Meira

Meira
BAB. 35



Dingin, itulah yang dirasakan Alando saat pertama kali membuka matanya namun bukan cuma itu sekarang yang di hadapinya, ternyata ada seorang gadis manis yang sekarang masih tertidur dalam pelukannya, Alando memeluknya dari belakang tubuh gadis itu, mungkin secara tidak sadar saat Alando mulai lelah dengan posisi duduknya dia juga ikut membaringkan tubuhnya di samping Meira, hingga sekarang Meira bisa ada dalam pelukannya.


Sungguh, saat ini badannya terasa gemetar bagaimana tidak! dia tertidur di alam terbuka beralaskan tanah dan rumput serta tanpa adanya selimut benar-benar membuatnya kedinginan mungkin Meira pun begitu. Untung saja semalam tidak ada hujan yang turun kalau sampai itu terjadi bisa dipastikan mereka benar-benar akan sangat menyedihkan.


Alando bangkit dari tidurnya mencoba untuk mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul, dan masih dengan pemikirannya yang entah kemana. Matahari mulai terbit, kabutnya pun mulai menjauh setidaknya sekarang udara di sekitarnya mulai menghangat. Tapi dia juga agak khawatir kalau Meira akan sakit seperti waktu itu lagi, masalahnya fisik Meira tidak sekuat dirinya. Alando menyentuh dahi Meira dan benar saja sekarang kulitnya terasa menghangat di telapak tangannya yang dingin.


"Meira...?" panggil Alando, mencoba untuk membangunkan Meira yang masih terlihat pulas dalam tidurnya atau mungkin saja Meira memang dalam keadaan sakit makanya tidurnya bisa pulas begitu. Alando kembali mengangkat kepala Meira kepangkuannnya berharap gadis itu tidak terlalu merasa kedinginan seperti saat berada di tanah yang berembun. Alando terus menatap wajah polos Meira yang kini sudah berada di pangkuannya, sangat manis dan dia tidak akan pernah bosan untuk menatapnya hanya saja memang tidak baik untuk kesehatan jantung dan otaknya kalau terus-terusan melihat ke arah Meira. Meira terlihat berbeda saat memejamkan matanya seperti ini, image kekanak-kanakannya hilang seketika berubah menjadi gadis manis yang dewasa.


"Meira...?" panggilnya lagi, semakin cepat mereka pergi dari sini maka semakin banyak kesempatan menemukan jalan pulang.


"Eghhh..." jawabnya pelan, Meira mulai membuka matanya, mengerjapkan matanya beberapa kali memandang wajah Alando dengan heran yang kini berada di hadapannya lebih tepatnya dari atas wajahnya dan itu membuat Meira terlihat semakin menggemaskan di mata Alando.


"Kamu tidak apa apa?" tanya Alando khawatir.


"Kak Al Al kok di sini...?" Meira heran kok bisa kak Al Al nya ada di hadapannya saat dia baru membuka matanya dari tidur yang sangat tidak nyaman untuknya.


"Kamu ngigau, atau ingatanmu memang seburuk itu?" sindir Alando. Melihat Meira yang sudah kembali pada sikap biasanya membuat Alando kembali pada mode on sinisnya.


Sepertinya Meira tidak terlalu parah sakitnya mungkin hanya demam sedikit karena kedinginan semalam.


"Ehhh...?"


"Kita sekarang tersesat di hutan Meira! jauh dari tenda dan yang lainnya, ingat?"


"Emmm... Oh iya! semalam Meira sangat takut, Meira sendirian terus kak Al Al datang menemukan Meira." ingatan Meira melayang pada malam tadi, dimana dia sangat ketakutan dan sendirian dalam gelapnya malam.


"Ya sudah, kalau begitu cepat bangun! Kita harus mencari sungai dekat sini." perintah Alando, membantu Meira bangkit dari rebahnya.


Meira kini sudah duduk di hadapan Alando "Meira nggak mau mandi, badan Meira rasanya panaaas banget." adunya pada Alando seperti seorang anak kecil dengan memegang dahinya.


Alando ikut memegang dahi Meira yang terasa panas di tangannya, namun di saat seperti ini dia bisa apa? dia hanya ingin secepatnya membawa Meira keluar dari hutan ini sebisanya, biar Meira bisa minum obat dan beristirahat.


"Bukk..." Alando menggeplak kepala Meira pelan. "Siapa yang menyuruhmu mandi, aku haus! sekalian kita bisa cuci muka." jelas Alando, Meira hanya meringis sekaligus tertawa dapat geplakan dari Alando meski rasanya memang tidak sakit sama sekali.


"Meira laper." keluhnya pada Alando.


"Nggak ada makanan di sini. Makanya kita harus cepat mencari jalan pulang, ayo...!" Alando menarik tangan Meira yang lagi mager alias malas gerak. Tidak jauh dari mereka memang ada sungai kecil sehingga bisa mereka gunakan untuk minum. Tidak butuh waktu lama mereka berdua sudah berada di pinggir sungai itu meski tidak besar dan air nya pun cuma setinggi separuh kakinya namun airnya masih alami dan jernih jadi tidak masalah untuk dia minum. Alando menggandeng tangannya dan menuntun Meira karena untuk menuju ke sungai itu jalannya memang penuh bebatuan besar sehingga kalau tidak hati-hati mereka berdua bisa terjatuh.


"Meira di sini aja, kak Al Al aja yang ke sana." suruh Meira, saat ini dia memang merasa letih dan badannya juga tidak nyaman karena itu Meira memilih duduk di bebatuan besar di pinggir sungai.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini." Alando berjalan lebih dekat ke sungainya untuk cuci muka sekaligus meminum airnya, karena dia memang sangat haus dari semalam mencari Meira tanpa bekal air untuk dia minum bahkan perutnya pun sekarang juga kelaparan.


"Ayo Meira. Kesini, kamu harus minum. Kita masih harus melanjutkan perjalanan panjang setelah ini." Karena Alando bahkan tidak yakin dia akan secepatnya menemukan jalan pulangnya.


Meira mematuhi perintah Alando untuk lebih dekat dengan sungai itu, Alando membantu Meira mengambilkan air lewat tangkupan telapak tangannya dan meminumkan airnya ke mulut Meira karena Meira bahkan tidak mau menginjakkan kakinya ke air yang dingin itu.


"Kak Al Al nggak mau mandi?" tanya Meira, dilihatnya kak Al Al nya cuma mencuci mukanya dan membasahi kepalanya serta tangan-tangannya saja.


"Enggak, entar juga kotor. Sekalian aja nanti saat kita sudah sampai tenda." sahutnya ambigu, Alando berharap secepatnya mereka bisa menemukan jalan pulang kalau bisa hari ini juga.


"Tuk..." Meira dapat sentilan kecil di keningnya dari Alando.


"Aww..." ringis Meira kesakitan sambil menggosok keningnya yang disentil kak Al Al nya.


"Ya ampun Meira...! apa yang kamu pikirkan sih...?" geram Alando. Kok bisa Meira memikirkan hal seperti itu? atau tadi dia yang memang salah ngomong ya, pikirnya.


"Tidak ada..." geleng Meira bingung.


"Jangan memikirkan hal yang kotor, ingat itu!" Alando memberikan peringatan untuk yang kesekian kalinya, hanya saja apa yang di pikirkan Meira berbeda dengan pemikiran Alando, bedanya cuma dipemahaman mereka.


"Mandi itu bersih kak Al Al bukan kotor! Meira aja pengen banget mandi tapi nanti badan Meira tambah panas." jelas Meira seolah Alando tidak mengerti makna dari kata mandi.


"Huuhh... iya... iya... terserah kamu Meira." Alando pasrah aja, apa pun yang diucapkan Meira dia akan mengikutinya.


"Cuci juga muka kamu Meira." suruh Alando, karena Meira dari tadi hanya duduk-duduk santai saja.


"Iya..." Meira mengambil air perlahan dan menyapukan ke wajahnya, dan rasanya dingin hingga Meira tidak mau berlama-lama mencuci mukanya.


"Kamu nggak punya sapu tangan atau tisu mungkin?" tanya Alando, karena biasanya Meira selalu membawa-bawa tisu bungkus kecil di kantongnya kemana pun dia pergi. Kebiasaan Meira yang suka kebersihan.


"Oh iya... Ada kok." Meira mengambil bungkusan tisu kecil itu yang berada di kantong hoodienya dan memberikannya terlebih dahulu untuk kak Al Al nya. Alando mengambilnya namun bukan untuk mengeringkan wajahnya sendiri karena wajahnya memang sudah kering sedari tadi tertiup angin cukup lama, melainkan untuk mengeringkan wajah Meira yang sekarang duduk di hadapannya. Mereka berdua duduk di atas batu yang besar yang ada di pinggiran sungai saling berhadapan. Perlahan Alando mengusapkan beberapa tisu ke wajah Meira yang selalu tampak manis di mata Alando.


Deg... Entahlah ada apa dengan Jantung Alando yang selalu bermasalah ketika menatap Meira secara intens seperti ini apalagi saat Meira memberikan senyum manisnya ke arah Alando. Kata orang kalau ada laki-laki dan perempuan sedang berdua-duaan saja maka akan ada yang ketiga yaitu setan, dan benar saja sekarang setan ikut duduk bersama mereka dengan membisik-bisikan kata kotor dan godaan untuk Alando karena Meira sudah tidak mempan dengan bisikan mereka.


"Cupp..." Alando mengecup bibir mungil Meira dengan lembut namun tidak ada balasan karena bahkan saat ini Meira hanya mengerjapkan matanya beberapa kali, dia tidak mengerti dengan perlakuan Alando, yang dia tahu di drama korea yang sering dia tonton memang ada hal seperti yang kak Al Al nya lakukan, tapi dia baru tahu rasanya sekarang. Ibu bilang itu tidak boleh dia lakukan sebelum menikah, jadi apakah Meira harus menjauh dari kak Al Al nya.


Hanya kecupan lembut dan tidak lebih karena saat Alando ingin mengecup Meira untuk yang kedua kalinya, mungkin karena suasana yang mendukung dan godaan setan yang terkutuk tiba-tiba ada Malaikat penyelamat yang datang menolong mereka berdua.


"ALANDO... MEIRA...!"


"ALANDO... MEIRA...!


Teriakan-teriakan memanggil nama mereka dari beberapa orang yang mungkin sedang mencari mereka berdua saat ini terdengar jelas hanya saja belum nampak terlihat.


Alando mengacak-acak rambutnya, "Ehmm..." dan menetralkan dirinya kembali dan seketika menyadari kekhilafannya saat ini, hampir saja Alando tidak dapat mengontrol dirinya.


"Kak Al Al ada yang memanggil nama kita di sana." tunjuk Meira, seketika dia melihat beberapa orang yang cukup jauh dari mereka. Beruntung Meira cepat melupakan kejadian tadi dengan mudah.


"Iya... sepertinya mereka sedang mencari kita.


"Ayo..." serak Alando dan menggandeng tangan Meira membawanya ke tempat suara panggilan tersebut. Syukurlah, untung saja mereka cepat datang dan menemukan mereka kalau tidak, entahlah bagaimana nasib mereka.


"HEII... KAMI DI SINI!" teriak Alando pada rombongan tersebut yang ternyata adalah rombongan teman-temannya.


Vote, like dan koment yaa.