
"Zaden!" kesal Kara, reflek tangannya ingin memukul lelaki tersebut dengan tangannya yang lemah berbanding terbalik dengan tangan Zaden yang kuat dan kini menahan tangan halusnya itu dan memberikan kecupan lembut. Reflek Kara menarik tangannya dengan cepat, untung dia tidak jantungan, batinnya.
"Sudahkah aku bilang, aku menyukai saat kau memanggil namaku? Dan aku menunggu saat di mana kau justru memanggilku dengan mesra." bisik Zaden menggoda Kara.
'Jangan tergoda Kara! Dia cuma iblis bermuka tampan yang akan terus menggodamu.' batin malaikat Kara yang sepertinya sedang memberi peringatan padanya.
"Tidak akan." tatap Kara, ingin rasanya dia bejek-bejek tuh kepala. "Kau pasti selalu bolos setiap ada pelajaran agama, ya kan!" tuduh Kara, gemes karena lelaki itu tidak mau sadar atas kesalahan yang dia buat.
"Lebih dari itu, aku bahkan nggak pernah lulus dalam pelajaran agama." jawabnya santai, semakin diprovokasi maka semakin Zaden ingin melakukan apa yang dituduhkan padanya dan bukan malah membela dirinya mati-matian.
'Lihatkan! Memang Kara selalu kalah kalau berdebat dengan lelaki sombong tersebut.'
"Terus ngapain kamu di sini?" tanya Kara, apa Zaden sekarang benar-benar berperan sebagai kekasih idaman yang baik untuk Kara.
Zaden cuma menanggapi cuek, "Ke sini kan handphone kamu." pinta Zaden dengan menadahkan telapak tangannya.
"Enggak!" jawab Kara cepat dan menyembunyikan handphone di belakang badannnya, apa di kampus saja tidak cukup dan Zaden ingin menerornya juga di telpon.
"Kau mau kucium lagi, mumpung kelas masih sepi." ancam Zaden, Kara itu keras kepala tapi juga lemah dengan ancaman yang mungkin akan merugikan dirinya dan itu sudah disadari Zaden sebagai kelemahan Kara.
Sedikit panik, "Ini ambil lah, awas macam-macam." dengan gerakan cepat pula Kara memberikan handphonenya dengan hati yang tidak ikhlas.
Zaden cuma memandang handphone yang kini sudah ada dalam genggamannya. "Kau masih menggunakan barang jelek begini." hinanya, maklumlah Zaden tidak pernah menggunakan benda murahan dan ketinggalan zaman.
Alando yang statusnya sosialnya di bawah mereka berempat saja masih memiliki handphone yang lumayan modern, sedangkan Kara jauh di bawah standar.
"Jelek-jelek begitu aku kerja keras untuk mendapatkannya, memangnya kau." omel Kara yang sedikit tersinggung, yang penting dia mendapatkannya dengan cara yang halal, batin Kara.
Lagi-lagi Zaden tidak menanggapi kekesalan Kara. "Hari ini aku tidak bisa mengantarmu, begitu pun besok." ucap Zaden sambil mengotak-atik handphonenya Kara.
Muka Kara yang tadinya cemberut cerah seketika. "Sungguh." tiba-tiba ada angin segar yang menerpa Kara. Yang pasti setelah ini dan besok tidak ada yang menggangunya lagi, tidak ada yang berusaha berbuat mesum padanya lagi, walau pun cuma satu hari setengah, itu sudah membuatnya lega.
"Jangan bertampang bahagia seperti itu." ejek Zaden, "Karena besok lusa kau akan melihatku lagi." ingatkan Zaden.
'Setidaknya besok aku tidak harus melihatmu.' sayangnya Kara cuma berani mengucapkan dalam hatinya.
"Ya, sampai ketemu besok lusa." senyum Kara, berbasa-basi cantik. Jangan sampai dia membuat Zaden marah. Dari yang Kara lihat, Zaden itu adalah seorang boss. Boss yang tidak suka ditolak, direndahkan, ditentang apalagi diabaikan.
Zaden memandang Kara menyelidik. "Senyum bodohmu itu tampak jelek." diserahkannya kembali handphone Kara. "Awas kalau kau berani menolak panggilanku." tatapan intimidasi dari Zaden membuat keberanian Kara menjadi ciut seketika.
"Iya, tapi bagaimana kalau aku lagi melayani penginjung cafe atau bagaimana kalau aku lagi di kamar kecil atau ba..."
"Jangan banyak alasan." potong Zaden dan beranjak dari hadapan Kara yang masih setia duduk di kursinya sambil bersungut-sungut tanpa mau melihat ke arah Zaden yang kini sudah berdiri di samping tempat duduknya.
Kara pengennya sih balas memandang Zaden tapi takut malah tergoda dan malah menjadi pemuja sang iblis tampan penggoda imannya tersebut.
"Kau tidak mau mengantarku sampai ke depan pintu." ketus Zaden, masih berdiri menunggu reaksi Kara. Selama ini hampir semua perempuan menyukainya tapi Kara malah sok jual mahal dan itu membuat Zaden kesal.
"Tidak, datang tidak diundang pulang juga tidak diantar dong!" jawab Kara tersenyum yang mau tidak mau kini dia harus menatap ke arah Zaden.
"Kau kira aku jelangkung." seru Zaden sedikit tidak terima.
"Bukan aku yang ngomong loh." sergah Kara.
"Huss... huss.... pergilah yang jauh." usir Kara seperti mengusir seekor ayam jantan.
Akhirnya bisa juga dirinya bebas dari lelaki angkuh itu, batin Kara dan kembali melanjutkan memasukan bukunya yang tadi tertunda gara-gara kehadiran Zaden dan setelahnya Kara mau menyusul temannya Zia yang mungkin sekarang sudah berada di kelas mata kuliah selanjutnya.
"Hai Kara..." sapa salah satu temannya yang tidak terlalu dekat tapi pernah beberapa kali mengikuti kelas yang sama.
"Hai." sahut Kara seadanya, karena Kara merasa mereka tidaklah dekat.
"Tadi itu Zaden kan?" Oh, Kara mengerti apa tujuan Gina, cewek cantik di depannya ini pasti salah satu fans Zaden, pikir Kara.
"Iya."
"Oh... terus dia tadi kok bisa ngomong sama loe gitu." tanya Gina seperti orang yang lagi penasaran.
"Tentu saja bisa, dia kan memang bisa ngomong." jawab Kara seolah dia tidak memahami maksud pertanyaan Gina, lagian nih cewek kepo banget dengan urusan orang.
Kara lebih suka sama orang yang langsung ngomong ke intinya bukan yang muter-muter.
"Bukan seperti itu maksudnya, maksud gue dia lagi ngomongin apa sama loe." ulang Gina yang masih penasaran tingkat dewa.
"Bukan hal yang penting, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, cuma dengar-dengar gosip kalau kalian lagi pacaran. Tapi rasanya itu nggak mungkin kan, yang aku tau selera Zaden itu tinggi banget, yang pastinya sekelas dengan dirinya, iya kan?" pertanyaan yang menjurus sindiran pada diri Kara.
"Mungkin saja." jawab Kara cuek setengah kesal.
"Bukannya gue bermaksud merendahkan loe ya Kar please jangan salah paham, tapi tahu sendirilah dia itu Zaden ketua dari ZACKS dan kamu kan...?"
"Babu...?" potong Kara, dari pada dia mendengar penghinaan dari mulut orang lain yang tentunya lebih menyakitkan untuk didengar lebih baik dia mewakili orang itu untuk menjawabnya langsung.
"Iya, gue cuma mengatakan apa yang gue dengar dari teman-teman kelas kita, tapi pasti itu cuma gosip deh." ucap Gina sok peduli, cewek munafik menurut sepenglihatan Kara.
"Itu bener kok, dan anehnya entah kenapa Zaden malah minta aku jadi pacarnya? Kalo itu aku juga nngak ngerti." ucap Kara santai, ingin membuat hati Gina panas, sepanas-panasnya terbakar iri cemburu buta.
Bukan berarti Kara bangga menjadi seorang kekasih dari Zaden, apalagi status kekasih yang dia dapat layaknya cuma sebuah permainan, tetapi Kara hanya ingin menutup mulut manisnya Gina itu doang.
"Apa? Loe pasti bohongkan, mana mungkin!" Gina sepertinya baru mendapat shock terafi, dia kaget seolah tidak mau percaya.
"Kalo itu tanyain aja sama Zadennya, karna kalau aku yang ngomong pasti nggak ada yang mau percaya." sahut Kara memberikan seulas senyum pada Gina seolah mereka memang berteman baik.
"Tentu saja mana ada yang mau percaya." balas Gina kesal dan masih tampak shock mendengar penuturan langsung dari Kara.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Masih ada kelas lain, dah." pamit Kara sopan tanpa mempedulikan Gina yang sepertinya lagi patah hati.
'Salah sendiri kenapa menghinanya.' pikir Kara.
Setahu Kara, Gina memang pernah dekat dengan Zaden karena mereka sama-sama berada di organisasi Kampus, tapi nggak tau deh hubungan mereka seperti apa. 'Lelaki angkuh itu kan memang playboy.' batin Kara kesal entah kesal karena apa? Kara tidak mengerti.
****
Vote, like dan koment.