
Sebagian sudah di hapus.
Selesai kuliah, Kara langsung berangkat ke tempat kerjanya. Cafe Love Coffee, di mana semua menunya terbuat dari kopi.
Sebenarnya pekerjaan ini dia dapat karena ajakan temannya Zia yang juga lebih dulu bekerja di cafe itu.
Beruntung cafenya juga tidak terlalu banyak tuntutan, sehingga mahasiswa sepertinya bisa diterima kerja di tempat tersebut. Bahkan di waktu senggang mereka pun saat pengunjungnya lagi sepi, mereka masih bisa saling bergosip, tapi kalau lagi banyak pengunjung bahkan untuk menyapa saja justru tidak ada waktu.
"Kar, kamu masih suka Radit ?"
Tampaknya cewek itu datang bersama dengan ketua geng mereka atau kini Kara harus menyebutnya boss besar, kan nggak mungkin pakaian jas semahal dan serapi itu cuma selevel ketua geng.
Mau tidak mau Kara harus melangkahkan kakinya ke tempat di mana kini mereka berkumpul, Kara tidak harus menanggapi ejekan dari si boss besar itu, tidak perlu menanggapi tatapan sinisnya, Kara hanya harus melakukan pekerjaannya, itu saja.
"Selamat siang?" sapa Kara dengan senyum ramahnya pada pengunjung cafe mereka.
"Eh loe Santankan? teman Meira dan..." Kenny melirik jahil pada Zaden, dia tau betul bagaimana sikap Zaden pada gadis tersebut, bahkan Kenny pernah berusaha menjadi makcomblang mereka dengan memanfaatkan keluguan overdosis istrinya Alando sahabatnya itu. Meski saat itu rencananya hanya ingin mengerjai boss besar mereka ini.
Hanya saja sepertinya bossnya itu lagi mode kesal karena perempuan sexy di sampingnya itu, bahkan dari tadi sampai sekarang Zaden cuma menutup rapat mulutnya tanpa sedikit pun menanggapi omongan Kenny, padahal biasanya setiap bertemu Kara ada aja kata-kata ketus yang keluar dari mulutnya itu.
"Emm... iya." jawab Kara seadanya, ada rasa sungkan bicara dengan mereka, mereka adalah ZACKS! siapa sih yang tidak mengenal mereka di kampus? Kara paling malas kalau harus mendapat masalah gara-gara orang kaya seperti mereka.
"Dia pacar gue!" jawab Zaden tenang dengan menatap Kara tajam dan tanpa mempedulikan gadis cantik di sampingnya.
"Haah...?" Kara cuma bisa bengong di tempatnya.
"Apa?" kaget, Kenny tidak pernah tau kalau bossnya diam-diam menjalin hubungan dengan teman Meira tersebut, berarti dia dan Meira berhasil. "Wow... sepertinya gue dan Meira bisa buka jasa biro jodoh nantinya." seru Kenny. "Lan, kasih tau Meira..."
"Plak." belum apa-apa Kenny sudah dapat geplakan dari manusia kutub, si Alando. Dan sayangnya Kenny tidak bisa membalasnya, dia cuma bisa pasrah mengusap kepalanya.
"Kapan kalian jadian?" lanjut Christ.
"Serius?" tanya Steven yang ikut penasaran.
"Itu bukan urusan kalian, ini rahasia kami berdua, iyakan Santan?" tanyanya pada gadis di hadapannya yang masih terbengong-bengong, dan parahnya Zaden tidak tau nama asli gadis itu, dia cuma tau nama panggilan yang diberikan oleh Meira.
"Braak..." pukulan di meja terdengar nyaring, gadis yang tadi berusaha menempeli Zaden tampak murka. Dia merasa diabaikan dan Zaden sama sekali tidak menghargai keberadaannya sama sekali.
"Yang berusaha menjodohkan gue sama loe kan Papa gue sama Papa loe, jadi loe nikah aja sama Papa gue." senyum Zaden seolah mengejek perempuan di sampingnya tersebut.
"Zaden, loe berharap punya ibu tiri?" tuduh Alando dengan pandangan mengejek.
"Sialan loe." maki Zaden, dia tidak bersungguh-sungguh. Tapi tentu saja dia tidak berharap menjadi korban bisnis orang tuanya juga.
"Aaah... gue akan aduin loe sama papa gue!" Murkanya dengan penuh ancaman, dan berlalu pergi menjauh dari mereka.
"Kayak Meira aja loe tukang ngadu." ejek Christ yang juga ikutan kesal dibuat perempuan manja tersebut, sejak kemaren Christ memang sudah tidak menyukainya, karena terus-terusan mengganggu boss mereka yang lagi sibuk kerja di tambah dengan sikap angkuhnya itu.
"Apa loe bilang?" kenapa malah istri manisnya yang dibawa-bawa. Membuat Alando emosi saja.
"Gue bercanda, peace." ucapnya cengengesan dengan membentuk huruf V dendan jarinya.
"Jangan libatkan aku dalam urusan kalian." kesal Kara, karena sudah dijadikan kambing hitam oleh lelaki tersebut, Kara memandang Zaden sengit namun cuma dibalas senyuman mampesona olehnya, seketika Kara ingin meleleh melihatnya.
'Ya Tuhan... kenapa hatiku begitu lemah.'
"Tap... tap..." ternyata Mayang kembali menghampiri meja mereka tepatnya kembali di samping Zaden dengan membawa sebuah gelas berisi es cappucino.
Tanpa aba-aba, "Byuur." minuman itu tumpah tepat di atas kepala Zaden, yang kini jangan ditanya lagi bagaimana marahnya Zaden pada gadis manja tersebut.
"Loe.!" ingin rasanya dia membalas perbuatan perempuan tersebut, tapi tentu saja Papanya akan sangat marah nantinya. Dengan jas mahalnya Zaden membersihkan mukanya yang sudah dikotori air berwarna cokelat dengan aroma khasnya itu dengan kasar dan emosi yang tertahan.
"Sekarang gue ikhlas, loe sama pelayan jelek itu." tatapnya Kara dengan sinis, kemudian pergi dari sana dengan angkuhnya, seolah dialah seorang pemenang.
Entah kenapa, Kara sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan gadis tersebut. Dia justru senang melihat Zaden dapat karmanya karena sudah berkali-kali mengejeknya juga.
"Hahaaa..." tawa sahabatnya suka cita, ini pertama kali mereka melihat Zaden di siram oleh perempuan yang biasanya tergila-gila padanya. Begitu pun Kara yang tidak bisa menahan senyumnya lagi.
"Loe berani mentertawakan gue hah...!"
***
Vote, like dan koment