Meira

Meira
BAB. 11



Sepulang kuliah, ZACKS berkumpul di base camp yang sudah empat bulan ini mereka gunakan, bukan sembarang base camp tapi tempat ini juga sebagai kantor tempat kerja mereka. Enam bulan yang lalu, Zaden sempat memikirkan membuat perusahaannya sendiri tentu saja sesuai dengan pendidikan yang dia jalani. Sebuah perusahaan yang berhubungan dengan teknologi digital di masa depan.


Awalnya Zaden cuma membicarakan pemikirannya ini dengan Alando, tapi berkat ide-ide jenius dan pemikiran Alando yang brilian dan pandangan modernnya, akhirnya terbentuklah tim ini. Tim yang juga isinya ZACKS. Tapi suatu hari mereka yakin akan merekrut orang lebih banyak dari saat ini.


Mereka ingin membuat perusahaan games dan aplikasi-aplikasi modern yang akan di gunakan di masa depan. Tapi tentu saja tidak mudah, mereka masih memerlukan banyak waktu untuk mewujudkannya. Terhitung dari tiga bulan yang lalu, dan untuk mewujudkannya mereka harus memiliki perencanaan-perencanaan yang mulai mereka kembangkan saat ini. Apalagi mereka juga masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan Teknik Informatika semester lima, tentu harus pintar-pintar bagi waktu.


Sebenarnya Zaden dan ketiga temannya minus Alando tidak perlu repot-repot membuat perusahaan, karena suatu hari toh mereka akan mewarisi perusahaan orang tua mereka, namun untuk saat ini mereka ingin mandiri dan memulai dari nol sesuai fashion mereka sendiri sebelum akhirnya, mau tidak mau di masa depan nanti mereka harus menggantikan posisi orang tua mereka. Kecuali Steven, setidaknya dia masih memiliki saudara laki-laki yang kemungkinan dialah yang akan menggantikan posisi orang tuanya.


Beruntung mereka memiliki Zaden yang memang memiliki jiwa seorang pemimpin dan Alando seorang programer jenius handal bahkan Alando memilki keterampilan seorang hacker. Jangan remehkan juga kemampuan ketiga temannya yang memang ahli dalam membuat software.


"Bagaimana loe sudah menentukan customnya?" Zaden menghampiri Alando yang tampak sibuk di depan komputernya.


"Hemm... loe lihat dulu deh." Zaden mendekati komputer Alando dan meneliti setiap desain menarik dan unik yang cocok untuk aplikasi custom yang akan mereka kembangkan.


"Oke. Kurasa ini menarik." Zaden memilih salah satu desain yang menurutnya sangat unik.


"Derrttt... Dertttt..." Alando mengambil handphonenya yang dari tadi terus berbunyi dan melihat nama pemanggil yang tertera.


"Gadis berisik".


"Klik"


"Kak Al Al...!" Alando memejamkan matanya dan sedikit menjauhkan handphonenya dari telinga, takut gendang telinganya rusak akibat suara teriakkan Meira.


"Gak usah teriak! Kamu kira aku budeg?" kesal Alando. Alando merasa lebih nyaman ngomong aku kamu dengan Meira.


"Hehee... Hehee... Meira kangen kak Al Al." sahutnya.


Ya ampun gadis ini bahkan tidak malu-malu mengungkapkan rasanya kepada pria yang dia suka. Alando hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun tak pelak membuat seorang Alando melengkungkan sedikit sudut bibirnya. Cuma sedikit loh ya.


"Sepertinya kamu sudah sehat." mendengar suara riang Meira sudah pasti gadis ini sudah tidak sakit lagi.


"Meira masih panas." adu Meira dengan suara manjanya berharap Alando sedikit mempedulikannya. "Kak Al Al jangan sedih ya?" percaya diri Meira muncul ke permukaan.


"Sepertinya kamu memang masih sakit?" ketus Alando yang Merasa Meira mengalami halu yang parah. "Tidurlah, ini sudah malam!" Klik.


Sambungan dia tutup, kalau meladeni Meira pekerjaannya tidak akan selesai-selesai.


Hari memang sudah menunjukkan jam 21.00 malam, namun pekerjaan mereka masih belum selesai. Alando memang sudah terbiasa tidur larut malam, karena biasanya dia harus bekerja di warnet yang buka hampir 24 jam. Tapi untuk tiga bulan ini, dia berhenti dari pekerjaannya itu dan di sinilah dia sekarang.


"Meira...?" tanya Zaden yang dari tadi memperhatikan interaksi Alando lewat handphonenya.


"Masih sakit...?" tanya Zaden kembali yang masih penasaran.


"Kurasa demamnya makin parah." tebak Alando, yang membuat Zaden melihatnya dengan pandangan bertanya. "Makin ngelantur tuh cewek." tambah Alando yang membuat Zaden sedikit paham. Yah... Namanya juga Meira.


"Oh... gue ngerti." sahut Zaden dengan senyum maklumnya.


"Gue kira tuh cewek nggak bisa sakit?" sahut Christ yang ikut nimbrung. "Emang bisa tuh virus menyerang Meira?" Meira kan ajaib pikir Christ.


"Loe kira Meira alien." sergah Zaden kesalnya.


"Siapa tahu?" Christ menanggapi cuek, memperhatikan layar komputernya dan meminum jus botolnya. "Duk, uhuuk.. uhuuk..." Christ tersedak akibat lemparan ballpoint yang mengenai kepalanya oleh Zaden.


"Rasain tuh akibatnya." ejek Zaden yang senang melihat Christ tersedak.


"Kurang piknik emang loe, untung nggak basah nih komputer gue!" Christ membersihkan percikan jus dari keyboard komputernya. Sedangkan yang lain cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan Christ dan kembali serius menyelesaikan pekerjaan masing-masing.


Beginilah suasana saat mereka sedang berkumpul, ada aja omongan, kejahilan dan pertengkaran kecil diantara mereka. Tapi itu merupakan hal biasa yang tidak akan merenggangkan persahabatan mereka.


Tepat jam 22.00 malam mereka baru membubarkan diri, tidak mudah memang untuk memulai sesuatu yang baru, akan ada banyak halangan kedepannya. Banyak perencanaan yang sudah mereka siapkan di masa depan, mungkin juga jatuh bangun harus mereka rasakan namun mereka sudah bertekad untuk mengembangkan usaha mereka ini menjadi perusahaan digital yang patut diperhitungkan.


Saat Alando sudah sampai di depan rumah, dia dikejutkan dengan seseorang yang sangat tidak ingin dia temui, menunggunya di depan rumah. Apa orang tua ini tidak tahu bahwa bertamu malam-malam itu tidak sopan? pikir Alando. Sayangnya itu cuma tersimpan di dalam kepalanya.


"Alan, kamu baru pulang?" Seorang laki-laki paruh baya yang terlihat semakin kurus dari terakhir kali dia lihat berdiri dari duduknya dan tampak ada kerinduan di senyum yang dia tampilkan di wajahnya. Di teras rumahnya memang terdapat dua kursi kayu dan satu meja kecil yang sudah ada sejak dia SMP tapi masih terlihat bagus.


"Saya sudah bilang, anda tidak perlu repot repot datang kemari?" Alando seperti biasa akan bersikap dingin terhadap laki-laki ini, Andre Garindra yaitu papanya. Seseorang yang pernah menjadi papa kebanggaan buatnya itu sudah menorehkan luka yang sangat mendalam.


"Tidak bisakah kamu memaafkan Papa mu ini Alan?" tanya papanya dengan wajah sendu yang sangat berharap untuk dimaafkan. "Papa menyesali perbuatan Papa dulu." tambahnya.


"Setelah mama meninggal, anda baru minta maaf?" tatap Alando kepada papanya yang cuma terdiam. "Apa itu bisa mengembalikan mama saya? Setiap malam mama menangis untuk anda, mama sakit sakitan gara-gara anda, dan sekarang anda baru minta maaf setelah wanita brengsek itu meninggalkan anda? JAWAB?" teriak Alando yang tidak bisa menahan emosinya lagi setelah sekian lama memendam amarahnya selama ini. Dia bahkan tidak peduli tetangga mendengarkan pertengkaran mereka.


"Papa..."


"Pergilah!" potong Alando, tangannya berusaha memasukan kunci dengan tangan gemetar dan membuka gagang pintu tanpa memandang papanya kembali, dan menghilang di balik pintu. Entahlah apakah papanya masih berada di luar, dia tidak peduli. Tidak semudah itu untuk memaafkannya kembali setelah dikecewakan bertahun tahun.


****


Vote, like dan koment yaa...