
Alando begitu kesal saat ini. Sejak tadi dia berusaha mencari Meira bahkan dia juga sudah mencari Meira ke kelasnya. Namun seolah Meira memang menghindarinya Alando tidak menemukannya di manapun dan berhubung sekarang kuliah sudah selesai maka satu-satunya tempat yang biasa Meira datangi saat menunggu jemputan ya cuma di taman kampus dekat parkiran.
Entah ada apa dengan Meira hari ini yang tiba-tiba menjauhinya, padahal semalam saat dia ingin berpamitan pulang, Meira bahkan terus menempelinya dan melarang Alando untuk pulang dan menginap di rumahnya.
Jujur dia merasa sangat tidak enak pada orang tua Meira takutnya mereka salah paham dan malah mengira hubungannya dengan Meira sudah terlalu jauh bahkan mungkin di luar batas kewajaran. Tapi untungnya Ayah dan Ibu Meira sangatlah baik dan mereka juga sangat memahami karakter putrinya itu serta tidak berpikiran dangkal dan asal menuduh Alando. Malahan mereka meminta maaf untuk Meira karena anak perempuannya itu sudah membuat Alando repot dan tidak nyaman. Alando merasa keluarga Meira sangat menyenangkan bahkan dia merasa sangat iri dengan gadis itu sehingga dia sangat merindukan kedua orang tuanya.
Rindu akan kenangan manis saat kedua orang tuanya masih saling mencintai. Rindu pada sosok papa yang selalu menjaganya saat dia masih kecil dan selalu ada untuk mereka sebelum wanita kejam itu menghancurkan semuanya.
Meira Putri, gadis yang dulunya selalu membuat dia kesal dan marah bahkan Alando pun pernah mengatakan kalau dia gadis aneh. Gadis berisik yang tiba-tiba datang mengganggu ketenangan hidupnya. Tapi lihat sekarang justru Alando merasa sangat jatuh sedalam-dalamnya. Jatuh pada pesona gadis lugu tersebut, jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dia gadis yang sedikit demi sedikit merubah kebiasaan buruknya, meski saat ini Alando belum mampu untuk mengungkapkan perasaannya secara gamblang seperti pernyataan cinta romantis di drama Korea yang selalu diceritakan Meira. Ya, gadis itu memang penyuka berat drama negeri ginseng tersebut dan Alando tidak masalah dengan itu, karena itulah Meira. Begitu pun dengan Alando laki-laki kaku yang tidak bisa romantis dengan kata-katanya, tapi dia akan berusaha untuk Meira meski mungkin tidak setiap hari.
"ALANDO..."
Teriak seseorang memanggil namanya namun suara itu tidaklah asing buatnya, mau tidak mau dia menoleh ke sumber suara yang tidak terlalu jauh darinya itu. Benar saja itu adalah suara sahabatnya Steven, rupanya dia juga belum pergi dari kampus. Alando pun bergegas menghampiri Steven dan entah kenapa? Ada yang aneh dari penglihatannya, ada seseorang yang bersembunyi di balik tubuh sahabatnya itu seolah dia tidak ingin di lihat olehnya. Meira hanya nama itu yang jadi tersangkanya saat ini.
"Meira...? Ngapain kamu ngumpet di situ!" meski dia sedikit cemburu pada sahabatnya itu tapi dia juga tahu Steven tidak pernah memandang Meira sebagai perempuan dewasa justru Steven menganggap Meira itu masih seperti bocah kecil yang butuh di awasi dan Alando tidak memungkiri itu, Meira memang butuh pengawasan dari orang-orang yang peduli padanya karena kalau sampai Meira salah mendapatkan teman bisa-bisa kejadiannya seperti di hutan kemarin saat Meira menaburkan garam pada perempuan yang bahkan dia tidak mengingat namanya siapa.
Alando sebenarnya tidak masalah Meira berani melawan seseorang, tapi itu hanya berlaku saat dia harus membela dirinya sendiri bukan ketika sengaja ingin berbuat jahat, karena Meiranya adalah gadis yang baik dan Alando berharap selamanya akan selalu begitu, cukup dia saja yang jahat.
"Yahh... Meira ketahuan deh...!" ucapnya kaget.
"Ketahuan...? Oh... jadi kamu menghindariku dari tadi, hah...!" Ketus Alando, sebenarnya dia ingin marah tapi setelah melihat muka Meira yang sedikit takut Alando berusaha mengubah suaranya lebih lembut. Alando memang tidak biasa berbicara manis pada perempuan, satu-satunya perempuan yang bisa dia ajak bicara cuma ibunya karena dari kecil dia memang paling tidak suka berteman dengan anak perempuan.
"Kenapa menghindariku...?" tanyanya dengan nada lebih lembut.
"Meira masih malu." Ucapnya menunduk. Dia memang masih malu melihat muka kak Al Al nya itu.
Dan sepertinya Steven masih betah menjadi obat nyamuk diantara mereka, karena sampai saat ini dia tetap bertahan di tempat itu. Tidak seperti biasanya Steven sekepo ini pada hubungan romantis sahabatnya tersebut.
"Malu kenapa?" jujur Alando tidak mengerti apa penyebab Meira malu padanya atau mungkin ada seseorang yang mengejek Meira hingga dia malu seperti ini. Karena sebelumnya pun Meira sempat menghindarinya ketika ada seseorang yang mengejeknya meski sampai sekarang Alando tidak mengetahui siapa orangnya.
"Ya... malu, Kak Al Al kan sudah cium Meira di sungai. Padahal kemarin Meira sudah lupa tapi pagi tadi ingat lagi." Jawab Meira polos.
Alando cuma memejamkan matanya, sedikit kesal karena dia baru tersadar saat ini masih ada Steven yang mendengarkan omongan mereka dan kenapa juga Meira mengungkitnya lagi.
"O ow... Lan gue nggak nyangka loe berpikirnya cepat juga, padahal tadi gue kira hubungan kalian cuma gini-gini aja." Cengir Steven, tidak menyangka Alando bisa bersikap romantis pada Meira.
"Ckckk... sejak kapan loe terjangkit keponya duo CK?" Duo CK yang dimaksud adalah Christ dan Kenny, biasanya duo CK lah yang selalu kepo pada hubungan Mereka sedangkan Steven biasanya dia justru sangat cuek pada siapa pun.
"Sejak loe berdua hilang di hutan, gue penasaran..."
"Sudah sana loe, jangan ember!" usir Alando tidak mau mendengar kelanjutan omongan Steven yang dia tahu pasti cuma ngaco.
"Embernya dimana kak Al Al...?" tanya Meira bingung, karena dia tidak melihat ember di situ sejak tadi.
"Sudah hilang." Jawab Alando asal.
"Oh...!"
"Gue cabut. Meira hati-hati sama Alando." Steven dengan santainya langsung pergi dari sana tanpa peduli dengan tatapan kesal sahabat pemarahnya itu.
"Kenapa Meira harus hati-hati kak Al Al...?"
"Tidak apa-apa, ayo...!" ajak Alando menuju motornya, dasar Steven. Dia tidak seberbahaya itu.
"Kak Al Al akan mengantar Meira lagi? Tapi kan Radodo mau jemput Meira."
"Hemm... Kirim pesan pada Rado agar tidak usah menjemput!" suruh Alando, dan menarik Meira ke motornya.
Hampir dua minggu ini Alando tidak pernah memboncengi Meira lagi akibat kesalah pahaman kemarin, tapi hari ini dia kembali melakukannya. Rasanya ini adalah moment paling menenangkan saat dia tau Meira ada di dekatnya lagi setidaknya dia tidak perlu khawatir seperti kemarin-kemarin, ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Apa Meira sudah pulang dengan selamat, apakah Meira masih menunggu Rado di sana, apa Meira sendirian di tempat itu? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang memenuhi otaknya selama mereka berjauhan.
"Kak Al Al...?"
"Hmm...?"
"Kak Al Al masih masih marah sama Meira nggak..? Meira kan sudah jahat sama Karina."
"Enggak. Kamu tidak jahat, aku yang jahat."
"Kenapa kak Al Al yang jahat."
"Karena aku sudah memukul banyak orang, aku selalu bersikap kasar sama semua orang bahkan aku sudah membentakmu waktu itu." Alando Mengingat ingat apa yang sudah dia lakukan dan dia sadar kepribadiannya memang sangat jauh bertolak belakang dari pribadi Meira yang selalu nampak manis di matanya.
"Tapi buat Meira kak Al Al sangat baik, Meira kan sangat suka sama kak Al Al."
"Aku..."
"Kak Al Al Radodo kenapa di situ?"
"Apa...?
"Itu..." tunjuk Meira pada sekelompok orang di pinggir jalan. Sepertinya Rado mendapat masalah dengan beberapa preman.
Alando langsung menghentikan motornya di dekat mereka. Ada tiga preman yang mengelilingi Rado, sepertinya preman-preman itu ada dendam dengan Rado bukan cuma sekedar mau minta uang saja.
"Perlu bantuan...?" tanya Alando santai, dia tau anak songong seperti Rado pasti gengsinya besar. Dia tidak mau turun tangan kecuali Rado sendiri ingin dibantu karena kalau tidak anak itu pasti tidak mau terima.
"Tidak perlu, gue bisa mengatasi ini sendiri." sombongnya, Rado tidak mau diremehkan.
"Meira mau bantu, kasian nanti Radodo berdarah."
"Tenang aja dia lagi latihan taekwondo."
"Hahh...?"
"Buk... buk..."
"Hei... Kak Ale Ale bantu gue pliss-pliss, sakit ini."
"Bilang dari tadi!" Kini Alando yang menyombongkan dirinya. Di saat seperti ini baru tuh anak mau memanggilnya Kakak.
"Nggak usah ikut campur loe, ini urusan kami!" sahut preman-preman itu dengan wajah yang dibuat semenakutkan mungkin.
"Sekarang sudah jadi urusan gue, ayo sini kalau berani hadapin gue jangan beraninya keroyokan doang."
"Meira tutup matamu." Suruh Alando pelan. Dan untungnya Meira sangat penurut hari ini.
"Buuk..." Tiba-tiba preman-preman itu langsung menyerangnya dan sreet... Alando berhasil menangkis pukulannya dan berbalik menangkap tangan serta memelintir kedua tangan preman itu kebelakang dan bruk! Alando menjatuhkannya. Setelahnya pukulan pun dia tujukan pada preman satunya dan berhasil mengenai perut orang itu hingga jatuh dan menyerah minta ampun, sedangkan preman satunya malah kabur terlebih dahulu tanpa mau membantu kedua temannya. Mau tidak mau kedua kawanan preman itu pun ikut kabur dengan tangan serta perut yang masih sakit.
"Hei dasar preman banci loe semua!" teriak Rado ketika semua preman-preman itu kabur meninggalkan mereka.
"Beraninya sama anak SMA doang." Omel Rado.
"Makanya kalau tidak bisa berkelahi nggak usah cari masalah." Ejek Alando, apalagi kini muka Rado tampak memar-memar.
"Gue nggak cari masalah sama mereka tapi sama orang yang menyuruh mereka tuh."
"Oh jadi loe punya banyak musuh juga?"
"Juga...? Oh berarti kita sama dong kak? Sebelas dua belas." Cengir Rado yang entah kenapa tiba-tiba dia ingin bersikap sopan.
Sepertinya Rado sudah menemukan guru yang tepat untuknya.
"Meira sudah boleh buka mata nggak kak Al Al...?" Meira sudah menuruti perintah Alando tapi dia bosan terus-terusan menutup matanya.
"Iya..." Alando hampir lupa ada Meira di dekatnya.
Namun ketika Meira membuka matanya seketika dia jadi kaget melihat wajah adik menyebalkannya itu.
"Hiks... hiks... muka Radodo kenapa kayak gini, banyak merahnya. Kak Al Al... Radodo kenapa?" tanya Meira dengan air mata yang mengalir.
"Dia cuma latihan taekwondo Meira... entar juga sembuh." Bohong Alando, dia tidak menyangka Meira akan sangat peduli pada adiknya itu padahal yang dia lihat mereka berdua lebih sering perang mulut kalau sedang bersama. Meski Rado kadang lebih banyak mengalahnya.
"Iya, gue nggak apa-apa. Yang penting gue masih gantengkan?" cengir Rado dengan dua alis yang dia angkat. Seolah kejadian tadi tidak ada apa-apanya.
"Ya. Sudah ayo kita pulang?" tarik Alando pada tangan Meira dan membawa ke arah motornya.
"Tunggu dong kak Ale Ale masa Rado yang sakit gini ditinggalin begitu saja!" protes Rado.
"Tumben loe bersikap baik kayak gini?"
"Karena mulai saat ini gue setuju memanggil kak Ale Ale sebagai kakak ipar gue. Bagaimana kakak ipar?"
"Nggak usah! geli gue lihat sikap loe kayak gini."
"Ya sudah, tapi bantuin gue dong kak Ale Ale. Gue nggak mau pulang ke rumah nanti yang ada Ayah sama Ibu bisa marah besar lihat gue kayak gini." Mohonnya dengan wajah memelas.
"Huuhh... Loe menyusahkan juga ternyata."
"Iya. Radodo nyusahin." Ucap Meira mengikuti ucapan kak Al Al nya.
"Biarin." balas Rado sewot, "Awas ya kalau nanti kamu ngadu sama Ayah Ibu!" peringat Rado dengan ancaman.
"Meira mau ngadu...!" Antusiasnya. Biar Rado kena marah Ayah dan Ibu, pikirnya.
"Aku tidak akan mau mengantar kamu ke kampus lagi." Ancam Rado dengan mata melotot.
"Meira tidak jadi mengadu." Meira kembali lesu.
"Sudah bertengkarnya...?" sindir Alando.
"Sudah." Jawab mereka bersamaan. Kakak adik yang begitu kompak, Alando hanya bisa mengagumi tingkah keduanya.
"Oke. Loe bisa ikut gue pulang ke rumah." perintahnya pada Rado, "Meira ayo."
"Meira juga boleh ikut?"
"Enggak, loe tinggal di sini. Jaga nih jalan!" Rado memang usil, dia paling suka membuat kakaknya itu kesal.
"Berisik loe, ayo Meira." tariknya. Kalau membiarkan mereka berdua berdebat, ya tidak akan ada akhirnya.
Vote, like dan koment yaa...