Meira

Meira
BAB. 57



Sudah dua hari ini, diam-diam Zaden mengurus sebuah pesta, yang akan dia peruntukkan buat Alando dan Meira. Bukan cuma Zaden tapi ini juga kehendak dari ketiga sahabatnya, mereka kesal karena tidak bisa hadir di acara pertunangan Alando dan Meira, meski mereka memahami kondisi saat itu. Mungkin buat sebagian orang acara pertunangan bukanlah hal yang penting. Tapi buat mereka itu adalah moment awal kehidupan sahabatnya menuju kehidupan yang baru, langkah awal menuju kebahagiaan sebelum melangkah menemukan kebahagiaan di dalamnya. Lagi pula mungkin setelah Alando dan Meira menikah, mereka akan jarang berkumpul-kumpul dan berpesta seperti ini lagi, karena salah satu diantara mereka akan menuju kedewasaan dan memikul tanggung jawab besar dan tentunya tidak bisa bermain-main layaknya seseorang yang masih sendiri dan bebas.


Acaranya diadakan di tempat yang terbuka berhiaskan lampu-lampu yang menyinari gelap malam. Bukan acara pertunangan resmi, mungkin lebih tepatnya acara berkumpul melepas hari lajang yang akan diadakan dua minggu lagi. Mumpung Meira dan Alando juga belum masa pingitan jadi mereka masih bisa mengadakan pesta ini, yang cuma akan mengundang orang-orang terdekat dan sahabat-sahabat mereka berdua.


"Kak Zad Zad... Meira sudah datang." Ucap Meira ceria, tadi kak Al Al nya menjemputnya di kelas dan membawanya ke sini, karena ada hal yang ingin mereka bicarakan katanya. Padahal setiap hari juga mereka bicara, pikir Meira.


"Hai Meira..." Jawab Zaden dengan senyumnya yang menenangkan, Zaden memang ingin membicarakan pesta yang nanti malam akan mereka adakan. Suasana di sekitarnya nampak sepi cuma ada beberapa orang yang lewat, mereka duduk mengelilingi satu meja yang memang cukup untuk enam orang. Tempat duduk yang memang disediakan di taman kampus mereka.


"Kok cuma Zaden yang disapa, kami juga ada di sini Dora." Sudah jadi kebiasaan, di mana ada Meira di situlah Christ beraksi dengan sikap menyebalkannya. "Sungkem sama aku, minta maaf." perintah Christ bergaya sok berkuasa dengan memberikan tangannya.


"Oh iya, Meira lupa. Habisnya Meira hari ini males teriak-teriak di depan kak Kris Kris, soalnya tadi di kelas Meira sudah banyak ngomong. Meira, Mimi, Sansan dan Mimit lagi ngomongin pernikahan Meira, suara Meira sudah habis, jadi Meira sungkem aja ya." Sahut Meira dan akan menyambut tangan kak Kris Kris buat sungkem.


"Suara sudah habis aja kayak gini, gimana yang nggak habis?" Steven cuma bisa geleng-geleng kepala melihat Meira.


"Apaan, jauhin tangan loe. Enak aja, emang loe siapanya Meira?" tepisnya tangan Christ dengan kasar, Meira cuma boleh sungkem dengan dirinya dan kedua orang tuanya, batin Alando. 'Kenapa juga Meira harus sungkem sama sahabatnya Christ, siapa dia.'


"Gue ini kakak yang terpaksa, tau nggak kanjeng Mami gue tiap hari nyuruh gue buat nyulik nih anak, dan saking berbaktinya gue sama kanjeng Mami, terpaksa deh nih Dora gue akuin sebagai adik yang terpaksa." Jelas Christ dengan wajah kesalnya, kalau ingat sang Mami yang selalu membicarakan Meira dan ingin minta ketemu Meira.


"Hahaa... baru kali ini gue dengar judul sinetron adik yang terpaksa, perasaan selama ini cuma ada anak yang tertukar." Ujar Kenny mentertawakan sahabat absurdnya tersebut.


"Sekarang ada! Gue dan Dora pemerannya." Ketus Christ.


"Kak Al Al Meira nggak mau main sinetron, Meira juga nggak mau dipanggil Dora, tapi kak Kris Kris selalu aja panggil Meira dengan Dora. Meira kan nggak mau temanan sama monyet tapi Meira juga kangen sih sama tante mami kak Kris Kris." Adu Meira pada kak Al Al nya dengan berbagai mimik. Ada sedih, marah, bahagia, tertawa sesuai kata-kata yang dia jabarkan panjang kali lebar.


"Hahaa... aduuh Meira. Bisa nggak satu jam aja kamu nggak ngomong, perutku sakit Meira." Goda Kenny yang terus tertawa dari tadi gara-gara ucapan-ucapan ajaib dari mulutnya serta adanya dukungan dari muka Meira yang lugunya kelebihan dosis.


"Bisa kok, iya kan kak Al Al?" tanyanya minta dukungan.


"Nggak usah didengarin. Jadi kalian mau ngomong apa sama kami?" tanya Alando, kembali fokus pada tujuan mereka hingga disuruh berkumpul di tempat ini. Memang kalau sudah mengajak Meira bicara ditambah adanya Christ, mereka bisa kompak menjadi duo pengalih perhatian, kalau terus dibiarin bisa-bisa nggak kelar-kelar sampe malam.


"Gini Lan, Meira... Gue..."


"Aku... Kak Zad Zad..." potong Meira, dia nggak suka kalau orang-orang yang sudah dekat dengannya kembali memanggil gue-loe lagi.


"Iya, maksudnya kakak." Koreksinya sambil menggaruk-garuk kepalanya, ngomong sama Meira memang bikin Zaden kutuan, pikirnya. Kalau saja gadis lugu itu bukan Meira, gadis yang sudah dia anggap adik kecilnya, mungkin Meira sudah dia masukin dalam botol khusus kali.


"Kami sudah membuat pesta untuk kalian berdua, sebagai ganti acara pertunangan kalian minggu lalu. Berhubung kita juga sudah lama tidak kumpul-kumpul acara seperti ini, ya sudah sekalian aja kita jadikan ini moment berharga kita semua, bagaimana Lan, loe setujukan?"


"Lagi pula waktu itu, kita semua kan tidak berada di acara pertunangan loe Lan." Lanjut Steven, sebagai pertimbangan Alando agar mau menerima hadiah pesta kejutan dari mereka.


"Oke. Tidak masalah, lagi pula kalian toh sudah membuatnya." Kalau Alando menolaknya justru akan membuat sahabat-sahabatnya rugi besar, dan kesannya Alando tidak menghargai kerja keras mereka.


"Meira suka, Meira kan belum pernah datang ke pesta. Kecuali pesta ulang tahun anak tetangga Meira." Level Meira memang cuma sebatas itu, setiap ada undangan ulang tahun temannya di sebuah hotel atau cafe dan tempat hiburan malam, dia memang nggak pernah ikut. Orang tuanya terlalu khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada putri mereka.


"Benarkah...? Wah... seharusnya Meira kemarin ikut aja sama kanjeng mami gue ikutan pesta emak-emak sosialita." Ucap Kenny, setidaknya dia bisa terbebas dari paksaan maminya yang selalu mengenalkan pada anak-anak temannya.


"Acara seperti itu nggak cocok buat Meira, awas kalau loe berani mengajaknya ke acara itu." Peringatan dari Alando membuat Christ hanya cengir terpaksa. Bukannya Alando keberatan Meira mengikuti pesta seperti itu, dia hanya takut Meiranya berubah menjadi nyonya-nyonya pencinta pesta dan tidak sepolos saat ini lagi.


"Kita cuma undang orang-orang terdekat saja, beberapa teman sekelas dan keluarga." Lanjut Zaden dan mengambil undangan yang sudah dia persiapkan di dalam tasnya. Zaden adalah seseorang yang perfeksionis, segala hal sudah dia perhitungkan dan rencanakan dengan baik.


"Kak Zad Zad, Meira bolehkah undang Mimi, Mimit, Sany dan.." Meira mengarahkan pandangan pada gadis cantik yang lewat tidak terlalu jauh dari pandangannya, kemudian tersenyum "KAK SANTAN..." teriak Meira, memanggilnya kencang. Bahkan hampir semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Meira.


"Jangan teriak Meira." Tegur Alando.


"Meira... Kenapa harus dia?" ucap Zaden, entah kenapa beberapa kali ketemu si santan-santan itu justru membuatnya kesal. Apalagi pertemuan-pertemuan tidak sengaja mereka akhir-akhir ini. Di matanya perempuan cantik seperti Kara itu berbahaya, suka mencari kesempatan setiap menitnya.


"Kenapa, Kak Zad Zad nggak suka ya?" sedih Meira, karena dia sudah mulai menyukai Kara dan mulai menjalin pertemanan dengannya.


"Hati-hati, jangan terlalu benci nanti bisa jadi cinta, jaraknya kan cuma setipis kertas. Iya kan Meira?" tanya Kenny, menyindir Alando yang ada di sampingnya. Seingatnya, dulu Alando juga begitu kesal pada Meira tapi lhat sekarang dia seolah tidak bisa jauh darinya, dasar bucin amatiran. Ejek Kenny yang hanya bisa dia lontarkan dalam hati.


"Iya..." angguk Meira. "Kertas emang tipis, kak Ken Ken." Jawabnya mengiyakan pertanyaan kak Kenny. Sambil mengambil beberapa undangan ke tangannya untuk dia berikan pada teman-temannya termasuk Kara. Undangan cantik berwarna pink tapi bukan undangan pernikahan cuma undangan pesta biasa.


"Hahhh..." padahal Kenny sudah merasa bahagia, Meira bisa memahami maksud dari kata-katanya tapi malah kertas yang dibahas. Tadinya dia mau membuat Alando dan Zaden terpojok malah jadi gagal.


Vote, like komen ya..