
"Please Din bantu aku untuk menggagalkan pernikahan mereka!" Gaby tidak punya cara lagi, minimal dia dapat bantuan dari anak tiri Om nya, siapa tau Dinda bisa membujuk Papanya kembali untuk membatalkan pernikahan mereka.
"Kalo itu aku nggak mau ikut campur, dibenci keluarga kalian saja aku sudah cukup stress apalagi kalau sampai Papa marah sama aku, belum lagi aku harus menghadapi amarahnya kak Alan nanti kalau dia tau aku sudah ikut campur membantumu menggagalkan pernikahan mereka, kak Alan pasti tambah membenciku. Jadi kamu usaha sendiri deh." Tolak Dinda, dia tau posisinya saat ini.
Kalau tidak ada papanya kak Alan mungkin dia tinggal di jalanan saat ini. Ibunya? Jangan ditanya lagi, ibunya itu tidak pernah peduli padanya bahkan sangat membencinya sedari kecil.
"Maaf Gab, aku masuk dulu. Aku harus menjaga Papa." Pamit Dinda, dia malas terus-terusan mengikuti kata Gaby, selama ini cuma Gaby yang mau menerimanya di dalam keluarga mereka karena itu Dinda selalu ikut apa kata temannya itu.
"Dinda mulai hari ini pertemanan kita putus." Ucap Gaby penuh amarah, dia tidak suka kalau apa yang dia ingin tidak bisa dia dapatkan.
"Terserah.
****
"Kak Alan, Meira... mau kemana?" sapa Dinda, saat mereka berpapasan di lobi rumah sakit. Sayangnya Alando terlalu malas untuk menyahut sehingga Meira yang menjawabnya.
"Meira dan kak Al Al laper, mau makan dulu. Dindin, mau ikut nggak? Nanti Meira traktir." Lagi pula tadi Meira sudah berjanji mau traktir Dinda, karena dia sudah mendapatkan cincinnya.
"Meira...!" tegur Alando, dia tidak suka Meira dekat dengan orang yang memiliki hubungan darah dengan wanita itu. Meskipun Dinda tidak salah, Alando tetap tidak menyukainya.
"Tidak usah, aku mau jaga Papa aja, kasian sendirian." Tolaknya halus, Dinda tau pandangan itu, ketidaksukaan Alando padanya terlihat jelas dan dia tau diri untuk tidak mengganggu mereka.
"Oh gitu..." polos Meira, tidak memahami situasinya.
"Ya sudah aku duluan ya?" pamitnya pada Meira dan kak Alan. Dan berlalu dari pandangan mereka berdua.
Alando Membawa Meira duduk di tempat yang tidak terlalu ramai pengunjung dan memesan beberapa makanan yang mereka suka.
"Hai aku boleh duduk di sini kan?" tanya Gaby, mengambil duduk di seberang Alando. Tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua.
"Boleh, tapi pesan makanannya sendiri aja yaa?" Suruh Meira, dan Alando cuma bersikap santai melihatnya.
"Kak Al Al makan ini aja ya?" Meira memberikan udangnya pada Alando dan menaruhnya di piring Alando.
"Dengar ya adik kecil, Alan itu nggak suka udang dia itu sukanya rendang buatan mama aku, mestinya kamu sebagai tunangannya tau banyak tentang Alan." Gaby bangga pada dirinya, dia sudah mengenali Alan dari kecil tentu dia tau apa kesukaannya. "Aku belikan rendang ya?" ujarnya lembut dan berdiri hendak membelinya.
"Tidak usah, gue nggak suka rendang lagi. Sekarang apa pun yang diberikan Meira itulah yang gue suka." Tutur Alando, dan menyuap udang yang sudah dikasihkan tunangannya tersebut dan memakannya. Kemudian menyuapi Meira ayam goreng kesukaannya.
"Kalau rendang Meira juga suka kok, kakak mau beliin Meira ya?"
"Ih ogah, ngapain aku beliin kamu, aku cuma mau beliin Alan!" ketus Gaby, semakin tidak suka melihat tingkah Meira.
"Tapi kak Al Al kan tadi bilang cuma mau makan apa yang Meira berikan, kalau Meira nggak makan rendang kak Al Al juga nggak mau makan rendang, iya kan kak Al Al?" tanya Meira dengan polosnya, sama sekali tidak ada maksud memanas-manasi atau jahat, Meira cuma mengatakan apa yang dia pahami dan dengarkan.
"Iya, aku cuma mau apa yang kamu makan." Tegas Alando, sebenarnya dia tidak tega berbuat jahat pada Gaby walau bagaimana pun dia teman kecilnya apa lagi mereka masih memiliki hubungan keluarga. Tapi dia juga tidak suka ada yang membuat Meiranya sedih nantinya walau itu berarti dia harus berbuat kasar tanpa harus menggunakan perasaannya.
Alando mengambil tisu dan melap bibir Meira yang sedikit berminyak dengan cinta, sengaja dia ingin menunjukkan pada Gaby kalau dia sudah terikat pada Meira dan tidak memberi kesempatan pada perempuan manapun dan memberi celah untuk masuk diantara mereka. Dia tidak mau seperti papanya yang tidak bisa setia, dia tidak mau seperti papanya yang terlalu baik sama orang lain hingga kebaikan papanya dimanfaatkan orang itu.
Dulu awalnya Papanya cuma membantu wanita itu mencari pekerjaan dan akhirnya mereka dekat dan selingkuh. Karena itu Alando tidak mau bersikap baik pada perempuan lain kalau itu cuma akan menjauhkannya dari Meira, lebih baik dia tegas dari awal. Untuk sekarang lupakan dulu ajaran mamanya yang mengharuskan dia bersikap ramah pada semua orang.
"Kak Al Al juga belepotan." Tawa Meira dan balik melap bibir Alando dengan tisu, dan menyuapkan makanan kedalam mulut kak Al Al nya.
"Kak Al Al harus banyak makan, biar sehat." Mereka seperti di dunia mereka sendiri tanpa mempedulikan Gaby yang semakin kesal melihatnya.
"Alan ingat nggak, waktu kecil kita sering main petak umpet?" Gaby tidak mau menyerah, dia akan mengingatkan Alan pada masa kecil mereka yang indah, bagaimana dulunya Alan begitu peduli padanya. "Dulu kamu juga selalu menjagaku." Lanjutnya.
"Waktu kecil Kak Al Al suka main petak umpat ya...? Iih Meira mau... nanti kita main ya kak Al Al?" minta Meira dengan wajah senangnya. Lagi-lagi mereka tidak peduli dengan gerutuan Gaby di dekatnya.
"Oh, itu permainan anak kecil ya? Seperti anak tetangga Meira, mereka suka main petak umpet. Terus permainan orang dewasa itu seperti apa kak Al Al?" tanya Meira penasaran.
"Nanti setelah kita menikah, kita akan sering bermain di tempat tidur Meira dan itu baru permainan orang dewasa." Gara-gara kesal sama Gaby, Alando lupa menjaga bicaranya dan pikirannya. Lagi pula dia cuma mau memberi contoh untuk Meira.
"Ihh, kalian berdua menyebalkan." Gaby dengan kesal langsung pergi dari sana dengan kesalnya sampai-sampai nama penghuni neraka dia sebutin satu-persatu. Membuat semua orang di sana pada heran dan tertawa melihat tingkah laku gadis itu.
"Dia kenapa kak Al Al?" tanya Meira kaget, tiba-tiba gadis itu marah-marah pada mereka.
"Mungkin dia lagi sakit perut." Sahut Alando sekenanya, bodo amatlah dia tidak peduli. Dia lebih peduli pada Meira.
"Oh gitu, pantes..." ucapnya lugu.
Padahal tadi Meira sudah mau bertanya lagi pada Alando tentang permainan itu tapi karena teriakan Gaby dia jadi lupa.
Jam 20.00 malam Alando baru bisa mengantar Meira pulang, dia memang meluangkan waktunya seharian ini untuk menemani papanya di rumah sakit karena besok dia harus bekerja dan mungkin cuma bisa menjenguk papanya itu di malam hari.
"Kak Al Al nggak mau singgah dulu?"
"Enggak, ini sudah malam. Titip salam aja sama Ayah dan Ibu." Sahut Alando, karena sejak pertunangan mereka Alando mengganti panggilannya kepada kedua orang tua Meira bukan Om dan Tante lagi melainkan Ayah, Ibu meski dia belum terbiasa.
"Ya udah, kak Al Al hati hati di jalan ya...?"
"Tunggu dulu." Alando meraih pinggang Meira dan berusaha menciumnya karena dia merindukan bibir gadis itu. Sudah dua hari ini dia tidak merasakannya.
"Ups" Meira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan saat Alando akan menciumnya padahal hanya sedikit lagi tapi digagalkan oleh Meira, "Ihh... Kak Al Al nggak boleh cium Meira lagi, nanti Meira hamil, Meira nggak mau bikin dosa." Kata Meira melakukan apa yang disuruh teman-temannya dan kak Kenny.
"Siapa yang bilang seperti itu?" kesal Alando, orang-orang itu cuma membuat Alando susah dan tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Awas aja mereka.
"Mimi, Mimit, Sansan terus kak Ken Ken."
"Kenny?" awas aja loe Ken, gue akan membuat perhitungan dengan loe nanti. Kesal Alando.
"Iya."
"Jangan dengerin mereka." Ketusnya.
"kena..." belum selesai Meira bertanya Alando sudah menyerang bibir mungil Meira, menciumnya dengan rakus. Jangan salahkan dia, salahkan bibir Meira yang terlalu manis hingga dia tidak bisa menghentikan dirinya.
Decapan-decapan seolah seperti musik yang mengiringi mereka diremang malam yang syahdu itu dan butuh waktu lama untuk menghentikannya. Kecupan di kening Meira menjadi penutup setiap Alando mengakhiri ciuman manisnya.
"Ihh kak Al Al Meira kan mau tobat, nanti dosa Meira tambah banyak." Ucapnya dengan muka yang hampir menangis.
"Bilang pada mereka aku yang akan menanggung dosanya." Tuturnya, tanpa rasa bersalah. Sudah dia bilangkan kalau dia bukan laki-laki baik seperti yang ada di luaran sana.
"Hahh...?" Meira tambah bingung.
"Sudah, kamu masuk sana." Perintah Alando, bisa-bisa dia terus menahan Meira di sini dan bikin dosa lagi kalau Meira tetap di dekatnya.
"Meira...!" tegur Alando.
"Iya, Meira masuk. Dadah kak Al Al..." lambai Meira dan segera menuju ke teras rumahnya begitu pun Alando yang segera pergi dari sana. Benar sih apa kata Meira itu. Makanya semakin cepat mereka menikah semakin baik dari pada dia terus berbuat dosa setiap hari, pikir Alando. Namun sayang saat ini dia belum mampu untuk bertobat.
Vote, like dan koment yaa...