Meira

Meira
BAB. 43



Seperti biasa di saat jam istirahat maka kantin akan diserbu para mahasiswa yang ingin mengisi perutnya sekaligus ajang tempat mereka bercengkrama satu sama lain. Namun saat ZACKS datang tiba-tiba kantin menjadi hening, bahkan ada beberapa mahasiswa yang lebih memilih meninggalkan kantin tersebut dari pada meneruskan makan mereka.


Kadang-kadang Alando kesal sendiri di buatnya, mereka bukanlah monster menakutkan yang harus dihindari. Mereka hanya akan mencari masalah dengan orang-orang yang juga mencari masalah dengan mereka bukan orang-orang yang tidak tau apa-apa. Sama seperti halnya lebah yang kalau sarang mereka diganggu maka mereka juga akan menyerang pengganggu mereka, begitu pun dengan ZACKS kalau ada yang berani mengusik mereka atau orang-orang terdekat mereka maka siap-siap saja untuk menanggung akibatnya.


"Jangan ada yang berani meninggalkan kantin ini! Kalau kalian masih ingin tenang berada di kampus ini!" terpaksa Alando memberi ancaman buat mereka.


Karena kalau disuruh bicara manis dan ramah pada mereka semua, maaf saja dia tidak akan bisa melakukannya. Satu-satunya orang yang bisa membuat dia bicara manis untuk saat ini hanyalah Meira itu pun cuma kadang-kadang, dia lebih banyak bicara ketusnya dari pada bicara lembutnya pada gadis itu, anggap saja masih dalam penyesuaian.


Tiba-tiba mahasiswa mahasiwa yang tadi ingin beranjak pergi seketika kembali duduk ketempat mereka semula dengan gaya kilatnya.


"Itu baru benar! Enak saja kalian meninggalkan tempat ini. Kalau kantin ini sepi kami juga yang harus disalahkan karena sudah membuat kerugian besar buat kantin ini! Ngerti kalian?" omel Kenny.


"I.. iya!" seru mereka.


"Sudah lanjutkan makan kalian, anggap kami tidak ada." Perintah Zaden. Setelahnya mereka mengambil tempat di meja yang biasa mereka gunakan.


Berbeda dengan Alando yang kini menghampiri meja di mana tiga gadis cantik sedang menikmati makan mereka dengan tenang seolah kejadian kemarin lusa tidak pernah terjadi. Alando semakin mendekat, bukankah dia sudah pernah bilang siapa pun yang membuat masalah dengan mereka secara sengaja maka dia tidak akan pernah membuat orang-orang itu belajar dengan tenang di kampus mereka.


Ketiga gadis cantik itu baru sadar setelah Alando berada di depan meja mereka, dan seketika semua menjadi hening bahkan ketiga gadis itu sudah sangat ketakutan apalagi kalau mengingat kejadian kemarin lusa. Mereka tau apa yang akan terjadi.


"Bruukk..." Alando menumpahkan semua makanan ke baju kedua gadis picik itu kecuali Kara, setidaknya gadis itu sudah memberitahukan kejadian itu kepadanya sehingga dia bisa datang tepat waktu membantu Meira.


"Aw... Aw..." Semua makanan yang Olivia pesan kini beralih ke pakaian mahalnya serta ke rambut yang dia tata sedemikian cantiknya, mereka kaget tentu saja.


"Alando, gue sudah minta maaf sama loe!" ucap Olivia menghiba dan diikuti Rena yang juga keadaannya pun sama kotornya.


"Tapi sayangnya gue belum bisa memaafkan loe perempuan picik!" hina Alando dengan tatapan sinisnya.


Tidak ada satu pun yang mau membantu Olivia dan Rena mereka lebih menyayangi diri mereka sendiri lagi pula untuk apa membantu gadis yang terkenal arogan itu, mereka berdua juga bahkan sering menghina orang lain dan bersikap sok kuasa. Mungkin ini lah karma mereka, dan sepertinya Alando juga sudah memiliki karmanya sendiri.


"Kalian semua dengar! Siapa pun yang berani mengganggu Meira apalagi sampai mencelakakannya. Maka kalian semua akan sama seperti mereka atau mungkin lebih dari ini!" seru Alando, pandangannya pun kini beralih kepada semua orang yang ada di kantin itu, memberi mereka semua peringatan agar tidak ada satu pun berani melakukannya.


Apalagi setelah beberapa gosip disebarkan Olivia masuk ketelinganya, gosip yang sangat membuatnya sangat marah.


"Dengar tidak? Kalian tidak tuli kan!" teriak Chrish ikut-ikutan, dia paling suka membuat dirinya terlihat disegani orang banyak. Padahal aslinya juga penakut, nonton film horor aja ngumpet. Kalau bukan Zaden dan Alando mungkin dia tidak akan masuk hitungan cowok paling ditakuti di kampus tapi cowok paling usil sekampus.


"I... Iya kami mengerti!" seru mereka, tidak mau mendapat masalah dengan ZACKS dan kembali melanjutkan makan mereka meski harus berusaha untuk tidak menimbulkan suara berisik seperti suara denting sendok, derit kursi bahkan suara napas pun mereka usahakan untuk tidak menimbulkan perhatian ZACKS mungkin.


Setelah puas memberi peringatan pada mereka, Alando baru menghampiri meja tempat teman-temannya berkumpul. Begitu pun dua gadis yang bajunya penuh kotoran makanan itu, namun saat mereka hendak beranjak tiba-tiba teguran Alando menghalangi kepergian mereka.


"Siapa yang menyuruh kalian pergi hah..?" tegurnya keras sedangkan dia sendiri menikmati minuman yang sudah dipesankan Kenny tanpa menoleh ke arah dua orang itu lagi.


"Kami mau..."


"Kalian tidak melihat meja kalian penuh tumpahan makanan? Bersihkan!" perintah Alando kejam.


Mereka tau gadis kaya seperti Olivia dan Rena pasti tidak akan pernah mau melakukan pekerjaan rendah seperti itu. Ada banyak orang yang bisa mereka suruh, contohnya ya Kara. Karena itu Olivia selalu mengajaknya kemana pun dia pergi, tentu saja melakukan semua pekerjaan yang tidak ingin dia lakukan dan hanya bisa dilakukan oleh Kara pembantunya.


"Kara jangan diam aja! Bersihkan semuanya." suruh Olivia, dia tidak mau kalau harus menyentuh benda yang kotor dengan tangannya.


"I iya..." Kara langsung menuruti perintah Olivia dan mengambil beberapa tisu.


"Dasar gadis bodoh! Apa kami tadi menyuruhmu yang membersihkannya." ejeknya, bukan Alando yang bicara melainkan Zaden.


Zaden tidak tau seperti apa pertemanan mereka yang pasti gadis bodoh yang bernama Kara itu membuatnya muak, gadis itu mau saja diperlakukan buruk hanya untuk memiliki teman seperti Olivia dan Rena biar eksis dan populer, pikir Kenny.


"Tidak, tapi..."


"Ckkckk... Apa segitunya kau ingin berteman dengan mereka? Mereka bahkan memperlakukanmu dengan buruk!" omel Zaden, entah kenapa dia muak saja melihat gadis seperti itu.


Bahkan ketiga temannya saja bingung melihat sikap Zaden yang terlalu ikut campur dengan urusan gadis itu, biasanya Zaden mah bodo amat. Sedangkan Alando dia tidak terlalu peduli yang pasti tugasnya sudah selesai, membuat kedua gadis itu tidak nyaman berada di kampus adalah tujuannya dan itu dimulai hari ini.


Entah apa lagi yang akan dilakukan Alando nantinya pada mereka, mungkin sedikit membuat hiasan pada mobil dua gadis itu biar terlihat indah, pikir Alando.


"Kalian berdua bersihkan secepatnya!" perintah Zaden pada Olivia dan Rena.


"Dan kau cepat keluar." Suruh Zaden pada gadis bodoh teman Olivia dan Rena yang belum dia ketahui namanya.


"I... Iya." Seru mereka dan segera melakukan perintah ketua geng yang terkenal ramah tersebut, namun sebenarnya lebih berbahaya dari semua anggota gengnya. Karena semua kekacauan itu justru Zaden lah yang mengatasi segalanya, Zaden dengan segala kekuasaannya dan tidak ada yang bisa melawannya.


Ada yang puas namun ada juga yang prihatin atas nasib kedua mahasiswi cantik itu, tidak ada yang tau berapa lama Alando ingin menyiksa mereka. Sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi namun sayang tidak ada yang bertahan lama mereka lebih memilih untuk pindah ke kampus lain atau pindah ke kota lain.


"Aduuh Meira...! Telinga aku jadi budeg kalau terus mendengar suara cempreng kamu itu, tau.?" omel Christ, saking kencengnya Meira teriak di dekat telinganya.


"Iya tau. Kak Kris kris jadi budeg sekarang! Kalau gitu Meira ngomongnya harus teriak-teriak." Ucap Meira lebih keras takut kak Kris kris nggak bisa dengar.


"Ampun dah..." Tepok jidat. Christ menyerah deh, mendingan dia budeg sekalian dari pada dia kena stroke meladeni sifat Meira.


"Hahaa..." Mereka puas melihat Christ yang lagi dinistakan oleh Meira, biasanya mereka yang selalu menerima keusilan Christ.


"Meira duduk sini." Alando meminta Meira duduk di sampingnya tanpa mempedulikan lirikan-lirikan dari para mahasiswa yang duduk di sana meski tidak berani secara terang-terangan. Takjub sekaligus iri, Meira yang mereka tau cuma gadis stupid bin aneh yang cuma gadis biasa-biasa saja bisa membuat seorang Alando yang kejam dimata mereka berubah seketika menjadi laki-laki lembut nan penurut, benar-benar keajaiban cinta. Berbeda dengan keempat temannya mereka sudah sering melihat Alando yang seperti ini, sedikit demi sedikit Meira berhasil mengubah sifat keras Alando meski pun kadang-kadang sifat keketusan Alando masih sering kambuh.


"Tebak Meira bawa apa?" tanyanya pada Alando seolah itu adalah kejutan untuknya.


"Dompet...!" tebak Kenny cepat sebelum Alando menjawabnya.


"Bukan..." Kesal Meira, dia kan bertanya pada kak Al Al nya tapi kenapa malah Kak Ken Ken yang menjawabnya, pikir Meira.


"Bedak." Steven ikut-ikutan menjawab, ingin melihat muka kesal Meira.


"Bukan kak Stip tip." Cemberutnya.


"Lipstik..." Tebak Zaden asal, mengikuti permainan teman-temannya. Kadang-kadang membuat Meira kesal itu sudah menjadi kebiasaan usil mereka. Meira itu seperti mood booster buat suasana yang lagi panas.


"iih... bukan itu tapi Meira bawa makanan." Jawab Meira, terpaksa dia buka rahasia karena tidak ada yang bisa menjawab tebakannya.


"Oke aku tebak..! Fix Meira hari ini bawa otak." Jawab Christ yang masih kesal pada Meira.


"Bukk... bukk... bukk." Alando langsung memberikan geplakan di kepala Christ disusul Zaden dan Kenny, sedang Steven cuma tertawa mengejek melihat kekonyolan tingkah mereka. Maklumlah Christ dan Meira itu seperti kucing dan anjing kalau bersama selalu berlawanan tapi mesti begitu saat Meira tidak ada berkumpul bersama mereka justru Christ merasa ada yang kurang.


"Ahh... Maksud gue Meira mungkin bawa otak-otak, makanan kesukaan gue itu!" Christ mencoba mengelak dari para bodyguardnya Meira.


"Ngeles aja loe kayak bebek." Sahut Kenny mengejek.


"Meira bawa makanan kesukaan kak Al Al kok bukan kak Kris Kris." Jawab Meira, ngapain dia bawa makanan kesukaan kak Kris kris, pikir Meira.


"Oh... Sini." Alando mengambil kotak bekal di tangan Meira dan membukanya dan ternyata ayam goreng, udang tempura serta mie goreng spesial ala Meira.


"Salah Meira, ini bukan kesukaan Alando. Makanan kesukaan Alando itu jengkol." Bohong Kenny, dia cuma mau menggoda Alando.


"Jengkol...?" tanya Meira lugu memandang kak Al Al nya minta jawaban.


"Duk..." Alando melempar tisu kotor di mejanya ke muka Kenny yang ada di seberangnya.


"Sudah kubilang orang sesat tidak usah di percaya Meira." Lanjut Alando.


"Oh iya..." Ingat Meira. Kak Ken ken juga termasuk orang sesat selain kak Kris Kris.


"Loe kali yang sesat Lan?" cengir Steven, maklumlah Steven satu-satunya orang yang tahu rahasia Alando waktu itu, ketika Meira malu-malu kucing menghindari Alando. Sedangkan teman-temannya belum ada yang tau kelakuan baru Alando.


"Diam loe." Tatapnya tajam pada Steven.


"Apaan...?" tanya Zaden penasaran.


"Kurasa Alando mengajari Meira cara ciuman waktu dia tersesat di hutan itu." Puas, dengan senyum mengejeknya Steven berhasil membuat Alando merah padam.


"Serius...?" tanya Chris.


"Wah... Meira kita sudah dewasa." Lanjut Kenny.


"Meira itu benaran?" tanya Zaden, tidak menyangka ternyata Alando berani juga melakukannya. Meira emang mengerti? pikir Zaden. Sumpah dia ingin ketawa ketika menyadari kepolosan Meira.


"Urusi masalah kalian sendiri!" ketusnya, mimpi apa dia bisa punya teman yang kadar kekepoannya sudah berada dilevel tertinggi.


"Iya, kak Al Al cium Meira banyak sekali di..." sebelum Meira lebih banyak mengeluarkan celotehannya Alando sudah menutup mulut Meira dengan tangannya.


"Ayo Meira kita pulang...!" tarik Alando membawa Meira ke tempat jauh dari orang-orang kepo seperti mereka, memang apanya yang salah toh Alando mencium pacarnya sendiri dan dia berjanji tidak akan melewati batas sebelum pernikahan mengikat mereka.


Yah, mungkin inilah karma Alando yang akhirnya takluk pada gadis kelewat uniq seperti Meira dan tentunya dia harus memupuk stok kesabaran dalam dirinya terus menerus.


Vote, like dan koment ya..