Meira

Meira
BAB. 42



Seperti biasa jam istirahat akan dimanfaatkan Meira untuk ketemu kak Al Al nya karena pertemuan mereka akhir-akhir ini pun bisa di hitung dengan jari, Alando sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya, dia dan teman-temannya kini sedang lagi giat-giatnya memasarkan produk ciptaan mereka apalagi mereka juga harus bersaing dengan perusahaan digital lainnya yang memang sudah memiliki nama besar dan tidak jarang mereka harus menerima kekalahan karena presentasi mereka cuma dipandang sebelah mata dan dari situ mereka banyak belajar dari kesalahan dan sekarang mereka lagi mempersiapkan produk yang lebih matang, hingga tidak ada waktu untuk bersama sedangkan pertemuannya di kampus pun cuma sebatas makan bersama di kantin atau mengobrol sebentar.


Namun saat Meira hendak menemui kak Al Al nya di kantin kampus tiba-tiba ada tiga cewek cantik yang menghalangi jalan Meira dan menariknya menjauh. Tiga cewek itu membawa Meira ke sebuah ruangan kosong tempat penyimpanan alat-alat olah raga. Meira cuma mengenal dua orang yang menariknya itu. Gadis yang juga pernah berkelahi dengannya dan ketiga teman-temannya, hanya saja Meira tidak mengetahui namanya sampai saat ini. Sany sering menyebutnya dengan julukan cewek sakit jiwa.


"Lepasin Meira... Jangan tarik-tarik Meira." Meira terus berontak saat ketiga gadis itu menyeretnya masuk ke dalam ruangan tersebut namun sayang kekuatannya seolah tenggelam oleh kekuatan tiga cewek cantik itu.


"Kar loe jagain di luar deh." Suruh Olivia pada satu temannya bernama Kara. Sebenarnya Kara tidak mau ikut-ikutan masalah ini, karena kalau sampai Alando dan gengnya tahu bisa tamat riwayatnya di kampus ini. Tapi sayangnya Kara tidak punya pilihan saat ini biaya kuliahnya serta biaya hidupnya di tanggung oleh Olivia, ya Kara memang bekerja di rumah Olivia sebagai pembantunya bahkan hampir semua tugas-tugas kuliahnya dia juga yang mengerjakannya.


"Oh.. I iya." Kara menuruti kemauan Olivia dan beranjak keluar tapi dia juga sangat takut bagaimana kalau Olivia sampai menyakiti gadis manis itu, pikir Kara. Dia tidak mau merasa bersalah nantinya.


"Gue pernah bilang ya sama loe! Jangan pernah dekat-dekat dengan Alando karena loe nggak pantas buat dia, NGGAK PANTAS..." Teriak Olivia dengan wajah marahnya.


"Tapi Meira mau dekat sama kak Al Al, kak Al Al kan pacar Meira. Kakak aja yang menjauh Meira nggak mau!" balas Meira, dia tidak suka kalau harus berjauhan dari kak Al Al nya.


"Kau... dasar cewek caca* mental," maki Olivia dengan kasar. "Plakk..." Tamparan keras di pipi Meira dilayangkan Olivia. Meira mengaduh kesakitan, ini pertama kalinya dia mendapat kekerasan seperti ini bahkan dia sempat oleng. Sebenarnya Meira sudah mau menangis tapi dia ingat pesan teman-temannya bahkan kak Al Al nya, Meira tidak boleh diam saja kalau ada yang menyakitinya dan Meira tidak boleh lemah, kak Al Al nya tidak suka sama cewek penakut.


"Iihh... Meira nggak caca* mental," dan "Sreet..." Meira merenggut rambut panjang gadis itu dengan tangan kecilnya dengan erat seperti yang pernah dia lihat dari perkelahian kedua teman-temannya waktu itu, Meira hanya mencontoh mereka.


"Aww... lepasin...!" Olivia mengaduh kesakitan pasalnya renggutan tangan Meira di rambutnya sangat keras, "Ren... Jangan diam aja dong tolongin gue." Rengek Olivia minta bantuan pada temannya Rena karena dia kesusahan melepas renggutan tangan Meira yang sangat erat bahkan rambutnya seakan mau lepas.


"Lepas...!" Rena berusaha melepaskan tangan Meira dari rambut sahabatnya itu dengan kasar namun tidak bisa.


"Nggak mau, Meira nggak mau lepasin."


"Aww... aww... kau gila!" maki Rena, dia juga kesakitan akibat mendapat gigitan dari Meira di tangannya saat hendak memaksa melepaskan tangan Meira dengan kuku-kuku panjangnya, namun justru tangannya kena gigit.


Sedangkan di luar Kara merasa bingung harus apa? Dia takut kalau terjadi apa-apa pada gadis polos itu. Akhirnya dengan banyak pertimbangan memenuhi kepalanya Kara memutuskan untuk pergi. Kara berlari di setiap ruangan yang biasanya dijadikan tempat berkumpulnya ZACKS namun nihil semua tempat yang dia datangi tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.


"Maaf... apa kalian melihat ZACKS?" tanya Kara pada gerombolan mahasiswa di koridor yang dia temui.


"Kenapa loe mencari ZACKS?" tanya salah satu dari mereka yang merasa penasaran karena tidak banyak mahasiswa yang berani menemui ZACKS.


"Ehh... Oh...! Itu ada dosen yang mencari mereka." Bohong Kara, tidak mungkin juga dia mengatakan yang sebenarnya. Bisa heboh kampus hari ini dan tentu saja dia yang akan jadi sasaran mereka nantinya.


"Oh... Kalau nggak salah mereka masih ada di kantin." Jawab orang itu.


"Oh baik, Terima kasih." Ucap Kara ramah, setelahnya dia langsung pergi ke kantin, sebenarnya dia sangat takut dan gugup untuk menemui mereka tapi akibatnya akan lebih fatal kalau sampai dia terlibat dalam menyakiti gadis itu. Kara terus memasuki kantin dan mencari keberadaan mereka.


Tidak sulit, karena kantin tampak sepi. Seperti biasa dimana ada ZACKS maka tidak ada seorang pun yang berani mendekat, hanya orang-orang yang mempunyai nyali besar yang mau mendekati mereka, tidak terkecuali Kara.


"Ma... Maaf mengganggu kalian?" gugupnya, Kara bahkan sulit berbicara saat semua mata menoleh kepadanya terutama Zaden dan Alando yang tampak tidak suka dengan keberadaannya. ZACKS sering melihat gadis di depannya ini bersama kawanan Olivia meski gadis di hadapan mereka ini nampak sangat berbeda dari mereka.


"Hemm... ada apa?" ketus Zaden, jujur dia tidak suka dengan sifat Olivia serta dayang-dayang setianya seperti gadis yang ada saat ini. Sedangkan yang lainnya bahkan sudah membuang muka mereka.


"Olivia dia..." Kara sudah mulai gugup dia takut kalau dia juga akan mendapat masalah.


"Kenapa...?" Zaden sudah tidak sabar menghadapi kegugupan gadis di depannya.


"Dia membawa paksa seorang gadis masuk gudang olah raga." Jawabnya pelan.


"Terus apa hubungannya dengan kami?" Zaden masih dengan keketusannya seperti tadi.


"Gadis itu pacar Alando." Jawab Kara cepat.


"Hahh...?" kaget, bukan cuma Alando tapi mereka semua juga tampak shock, pantas saja dari tadi Alando terus mengiriminya pesan namun tidak ada balasan sama sekali.


"Dimana?" tanya Alando dengan wajah murkanya, dia tidak menyangka Olivia berani melakukan hal sejahat itu pada orang yang sangat disayanginya.


"Di gudang olahraga di samping gedung basket." Jawab Kara takut, apalagi melihat muka Alando yang mengeras.


Tanpa menunggu teman-temannya lagi Alando langsung bergerak menuju tempat Meira dibawa. Alando sangat khawatir dengan Meira, dia bukanlah gadis yang kuat. Berbeda dengan Olivia cewek arogan dan sombong yang bisa mendapatkan keinginannya dengan mudah.


Tapi awas saja kalau sampai terjadi apa-apa pada Meira dia akan membuat Olivia menyesal sudah menyukainya, rutuk Alando.


Alando sudah sampai di depan pintu namun yang dia dengar justru teriakan-teriakan beberapa gadis, bukan cuma suara jeritan Meira. Apa Meiranya kini sudah berani melawan.


"Bruuk..." Pintu terbuka oleh tendangan Alando yang marah, berharap saja kalau pintunya tidak rusak dan tentu saja dia akan mendapat teguran lagi dari pihak kampus.


Meira gadis manisnya berada di atas tubuh Olivia dengan tangannya yang merenggut rambut cewek arogan itu. Sungguh dia ingin tertawa sekarang, sepertinya dia terlalu menganggap Meira lemah tapi jelas saat ini Meiranya lah yang terlihat lebih kuat.


"Meira sini..." Alando memapah tubuh Meira dan membawanya ke dalam pelukannya dan memandang tajam dan sinis pada kedua cewek yang sedang ketakutan di depannya itu.


"Kak Al Al...! Meira nggak jahat Meira cuma membela diri kok, Kak Al Al pernah bilang Meira tidak boleh lemah dan tidak boleh takut." Jelas Meira yang masih memeluk tubuh kak Al Al nya, Meira takut kak Al Al nya memarahinya lagi karena sudah jahat.


"Iya, kamu tidak jahat. Kamu memang harus berani melawan orang yang sudah jahat sama kamu!" sahut Alando menenangkan Meira, sekaligus menyindir dua orang di depannya.


"Alando dia itu gadis gila, loe sudah lihat sendirikan dia merenggut kepala gue bahkan dia juga menggigit lengannya Rena." Olivia mencoba menjelek-jelekkan perilaku Meira.


"Meira nggak gila kak Al Al." Rengek Meira.


"Iya aku tau, Meira kamu keluar dulu ya? Ada yang harus aku bicarakan sama mereka." Minta Alando, dia ingin memberi peringatan kepada kedua cewek di hadapannya agar tidak mengganggu Meira lagi.


"Tapi kak Al Al nggak marah kan sama Meira...?"


"Tidak..." Sahut Alando lembut.


"Ya udah Meira keluar." Meira keluar dengan muka masih cemberut pada kedua cewek yang berusaha membullynya.


"Jadi apa yang harus gue lakuin sama kalian? Seandainya kalian berdua adalah cowok mungkin kalian sudah gue hajar sekarang juga." Geram Alando.


"Gue minta maaf, gue cuma ikut-ikutan Olivia kok." Seru Rena yang ingin menyelamatkan dirinya sendiri.


"Rena kok loe ngomong gitu sih?" tegur Olivia kesal.


"Gue nggak mau tau yang pasti kalian berdua jangan pernah berharap bisa nyaman belajar di kampus ini!" ancam Alando dan segera berbalik hendak membuka pintu gudang.


"Apa yang loe suka sih dari cewek caca* mental itu? Gue lebih segalanya dari dia." Olivia kesal hingga berani mengeluarkan kata-kata makian buat Meira. Hingga dia tidak menyadari kemarahan Alando yang kini tangannya sudah mengepal erat.


"Apa loe bilang? Cewek caca* mental!" Alando hanya ingin memastikan pendengarannya.


"Iya. Kenyataannya memang begitu, dia bahkan..." Sebelum Olivia berhasil menyelesaikan ucapannya tangan Alando sudah berada di leher Olivia.


Alando kehilangan kendali, amarahnya sudah menguasai dirinya hingga tidak sadar dia sudah menceki* lehernya Olivia.


"Lepass..." Olivia berusaha melepaskan tangan Alando dari lehernya, dia sudah kesulitan bernapas.


"Alando please lepaskan Olivia loe bisa membunuhnya, kami janji tidak akan pernah mengganggu gadis itu lagi." Minta Rena gemetaran. Ini pertama kalinya dia melihat Alando yang sangat mengerikan. Tapi Alando seperti kehilangan kesadarannya hingga tidak mendengar permohonan Rena.


"Bruukk..." Pintu terbuka.


"Alan lepasin dia, kau bisa membunuhnya." Zaden dan Kenny berusaha melepaskan tangan Alando dan menjauhkan Olivia darinya.


"Uhuuk... uhuuk..." Olivia terbatuk-batuk berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya.


"Ken bawa Alando keluar...! Biar gue yang urus ini." Perintah Zaden. Dia sangat tahu Alando seperti apa, dia memang sulit mengendalikan amarahnya kalau itu sudah berurusan dengan orang yang dia sayang. Dan saat ini Meira lah orang yang paling berarti baginya.


****


Alando keluar dari gudang dan berusaha mengendalikan amarahnya, dia tidak suka ada orang yang menghina Meira, gadis yang sekarang sangat berarti baginya.


"Kak Al Al kok lama di dalamnya, Meira nggak suka." Meira memeluk tubuh Alando, dia takut kehilangan Alando.


"Kenapa Meira...? Kamu cemburu ya...!" goda Christ yang dari tadi menemani Meira beserta Steven. Cuma Zaden dan Kenny yang masuk ke dalam sehingga mereka tidak tau apa yang baru saja terjadi.


"Tidak apa-apa, aku cuma lagi kesal aja sama mereka." Pelukan Meira ternyata bisa membuatnya lebih tenang bahkan seketika emosinya berangsur hilang.


"Meira nggak mau jadi kanibal lagi, rasanya nggak enak." Meira menyapu mulutnya beberapa kali dengan tisu.


"Kanibal? Meira kamu makan apa emangnya?" tanya Kenny penasaran sambil menatap ketiga temanya yang lain.


"Tangan Meira sakit ditarik-tarik terus, kuku-kukunya juga panjang! Ya udah tangannya tadi Meira makan." Cerita Meira yang sudah tidak memeluk kak Al Al nya lagi.


"Hahaa... bagus Meira, memang itu yang harus kamu lakukan." Dukung Kenny, cewek nggak boleh lemah harus berani membela dirinya sendiri.


"Kamu tidak memakannya Meira! Kamu cuma menggigitnya." Koreksi Alando, ngeri juga kalau Meiranya berubah jadi kanibal.


"Mana Zaden?" tanya Steven. Soalnya dari tadi zaden tidak keluar dari gudang itu.


"Cuma memberi peringatan untuk dua gadis itu." Jawab Kenny santai.


"Itu kak Zad Zad." Tunjuk Meira diikuti dua gadis yang langsung pergi saat melihat Alando.


"Tenang aja, gue sudah memberi peringatan buat mereka. Mereka tidak akan berani melaporkan Alando." Jelas Zaden.


"Gue bahkan nggak peduli kalau dia mau melaporkan gue!" sahut Alando, dia tidak merasa menyesal karena sudah memberi pelajaran buat dua gadis tadi. Hitung-hitung sebagai shock terapi agar mereka tidak berani macam-macam lagi pada Meira.


"Loe harus pikirkan Meira juga dong Lan! Siapa yang jaga Meira di kampus kalau loe nggak ada?" Zaden berusaha menyadarkan Alando, dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri tapi setidaknya dia bisa sadar ada orang-orang yang membutuhkan dia.


"Huuhh... Iya! Maaf gue akan mengingatnya." Ucap Alando pelan, sadar akan kesalahannya.


"Hemm... Jangan lupa? Kami juga ada di sini." Zaden menepuk bahu Alando dan memberi dukungan untuknya.


"Hemm... Oke! Gue bawa Meira ke ruang kesehatan dulu." Alando paling menghindari hal sentimentil kayak gini, dia tau Zaden dan yang lainnya sangat peduli padanya. Mungkin Alando bisa bertahan di kampus ini juga karena keempat temannya itu terutama Zaden.


Wajah Meira yang tadinya putih mulus sekarang justru berbekas merah akibat tamparan Olivia, bahkan bibirnya pun sedikit berdarah. Sepertinya Olivia memukulnya terlalu keras, bahkan tangannya Meira pun terdapat beberapa cakaran-cakaran kecil memanjang mungkin karena itulah Meira menggigitnya.


Alando mengobati Meira dengan obat-obatan anti septik dengan perlahan dan teliti, mungkin ini pertama kali Meira mendapat bullyan seperti ini dan itu karena dirinya, namun dia juga tidak bisa untuk menjauhi Meira. Itu sama saja menghancurkan dirinya sendiri.


"Masih sakit...?" Alando meletakkan obatnya kembali pada tempatnya dan duduk di samping Meira.


"Iya..., pipi Meira sakit terus tangan Meira juga perih." Adu Meira bagai anak kecil yang minta dimanja saat dia sakit.


"Cupp... Cupp..." Alando mencium pipi Meira yang katanya terasa sakit kemudian beralih pada sudut bibir gadis itu yang sedikit berdarah. "Cupp... Cupp..." Alando memang sudah menciumnya beberapa kali tapi tetap aja Meira masih agak kaget dan malu serta wajah yang terlihat memerah. Sedangkan Alando dia tidak merasa canggung lagi dia hanya takut tidak bisa berhenti menginginkan Meira. Kemudian beralih pada tangan Meira yang penuh dengan cakaran-cakaran kecil.


"Cupp... Cupp..." Kecupan-kecupan lembut bersarang di tangan Meira.


"Hihii...! Kak Al Al... Meira geli." Kikik Meira dengan perlakuan lembut Alando.


"I love you." Bisik Alando pelan saat memeluk Meira erat, entahlah Meira bisa mendengarnya atau tidak.


Vote like dan koment ya... yang ikhlas aja😄😄