Meira

Meira
BAB. 8



Setelah selesai latihan basket, mereka membubarkan diri mengikuti kuliah masing-masing. ZACKS mereka tetap dalam satu kelas yang sama, namun ada yang berbeda kali ini. Meira terus mengikuti Alando kemanapun dia pergi kecuali saat Alando membersihkan badan setelah dia main basket tadi.


"Kalian duluan aja." Perintah Alando pada teman-teman satu gengnya untuk lebih dulu masuk kelas, karena sekarang mereka masih berada di koridor kampus.


"Oke. Jangan diapa-apaiin tuh anak." Tepukan di pundaknya yang dilakukan oleh Zaden bisa jadi sebuah peringatan untuk Alando agar tidak terlalu bersikap keras pada Meira sebelum akhirnya Zaden berlalu.


"Loe kenapa ikutin gue terus sih?" Kesal Alando setelah berbalik menghadap Meira dan menatapnya penuh intimidasi. "Loe nggak ada kuliah?" tambahnya, kali ini dengan lebih lembut. Meski sekarang mereka dilewati beberapa mahasiswa yang tentu saja tidak mau ambil resiko berada di sana. Bisa-bisa mereka kena masalah dengan Alando.


"Ehmm... nggak ada." Jujurnya, "Meira hari ini cuma ada satu mata kuliah, tapi Pak dosennya memang lagi nggak ada." Jelas Meira.


"Ya terus? Kenapa loe ke kampus?"


"Kan Meira mau kasih kak Al Al kue buatan Meira." pandangan polos Meira terus mengarah pada Alando.


"Sudah gue terima." Alando mengangkat dan menggoyang tempat bekal yang dikasih Meira tadi, "Sekarang loe pulang!" Suruhnya.


"Meira tunggu jemputan Radodo." balasnya.


Tadi Meira memang disuruh menunggu jemputan Rado, adiknya itu. Karena Rado tidak mengetahui kalau hari ini Meira tidak ada kuliah. Makanya Rado menyuruh Meira untuk menunggunya. Seperti biasa mungkin sampai jam 14.00 siang.


"Ya udah. Kenapa loe nggak naik angkot, ojol atau apalah?" dia mencoba memberikan saran supaya Meira mau pulang dan tidak terus-terusan mengikutinya.


"Tapi Meira lupa bawa dompet! Meira cuma ingat bawa kuenya." bukannya takut Meira malah cengengesan seperti biasa.


"Meira...!" Kesal Alando dan langsung pergi ke kelasnya tanpa menoleh gadis itu lagi.


Sedangkan Meira yang tidak mengerti dengan kekesalan Alando hanya berdiri di depan kelas dan menunggunya. Namun tidak berapa lama tiba-tiba Alando menarik tangan Meira menuju kelasnya.


"Ikut...!" Perintahnya dan menarik Meira ke kelasnya. Membuat teman seisi kelas terutama gengnya pada heran sekaligus takjub, ini pertama kalinya Alando bersikap peduli terhadap cewek padahal selama ini dia sangat anti terhadap makhluk berjenis perempuan.


"Duduk dan jangan berisik." perintah Alando kepada Meira, seperti seorang Ayah yang menyuruh anak perempuannya duduk manis dan tidak bikin ulah. Meira hanya menganggukkan kepalanya senang karena saat ini dia bisa duduk di samping kak Al Al nya.


"Apa itu artinya negara api sudah menyerang kutub utara?" Tanya Christ pada teman-temannya.


"Mungkin." Jawab Zaden dengan senyum lebarnya. Tidak menunggu lama dosen pun datang memberi kuliah. Untungnya dosen itu tidak sadar ada mahasiswa yang bukan dari kelasnya.


Karena hari ini cuma ada dua mata kuliah, mereka lebih cepat pulang dari hari biasanya. Mau nggak mau Alando harus mengantar Meira pulang. Tidak mungkin dia meninggalkan Meira di kampus menunggu adiknya sampai jam 14.00 siang, mungkin juga sampai jam 15.00 an. Entah kenapa sekarang Alando merasa peduli dengan gadis absurd itu, padahal gadis itu bukanlah tanggung jawabnya.


"Lan... Loe antarin Meira kan?" tanya Zaden. Kasihan aja dia melihat Meira seperti anak terlantar. Zaden juga tidak mengerti kenapa Meira berbeda dari kebanyakan cewek-cewek yang dia kenal. Apa karena sikapnya yang lugu kelewat wajar itu?.


"Hemm..." Alando menoleh ke arah Meira yang duduk di kursi sampingnya dengan kepala telungkup di atas meja dengan mata terpejam. Sekarang memang ruangan sudah kosong tinggal mereka bertiga yang ada di sana.


"Atau loe berdua ikut mobil gue aja? Kayaknya mau hujan deh." Dilihatnya langit di luar tampak mendung awan semakin menghitam.


"Nggak usah deh, kayaknya masih sempat." Tolak Alando. Tidak mungkin juga dia meninggalkan motornya di kampus.


"Oke... bangunin tuh pacar loe." Sebelum Alando mengamuk, Zaden kabur lebih dulu.


Kenapa tiba-tiba semua orang di kampus ini mengatakan Meira adalah pacarnya? Mereka bahkan baru kenal beberapa hari, belum juga seminggu. Gadis ini entah bagaimana bisa masuk mengganggu ketenangannya.


"Meira... heii...!" panggil Alando pada Meira yang terlihat sangat mengantuk. Siapa suruh terus mengikutinya.


"Ayo pulang. Loe mau gue tinggal?" Alando bersikap tak acuh.


Meira memperhatikan sekelilingnya, dan yang tersisa cuma mereka berdua. "Oh... Udah pulang ya?" Ucapnya, baru tersadar kalau semua orang sudah keluar kelas.


"Ayo...!" Tanpa menunggu Meira, dia langsung berjalan keluar. Merasa ditinggal Meira buru-buru mengejar Alando yang langkahnya dua kali lebih besar darinya.


"Uuh... Kak Al Al cepat banget sih jalannya?" gerutu Meira yang masih ketinggalan beberapa langkah.


"Salahin kaki loe yang pendek." ucap Alando sadis, kayak lagu Afgan untung otak Meira nggak biasa. Kalau cewek lain yang dikatain kayak gitu udah sakit hati kali. Tapi anehnya Alando memelankan langkahnya juga untuk mensejajarkan jarak mereka. Saat ini mereka sudah ada di halaman kampus menuju tempat parkir motornya.


"Berhasil...! Meira berhasil mengejar kak Al Al." cerianya. Alando cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah polah Meira, namun tak urung dia seolah mengalah mengikuti ritme langkah kecil Meira sampai tiba di parkiran.


"Alan... Meira...!" panggil Zaden beserta ketiga teman-temannya yang ternyata masih menunggu mereka di parkiran.


"Lama banget sih kalian di kelasnya? Jangan bilang kalian berdua sedang main iya-iya di dalam?" goda Kenny dengan menaik turunkan kedua alisnya ke arah Alando yang akhirnya di hadiahi satu toyoran di kepalanya oleh Alando.


"Gue bukan loe!" jawabnya ketus, enak aja dia bukan orang seperti itu yang akan memanfaatkan situasi.


"Sekarang aja loe bisa ngomong kayak gitu, entar lama-kelamaan loe juga mau." pengalaman pribadi dia sendiri soalnya. Sedangkan Alando bodo amat dengan omongan Kenny yang tidak berfaedah tersebut.


"Serius kalian berdua ngomongin hal kayak gini di hadapan nih bocah?" potong Steven. Entahlah dia merasa kalau Meira cuma gadis kecil yang belum pantas mendengar obrolan orang dewasa. Padahal kan faktanya Meira adalah seorang mahasiswa juga bukan bocah kecil lagi.


"Meira, kamu ngerti nggak apa yang kami omongin tadi?" tanya Christ. Sebenarnya dia juga penasaran, beberapa hari ini Christ sering memperhatikan tingkah Meira yang jauh dari kata dewasa.


"Enggak...! Meira nggak ngerti, memangnya permainan iya-iya itu apa?" Tanya Meira polos, dia benar-benar tidak mengerti omongan mereka.


"Fix... Meira masih bocah!" Tegas Kenny yang speechless dengan kepribadian Meira.


"Sudahkan ngomongnya? Udah mau hujan nih." Zaden berusaha mengalihkan pembicaraan absurd mereka. Memangnya ada yang salah kalau sifat Meira masih kayak bocah.?


"Kalian berdua ikut mobil gue aja deh, sudah mau hujan juga kayaknya." Tawar Zaden.


"Enggak usah, masa motor gue ditinggal di sini?" tolak Alando kesekian kalinya, bagaimana kalau ada yang mengambil motor satu-satunya yang dia punya ini. Dia bukan Zaden atau ketiga temannya yang mampu membeli apapun yang dia mau. "Loe anterin Meira aja deh." minta Alando.


"Nggak mau... Meira ikut Kak Al Al aja." rengek manja ala Meira. Kemudian dia memegang tangan Alando erat yang membuat Alando risih, "Nggak apa-apa Meira kehujanan." tambahnya.


"Wah... Kalau sudah jatuh cinta badai pun di terjang!" Pikir Kenny. "Apa kabar pacar-pacar gue? Mereka nggak mau dijemput kalau nggak pake mobil!"


"Pacar-pacar loe kan matre semua." Sahut Zaden yang tak habis pikir dengan sifat playboy Kenny. Bahkan dalam satu minggu bisa memiliki pacar lebih dari dua orang, tapi sayang otaknya matre semua.


"Ya udah, gue yang antar Meira." Sahut Alando, kalau kelamaan ngobrol di sini mereka bisa kehujanan di jalan.


"Oke. Kalian berdua hati-hati di jalan." Balas Zaden yang juga diangguki teman-teman lainnya.


***


Vote, like dan koment ya...