
Pulang kerja Alando menyempatkan dirinya ke rumah sakit untuk menjenguk Papanya. Meski hubungan mereka rasanya sudah tidak sama seperti masih kecil dulu, karena sekarang ada begitu banyak kecanggungan dan sedikit amarah yang belum bisa dilupakan. Namun Alando berusaha untuk bersikap baik sebagai anak. Kondisi Papanya saat ini mulai membaik namun tentu saja tidak seratus persen, hari ini dia sehat mungkin besok bisa drop lagi. Tapi papanya bilang dia ingin segera pulang ke rumah lagi dan menghabiskan waktunya dengan keluarga. Dan dokter pun sudah mengijinkannya, Papanya bisa rawat jalan kembali.
Alando tidak sendiri, ada Dinda yang menjaga papanya dan Gaby yang juga menjenguknya, dan yang paling membuatnya kesal adalah Gaby yang terus-terusan mendekatinya. Walau pun setiap rayuan dan godaannya hanya dia tanggapi dingin.
"Lan ajak Meira Minggu ini ke rumah ya, kita akan mengadakan acara keluarga. Sudah lama kan kita sekeluarga tidak kumpul-kumpul lagi. Papa sudah meminta pelayan-pelayan di rumah untuk menyiapkan semuanya beserta tante dan Om-Om kamu untuk datang." Kata papanya.
Keluarga Papanya memang akrab sejak dulu setiap beberapa bulan sekali mereka akan mengadakan acara keluarga besar secara bergantian, mungkin seperti arisan keluarga atau mungkin untuk merayakan sesuatu dan menyambut anggota keluarga. Yang Alando tau Papanya memang dari keluarga kaya tapi karena menikah dengan Mamanya yang yatim piatu, sepertinya hubungan mereka tidak mendapat restu dari neneknya saat itu. Dan saat ini neneknya yang sombong itu memang telah meninggal dunia, sesaat setelah dia lulus SMP. Sedangkan kakeknya memang sudah meninggal bahkan sejak dia belum di lahirkan. Mungkin karena itu juga hubungan mereka tidak berjalan dengan baik, tidak ada restu dari Ibu sang Papa bahkan neneknya juga sering ikut campur dengan masalah keluarga orang tuanya dan bisa jadi itulah yang memicu perselingkuhan Papanya.
"Iya Pa." Jawabnya singkat.
"Aku akan menemanimu keliling rumah itu nanti, mungkin kamu sudah lupa dengan setiap sudut-sudutnya. Oh ya, kau pasti masih ingat setiap ada acara keluarga di rumah itu kita selalu bermain menghabiskan waktu bersama." Ucap Gaby.
Saat Alando kecil, dia merasa rumah neneknya adalah rumah yang paling membuatnya malas untuk datang karena setiap berada di sana neneknya seolah menolaknya, setiap benda apa pun yang dia pegang dengan cepat neneknya pasti akan mengambilnya kembali. Sangat berbeda dengan perlakuan pada sepupu-sepupunya yang lain saat itu, untungnya saudara-saudara Papanya masih bisa menerima mereka dengan tangan terbuka.
Alando hanya mengabaikan ucapan Gaby. "Pa aku pulang dulu." Pamitnya.
"Ya sudah, hati-hati kamu bawa motornya." Ingatkan Papanya, begitu pun Dinda yang mencoba bersikap ramah meski selalu ditanggapi Alando datar.
"Aku boleh nebeng ya? Aku nggak bawa mobil soalnya." Minta Gaby, dia memang sengaja untuk mencari perhatian Alando lagi dengan sering-sering mendekatinya, untung saja tidak ada Meira jadi rencananya berjalan lancar.
"Lan, kamu anterin aja Gaby ke rumahnya ya? Kasian, sekarang kan sudah malam banyak bahaya di luar sana." Bujuk Papanya, walau bagaimanapun Gaby adalah bagian dari keluarganya juga.
"Hemm... Aku pulang." Alando beranjak dari sana dan keluar dari kamar tersebut dan begitu pun Gaby yang mengikutinya di samping dan masih mencoba mengajak Alando bicara.
"Alan besok kamu sibuk nggak? Kita jalan-jalan yuk, temani aku... lagi pula kan kita sudah lama nggak bertemu."
"Gue sibuk, nggak ada waktu." Ketusnya. Apa yang dia katakan memang kebenarannya. Waktunya habis untuk kuliah dan kerja kalau pun libur tentu saja waktunya buat Meira, calon istrinya. Untungnya Meira tidak pernah menuntutnya macam-macam, ya mau inilah, mau itulah, jalan-jalan ke mana pun yang dia suka, mungkin beda kalau itu perempuan lain.
"Bagaimana kalau minggu nanti setelah acara selesai." Gaby tidak mau menyerah, selama masih ada kesempatan dia akan menggunakannya.
"Gue mau pergi sama Meira." Jawabnya cuek sambil membuka satu aplikasi yang ada di hanphonenya.
Alando berhenti di depan halaman rumah sakit, menunggu seseorang yang sebentar lagi akan datang.
"Alan, kenapa kita berdiri di sini, bukannya kamu bawa motor ya?" tanya Gaby penasaran.
"Hemm..." Alando malas menanggapinya. Setelah Alando menerima telpon tiba-tiba mobil sudah ada di depannya.
"Jemputan loe sudah datang." Gue pergi. Tanpa mempedulikan teriakan Gaby lagi Alando segera pergi dari sana menuju motornya.
"ALAN..!" teriak Gaby kesal dengan sikap Alando. Ternyata Alando memesan taxi online untuknya.
****
Sesuai permintaan Papanya Alando membawa Meira ke rumah Papanya atau lebih tepatnya rumah peninggalan dari neneknya yang dia wariskan untuk anak tertuanya. Bukan cuma Papanya yang mendapat warisan tapi semua saudara yang lain juga kebagian karena itu tidak ada perselisihan diantara mereka.
"Kak Al Al ini rumah Papa ya...? Rumahnya besar banget." Ucap Meira terpesona, selama dia hidup sekalipun Meira belum pernah bertamu ke rumah sebesar ini. Ini benar-benar pertama kali buat Meira.
"Waw... nggak nyangka kak Ale Ale ternyata anak orang kaya." Kagum Rado, dia juga merasakan hal yang sama seperti Meira. "Coba teman-teman gue juga ikut ke sini, pasti seru nih." Tambahnya.
"Bukan rumah gue juga!" cueknya, untuk apa punya rumah semegah ini tapi tidak ada kebahagiaan yang dicarinya selama ini, batin Alando. Rumah yang saat ini ditinggali Alando memang tidak sebesar ini tapi setidaknya pernah ada kebahagiaan di dalamnya, dan Alando akan mengembalikan kebahagiaan itu bersama Meira dan keluarganya. Lagi pula rumahnya itu cukup besar untuk dihuni lima orang nantinya, mungkin cuma perlu sedikit renovasi untuk kamar mereka.
"Alan... Meira kalian sudah datang?" mereka bertiga disambut Papa Alando yang masih duduk di kursi roda dengan didorong pelayan yang bekerja untuk papanya.
"Iya Pa, aku juga mengajak adiknya Meira bersama kami." Tutur Alando sekalian mengenalkan adik Meira pada Papanya.
"Oh ya, kok Om nggak lihat kamu di rumah sakit waktu itu?"
"Aku sekolah Om jadi nggak bisa datang." Sahut Rado sopan.
"Begitu...! Alan... kamu ajak mereka ke dalam ya, Meira anggap ini rumah kamu sendiri ya Nak?" ucap Papa Alando ramah, dia berharap Meira dan adiknya bisa nyaman ada di tengah keluarganya yang baru, karena sebentar lagi Meira akan menjadi menantunya.
"Hahaaa... ya sudah kamu bersenang-senang aja ya di rumah ini." Suruh Papanya, dia sudah banyak mendengar hal tentang Meira dari cerita Alando yang selalu bahagia bila menceritakan keluguan gadisnya itu. Bahkan Alando sudah menceritakan peristiwa kecelakaan yang menimpa Meira dari situ dia semakin yakin kalau putra satu-satunya itu sangat mencintai gadis manis ini.
"Iya Pa, ayo Meira." Ajaknya dan membawa Meira dan Rado masuk ke dalam. Sepertinya cuma Alando yang membawa motor sedangkan semua keluarganya membawa mobil masing-masing, Alando tidak mempedulikan itu toh hidupnya sekarang bahagia karena ada seseorang yang dia cintai yang bisa menerimanya tanpa melihat latar belakangnya begitu pun keluarga Meira yang sudah dia anggap keluarga sendiri.
"Alan... Kamu sudah datang, tadinya aku kira kamu nggak jadi datang?" manja Gaby, dia menghampiri Alando meski ada Meira di sampingnya.
"Nenek sihir." Bisik Rado, tipe cewek yang paling tidak dia sukai.
"Hei Alan, ayo gabung sama kami." Panggil Om Rendrawan, sekarang mereka lagi berpesta di taman belakang rumah, memanggang daging dan ikan sebagai pelengkap hidangan.
Alando dan Meira serta Rado ikut bergabung bersama mereka menikmati makanan yang di sajikan sambil mengobrol menjadi pelengkap suasana di sana. Semua orang di situ pun menyambut Alando, walau bagaimanapun waktu kecil mereka pernah sangat dekat, om dan tantenya bahkan sangat perhatian pada Alando dan Meira. Mungkin cuma sepupu-sepupunya saja yang pada cuek, mereka tidak terlalu banyak berinteraksi satu sama lain.
"Meira tunggu di sini ya? Aku mau ke toilet dulu." Pamit Alando, entah di mana Rado. Anak itu sudah menghilang bermain bersama sepupu-sepupunya yang usianya tidak jauh darinya. Maklumlah Rado itu sangat mudah bergaul dengan siapa saja.
"Meira ikut, boleh?" tanya Meira memohon, dia tidak terlalu nyaman sendirian.
"Aku cuma sebentar, kamu tunggu di sini." Perintah Alando, lagi pula semua keluarganya cukup baik padanya.
"Iya." angguknya, "Jangan lama ya kak Al Al."
"Hemm..." setelahnya Alando pergi dari sana masuk ke dalam rumah meninggalkan Meira sendirian.
Melihat Meira sendirian timbul niat Gaby untuk mengerjainya, dari tadi dia sudah kesal dengan gadis itu karena terus-terusan menempeli Alando hingga dia tidak punya kesempatan untuk mendekat.
"Meira kok kamu sendirian di sini, mana Alan?" tanya Gaby pura-pura baik menyapa Meira.
"Kak Al Al lagi ke toilet." Jawabnya.
"Oh gitu, gimana kalau kamu ikut aku ke kolam renang. Kita bisa duduk di sana, udaranya juga sejuk." Bujuk Gaby.
"Ehmm... Meira harus nunggu kak Al Al dulu."
"Enggak usah, ayo ikut." Gaby menarik tangan Meira menuju kolam renang yang memang terlihat sangat nyaman.
"Tuh... baguskan kolam renangnya, kamu pasti belum pernah lihat ini sebelumnya." Ejek Gaby meremehkan.
"Iya, Meira memang belum pernah melihatnya." Jawabnya jujur.
"Karena kamu sudah ada di sini, lebih baik kamu berenang sekarang." Setelah beberapa jam memperhatikan Meira, dia jadi tau sifat Meira seperti apa. Karena itu dia ingin mengerjai Meira dengan membodohinya.
"Enggak, Meira nggak bisa berenang."
"Oh... Jadi kamu nggak bisa berenang ya?" Gaby tersenyum licik mendengarnya hingga muncul ide jahat dalam otaknya. "Ayo ikut aku." dia menarik Meira menuju pinggir kolam dan hendak mendorong Meira.
"Meira nggak mau, lepasin." berontaknya, karena pegangan dari Gaby terasa sangat kasar dan menyakitinya.
"Seharusnya kamu nggak muncul di sini!" bentaknya pada Meira saking kesalnya.
"Hahaaa..."
Gaby menoleh ke arah suara di mana dua sepupunya Radit dan Zody sedang bercanda dan tertawa sambil berjalan ke dalam rumah. Sepertinya Gaby harus mengubah rencananya.
"Meira sini kamu." Tariknya semakin menuju pinggir kolam dan melaksanakan rencananya dengan seringai jahatnya.
"MEIRA LEPASIN AKU... TOLONG... TOLONG..." teriaknya agar orang-orang mendengarnya padahal dia sendiri yang memegang tangan Meira, "Byuurr..." suara orang tercebur dan terdengar oleh sepupu mereka berdua.
Vote, like dan koment ya...