
Selesai makan Meira kembali melanjutkan membersihkan rumah Alando yang tingkat kekotorannya diatas rata-rata. Meira dengan teliti membersihkan tiap sudut yang dirasanya memiliki banyak debu dan kotoran kemudian menyulapnya menjadi bersih dan enak dipandang mata meski Alando juga ikut membantu karena mana mungkin dia tega melihat Meira membersihkannya sendirian.
Sedangkan Rado jangan ditanya lagi, saat ini dia melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh teriakan Meira. Tanpa persetujuan dari si pemilik kamar asli yaitu Alando, mau tidak mau kamar itu kini sudah berada di bawah kekuasaannya Rado si anak songong.
Meira membuka semua jendela yang ada di setiap ruangan agar udara bisa bebas keluar masuk dan menghilangkan pengap yang ada di rumah itu. Dan rasanya memang lebih baik dari pertama kali dia datang saat memasuki rumah kak Al Al nya.
"Rumah kak Al Al besar, tidak seperti rumah Meira kecil," cerita Meira, dia masih mengagumi rumah kak Al Al nya yang kini sudah nampak bersih dan enak di pandang.
"Percuma punya rumah besar tapi aku tinggal sendiri di sini." Alando mendudukan dirinya di sofa ruang tamu dan meminum air mineralnya yang ada di atas meja. Cape juga ternyata membersihkan rumah, kalau bukan karena Meira dia pasti sudah menghabiskan waktunya untuk tidur bukan malah posisinya yang kini digantikan oleh adiknya Meira si Rado.
"Meira mau kok temani kak Al Al di sini." sahutnya, setelah ikut duduk di samping Alando dengan jarak yang sangat dekat. Mungkin cuma Alando yang merasa gugup tapi gadis di sampingnya justru bersikap biasa seolah kedekatan mereka saat ini tidak akan menimbulkan keinginan-keinginan untuk memiliki lebih.
"Tidak boleh begitu Meira." Alando menyenderkan kepalanya di kepala sofa serta memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelahnya sekaligus menghindari keinginannya untuk memiliki Meira saat ini juga.
"Kenapa begitu kak Al Al...?" bukannya merasa risih Meira malah merebahkan dirinya di bahu Alando namun untungnya tak ada penolakan darinya kali ini.
"Kita bukan pasangan menikah, dan kita juga tidak punya hubungan keluarga jadi tidak boleh satu rumah." jawab Alando, masih dengan posisi yang sama.
"Oh... nanti Meira juga mau menikah." Meira tertawa membayangkan dirinya menikah dengan kak Al Al nya, Meira dengan gaun pengantin indahnya berwarna putih sedangkan kak Al Al nya dengan jas berwarna serba putih juga seperti di drama-drama korea yang dia tonton. Jangan tanyakan kenapa drama korea yang selalu menjadi patokannya. Karena Meira memang pecinta berat drama-drama korea.
Seketika Alando membuka matanya dan mengarahkan pandangannya pada gadis yang bersender di bahunya saat ini dengan bibir yang tidak berhenti menampilkan senyum indahnya.
"Sama siapa?" tanyanya cepat. Jangan sampai ada orang yang lebih dulu meminta Meira pada kedua orang tuanya sebelum dia juga melakukan niat tersebut. Jujur saat ini Alando belum siap untuk menikah, dia masih memikirkan banyak hal untuk masa depannya. Dia harus menyelesaikan kuliahnya dan tentu saja mengembangkan perusahaan kecil yang sekarang dia dan teman-temannya bangun agar menjadi perusahaan besar dan itu memerlukan waktu yang lumayan lama. Setidaknya secara perekonomian Alando sudah cukup mapan untuk membawa Meira masuk ke dalam hidupnya. Tidak seperti saat ini dia belum siap untuk itu, Alando dengan segala pemikirikannya.
"Sama kak Al Al." Jawab Meira cepat dengan wajah malu-malunya. Begitu pun Alando yang merasa bahagia mendengar penuturan Meira.
"Kalau begitu tunggu aku setelah lulus kuliah." Janji Alando meski dia tidak tau apa yang terjadi di masa depan nantinya, yang pasti saat ini dia tau tujuannya.
"Meira kan setiap hari selalu nunggu kak Al Al." setiap pagi setelah sampai kampus yang ditunggu Meira adalah wajah kak Al Al nya begitu pun selesai kuliah yang dia tuju cuma kak Al Al nya juga.
Mungkin pusat hidup Meira saat ini cuma kak Al Al nya dan itulah yang selalu di khawatirkan Rado, takutnya semua tidak sesuai dengan keinginan Meira dan akhirnya Meira patah hati. Karena itu Rado bersikap protektif padanya.
"Hemm... dan Meira adalah pacar Alando, ingat itu." tegasnya. Sebenarnya sudah dari tadi Alando ingin mempertegas hubungan mereka namun selalu saja ada halangan. Meski Alando juga yakin Meira tidak terlalu mengerti apa itu makna dari kata 'pacaran' mungkin buat Meira pacaran itu artinya Meira suka Alando dan begitu pun sebaliknya Alando suka Meira, sudah itu saja. Tapi buat Alando itu adalah pernyataan kepemilikan Meira atas dirinya dan tidak ada yang boleh merebut Meira darinya.
"Hihii... Meira jadi pacar kak Al Al." Meira tampak senang karena hari ini kak Al Al nya tidak bersikap seperti biasanya yang selalu jutek padanya.
"Cupp... Cupp..." lagi, ciuman dilayangkan Alando pada Meira karena tidak tahan melihat tingkah manis Meira di sampingnya. Tapi bukan di bibirnya melainkan di pipi chubby yang dimiliki Meira. Alando tidak mau kebablasan, Meira benar-benar bisa membuat dirinya hilang akal.
"Jangan gangguin aku lagi, oke? Aku ngantuk Meira." Alando memejamkan matanya lagi, ini lebih baik dari pada dia terus-terusan memandangi gadis itu, bisa overdosis rasa cintanya untuk Meira.
"Kenapa kak Al Al tidak tidur di kamar aja?"
"Ada Rado di sana."
****
Alando seperti antara ada dan tiada, dia masih di dunia mimpinya tapi dipaksa untuk terbangun dari tidurnya. Geli, berasa ada rambut di leher dan telinganya. Mulutnya pun seperti ikut merasakan ada rambut yang masuk. Apalagi ada tangan yang sedang memeluk pinggangnya.
"Meira..." Alando mencoba menjauhkan kepala Meira yang ada di lehernya. Tapi kok berasa beda, rambut Meira yang ini lebih pendek seperti rambutnya. Perlahan Alando membuka matanya dan ternyata bukan Meira lagi yang berbaring di bahunya melainkan si anak songong.
"Bukk... aww...!" teriak Rado sekaligus Meira yang ternyata ada di samping Rado yang juga masih tertidur.
Alando sengaja mendorong kepala Rado karena kaget, sejak kapan Rado menggantikan posisi Meira parahnya dia tidak sadar sama sekali.
"Apaan sih Ale Ale sakit tau! Ini kepala bukan samsak." Gerutu Rado sambil mengusap kepalanya. Kesal sekaligus kaget, orang masih ngantuk-ngantuknya tiba-tiba kepalanya didorong begitu saja.
"Siapa suruh loe tidur di samping gue! Ngapain juga kepala loe nyender-nyender di bahu gue hah?" murka Alando, berasa cowok model gituan aja Alando, mending dia nyosorin Meira jelas normalnya.
"Hehee..., gue khilaf kak Ale Ale, lagi pula gue itu harus mencegah adanya setan yang menggoda kak Ale Ale makanya gue memilih untuk tidur diantara kalian dari pada tidur nyenyak di ranjang empuk." Jelas Rado, tadi dia memang terbangun tapi hanya untuk ke kamar kecil tapi setelah melihat kakaknya tertidur di samping Alando dengan jarak yang berdempetan akhirnya dia berinisiatif untuk tidur diantara mereka supaya tidak terjadi sesuatu yang diinginkan setiap pasangan.
"Kepala Meira sakit." Rengek Meira, karena tadi Rado juga kaget dan kepalanya tidak sengaja mengenai kepala Meira.
"Lah... bukan salah aku, salahin tuh Ale Ale." Tuduh nya.
"Sini..." Alando duduk di samping Meira dan mengusap kepalanya yang sakit tanpa mempedulikan pandangan sinisnya Rado.
"Berasa manusia transparan aja gue, pacaran aja terus jangan peduliin si Rado yang butuh kasih sayang." Sindirnya.
"Lebay loe." Balas Alando.
"Sudah sore, mau aku antar pulang."
****
Meira dengan ceria melangkah di koridor menuju kelas di mana Alando berada. Kelas yang biasa digunakan oleh jurusan mereka. Namun saat hendak memasuki kelas itu tangan Meira ditahan oleh Christ.
"Meira kamu tidak boleh masuk!" tegas Christ dengan raut muka yang serius.
"Kenapa? Kak Al Al tadi suruh Meira kemari kok. Meira tadi lupa mau kasih kue ini." Jelas Meira sambil memegang kotak kuenya, dia masih bingung kenapa tidak dibolehkan masuk seperti biasanya.
"Pokoknya tidak boleh!" tegas Christ sekali lagi.
Vote, like dan koment ya...