Meira

Meira
BAB. 67



Perlahan Meira membuka matanya yang terasa berat, setelah aktivitas paginya yang lumayan menguras keringat bersama kak Al Al nya tadi. Dia mulai mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali sambil mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya balik ke tubuhnya.


Sekian detik berusaha mengingat-ingat apa yang sudah terjadi dan mengarahkan pandangannya ke samping di mana seseorang yang sangat dia cintai yang sudah dua hari ini menyandang predikat suami sahnya, tertidur pulas dengan wajah tenangnya, dan yang membuat Meira sangat malu hingga pipinya bersemu merah sekaligus panas adalah saat ini kak Al Al nya sedang bertelanjan* dada dan hanya tertupi selimut tebal sebatas pinggang.


Hingga Meira tersadar dirinya pun begitu, keadaan mereka sama-sama telanjan* ditambah kedekatan jarak antara mereka berdua dengan tangan kak Al Al nya yang kini memeluk dirinya.


"Aaaa... Meira malu... Meira malu..." teriaknya keras bersembunyi di balik selimutnya yang kini menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Kaget dengan ingatan-ingatan yang kini berputar di kepalanya, ingatan tentang penyatuan mereka semalam.


"Meira...?" begitu pun Alando yang kaget mendengar teriakan istrinya hingga memaksa dirinya untuk membuka mata sesegera mungkin. "Meira, kamu kenapa?" Alando khawatir melihat istrinya yang telah membungkus dirinya dengan selimut, bahkan kini dirinya benar-benar polos tanpa penutup dan segera beranjak mengambil seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Hiks... Hiks... Meira malu."


"Malu kenapa?" Alando mendekati Meira dan mencoba membuka selimut yang membungkus Meira, namun yang ada Meira tambah erat memegangnya.


"Meira malu, kak Al Al mesumin Meira terus. Meira juga sakit, hiks... hiks..." jujurnya dengan masih sesenggukkan dan menyembunyikan dirinya dalam selimut.


"Ngapain malu, kita kan sudah menikah? Mau aku obatin?" bujuk Alando dengan sabar menghadapi sang istri.


"Nggak mau."


"Meira buka selimutnya, kamu tidak mau aku marah kan?"


"Jangan kak Al Al." Meira segera membuka selimutnya dan cuma menampilkan wajahnya, dengan wajah yang masih memerah dan sedikit berantakan.


"Sekarang bangun, kita mandi setelah itu kita cari makan. Aku lapar Meira." ditariknya tubuh Meira yang masih terbungkus selimut dan mengangkatnya perlahan.


"Kak Al Al kita mau kemana?"


"Mandi."


"Aaaaa..."


****


Rado dengan santai mengendarai motornya menuju jalan pulang ke rumahnya, setelah tadi mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, karena sebentar lagi dia akan mengikuti ujian akhir sekolah. (Anggap aja tidak ada covid 19).


Secara tidak sengaja dia melewati beberapa gerombolan anak sekolahan sepertinya juga, hanya berbeda nama sekolah. Ada empat anak lelaki terlihat berandalan di pinggir jalan sedang membully seorang cewek bertubuh berisi yang sedang menarik tas sekolahnya.


"Tangkap nih."


"Hei gajah, ambil sini."


"Eh gendut kalau mau ini, loe harus bayar sama kita- kita."


"Enak aja, aku nggak mau. Kembaliin nggak!." tolak cewek berisi tersebut. "Dan aku nggak gendut ya, cuma berisi." sanggahnya ejekan dari empat cowok berandalan yang sedang mengejainya itu.


"Haaahaaa... Kalau gendut ya gendut aja." Ejek salah satu dari mereka lagi, berasa merekalah paling keren.


Mau tidak mau Rado terpaksa menghentikan motornya, dia paling tidak bisa cuma melihat kalau ada seorang cewek yang digangguin seperti itu, berasa kalau itu adalah kakak perempuannya dan tidak ada satu pun yang mau membantunya karena takut. Setelah menghentikan motornya di dekat mereka, Rado turun dari motornya menghentikan kenakalan empat cowok tersebut.


"Kalian tidak malu apa mengganggu perempuan? Seharusnya kalian pake dastar sekarang." ejek Rado pada empat pelajar yang sepertinya lebih muda darinya.


"Eh... Loe mau jadi pahlawan buat cewek gendut ini rupanya hahaaa..." tawa mereka semakin kencang dengan niatan mengejek lawan di depan mereka.


"Eeh... Denger ya... dari saat gue dilahirkan, gue sudah jadi pahlawan buat keluarga gue, nggak seperti kalian sampah yang nggak bisa didaur ulang." balas Rado.


"Aah... Brengse*, banyak bacot loe." ucapnya dan langsung mencoba menyerang Rado yang memang sudah siap menghadapi gerakan berandalan tersebut dan buuk, Rado memberikan satu pukulan pada orang itu, dan terus berlanjut menghadapi ketiga temannya yang main keroyokan. Dia memang sering berkelahi jadi sudah terbiasa dan untungnya Rado juga sudah mendapat banyak latihan dari kakak iparnya yang ahli taekwondo, hingga kali ini dia tidak terlalu babak belur seperti keempat berandalan di depannya.


"Aaah..." kaget cewek itu melihat orang-orang di depannya pada babak belur kesakitan, begitu pun sang penyelamat dirinya yang juga memar memenuhi wajahnya. Hanya saja dia tidak terlihat manja seolah itu cuma gigitan-gigitan nyamuk saja.


"Udah buruan naik, loe mau di sini aja menunggu mereka mengerjai loe lagi." ucap Rado yang kini sudah berada diatas motor matic kesayangannya.


"I iya..." ucapnya dan menaiki motor cowok yang sudah membantunya dari para berandalan tersebut.


"Eh... Awas loe, kita pasti akan menyerang sekolahan loe nanti, ingat itu." teriak gerombolan berandalan tersebut yang masih belum terima.


"Gue tunggu." balas Rado tidak mau kalah dengan teriakannya juga. Setelahnya, dia pergi beranjak dari sana dengan membawa cewek setengah gendut tersebut di boncengannya.


"Terima kasih ya sudah membantuku dan maaf untuk lukanya." ucap cewek tersebut, dari arah belakang, dia sedikit tidak enak karena sudah menyebabkan orang di depannya terluka.


"Nggak ada yang gratis, loe harus bayar atas luka yang gue derita ini." sahut Rado perhitungan.


"Hahh... Kamu emangnya mau apa?" Jawabnya, sedikit kencang, karena mereka sedang berada di atas motor.


"Apa yaa...?" sahut Rado masih belum memikirkan apa yang dia inginkan, "Entar deh kalau gue sudah tau. Rumah loe di mana nih, loe nggak mau kan gue tinggal di jalan." ketusnya.


"Oh... Iya, itu terus aja. Terus ada perumahan Permata di depan." tunjuk cewek itu kedepannya.


"Wihh... Komplek permata, anak orang kaya loe ya?"


"Apa...?" cewek itu tidak bisa menjawabnya, dibilang anak orang kaya dia memang anak orang kaya tapi dia juga tidak bisa dikatakan begitu. "Sudah di sini aja." ucapnya, berhenti sebelum sampai di depan rumahnya.


"Hei... Loe tidak lihat gue sedang terluka, obatin kek! Kasih minum kek!" seperti biasa Rado tidak malu-malu mengutarakan keinginannya. Motonya tetap, apa pun yang bisa dimanfaatkan akan dia manfaatkan.


"Oh... itu maaf, di rumah nggak ada orang. Ini ambil pake buat berobat." dengan tergesa-gesa cewek itu mengambil uangnya di dalam tas dan memberikannya.


"Seratus ribu... asli kan ini." ucap Rado menerawang ke atas menghadap sinar matahari.


"Ya udah deh ini gue terima buat kompensasi muka ganteng gue, tapi lain kali loe harus balas budi sama gue, awas kalau loe mangkir."


"Iya."


"Ya udah gue cabut. Kelak kalau kita ketemu lagi, gue tagih tuh bayaran gue."


"......"


****


Kini pasangan pengantin baru yang masih dalam suasana romantis-romantisnya itu lagi berada di sebuah Mall besar berkat rengekan Meira yang tidak ada habisnya, pasalnya setelah melihat baju tidur cantiknya yang diberikan Dinda malah tercabik-cabik tak berdaya di sudut kamarnya. Padahal Meira sangat menyukainya karena itu baju tidur pertama yang paling cantik yang dia miliki, maklumlah selama ini dia cuma memakai daster yang harganya nggak sampai lima puluh ribu, sedangkan gaun tidur yang dibelikan Dinda bisa dikatakan harganya cukup mahal.


"Meira, kamu aja yang masuk ke dalam ya...?" bujuk Alando, mana bisa dia masuk toko khusus pakaian dalam wanita menemani istrinya. Yang ada semua pandangan akan tertuju padanya dan dia paling benci itu.


"Nggak mau, kak Al Al temani Meira ke dalam. Nanti kalau ada yang nyulik Meira gimana?" rengeknya manja pada sang suami.


"Hahhh... Ya sudah aku temani." dengan terpaksa dan menebalkan mukanya Alando mengikuti Meira masuk ke dalam toko tersebut. "Meira, jangan membeli terlalu banyak ya? Mulai sekarang kita harus berhemat." bisik Alando di telinga istrinya agar tidak ada orang yang mendengar obrolan mereka. Walau bagaimana pun gajinya saat ini belum lah sebesar pengusaha-pengusaha besar, dia cuma karyawan perusahaan yang baru merintis. Apalagi sekarang dia harus membiayai dirinya sendiri dan Meira istrinya, termasuk biaya kuliahnya.


"Meira dikasih banyak uang sama papa, kata papa Meira harus menggunakan uang ini untuk Meira dan kak Al Al. Tapi Meira juga nggak boleh bilang-bilang kak Al Al, tapi kalau ditanya kan Meira harus jawab." polosnya.


"Hahh... Kapan papa ngasih kamu uang?" tanya Alando kaget.


"Waktu papa mau pulang di hari nikahan kita. Papa ngasih dua kartu buat Meira." kasihkannya dua kartu tersebut pada suaminya. "Pinnya ulang tahun kak Al Al, jadi Meira akan selalu ingat."


"Oh... Ya udah kamu aja yang simpan." kalau itu memang diberikan untuk istrinya Alando tidak bisa menolak, tapi kalau untuk dirinya, dia akan menggunakan uangnya sendiri.


Meira cuma mengambil satu gaun tidur seperti yang dia miliki yang kini sudah menjadi sampah tak berarti, begitulah Meira dia cuma akan membeli barang yang memang diperlukannya.


"Cuma satu...?" tanya Alando heran, untuk apa jauh-jauh pergi ke mall tapi yang dibeli cuma satu gaun tidur pengganti.


"Iya, punya Meira kan cuma rusak satu." ucap Meira tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Hahh...? Ya sudah, nanti baju kamu yang lainnya juga akan aku rusak." sahutnya, dan mengambil beberapa baju tidur yang memang diperlukan Meira nantinya, tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya lagi.


"Oh...!"


Setelah membeli beberapa baju untuk Meira, kini mereka memutuskan untuk langsung pulang ke hotel, mumpung masih tersisa dua hari bulan madu jadi yah, harus bisa Alando manfaatkan dengan baik.


"Drrrtttt... Drrrtttt..." handphone Alando berbunyi, namun dengan nomor yang tidak dia kenal.


"Klik... Halo..?"


"Kak Alan, Papa..." isak tangis dari gadis yang sudah dia kenal, yaitu Dinda. Dia terdengar panik dengan tangisan mengikutinya.


"Kenapa Papa...?" ada rasa takut dan khawatir yang kini dia rasakan.


"Papa kembali drop. Sekarang aku sudah membawanya ke rumah sakit Pelita, kak Alan bisa kemari." sahutnya dengan suara pelan dan tangis yang masih terdengar.


"Iya, aku akan ke sana. Klik." telponnya segera dia matikan dengan tergesa-gesa menarik tangan Meira bersamanya. "Kita ke rumah sakit, papa sedang sakit."


"Iya." setelahnya, Meira cuma mengikuti langkah suaminya yang terlihat khawatir.


****


Sampai di rumah sakit, dia disambut beberapa keluarga besar papanya yang sudah berada di sana. Begitu pun orang tua Meira sekaligus Rado adik iparnya yang juga sudah hadir untuk melihat keadaan papanya, karena tadi Alando memang sempat memberi kabar pada keluarga istrinya, karena bagaimanapun sekarang mereka adalah keluarga.


"Alan, Meira... Kalian masuklah. Papamu sudah menunggu kalian." ucap Om Rendrawan dengan muka yang terlihat sedih.


"Ayo Meira..." tariknya sang istri untuk mengikutinya.


"Kreek..." pintu terbuka dengan menampilkan kondisi papanya yang semakin memburuk selang infus dan oksigen kini terpasang kembali di tubuh tua dan kurus itu.


"Pa... Ini aku dan Meira. Kami sudah di sini." sapa Alando pelan, menyentuh lembut tangan papanya yang sudah lama tidak dia pegang.


"Papa..." sapa Meira yang kini sudah mengeluarkan tetes-tetes air mata.


Tidak ada sahutan, papanya seperti tidak bisa mengeluarkan suara apa pun lagi. Tapi Alando tau papanya masih bisa mendengarkan suaranya dan Meira saat ini.


Mungkin ini saatnya dia harus melepas papanya, meski pernah sempat membencinya tapi untuk saat ini semua kebencian yang telah dia rasakan menguar begitu saja, tidak ada kebencian lagi. Yang ada hanya ingin melihat papanya bisa tenang dan melepaskan rasa sakit yang dia alami saat ini, sungguh dia tidak sanggup melihatnya.


Perlahan Alando mendekatkan bibirnya di telinga sang papa dan memberikan kata-kata memaafkan.


"Pa... aku telah memaafkan semua kesalahan yang pernah papa lakukan dulu, aku sudah tidak membenci papa lagi, papa tenang saja aku juga akan menerima Dinda sebagai adikku. Aku memiliki Meira yang akan selalu bersamaku di sini, jadi papa bisa tenang sekarang.


Setelah membimbing papanya mengucapkan dua kalimat syahadat meski papanya sama sekali tidak bisa merespon dirinya, tiba-tiba papanya mengambil napas dan titttt... Alat itu sudah menunjukkan bahwa papanya kini telah tiada, sejak awal memasuki kamar ini entah kenapa dia yakin kalau ini memang saat papanya juga akan pergi meninggalkan dirinya menemui mamanya yang telah dulu dipanggil Tuhan


"Pa..."


"Papa..."


Tangis kini menguasai ruangan itu, semua anggota keluarga pun ikut masuk melihat kondisi terakhir anggota keluarga mereka yang telah dulu dipanggil Tuhan. Semua berkabung tapi memang inilah yang terbaik buat papanya, penyakit itu sudah membuat menggerogoti dirinya, papanya merasakan kesakitan yang siapa pun melihatnya pasti tidak akan tega.


Vote, like dan koment.