Meira

Meira
Zaden dan Kara. 12



Karena terlalu lelah akhirnya Kara tertidur dengan lelapnya dan melupakan lelaki yang kini sedang menyetir di sampingnya.


Kara terlalu mengantuk hanya untuk sekedar membuka matanya, padahal lelaki yang kini telah mengklaim dirinya sebagai pacarnya itu perlahan memeluk tubuhnya dan tangan itu entahlah kenapa tidak bisa diam menelusuri setiap lekuk tubuhnya dan kini napasnya semakin sesak karena bibirnya pun kini menjadi sasaran kenikmatan dari lelaki itu, dia terus meluma* bibir Kara dengan panasnya, dan tiba-tiba ada cahaya dari mobil di depannya dan bruuk... mobilnya oleng, seketika Kara terjatuh.


"Buuk, aaw..." keluh Kara kesakitan, tapi ada yang aneh, karena Kara cuma merasakan lantai yang dingin dan keras dan cahaya yang mengintip dari balik tirainya. "Jadi itu tadi cuma mimpi." Kara merasa dia benar-benar konyol memimpikan hal yang vulgar tersebut dan tentunya dengan seorang Zaden, kekasih dadakannya.


"Oh, Tuhan." wajahnya terasa panas dan Kara berusaha menghilangkan bayang-bayang yang baru saja dilihatnya. "Ini pasti karena aku tidak baca doa." batin Kara.


"Duk... duk...!" itu bunyi gedoran pintu yang ikut berperan membangunkan Kara dari mimpi erotisnya. "Uh dasar, ini nih yang ganggu mimpi orang lagi... ups!" Kara menutup mulutnya. "Tobat Kara, tobat..." ucap kara bagai mantra.


'Siapa sih pagi-pagi datang ke rumah orang, ini kan hari minggu aku juga mau istirahat.' batin Kara menggerutu. Tapi tetap saja dia melangkah kan kakinya ke depan pintu meski dengan malas-malasan.


"Kreek..." pintu terbuka dan orang yang dia lihat adalah lelaki yang tadi mencium dan menggerayangi tubuhnya lewat mimpi.


Jangan-jangan Zaden memilki ilmu guna-guna, pikir Kara.


"Kenapa muka mu jelek gitu?" rambut berantakan, mata bantal, baju tidur yang kusut, benar-benar nggak ada anggun-anggunnya tapi kalau dilihat dari sisi positifnya sih, Kara lumayan sexy lah, jarang-jarangkan lihat Kara baru bangun tidur.


"Ka... kamu ngapain sih pagi-pagi datang ke sini?" gugup Kara, sambil merapikan rambut panjangnya dan tentu saja menutupi lehernya, takut kejadian kemaren lusa terjadi lagi ditambah dengan bayang-bayang mimpi indahnya barusan.


"Lagi pula ini tuh hari minggu, waktuku istrahat." sambung Kara.


Tatapnya Kara. "Temanin aku jogging." ucap Zaden singkat.


"Enggak, aku mau tidur." tolak Kara, dia masih ngantuk. Cuma hari minggu dia bisa puas tidur dan bermalas-malasan dalam kamar kontrakannya yang kecil namun nyaman.


"Ya sudah aku temanin." Zaden berusaha untuk menerobos masuk namun dihalangi oleh Kara.


"Enggak... Enggak...! Aku akan ikut, tetap di sini. Jangan berani masuk, buuk...!" pintu tertutup keras di depan wajah Zaden yang cuma bisa memejamkan matanya karena sedikit kaget dan bercampur emosi.


"Sepuluh menit tidak keluar, pintunya akan ku dobrak." teriak Zaden.


"Iya, bawel." sahut Kara.


Dengan kecepatan di atas rata-rata Kara membersihkan dirinya, mencari pakaian yang pas buat jogging dan sedikit polesan agar tidak terlihat pucat.


"Ikat rambut, oh tidak." Kara langsung membatalkannya, mengingat Zaden itu semesum apa. Setelah dirasanya dia siap barulah dia keluar dan kembali menghadapi Zaden.


"Sepuluh menit, aku siap." Kara kini sudah berada di depan Zaden yang dari tadi cuma bisa berdiri karena di teras kontrakan Kara sama sekali tidak ada kursi.


Zaden melihat jam tangannya. "Dua belas menit, kau melewatkan dua menit berhargaku." sahut Zaden dengan tampang sinisnya.


"Dua menit doang, memang apa yang bisa dilakukan dalam waktu dua menit." kesal Kara, lelaki di sampingnya terlalu ngeselin, batin Kara. Selalu Kara yang salah, padahal dia tidak minta diajak jogging, Kara lebih suka tidur di kasur yang walau pun tidak ada empuk-empuknya.


Zaden tersenyum misterius. "Kamu mau tau? aku bisa contohkan." balas Zaden dengan menggoda Kara.


Kara memutar bola matanya. "Tidak, aku tidak mau tau." dia tau apa yang dipikirkan Zaden, pasti ujung-ujungnya seperti mimpinya tadi pagi, oh tidak! Geleng Kara.


***


Tidak butuh waktu lama, kini mereka sudah sampai di kawasan yang biasanya dibanjiri pasangan-pasangan atau keluarga yang memang sedang berolahraga pagi seperti mereka juga.


"Ayo lari."


"Enggak ah, kamu aja yang lari! Aku bagian yang jalan aja, pemandangan seperti ini rugi kalau dilewatkan." tatap Kara dengan mata berbinarnya ketika melihat banyak polisi muda yang sedang berpatroli, entahlah mereka sedang apa. Yang pasti kapan lagi Kara bisa melihat mereka sepuasnya, apalagi Kara pernah berharap punya pacar seorang polisi, tapi itu dulu sebelum seorang Zaden menyerang.


"Apa yang kamu lihat?" Zaden menghalangi pandangan Kara, sehingga gadis di depannya sedikit cemberut. "Aku saja tidak puas." kesal Zaden. Kalau dibandingkan mereka jelaslah dia lebih tampan, batin Zaden percaya diri.


Tapi Kara seolah tidak bersyukur memilki kekasih sepertinya.


Salah lagi. "Hehee... Ayo kita lari." mau tidak mau Kara akhirnya berlari meski pelan, dia tidak suka olah raga, melelahkan dan bikin laper.


Dengan Zaden yang kini sudah berlari di samping Kara dan berusaha menyamakan langkah mereka, walau dia sedikit kesal karena Kara terlihat ogah-ogahan dan lamban.


"Ayo, cepat Santan! Jangan lamban." teriak Zaden memaksa Kara untuk berlari lebih cepat, bahkan anak kecil saja sudah mendahului mereka.


"Ini sudah yang paling cepat tau, ah aku mau pingsan." Kara berhenti di tengah jalan dan pura-pura kelelahan seperti orang yang sudah berlari puluhan kilometer.


"Jangan drama, ini bahkan tidak sampai sepuluh langkah." ejek Zaden, Kara benar-benar pemalas kalau sudah di suruh olah raga. "Bahkan sama nenek-nenek aja kamu kalah, cckck..." Tambahnya.


"Iya..." akhirnya Kara mengikuti langkah Zaden.


Dan mereka kembali melanjutkan larinya, dengan napas ngos-ngosannya Kara mengikuti Zaden yang langkahnya lebih besar. Tapi Zaden terpaksa mengalah dan memelankan langkahnya beberapa kali, karena kalau tidak dia akan kehilangan jejak gadis cantik itu, dan tentu saja akan ada banyak laki-laki yang akan senang hati mendekati pacarnya itu saat ini. Dan Zaden tidak suka apa pun yang berlabel miliknya dilirik orang lain.


Begitu pun dirinya yang dari tadi juga dilirik banyak cewek, karena itu lah Zaden tidak suka jogging sendirian dan memilih mengajak Kara karena pastinya banyak cewek yang mencari perhatian dan tidak segan-segan mengajaknya berkenalan. Setidaknya dengan adanya Kara mereka punya sedikit rasa malu untuk mendekati milik orang lain.


"Zaden, aku cape! Sumpah aku nggak bohong." pinta Kara dengan muka memelas sambil memegang tangan Zaden tanpa sadarnya. Dan ini pertama kali Kara memegang tangan lelaki angkuh itu.


"Ya sudah, duduk sini." tariknya tangan Kara dan duduk di kursi yang ada di bawah pohon.


"Memangnya kerja setiap hari itu bukan olah raga?" sewot Kara. Sambil memukul-mukul pelan kakinya yang pegal. Suasana di tempat ini memang menyenangkan apalagi melihat banyak orang yang mondar-mandir saling bercanda, mengobrol bahkan banyak anak kecil yang berlarian, tentunya di awasi kedua orang tuanya, dan Kara menyukai pemandangan seperti itu tapi tidak untuk berlari, dia tidak suka.


Karena setiap hari pun dia berusaha berlari dari kenyataan hidup membosankannya.


Zaden cuma mengabaikan gerutuan dari Kara dan membuka pesan group kampusnya.


"Kamu selingkuh?" tanya Zaden, memandang Kara penuh intimidasi.


"Memang ada yang mau sama aku?" tanya Kara penasaran. Karena selama dia kuliah hampir tiga tahun ini, cuma Zaden yang menjadikannya kekasih dan itu pun karena ulah Kara.


"Oh iya aku lupa! Yang mau sama gadis jelek seperti mu kan cuma aku." tawa Zaden mengejek Kara yang kini bibirnya sudah maju sepuluh senti saking marahnya. "Terus ini siapa?" tunjuk Zaden lewat foto di handphonenya.


Terlihat di foto itu ada dirinya dan lelaki kemaren yang mengajaknya kenalan, kalau tidak salah ingat namanya Ragil.


"Kan aku sudah cerita kemaren, dia yang ngajakin kenalan." jawab Kara santai tanpa melihat wajah Zaden yang mengeras.


"Terus kamu terima?" masih dengan mode kesalnya.


"Kan aku nggak enak, nanti kalau aku dibilang sombong terus aku dibully gimana? jari netizen itu jahat, tapi mendengar langsung omongan pedas orang-orang itu lebih menyakitkan." kilah Kara membela dirinya.


Zaden mendengarkan setiap ucapan Kara. "Siapa yang berani bully kamu?" tanya Zaden penuh selidik.


"Bisa saja kan, kamu nggak akan mengerti." ucap Kara berasa hidup itu tidak adil, sesombong apa pun Zaden tidak akan ada yang berani membully nya justru orang-orang akan semakin memujanya, beda kalau itu Kara.


"Terus, kenapa harus jabat tangan segala?"


ketus Zaden seolah menunjukkan dia memang tidak suka ada yang menyentuh Kara.


Kara semakin tidak mengerti dengan sikap Zaden. "Kamu kayak orang yang cemburuan saja." ujar Kara, dia berasa seperti pacar yang diposesifin. Zaden bisa membuatnya berharap lebih, dan Kara takut kalau dia sampai jatuh cinta pada Zaden dan tiba-tiba lelaki itu akan membuangnya.


"Siapa yang cemburu? Tidak akan. Aku hanya tidak suka pacarku di pegang-pegang lelaki lain." elak Zaden, dia menganggap barang miliknya tidak boleh dipegang siapa pun.


"Ya sudah kalau begitu." Kara ingin menjauh dari Zaden, entahlah ada rasa marah yang dia rasakan ketika Zaden memberikan jawaban seperti itu.


Tariknya lengan Kara cepat. "Awas kalau kau berani menyukainya!" ancamnya, Zaden tidak rela kalau sampai itu terjadi.


Meski banyak orang berjalan di sekitar mereka, tapi sepertinya mereka lebih fokus pada kesibukan mereka sendiri dari pada mengurusi drama romantis saat ini yang sedang berjalan.


"Kalau aku melakukannya?" tantang Kara, hanya karena kesal diatur-atur dia jadi lupa sifat Zaden yang tidak suka ditantang.


Entah bagaimana prosesnya yang pasti sekarang Kara sudah berada dalam dekapan Zaden, lelaki itu menahan pinggang Kara dengan kedua tangannya sehingga Kara tidak bisa lepas. Kara panik, dia tidak suka jadi tontonan. "Zaden, lepasin! Iya, aku tidak akan melakukannya." bujuk Kara, dia malu kalau orang-orang menatap ke arahnya.


Zaden ingin tertawa melihat muka merah Kara, tapi dia sedang ingin memberi pelajaran pada Kara. "Makanya jangan memprovokosi ku." ejek Zaden dengan senyum menawannya.


Kara berusaha lepas dan hanya bisa tertunduk. "Iya, maaf!" ucap Kara mengalah. "Lepasin please, malu dilihat banyak orang." rayu Kara lagi.


Zaden cuma mengedikkan bahunya. "Mereka punya kesibukan mereka sendiri, kenapa harus ikut campur urusan orang." jawab Zaden seenak jidatnya, apa dia lupa sedang tinggal di negara apa.


'Pasti belum pernah ketemu emak-emak rempong nih Zaden, pasti Zaden juga belum pernah diberi siraman akhlak dari tangan pedas dan suci netizen.' pikir Kara.


Rasanya Kara sudah ingin menangis. "Ayolah Zaden, kau maunya apa sih?" berontaknya, Kara merasa frustasi menghadapi Zaden sedangkan lelaki di depannya malah sangat tenang, apa Zaden tidak pernah takut apa pun.


Seperti mendapat lampu hijau. "Satu ciuman dan kau akan kulepas." jawabnya sambil menatap wajah cantik di depannya.


"Tidak, cium aja tuh cewek di pinggir jalan." dasar bos gengster mesum, maki Kara.


"Ya sudah, kita akan seperti ini sampai ada satpam yang datang." tantang Zaden.


Kara tidak punya pilihan, Oh Tuhan maafkan aku. "Cupp..." ciuman singkat di pipi Zaden, memang di mana lagi? Cuma itu yang bisa Kara lakukan.


"Sudah kan, sekarang lepas." dengan muka yang merah menahan malu bahkan Kara tidak bisa memandang wajah tampan yang sedang menyunggingkan senyum lebarnya itu.


"Oke, tidak buruk! Ayo pulang." ajak Zaden, karena tiba-tiba ada banyak bunga seperti di iklan pewangi yang kini mengelilinginya, dan tangan itu tidak bisa untuk tidak menggenggam tangan Kara meski beberapa kali gadis itu berusaha melepasnya secara halus.


"Bisakah kita makan dulu, aku sangat lapar."


"Oke, kita makan di rumahmu."


"Tidak jadi, kurasa aku tidak lapar lagi.


"Baiklah..."


****


Vote, like dan komen. Terima kasih.