Meira

Meira
BAB. 74



"Kak Al Al...?" panggil Meira pelan, seperti menahan sesuatu.


"Iya...? Kenapa kamu nggak bisa tidur lagi." dilihatnya Meira sudah duduk di sampingnya, Alando segera bangkit dari tidurnya, rasa ngantuk masih menguasai matanya namun dia juga tidak tega melihat istrinya yang merasa tidak nyaman.


"Perut Meira sakit." sahutnya, sedikit menahan sakit.


"Apa? Kamu mau lahiran." kaget, Alando beranjak dari ranjangnya.


"Engak tau, perut Meira sakit." ringisnya.


"Iya... Iya... Kita berangkat ke rumah sakit sekarang." panik, Alando bergegas membawa Meira keluar dengan dirinya yang masih bertelanjan* dada.


"Duduk di sini dulu, aku panggil ibu." Alando mengetuk pintu kamar ibu dan Ayah Meira dan membangunkan mereka yang juga ikut panik. Begitu pun Rado yang terbangun dari tidurnya karena keributan yang dibuat oleh keluarganya.


"Ayo... ayo..." mereka bergegas naik mobil yang sudah disiapkan Alando, mobil yang baru saja dia beli untuk membawa istrinya ke rumah sakit, kalau tiba-tiba Meira ingin melahirkan dan kenyataannya memang terjadi sekarang, mereka panik apalagi saat ini sudah jam 23.00 malam.


"Kunci... Kunci... kuncinya mana?" Alando makin panik. Mencari di setiap sudut tempat.


"Kak Ale Ale itu di tanganmu apa?" tunjuk Rado pada tangannya yang sudah memegang kunci. Ternyata Alando tidak sadar sudah memegang kuncinya dari tadi, akibat rasa panik yang mendera jadilah begitu.


"Oh Tuhan...!" kesalnya, baru tersadar. Kemudian mereka bergegas memasuki mobil,


Alando segera menjalankan mobilnya bergerak menuju rumah sakit terdekat. "Meira tahan ya? Sebentar lagi kita sampai." ucapnya penuh kekhawatiran pada sang istri


"Iya hiks... hiks... Kak Al Al cepat." tangisnya, di samping ada ibunya yang selalu memegang bahunya memberi kenyamanan.


"Kak Ale-Ale... Ingat ya, kita semua harus sampai dengan selamat." Rado mengingatkan, apalagi melihat kakak iparnya itu terlihat panik.


"Oke."


****


Alando menemani istrinya melahirkan, sungguh dia tidak sanggup melihat kesakitan Meira. Seandainya bisa, lebih baik dia yang merasakannya, namun sekarang ini dia cuma bisa menggenggam tangan itu, menguatkan istrinya tanpa bisa berkata apa-apa.


Sebenarnya dia sudah merasa pusing melihat darah yang keluar dari bagian tubuh Meira namun dia berusaha kuat untuk istrinya yang saat ini berjuang dan sangat membutuhkannya.


"Uekk... uekk..." perjuangan yang cukup panjang dan melelahkan namun akhirnya berujung indah, tangisan bayi kecil mereka kini membuatnya lega. Meira sepertinya kelelahan, dia bahkan hampir memejamkan matanya.


"Selamat, bayinya laki-laki dan sehat." itulah kata terakhir dari dokter yang membantu kelahiran istrinya.


Ada rasa lega, setelah melihat istrinya dan bayi mereka sehat dan tampak baik-baik saja. Mereka berdua hanya memerlukan sedikit pemulihan.


"Selamat datang ke dunia ini pangeran kecil Papa dan Mama." ucap Alando pelan, berbisik di samping telinga putranya.


****


"Kak Al Al bayi kita lucu ya?" tanya Meira pada suaminya yang tidak bisa menjauh dari istrinya, apa yang dia lihat benar-benar membuatnya ketakutan. Takut kalau istrinya akan meninggalkannya jauh.


"Cupp... iya, sangat." kecupnya kening sang istri penuh cinta.


Meira tampak memberikan ASI pada bayi mereka, meski tidak terlalu lancar namun si baby tampak kuat meminumnya. Sedikit kesulitan dan bingung, wajar saja karena ini hal yang baru untuknya tapi istrinya terlihat menikmati peran barunya sebagai ibu.


"Tapi Meira takut, bagaimana kalau tangan Meira kelepasan. Dia kecil, lucu seperti boneka." ucapnya berbinar.


"Kita bisa pelan-pelan belajar jadi orang tua yang baik untuknya. Nanti lama-kelamaan pasti bisa." sahut Alando, dia sangat bersyukur bisa mendapat anugerah terbesar hari ini.


Setelah menyusui bayi mereka, kini istrinya itu nampak terlelap lelah begitu pun baby yang sudah berada dalam dekapan Alando yang perlahan mulai mencoba dan belajar menggendongnya.


****


Tampak Ayah, ibu dan Rado kini mendampingi mereka. Suasana kamar begitu bahagia menyambut pangeran kecil mereka, dan tentu saja Rado makin senang karena kini dia tidak perlu meminjam anak tetangga untuk diajak main, ada keponakan baru yang akan membuatnya kewalahan.


"Kalian sudah memberinya nama?" tanya Ayah, melihat anak perempuannya yang kini sudah menjadi seorang Ibu membuatnya sangat bahagia, putri yang selalu dikhawatirkannya kini sudah memiliki keluarga kecilnya sendiri dan semoga kebahagiaan terus bersamanya.


"Baby Min-Min." seru Meira bahagia.


"Jelek...!" ejek Rado.


"Meira...! kita sudah sepakat ya sayang." tegur Alando. Sepertinya Meira masih belum menyerah dengan nama idolanya.


"Radodo tuh yang jelek." kesalnya, dia tidak suka nama idolanya dibilang jelek sama adik laki-lakinya yang selalu bikin kesel.


"Memang kak Al Al mau ngasih nama apa? Lebih bagus dari Min-Min?" lanjutnya.


"Tentu saja, aku sudah memikirkan nama ini dari beberapa bulan yang lalu." usapnya rambut Meira yang kini masih berbaring di ranjangnya. "Orion Aldra Garindra." sebutnya.


"Meira suka! Meira suka!"


"Huhh... Tadi aja bilangnya mau baby Minmin." seru Rado mengejek kakaknya yang tidak konsisten.


"Kalau kak Al Al yang kasih nama, Meira pasti suka." sahutnya, tidak sedetik pun Meira tidak menyukai suaminya.


"Biarin, kan kak Al Al suami Meira." balas Meira tidak mau kalah.


"Ya ampun... kalian berdua ini, bisa nggak sih sehari aja nggak berantem." omel ibu Meira, melihat dua kelakuan anaknya yang tidak pernah dewasa.


Tidak lama setelahnya sahabat-sahabat Meira datang berkunjung, Ami, Mita, dan Sany begitu antusias melihat bayi mungil tampan yang sekarang sudah jadi rebutan sahabatnya.


"Uhh... Aku juga pengen." ucap Mita iri melihat sahabatnya Meira sudah memiliki bayi yang lucu.


"Ya nikah dulu lah, masa langsung pengen punya anak." sahut Sany dan mentertawakan reaksi sahabatnya itu.


"Masih nunggu, jodohku masih nyasar di rumah seseorang." jawabnya asal.


"Baby Orion kayaknya lebih mirip papanya deh dari pada mamanya." goda Ami.


"Enggak, baby Orion mirip Meira kok." seru Meira.


"Kalau mirip kamu, berarti dia cewek dong." sahut Ami.


"Oh iya, mirip kak Al Al deh."


"Hahaaa..."


Meira terlihat bahagia, apalagi ketika melihat malaikat kecil mereka yang seharian kerjaannya rebahan aja, pikir Meira. Jangan sampai nanti saat dewasa anak mereka menjadi kaum rebahan.


Dan sorenya barulah sahabat-sahabat Alando berdatangan, karena pekerjaan yang lagi banyak-banyaknya yang tidak bisa mereka tinggalkan. Padahal Christ berharap bisa datang bersama Sany, eh ternyata dia datang duluan dengan sahabat-sahabatnya.


"Selamat ya Lan!" Zaden memberi selamat, diikuti ketiga teman lainnya yang juga ikut larut dalam kebahagian mereka, melihat bayi kecil yang begitu polos dan pulas dalam peraduannya.


"Tenang aja Meira, nanti kalau aku punya anak perempuan. Aku akan jodohin sama sama baby Orion." tutur Christ.


"Iih... Meira nggak mau, nanti anak kak Kris Kris juga sesat kayak kak Kris Kris. Anak Meira kan baik." sahutnya, tanpa peduli dengan orang yang sekarang dia ejek.


"Apa? Enak aja, lihat dulu dong maminya siapa nanti." Christ mencak-mencak tidak terima.


"Emang siapa." tanya Meira polos.


"Sany.!" jawab Steven. Menggantikan Christ bicara, dia sudah hapal apa yang akan diucapkan sahabatnya tersebut.


"Steve emang cs banget ma gue." Christ terlihat bangga dengan temannya tersebut.


"Cckkk... isi otak loe aja yang mudah ditebak." ketus Steven.


"Emang Sany mau nikah sama loe hah?" tanya Kenny.


"Tunggu waktunya tiba. Perjalanan masih panjang bro, gue belum siap nikah muda. Tapi gue yakin kami akan menikah." ujarnya percaya diri, tapi kalau pacaran dia mau.


"Kalau Kak Zad Zad nanti punya anak juga nggak?" tanya Meira dengan senyum misteriusnya.


"Haahhh...??"


****


"Baby Orion tidur ya... yang nyenyak. Biar tambah besar kayak Papa dan Mama." ucap Meira pada bayinya yang sudah berusia 2 bulan. Setelah puas minum ASI dari sang mama tercinta kini si kecil itu nampak tertidur pulas lagi di dalam box khusus dirinya yang nyaman.


"Rion sudah tidur." sapa suaminya, menghampiri Meira yang baru menaruh bayi mereka dalam box bayi.


"Iya, kan sudah kenyang. Meira juga bacain doa-doa biar tidurnya nyenyak." cerita Meira, dia senang menceritakan banyak hal pada suaminya yang tidak bisa memiliki banyak waktu saat siang hari karena harus kerja, jadi Meira ingin suaminya itu mengikuti kembang tumbuhnya walau hanya lewat ceritanya.


"Kalau begitu giliran kita." Alando tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya yang kini sudah mulai kembali normal seperti sebelumnya.


"Aaaa... Pa Al Al..." teriak Meira, kaget saat dirinya diangkat dan dijatuhkan ke tempat tidur empuk mereka.


"Aku menginginkan mu sayang, malam ini ya..?"


"Ehh..."


"Iya..." angguk Meira kemudian, karena sudah cukup lama mereka tidak melakukan permainan iya-iya lagi setelah dia melahirkan Orion.


Malam ini menjadi sangat panas buat mereka berdua, hanya desahan-desahan cinta yang kini bergema dalam ruangan itu. Tubuh Meira masih lah menjadi favorit persinggahan suaminya, dan selamanya jiwa dan raganya itu hanya untuk wanita termanis yang akan selalu tampak manis di matanya tentu dengan segala tingkah uniknya yang melekat pada dirinya, dan Alando menerima itu dengan segala rasa syukurnya.


Tamat


****


Vote, like dan koment ya... please.


Sudah selesai ya ceritanya, karakter Meira tidak akan saya ubah karena sejak awal saya membuatnya ya memang seperti itu, intinya tidak semua penyakit bisa disembuhkan😁


bye-bye...