Meira

Meira
BAB. 37



Meira terlihat malas-malasan untuk memakan sarapannya bahkan makanannya cuma diacak-acak bukannya dimasukin ke dalam mulut, sampai-sampai ibu Meira ngomel-ngomel melihat kelakuan putrinya itu.


"Makanan nggak boleh dibuang Ra, nanti kamu yang ditinggal sama makanan. Habisin makanan kamu!" omel ibunya.


"Meira nggak buang, masih ada di piring kok. Ayah makanan emang punya kaki ya? kok mau ninggalin Meira?" tanya Meira pada ayahnya yang juga masih sarapan.


Beginilah setiap harinya Meira, ada aja pertanyaan yang dia lontarkan pada keluarganya. Pertanyaan yang harusnya sangat mudah untuk dijawab tapi menjadi rumit saat mencoba untuk menjelaskan pada Meira yang otaknya sekecil semut.


"Itu cuma perumpamaan Ra! Kalau kamu membuang makanan dan tidak memakannya, itu artinya kamu tidak mensyukuri pemberian Tuhan. Tuhan juga bisa marah dan tidak mengasih kamu makanan lagi nanti. Makanya bisa dikatakan makanan itu pergi meninggalkanmu." Jelas ayahnya yang juga ikut bingung cara yang mudah untuk lebih di pahami oleh otaknya Meira.


"Tuhan marah sama orang yang membuang makanan. Makanya Tuhan memberi makanan itu kaki biar bisa lari dari orang-orang jahat yang tidak mau memakannya." tambah Rado, sambil menahan ketawanya.


"Greek... yang benar kalau ngasih tahu kakakmu. Kamu tahu sendiri kondisinya." Ibunya menjewer telinga Rado yang selalu menggoda bahkan kadang-kadang membuat kakaknya kesal.


"Aww... aww... itu sudah benar Bu. Meira itu justru lebih paham kalau dijelaskan kayak gitu." sahut Rado, dia bersikeras kalau apa yang dijelaskannnya itu nggak salah.


"Oh... Meira kan tidak jahat dan Meira mau memakannya kok. Meira nggak mau ditinggal makanan nanti kelaparan kayak kemarin." Meira pun akhirnya mau memakan-makanannya walau pun terbilang lama karena dia lagi tidak ingin makan apa pun.


"Tuh benarkan! Rado itu ahlinya dalam soal menjelaskan banyak hal pada Meira." bangganya pada diri sendiri. Rado memang tidak pernah mau memanggil Meira dengan sebutan Kakak, karena dia merasa dia lebih dewasa dari pada Meira. Tuhan seharusnya menciptakan Rado terlebih dahulu baru Meira.


Sedangkan Ayah dan Ibu Meira cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak laki-lakinya yang semakin jumawa.


"Tunggu dulu... tadi kamu bilang kelaparan? apa si Ale Ale itu tidak memberi kamu makan hah...?" tanya Rado dengan wajah kesalnya, enak aja kakaknya tidak diberi makan.


"Kak Al Al beri Meira makan kok, tapi kan Meira keliling hutan. Nggak ada makanan di hutan." Jelas Meira takut melihat muka Rado tampak marah. Dia nggak suka kalau melihat muka Rado lagi kesal.


"Kurang kerjaan banget, ngapain jalan-jalan di hutan mending di mall banyak makanan!" omel Rado, baru pagi sudah ribut-ribut apalagi kalau sore hari saat mereka berkumpul bersama.


"Sudah, ayah berangkat duluan pusing juga ayah kalau mendengar omongan kalian terus." canda ayah kepada kedua anaknya, padahal kalau anak-anaknya nggak ada di rumah, suasana rumah jadi sepi.


"Hahaa... hati-hati di jalan yah..." sahut Rado dan Meira sekalian mencium tangan ayahnya yang akan berangkat kerja.


"Kamu jangan ngebut, antarin kakakmu dengan selamat." nasihat ayahnya yang selalu akan dia ucapkan saat anak-anaknya akan pergi naik motor. Ayah masih trauma dengan kecelakaan yang menimpa putri manisnya itu.


"Iya yah. Sip."


****


"Meira ikut Radodo aja ya?" bujuk Meira saat Rado sudah mengantar Meira di depan kampusnya. Kampus yang masih sangat sepi belum ada tanda-tanda para penghuninya bermunculan kecuali mereka berdua.


"Ikut aku ke sekolah?" tanya Rado, meyakinkan pendengarannya. Seumur-umur ini pertama kalinya Meira mau ikut kesekolahannya.


"Iya. Meira nggak mau kuliah."


Gimana ceritanya Rado ke sekolah bawa kakak perempuannya, yang ada dia akan dikatain anak mami. Yang pasti bukan Rado yang akan diawasi seperti baby tapi sebaliknya dia yang akan jadi baby sitter untuk kakaknya di sekolah.


"Mau bolos? nggak boleh. Kamu mau di hukum ibu tidur di kuburan?" itu cuma cara Rado menakut-nakuti kakaknya, ibu mana mau sih membuat hukuman seperti itu. Kalau Rado yang melakukan kesalahan, mungkin ibunya memang akan mempertimbangkan hukuman itu.


"Enggak mau." takut Meira.


"Ya udah, nggak usah bolos. Lagian kenapa sih mau bolos, ada yang jahat sama kamu, siapa? biar Rado yang hajar orang itu atau Ale Ale nyakitin kamu hah?" cerca Rado berturut-turut, tidak memberi kesempatan Meira ngomong.


"Ihh... enggak, Kak Al Al selalu baik sama Meira, tapi Meira malu ketemu kak Al Al!"


Diiringi dengan wajah memerahnya serta senyum malu-malunya mau tidak mau membuat Rado geli sendiri melihat kelakuan bucin kakaknya itu.


"Malu? semalam aja nempel-nempel mulu kayak magnet sama kulkasnya. Itu namanya malu?" omel Rado.


"Semalam Meira lupa, tapi pagi tadi Meira ingat lagi jadinya Meira malu lagi." cerita Meira memegang pipinya yang menghangat.


"Ingat apaan?" Rado jadi penasaran, padahal dia sudah mau berangkat sekolah.


"Kayak di drama korea, oppa Min-Min dan eonni Shinsin." Jelas Meira yang makin malu mengingatnya.


"Tau ah memangnya aku penggemar drama Korea-Korean itu. Bodo amat sama opa-opa Mimin itu, mau dia berubah jadi cucunya Maman kek bodo amat Meira. Sudah ah aku terlambat ke sekolah kan jadinya." Rado tergesa-gesa dan langsung pergi tanpa mau mendengarkan celotehan Meira lagi.


"Iih... Meira kan belum selesai cerita. Radodo Meira mau ikut." Meira kesal diabaikan adiknya itu dan cuma bisa melampiaskan kekesalannya dengan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.


"Kenapa gayamu seperti itu...?" Alando tiba-tiba muncul di belakang Meira dan makin heran melihat kelakuan gadis manis itu yang tidak biasanya kesal sendiri.


Hari ini Alando memang datang lebih awal, karena dia tau Meira pasti datang pagi-pagi sekali seperti biasa. Padahal Alando juga sudah mengirim pesan WA namun tidak dibalas oleh Meira, dia kan jadi khawatir. Makanya dia mengorbankan rasa ngantuknya hanya untuk bisa menemani Meira di kampus sebelum teman-temannya datang.


"Kak Al Al...?" Meira kaget dan suaranya pun sedikit pelan dan gugup bahkan matanya membola. Dia jadi teringat saat kak Al Al nya mengecup bibirnya lembut di sungai waktu itu.


"Kenapa kamu melotot gitu?" tanya Alando makin gemes melihat Meira yang seperti baru melihat setan itu.


"Enggg... pipi Meira panas." ucapnya spontan dengan kedua telapak tangan yang menampuk kedua pipinya.


"Meira malu ketemu kak Al Al, Meira nggak mau ketemu kak Al Al dulu...!" tanpa kata-kata lagi Meira berlari kabur menjauh dari Alando.


"Meira...!" panggil Alando bingung, kenapa Meira bersikap aneh gitu. Tujuan dia kan pagi-pagi ke kampus ingin menemani Meira tapi sekarang Meira malah menjauhinya. Padahal semalam Meira bersikap baik-baik saja dan masih menempelinya. Alando kesal dan mengacak-acak rambutnya sendiri.


'Apa mungkin karena dia mencium Meira kemarin ya?' pikir Alando.


****


Setelah mata kuliah Pak Trisno selesai Meira masih duduk di kelasnya bersama ketiga teman-temannya saling bercerita saat-saat mereka bercamping. Apalagi teman-temannya Meira juga masih penasaran dengan cerita Meira dan Alando saat mereka masih di hutan.


"Meira ayo cerita, bagaimana kak Alando akhirnya bisa menemukanmu?" desak Sany, pengen tau kronologisnya.


"Iya... Aku juga penasaran?" tambah Mita, begitu pun Ami yang juga ikut kepo.


"Waktu itu sudah gelap, terus Meira sangat takut dan nangis lalu kak Al Al memanggil Meira. Dan mengalirlah cerita Meira bagaimana dia melewati malam yang menyeramkan itu bersama Kak Al Al nya.


"Waw... Kak Alando ternyata manis banget sama Meira. Iih... kan jadi iri." Mita membayangkan dirinya di posisi Meira dengan seseorang yang dia suka saat ini, teman satu kelas mereka juga.


"Terus... terus...?" Lanjut Sany. Kebetulan semua temannya sekarang sudah keluar kelas dan cuma mereka berempat yang masih tersisa dengan gosip dan cerita mereka yang belum selesai.


"Kalau terus-terus ya nabrak dong San. Kamu gimana sih?" canda Ami dan terus tertawa.


"Aku nanya sama Meira bukan kamu Ami." judes Sani. "Udah lanjutin." suruh Sany lagi pada Meira.


"Terus kak Al Al bawa Meira ke pinggir sungai buat minum, ihh Meira malu." tiba-tiba Meira senyum-senyum nggak jelas membuat teman-temannya saling berpandangan.


"Malu...? Memang di sungai kamu ngapain?" cerca Ami, pikiran mereka sekarang sudah kemana-mana. Meira kan polos banget gampang dibodoh-bodohin.


"Meira dicium kak Al Al." polos Meira.


"Hah...?" kaget mereka semua. Sebenarnya bukan masalah besar sih, bahkan anak SMA saja pernah melakukannya. Tapi kan ini Meira, teman mereka yang sangat polos yang jauh dari pergaulan seperti itu.


"Kok kamu mau sih? jangan mau kalau Kak Alando mau cium kamu lagi." omel Sany.


"Emang kenapa sih? mereka kan pacaran?" sahut Mita. Itu kan hal yang wajar menurut dia asal jangan kelewat batas, beda lagi menurut Sany.


"Pacaran kan nggak harus kayak gitu?" balas Sany sewot, diantara yang lainnya meski Sany terbilang tomboi dia yang paling alim di antara semuanya. "Gandengan tangan juga manis."


"Emang anak TK mau menyeberang." sanggah Mita, masih dengan perdebatan yang sama. Masing-masing memiliki pandapat yang berbeda.


Ami dan Meira ikut pusing melihat perdebatan mereka berdua, sudah biasa sih melihatnya. Sany dan Mita memang selalu berbeda pendapat tapi untungnya mereka akan berbaikan setelahnya.


"Udah yuk... kita keluar." Ajak Ami dan manarik Meira yang masih bengong melihat perdebatan mereka.


****


Seperti maling yang ketakutan ditangkap, begitu pun Meira yang mengumpet-umpet dari seseorang yang tidak ingin dia ketemui saat ini alasannya karena malu. Jadi untuk hari ini Meira tidak mau ketemu kak Al Al nya dulu, tidak tau kalau besok. Tapi berhubung sekarang jam kuliah sudah selesai Meira mau menunggu jemputan Rado di taman kampus biasanya, di bawah pohon yang sejuk dan di temani si Laura kucing nakalnya yang biasa mangkal di sana.


"Ngapain kamu ngumpet gitu? menghindari Alando?" tanyanya menyelidik serta gaya cuek yang sudah jadi ciri khasnya.


Meira kaget, dan melihat ke arah belakangnya yang sudah sangat dia kenal. Bukan seseorang yang paling ingin dia hindari, bukan Kak Zaden atau dua orang sesat yang tidak boleh dia percayai melainkan kak Steven manusia cuek seantero kampusnya.


"Iya, Meira malu." jujurnya, Meira memang tidak bisa berbohong sedikit pun.


"Malu? oh ternyata kamu bisa malu juga. Itu ada Alando mau aku panggilin?" Steven malah ingin berbuat iseng ketika melihat wajah Meira yang makin memerah.


"Jangan, kak Stip tip. Nanti kak Al Al lihat Meira!" bujuk Meira yang ketakutan lebih tepatnya gugup.


"ALANDO..." Panggil Steven pada Alando yang dari tadi sibuk mencari Meira di semua tempat.


"Kak Stip tip jahat, tutupin Meira... tutupin Meira...!" Meira beralih ke belakang punggung Steven dan sembunyi di sana seolah-olah tubuh Steven sebesar gajah dan bisa menutupinya.


"Yang benar saja Meira, kamu kira tubuhku sebesar apa?" Omel Steven, tidak mengerti dengan pemikiran Meira.


"Shuttt..." Meira menyuruh Steven untuk diam dengan menempelkan telunjuk jari pada bibirnya.


"Meira...? ngapain kamu ngumpet di situ!" Alando menatap Meira yang terus bersembunyi di balik punggung sahabatnya itu, jujur dia sedikit cemburu. Dia tidak suka Meira terus-terusan menghindarinya seharian ini, pokoknya dia harus menegaskan sesuatu pada Meira.


"Yahh... Meira ketahuan deh...!"


Vote, like dan koment ya..


Bonus si Rado anak songong