yang sama dan bersyukur dugaan-dugaan mereka terwakilkan oleh teman mereka Sany. Bukan berarti mereka tidak percaya dengan Meira tapi mereka tidak percaya pada kak Alando, jangan lupakan dia adalah anggota ZACKS yang terkenal dengan sifat preman mereka. Sedangkan Meira itu terlalu lugu, siapa yang tau kak Alando justru cuma memanfaatkan keluguannya Meira.
"Hamil...?"
"Iya hamil, blendung seperti kak Dewi." Mita memperagakan orang hamil dengan tangannya melingkari perutnya. "Perutmu besar terus punya bayi." Jelasnya lagi, hah... susah ya punya teman yang otaknya masih kayak anak kecil, tapi anehnya kenapa Meira bisa mengerti cinta-cintaan dan bucin-bucinan segala. Apa karena terlalu banyak nonton drama oppa-oppa nan jauh di sana, duga Mita.
"Meira kan belum nikah? kak Dewi kan sudah menikah jadi boleh. Kata Ibu, Meira nggak boleh kayak gitu sebelum menikah makanya Meira mau menikah aja biar bisa dekat kak Al Al." Meira menggeleng-gelengkan kepalanya tanda dia tidak hamil.
"Apa...?" mereka tambah bingung menghadapi Meira, kak Alando pasti yang mengajari Meira kayak gini, pikir mereka. Meira mereka kok bisa bucin plus centil gini.
"Kamu nggak diapa-apain kak Alando kan Meira...?" tanya Ami memastikan. Sedangkan Meira cuma menatap Ami dengan bingung, kalau Meira bukan sahabatnya pasti sudah dia bawa ke orang pintar kali nih anak buat di sembur.
"Maksudnya... apa kak Alando pernah cium kamu, peluk kamu atau..." Ami tidak tau harus melanjutkan kata-katanya seperti apa. Meira itu taunya praktek bukan dijelasin dengan kata-kata otaknya kadang-kadang tidak nyampe sampai situ.
"Pernah... tadi malam juga. Tapi Kak Al Al bilang itu rahasia, Meira tidak boleh kasih tau pada siapa pun." Sahut Meira dengan santainya tanpa dosa.
"Hahh..." mereka melotot. Tapi sekarang sudah jadi rahasia umum kali Meira.
Kak Alando kok sejahat itu sama Meira dan memanfaatkan keluguan sahabat mereka, pikir teman-temannya.
"Meira kamu nggak boleh kayak gitu lagi, nanti kamu bisa hamil." Omel Mita, ya ampun temannya yang stupidnya melebihi orang ter stupid di dunia kini sudah tidak polos lagi, sedih Mita.
"Iya, Meira perbuatan itu dilarang sama Allah itu dosa. Kamu harus bertobat." Nasehat Sany yang memang suka mendengar ceramah mamah dedeh. Seandainya kak Alando bukan anggota ZACKS sudah dia tendang ke planet Mars tuh manusia pervert.
Meira cuma menganggukkan kepalanya. "Iya, Meira nggak mau dosa lagi." Jawab Meira pelan. Menuruti apa kata teman-temannya.
"Dosa apa...? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Alando dari belakang mereka. Alando saat ini menjemput Meira ke kelasnya karena Meira dari tadi tidak muncul-muncul dan ternyata dia sedang asyik bergosip sama teman-temannya.
"Kak Al Al..." Senang Meira saat melihat Alando menjemputnya di kelas.
"Ya sudah Meira, aku duluan ya. Ingat pesanku." Ucap Sany dengan keras dan sinis saat melihat Alando.
"Aku juga." Susul Mita. Kini tinggal Ami yang berada di sana.
"Dosa apa?" tanya Alando sekali lagi.
"I itu.. Kak Alando sudah apain Meira sih? Meira memang polos tapi bukan berarti kak Alando seenaknya bisa memanfaatkan Meira." Tutur Ami dengan keberanian yang sebenarnya dia paksakan.
"Hahh..." Alando masih mencerna omongan sahabatnya Meira itu, dan tentu saja ini pasti karena omongan Meira yang.... "Gue akan bertanggung jawab, secepatnya kami akan menikah." Jawab Alando santai tanpa repot-repot memikirkan pandangan temannya Meira itu. "Ayo Meira kita pulang." Alando Membawa tas Meira sekaligus menarik tangannya dengan lembut. Lagi pula dia percaya sahabatnya Meira tidak akan menjadi ember bocor yang merugikan sahabatnya sendiri.
"Dadah Mimi... Meira pulang duluan." Pamit Meira.
"Ehh... ohh... i iyaa." Sahut Ami kaget sekaligus bingung. Setidaknya kak Alando adalah laki-laki yang bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya, meski dia masih kesal dengan orang itu yang bisa-bisanya merusak gadis seperti Meira.
Vote, like dan koment ya...