Meira

Meira
Zaden dan Kara. 14



Sejak kejadian siang tadi Kara tidak bertemu lagi dengan Zaden, entahlah lelaki itu marah tentang apa padanya. Perasaan dia tidak melakukan kesalahan apa pun, atau apa kah Gina mengatakan hal-hal yang buruk tentangnya? Ah bodo amatlah, memang ini kan yang Kara harapkan, dengan begini Zaden tidak akan mengganggunya lagi.


'Tapi kok aku sedih sih?' ujar hati yang paling terdalam Kara. 'Lupakan Kara, lupakan. Dia memang tidak pernah serius padamu.'


"Kar kamu kenapa sih, tidak semangat gitu sejak tadi." tanya Zia, yang ikut duduk di sampingnya setelah mengantar minuman untuk pelanggan cafe mereka.


Pengunjung sedikit berkurang dibanding siang tadi, karena itu mereka bisa lebih bebas dan sedikit bersantai-santai terlebih dulu, lumayan lah sedikit bergosip dan istirahat sebentar menghilangkan lelah.


"Nggak apa-apa kok." sahut Kara, mana mungkin dia bercerita tentang apa yang dia rasakan saat ini padahal sebelum-sebelumnya Kara menolak tegas mengatakan kalau Zaden adalah kekasihnya apalagi sampai jatuh cinta pada lelaki angkuh itu.


"Beneran? Kamu sedang tidak marahan kan dengan pacarmu itu." selidik Zia, karena sejak tadi Kara lebih banyak diam.


"Hubungan kami tidak seperti itu, ah entahlah. Mungkin besok Zaden tidak akan mengganggu ku lagi, berarti aku bebas! ahh leganya..." ujar Kara terlihat bahagia, atau cuma terlihat bahagia, hanya hati Kara yang tau.


"Bahagiamu itu tidak terlihat natural tau nggak? Ya udah deh itu urusan kalian. Berarti nanti bisa kan temani aku muter-muter, kita kulineran seperti biasa." pinta Zia, berhubung mereka juga baru gajian. Soalnya sudah lama juga mereka tidak jalan bersama-sama lagi, sejak Kara pacaran dengan Zaden, dan temannya itu selalu dijemput oleh kekasihnya mereka sudah tidak bisa pulang baren-bareng.


"Oke." sahut Kara, mungkin kehidupannya yang kemaren sudah kembali seperti semula jauh dari gangguan Zaden.


****


Begitu pun dengan Zaden, sejak kejadian siang di kantin kampus tadi Zaden seolah menyimpan kekesalannya, dia terlihat murung dan melampiaskannya pada pekerjaan.


Zaden memang tenang dan dewasa dalam menyikapi masalah berbeda dengan Alando yang membuat aura sekitarnya menjadi menyeramkan.


Setiap ada masalah Zaden lebih banyak diam dan fokus pada pekerjaannya, entahlah bagaimana caranya cuma Zaden yang bisa. Karena Alando dan yang lainnya pasti tidak akan bisa fokus sebelum masalah mereka terselesaikan, pikiran dan emosi membuat mereka sulit untuk berkonsentrasi.


"Lan, Zaden kenapa sih? Setelah mengobrol dengan Gina, tiba-tiba jadi aneh gitu." Christ menghampiri Alando, karena biasanya Zaden memang lebih banyak membicarakan masalahnya pada temannya yang satu ini, wajar saja mereka bersahabat sejak SMA.


Alando cuma mengedikkan bahunya, "Dari tadi gue sudah nanya, tapi selalu dijawab tidak apa-apa." jawab Alando cuek.


"Kayak cewek aja." sahut Steven santai sambil meminum coffe lattenya dan kembali fokus pada laptop dan beberapa laporan di atas mejanya.


"Maksud loe Zaden PMS." sambut Christ.


Steven menatap sinis ke arah Christ. "Ckck... maksud gue, kalau cewek bilang tidak apa-apa di balik itu pasti ada apa-apanya, nggak beda jauh kan dengan Zaden? Memang kita sudah kenal Zaden berapa lama sih." jelas Steven, panjang lebar, menjelaskan pada Christ memang kudu harus detail, beda kalau sama Alando mereka ngobrolnya cuma menggunakan kode-kode singkat pasti sudah paham, maklum lah mereka berdua hampir mirip. Irit, padat dan jelas tanpa boros kata.


"Pantes saja tutup pulpen gue hilang terus." kesal Christ, sebelas dua belas dengan Alando, bedanya kalau Alando itu iblis, sedangkan Steven itu monster.


"Apa Gina meminta pertanggung jawaban dari Zaden?" celetuk Kenny tanpa memperhatikan muka-muka yang sedang murka terhadapnya.


"Loe mau mati!" balas Alando, dia tau Zaden seperti apa. Tidak mungkin lah Zaden melakukan hal itu dengan yang bukan pasangannya, dan setahu Alando mereka tidak pernah pacaran cuma rekan dan teman dalam berorganisasi. Dan kalau pun itu benar Zaden pasti akan bertanggung jawab dan bukannya lari dan menjalin hubungan dengan gadis yang baru.


"Hehee... itu kan cuma imaginasi gue doang." ucap kenny cengengesan dan kembali melanjutkan aktivitasnya dari pada harus berurusan dengan Alando.


"Imajinasi loe sangat buruk." cela Steven, berharap itu tidak akan pernah terjadi. Karena itu sama saja menghancurkan masa depan Zaden yang berusaha dia kejar, masih banyak impian dan ambisi yang ingin Zaden raih.


Sementara sahabat-sahabatnya sedang membahas dirinya di luar sana, Zaden masih memikirkan apa yang diucapkan oleh Gina.


Dia mengenal Gina sudah cukup lama, sejak mereka sama-sama masuk organisasi kampus dan itu sejak semester satu dan yang Zaden tau, Gina bukanlah gadis penyebar gosip apalagi suka memfitnah orang.


Tapi apa yang dikatakan Gina tentang Kara, memang itu lah yang Zaden prasangkakan dulunya terhadap gadis itu.


Zaden baru tiga bulan mengenal Kara itu pun cuma sebatas berpapasan beberapa kali dan pacaran pun terbilang sangat tiba-tiba dan baru hitungan satu minggu.


Ibaratnya Zaden sama sekali tidak terlalu mengenal Kara, asal usulnya, kepribadiannya bahkan orang terdekatnya saja cuma Zia yang Zaden tau, namun karena pesonanya itulah akhirnya Zaden ingin mendekat. Apa kah memang benar Kara menggunakan fisik cantiknya untuk mendekati laki-laki termasuk dirinya.


Zaden menarik napas dalam, sedikit frustasi. "Oke, jadi siapa yang harus ku percaya? Gina seorang teman yang sudah lama ku kenal atau Kara kekasihku yang baru satu minggu, aahh...!" Zaden kesal cenderung dilema.


Sebenarnya mudah untuk Zaden meninggalkan Kara begitu saja tapi perasaannya seolah tidak ingin menjauh, dia sangat menginginkan gadis itu di sisinya.


Mungkin untuk sementara Zaden harus menjauhi Kara dulu sampai perasaannya lebih baik atau mungkin saja setelah mereka menjauh perasaan Zaden mulai berkurang untuk Kara dan tidak seantusias saat ini, semoga saja ini memang cuma ketertarikan sesaat.


Vote, like dan koment.