
Terlihat seorang gadis sedang sangat sibuk dengan berbagai macam peralatan dan segala macam bahan kue layaknya chef profesional di dapur mereka yang memang terlihat kecil.
"Meira, kamu sedang apa?" tanya ibunya yang melihat Meira sibuk dengan bermacam-macam bahan kue.
"Meira mau buat kue bolu, Bu." senang Meira.
"Buat Rado kan kuenya?" tanya Rado yang baru muncul di dapur untuk mengambil minum.
"Enggak, bukan buat Radodo tapi buat kak Al Al nya Meira!.
"Uhuuk... uhuuk." Rado kesedak saat lagi minum mendengar Meira menyebut nama laki-laki. Pasalnya selama ini Meira tidak pernah dekat sama laki-laki manapun selain keuarga. "Siapa itu kak Al Al?" tanya Rado protectif.
"Cowok yang nganterin kamu waktu itu kan, Meira?" tanya ibunya gembira.
"Iya... Dia kak Al Al." angguknya gembira.
"Ibu kenal? Kok nggak kasih tahu aku! bagaimana kalau dia jahatin Meira?" Rado memang sangat peduli sama Meira dia nggak mau ada yang nyakitin kakaknya.
"Huss kamu itu, Meira sudah dewasa dia berhak dekat cowok yang baik." entah kenapa ibu Meira merasa kalau Alando anak yang baik.
"Bagaimana ibu tahu dia orang yang baik? Ibu kan baru lihat satu kali." cerca Rado tidak yakin.
"Kak Al Al baik kok, waktu lutut Meira terluka Kak Al Al gendong Meira." bela Meira.
"Ahh... Pokoknya aku akan tetap awasi Meira." Rado beranjak dari dapur dengan wajah cemberut. Siapa pun laki-laki yang dekatin kakaknya harus lolos seleksinya dulu.
"Adikmu itu cuma khawatir, ibu setuju kalau Meira dekat sama Al Al itu." jawab ibunya mendukung, dia juga ingin melihat Meira bahagia seperti perempuan-perempuan lainnya.
Hari ini Meira juga datang pagi-pagi sekali, sengaja mau melihat kak Al Al nya latihan basket. Kata kak Zad Zad, mereka akan terus latihan selama dua minggu ini karena bulan depan itu mereka akan bertanding menghadapi tim dari kampus lain. Meira bahkan sudah membawakan kue bolu khusus buatannya untuk kak Al Al nya.
Rado sudah menghentikan motornya di depan parkiran kampus Meira, Rado terus memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri, namun dia tidak melihat laki-laki yang bicara sama kakaknya kemarin. Rado cuma ingin memberi peringatan pada cowok itu untuk tidak mendekati kakaknya lagi kalau cuma ingin mempermainkannya. Masalahnya ini pertama kali Meira dekat sama cowok sampai-sampai membuatkan kue untuknya.
Setelah turun dari motor yang diboncengi Rado adiknya, Meira juga ikut-ikutan celinguk-celinguk kanan kiri seperti yang di lakukan Rado. Takutnya ada penjahat yang lagi mengintai mereka.
"Dimana penjahatnya? Emang Radodo bikin salah apa?" tanya Meira bingung mengikuti arah pandang Rado.
"Penjahat apaan?" Bingung Rado dengan omongan kakaknya.
"Radodo dari tadi muter-muter kepalanya terus." sahut Meira khawatir.
"Oh itu...? Ehmm..., aku kan lagi olah raga biar leher nih nggak kaku. 1 2 .1 2." Geraknya dengan memutar kepalanya kaya orang lagi senam. Kalau dia bilang sebenarnya, nanti Meira bisa ngambek sama dia.
"Oh. Meira juga mau ikutan biar leher Meira nggak kaku supaya bisa semangatin kak Al Al terus." polosnya sambil menggerakkan kepalanya. Untung masih nggak ada orang di kampus.
"Siapa sih tuh Ale Ale? gue puter-puter juga tuh kepalanya." kesal Rado. Kakaknya kayak udah jatuh cinta deh sama tuh Ale Ale. Kalau kakaknya patah hati gimana? Pikir Rado.
"Kak Al Al bukan Ale Ale..! Ale Ale kan minuman?" kesal Meira pada adiknya yang menurut Meira menyebalkan, untung sayang.
"Iya.. Iya... Udah Meira masuk sana, aku berangkat..!" Rado langsung melajukan motornya keluar kampus. Bisa terlambat sekolah kalau dia meladeni Meira.
"Meira mau kasih kue ini buat kak Al Al." semangat Meira bermonolog sendiri, Meira berlari kecil dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya menuju arah gedung basket.
Sampai di gedung basket Meira melihat mereka yang lagi serius berlatih. Sebenarnya tim Golden World, yaitu nama tim basket mereka tidak mau diganggu siapa pun saat latihan. Namun setelah mereka tahu kalau Meira di bawah perlindungan Zaden maka tidak ada yang berani menyuruhnya pergi, apa lagi mengganggu Meira. Bisa habis mereka. Mungkin dari luar Zaden nampak ramah tapi kalau sudah marah Zaden bisa berubah menjadi kejam. Pernah sekali Zaden memecahkan kaca mobil mewah milik salah satu mahasiswa sombong yang mengatakan Alando tidak pantas masuk dalam geng mereka karena Alando bukanlah dari kalangan atas seperti mereka. Alando lebih pantas disebut pembantu.
Bukan Alando yang marah melainkan Zaden. Zaden menghancurkan seluruh kaca mobil mewah mahasiswa tersebut dan mengerjainya habis habisan sampai-sampai orang tersebut pindah ke luar kota. Tidak ada yang berani menuntut apalagi melapor ke polisi, karena orang tua Zaden memiliki kekuasaan.
Meira duduk di kursi paling depan menonton mereka berlatih, tepatnya matanya cuma tertuju pada kak Al Al nya. Apapun gerakan yang dilakukan Alando membuat Meira terpana.
"Kak Al Al ganteng banget sih? Apalagi kalau senyum sama Meira." pikirnya, gantengnya full. Dia senyum-senyum sendirian mungkin udah mirip penghuni RSJ aja Meira sekarang. Sambil memangku kue buatannya spesial buat Kak Al Al nya.
"Oke. Time out." teriak pelatih mereka, karena memang mereka sudah cukup lama bermain.
Semuanya menuju tempat duduk dan mengambil minuman yang sudah di sediakan.
"Loe mau mati?" ancam Alando pada Kenny yang cuma senyum puas berhasil menggoda Alando.
"Kalau dilihat-lihat Meira manis juga! sayang aja otaknya kloningan Dora." timpal Christ yang melihat Meira dengan mata microskopnya, seolah-olah Meira adalah makhluk yang hanya bisa dilihat dengan alat khusus. Dora merupakan kartun populer yang sukai anak-anak, dan Meira persis seperti Dora yang banyak nanya.
"Apa loe bilang?" Zaden menjepit leher Christ di ketiaknya, biar tahu rasa nih anak.
"Gue nggak ngomong apa-apa bro, gue cuma ngomong Meira manis... iya... manis kaya Dora." elak Christ mencoba melepaskan diri dari ketekan Zaden.
"Awas aja loe berani ejek Meira, gue dandanin ala upin ipin juga loe!" ancam Zaden meski tidak akan dilakukannya.
"Perasaan gue dengernya loe ngomong otaknya Meira kloningan Dora deh." provokasi Steven yang berharap melihat Christ di dandani ala upin ipin.
"Yah, Stev gue ceburin juga loe." kesalnya pada Steven yang ketawa melihat penderitaannya.
"Meira sini." panggil Zaden yang melihat Meira cuma duduk di kursi penonton, sedangkan Alando menatap kesal Zaden yang dibalas hanya dengan senyum mengejek.
Meira senang kak Zad Zad memanggilnya, artinya Meira bisa mengasih kue buatannya kepada Kak Al Al nya. Meira berlari pelan menuju tempat berkumpulnya ZACKS sedangkan teman setim mereka lebih memilih menjaga jarak.
"Kak Zad Zad." sapa Meira pada Zaden tidak lupa senyum manis andalannya.
"Zad Zad...?" Christ dan Kenny saling pandang bertanya.
"Berarti gue Christ Christ dong?" tanya Christ, nama panggilan yang akan diberikan Meira untuknya.
"Ya, dan gue berarti Ken Ken? Yahh nggak apa-apa deh yang penting masih keren." Kenny bangga pada namanya.
"Salah! Panggilan cocok yang akan diberikan Meira untuk kalian adalah pit pit dan bul bul haa... haa..." ejek Steven. Yang dia ingat Meira pernah memanggil Kenny dengan sebutan bule sedangkan Christ si mata sipit. Dan terjadilah perang lempar handuk diantara mereka bertiga.
"Hai Meira, itu bawa apa?" tanya Zaden ramah, melihat Meira membawa tempat bekal cantik berwarna merah.
"Ini... buat kak Al Al." jawab Meira malu-malu, namun seperti biasa senyum selalu menghiasi wajahnya. Meira menyerahkan tempat bekalnya pada Alando, namun jangankan diterima dipandang saja tidak.
"Meira buatnya dengan membayangkan wajah kak Al Al jadi rasanya pasti enak." lugunya dengan wajah antusias, dan keyakinan kak Al Al nya akan suka.
"Yah, kenapa Meira harus membayangkan wajah masamnya Alando?" tanya Kenny dengan bergidik, "Kuenya pasti jadi pahit." Kenny tertawa mengejek, diikuti tawa teman-teman lainnya yang cuma mendapat delikan tajam dari Alando seperti biasa.
"Enggak, kuenya manis kok! Kan Meira yang buat dibantu ibu sih dikit." Meira tersenyum malu memandang wajah Alando yang tidak menatapnya balik dengan bekal yang dari tadi tidak berpindah tangan sama sekali.
"Loe nggak mau Lan?" tanya Steven yang menoleh ke Arah Alando yang cuma bersikap dingin, "Oh, ya udah buat gue aja kalo gitu!" Steven sengaja melakukannya, hanya ingin melihat reaksi Alando. Namun saat Steven hendak mengambil bekal tersebut, Alando lebih dulu mengambilnya.
"Gue hargain ini, karena ibu Meira sudah cape-cape ikut membantu membuat kue ini!" jelas Alando yang ditujukan pada teman-temannya bukan pada Meira. Sedangkan Steven hanya mengedikkan bahunya cuek.
"Meira senang Kak Al Al mau makan kue buatan Meira." polos Meira dan duduk di samping tempat duduk Alando yang kosong.
"Ngapain loe duduk di sini?" ketus Alando, melihat tingkah Meira yang tidak peduli kekesalannya.
"Ciee...Ciee..." goda teman-temannya yang sedikit terhibur oleh tingkah absurd Meira yang terus mengejar Alando.
"Meira mau temani Kak Al Al makan." sahut Meira tanpa rasa malu.
"Nggak perlu, loe masuk kelas aja sana." usir Alando.
"Yah... Lan, jangan galak-galak sama pacar sendiri, kasian dia!" goda Zaden yang tampak bahagia melihat wajah kesal Alando. Lagi pula wajah kesal Alando jadi pemandangan sehari-hari buat mereka.
"Kak Al Al memang kita pacaran?" tanya Meira polos dengan pandangan lugunya.
Sedangkan Alando nampak tidak peduli dengan pertanyaan Meira dan godaan teman-temannya.
***
Vote, like dan koment yaa...