Meira

Meira
Zaden dan Kara. 6



"Sreet..." Kara membuka sedikit tirai jendela rumahnya, sedikit mengintip keadaan di luar dan mengamati apakah ada sebuah mobil mahal yang lagi menunggunya dan Kara bersyukur ternyata tidak ada, aman terkendali.


"Hahh..." leganya, Kara bergegas keluar dan segera mengunci pintu rumahnya, dia harus jalan ke depan dulu untuk menunggu angkot, biar irit ongkos. Dan untungnya jarak antara rumah kontrakannya dengan jalan raya di depan tidak terlalu jauh untuk ukuran Kara yang memang terbiasa menggunakan kakinya untuk beraktivitas, mungkin berbeda untuk orang yang terbiasa pakai kendaraan ke mana pun dia pergi.


Sepertinya hal yang ditakutkannya dari tadi malam tidak terjadi, Kara pikir iblis tampan penggoda itu akan mengganggunya dan mengacaukan paginya hari ini, mungkin Kara cuma terlalu banyak berpikir dan berhalusinasi sendiri, setidaknya kalaupun Zaden memang akan mengganggunya di kampus tiap harinya, dia masih aman dan damai di rumahnya sendiri.


"Tiit... tiitt..."


"Apasih klakson-klakson! Orang masih di pinggir jalan juga, memangnya dia harus ke mana lagi? Lewat pagar rumah orang." gerutu Kara pelan tanpa mau menoleh kebelakangnya, 'Dia tidak berbuat salah kok.' batin Kara.


"Tiitt..." sekali lagi, namun diabaikan Kara begitu saja.


"Hei Santan! Mau aku paksa atau kau mau naik sendiri?" omel Zaden, sedikit kesal karena gadis itu mengabaikan klakson mobilnya dari tadi.


Terpaksa saat ini Zaden harus menyalip gadis itu, dengan tampang tidak percayanya terlihat jelas kalau Kara tidak menyukai kehadirannya saat ini. Tapi Zaden sama sekali tidak peduli dengan tatapan itu, buatnya kalau dia sudah menentukan targetnya maka dia tidak akan semudah itu melepasnya. Kecuali Zaden sendiri yang menginginkannya, dan Kara terlalu menarik untuk dia lepas saat ini.


"Aku tidak minta kau menjemputku!" sahut Kara lugas, dia tidak suka dipaksa. Kara merasa seperti budak yang harus selalu menaati setiap perintah Zaden. Lagi pula kalau dia dengan suka rela naik mobil Zaden tanpa berdebat terlebih dahulu, rasanya Kara benar-benar seperti perempuan yang tidak ada harga dirinya sama sekali.


Selain itu dia juga takut kalau lelaki itu akan menciumnya lagi, masalahnya imannya terlalu lemah menolak iblis tampan namun mempesona tersebut.


"Masuk atau siap-siap keluar dari kampus? Yang mana pun kau pilih itu sama sekali tidak merugikanku." sahut Zaden, tersenyum mengejek akan kelemahan Kara. Zaden berani bertaruh, gadis itu tidak akan mengorbankan kuliahnya yang sudah memasuki semester enam itu.


Kara merengut, "Iya, aku masuk." kini Kara sudah berada di dalam mobil, tepatnya di samping Zaden. Dengan muka cemberut karena tidak bisa melawan keangkuhan lelaki tersebut dan hanya bisa menjadi seorang penurut. "Tapi awas kalau kau berani menciumku lagi!" ancaman kecil yang justru membuat Zaden ingin melakukannya, semakin dilarang maka semakin dia penasaran.


Bahkan kini Kara sibuk mencari sesuatu dalam tasnya dan kemudian memakainya, sebuah masker yang kini sudah menutupi bibir indahnya itu.


"Oh, apa yang akan kau lakukan kalau aku memang mencium mu, hah...?" Zaden semakin mendekat ke arah Kara dan menghimpitnya hingga membuat Kara menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"A... aku akan teriak." gagapnya. Sambil menoleh ke arah samping kaca mobilnya berharap ada beberapa orang yang lewat sana.


"Silahkan, paling-paling aku harus menikahi mu setelahnya." tantangnya, itu cuma untuk menakut-nakuti Kara, dia tidak siap menikah muda seperti sahabatnya Alando, masih banyak yang harus dia capai, lagi pula Zaden belum terlalu mengenal Kara.


Hubungannya dengan gadis cantik di depannya cuma sebatas ketertarikan dan tidak lebih dari itu atau mungkin juga sedikit hasrat, tapi untuk saat ini dia belum merasakan cinta sebesar itu hingga mampu melumpuhkan logikanya dan mengorbankan keinginan serta ambisinya yang lain.


"Oh tidak!" sahut Kara cepat, menjauhkan telapak tangannya dan menatap gugup Zaden yang kini sangat dekat dengannya. Dia memang tampan, sangat tampan tapi itu saja tidak cukup untuk sebuah pernikahan.


Tidak, dia tidak akan mau menikah dengan lelaki pemaksa tersebut, mau seperti apa rumah tangganya nanti? Paling-paling cuma bertahan 3 bulan.


"Bodoh, makanya pasang sendiri sabuk pengaman mu, kau kira ini motor." ejek Zaden dan menjauh dari Kara, kembali menjalankan mobilnya dan tertawa melihat kebodohan gadis itu, benar-benar gadis yang menarik, batin Zaden.


Iya, dia akui dia sedikit tergoda sekarang ini, Kara benar-benar di ciptakan sebagai gadis penggoda untuk dirinya, bahkan hanya dengan berdekatan seperti ini saja sudah membuat Zaden ingin mencium gadis itu.


"Oh..." Kara sedikit malu menyadari kekeliruannya. "Tapi kau kan cuma harus memberitahuku tidak perlu juga memasangkannya, kau kira aku tidak punya tangan." sahutnya dengan omelan.


"Apa...! kau menyalahkan ku?" tuduh Zaden, seakan tidak terima dengan sanggahan dari Kara.


Dari kecil Zaden memang sudah menjadi bos kecil, setiap perintahnya bahkan keinginannya selalu terpenuhi. Hanya saja sejak bertemu dengan Alando dan bersahabat dengannya, sifat boss Zaden sedikit berkurang apalagi Alando bukanlah orang yang mau menerima perintah, kalau dia tidak suka maka tidak ada satu pun yang bisa memaksanya bahkan Zaden sekali pun.


Bisa dikatakan Alando satu-satunya orang yang tidak bisa dia perintah seenaknya, hingga persahabatan itulah yang membuat Zaden belajar untuk saling menghargai dan lebih bersikap dewasa serta tanggung jawab sebagai pemimpin. Namun entah kenapa, setiap bertemu Kara rasanya Zaden ingin selalu mengendalikan gadis itu di bawah kuasanya dan kesal saat Kara berani menentangnya.


'Oh tidak, aku salah ngomong lagi.' batin Kara.


Mungkin sebaiknya Kara menutup mulutnya saja, dan mengikuti apa pun yang diinginkan Zaden kecuali kalau itu sudah berurusan dengan sentuhan fisik, Kara harus berani melawan. Bisa saja lama-kelamaan Zaden akan melepasnya karena bosan bermain dengan gadis miskin dan kampungan sepertinya.


"Tidak, aku yang salah." jawabnya singkat, percuma mendebat Zaden karena ujung-ujungnya dia yang kalah.


"Baguslah kalau kau sadar."


Sekarang mereka sudah keluar dari komplek dan sudah berada di jalan raya, jarak rumah kontrakannya menuju kampus sebenarnya tidak terlalu jauh, paling-paling cuma membutuhkan 15 menit kalau pakai motor tapi jadi berbeda saat menaiki mobil, rasanya seakan menempuh jarak 30 menit jauhnya, maklumlah jalanan macet apalagi setiap pagi begini.


Hahh, Kara sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Bodo amatlah kalau Zaden marah padanya, dia hanya ingin tau.


"Kenapa kita harus pacaran? Kenapa kau tidak bersama dengan gadis cantik kemaren saja sih." ucap Kara, yang tidak bisa menutupi keinginan tahuannya sekaligus mengeluarkan uneg-uneg di hatinya yang terpendam.


"Karena aku ingin, dan apa pun yang aku inginkan harus lah aku dapatkan." jawab Zaden singkat dan jawaban itu sama sekali tidak memuaskan Kara.


Kara merasa dirinya cuma sebuah benda yang ketika diinginkan maka dengan segala cara akan dia dapatkan dan kalau sudah bosan tinggal dibuang.


'Hah... nasibnya benar-benar menyedihkan.' batin Kara.


Vote, like dan koment.