Meira

Meira
BAB. 71



Dua orang gadis yang berbeda penampilan sedang menikmati jam kosong mereka, si gadis cupu cuma asik dengan bukunya dan entah apa yang sedang dia tulis dan satunya lagi gadis cantik meski dengan pakaian sederhana yang dikenakannya saat ini, dia tetap menawan. Zia dan Kara, dua gadis yang memiliki karakter bertentangan tetapi memiliki nasib yang sama. Sama-sama miskin dan nggak punya banyak teman.


Sebenarnya banyak yang menyukai Kara hanya saja setelah mereka mengetahui kalau Kara cuma pembantu di rumah Olivia, mereka seolah-olah jijik dan malu memiliki teman sepertinya. Dan sampai saat ini cuma Zia sahabat terbaiknya, saling membantu di saat salah satu kesusahan.


"Zi..., kamu kenal cowok itu nggak?" tunjuk Kara pada seorang lelaki cuek dengan pakaian sedikit berantakan. Tertidur di sebuah bangku taman tanpa peduli sekelilingnya. "Kok aku baru kali ini melihatnya ya?" tanya Kara memikirkan apakah dia pernah bertemu orang itu.


"Dia...? berandalan itu." tanya Zia memastikan.


"Iya, kamu kenal? Emang dia berandalan?" tanya Kara balik.


"Namanya Lexo, dia cucu dari majikan mama aku dan dia baru pindah ke sini sudah tiga mingguan sih." jelas Zia, "Kami pernah bertemu beberapa kali waktu aku menemui mama di rumah majikannya itu, dan dia..." Zia merasa bingung untuk meneruskannya.


"Apa...?" tanya Kara penasaran.


"Dia menyuruhku membersihkan kamarnya sampai bersih. Ya udah itu aja, tapi aku kan nggak kerja di sana, jadi sedikit kesal." sahut Zia sedikit gugup.


"Oh...? Dia sudah punya pacar belum?" tanya Kara malu -malu.


"Hahh...?"


"Aku kan juga pengen punya pacar Zi, biar ada yang beri semangat. Hidupku sudah terlalu sulit, kan kalau ada cowok ganteng di samping kita, otak jadi adem rasanya. Bisa bikin halu dan melupakan beratnya hidup sejenak." ucap Kara mendramatisir.


"Mana aku tau, aku kan nggak tinggal di sana, kamu menyukainya?" tanyanya pada sahabatnya, dia hanya penasaran.


"Suka banget sih enggak, cuma sekedar suka doang. Dia terlihat tampan dalam tidurnya seperti itu." sahut Kara semakin memperhatikan lelaki yang kini sudah mulai membuka matanya dan perlahan hendak pergi dari sana.


"Dia pernah masuk penjara kata mama aku, jadi jangan dekat-dekat dia deh." Zia cuma ingin memberitahu apa yang sudah dikasih tau mamanya.


"Benar kah, aku nggak yakin. Masa muka ganteng gitu bisa jadi penjahat."


"Ya bisa aja kan." sahut Zia tidak mau kalah.


"Aku mau ke sana dulu." Kara melangkah menghampiri lelaki tersebut, mencoba peruntungannya, siapa tau dengan pesona ala kadarnya tiba-tiba lelaki itu bisa klepek-klepek olehnya.


"Bruuuk... aww..." Kara sengaja berjalan berlawanan arah dan sedikit menyenggolnya, dan saat itulah dia berpura-pura jatuh. Seperti di film-film receh yang sering dia tonton, mencoba untuk mencari perhatian dan akhirnya, tara... mereka berkenalan dan jatuh cinta, pacaran, menikah dan happy ending.


Tapi sayangnya itu cuma ada dalam imajinasinya saat ini.


Bahkan sedikitpun lelaki itu tak acuh, tanpa menoleh dia terus berjalan, mengabaikan Kara yang masih tersungkur di tanah.


"Hei kau...!" teriak Kara. "Kau tidak mau minta maaf gitu." melasnya.


Merasa terpanggil, lelaki tadi menghentikan langkahnya dan menoleh pada Kara. "Apa?" tanyanya balik.


"Kau tidak mau minta maaf padaku, tenang saja aku akan memaafkan siapa pun yang mau minta maaf kepadaku." ucapnya santai dan mengeluarkan senyum cantik andalannya.


"Hahaa... Minta maaf. Bukannya loe yang menyenggol gue secara sengaja, seharusnya loe belajar taktik baru." ejeknya, dan pergi menjauh dari Kara.


"Aaahh..., dasar menyebalkan." maki Kara, dan bangkit dari duduk manisnya di tempat dia terjatuh tadi sambil membersihkan rok panjang yang dia kenakan saat ini serta telapak tangan yang penuh kotoran pasir.


"Apa dia nggak bisa manis sedikit saja, aku kan nggak jelek-jelek banget." ujarnya, menilai diri sendiri.


"Buukk..."


"Aww..." lagi dia tersungkur di tanah, tapi kali ini benar-benar tidak sengaja. Tiba-tiba saja ada orang yang menyenggolnya dari depan.


"Taktik yang sama hah...!" senyum sinis itu kini mengejeknya.


Kata-kata itu sengaja diucapkan untuk mengingatkannya pada malam-malam paling memalukan dalam hidupnya.


"Kalau iya, kenapa? Gue pikir itu akan sangat menyenangkan, loe mau mengulanginya sekali lagi? Bagaimana kalau sekarang." kini Zaden kembali balik menantang Kara, yang kini muka itu berubah memerah sekaligus pucat pasi.


Zaden ikut mensejajarkan dirinya, mendekat pada Kara yang kini masih terduduk di tempat itu.


"Apa?" Kara makin menutupi kedua dadanya sebagai antisipasi, "Hei... Apa yang kau lakukan? Menjauh sana." muka mereka sangat dekat dan itu membuat Kara sangat gugup.


"Dukk!" Zaden menyentil dahi gadis itu.


"Aww...!"


"Sayang sekali gue tidak tertarik dengan gadis drama kayak loe." ejeknya, setelah mengucapkan kata-kata itu, Zaden pergi menjauh tanpa repot-repot membantu Kara kembali berdiri.


"Gadis drama katanya? Kapan aku main drama sih." kesal Kara dan sekali lagi harus membersihkan pakaiannya dari beberapa kotoran pasir di tanah. Dan setelah berbalik ternyata temannya Zia juga sudah menghilang dari pandangannya.


*****


"Kak Kris Kris... tetangga Meira punya pohon mangga besar banget loh." cerita Meira, kini mereka duduk di sebuah taman dengan sang suami yang terus menemaninya, untungnya kehamilan Meira tidak terlalu merepotkan sehingga dia masih bisa mengikuti kuliah.


"Buahnya juga banyak banget." tambah Meira, meminta perhatian darinya yang tadi sibuk dengan gamenya.


"Pasti ada apa-apanya." tebak Steven. Mereka berempat lagi duduk di taman dekat lapangan basket sambil menunggu jam kuliah.


"Terus, kamu minta aku jadi maling mangga tetangga kamu gitu?" tuduh Christ, bukan apa-apa permintaan Meira akhir-akhir ini semakin aneh, bukan cuma suaminya yang di buat repot tapi juga sahabat mereka berdua masing-masing.


"Bukan, Meira cuma minta dipetikin." rayunya dengan senyum polos andalannya. "Kalau mencuri itu dosa, nanti bayi Meira memakan makanan yang nggak halal, itu nggak boleh."


"Biar aku yang petikin nanti." sahut Alando sebagai seorang suami, seharusnya memang dia yang mengerjakan semuanya.


"Tuh dengerin, enak aja nyuruh-nyuruh anak Mami Sisi manjat pohon." omel Christ.


"Nggak mau, kak Al Al terlalu ganteng kalau manjat pohon, biar kak Kris Kris aja, hihii..." tawanya, tapi memang dari kemarin dia sudah mengintai buah mangga tetangga yang begitu menggiurkan dan terus memanggil namanya untuk dimakan. Tapi saat ini dia memang pengen melihat kak Christ naik pohon aja.


"Terus... Maksudmu aku tidak ganteng gitu." kesalnya dan melotot pada Meira, "Kamu mau ngerjain aku doang kan? Iya kan!"


"Kak Al Al..." adunya.


"Christ...?" tegur Alando. Istrinya tidak boleh stress saat ini, walau dia harus menyiksa keempat sahabatnya, bodo amatlah.


"Iya... iya... Hari ini, aku akan jadi monyet mangga untuk istri tercintanya Alando Garindra." sinisnya menatap sahabat raja iblisnya tersebut.


"Lagian cuma loe, yang belum pernah dapat giliran sasaran ngidamnya Meira." timpal Steven, dia ingat bagaimana dirinya dan Kenny yang sering menjadi sasaran ngidam Meira. Minta belikan makanan yang kadang sulit dicari.


"Terus gue harus merasa tersanjung gitu." protes Christ.


"Sansan pasti tambah cinta pada kak Kris Kris." Christ akan berhenti mengomel kalau sudah mendengar nama gadis pujaannya tersebut yang kini sudah mulai dekat dengannya.


"Hahh... Oke." ucap Christ lesu.


***


Vote, Like dan koment ya


Untuk cerita Zaden di sini memang cuma sekilas lewat ya. Karena saya mau buat lapaknya sendiri, tapi nanti😁