Meira

Meira
Zaden dan Kara 7



Kampus terlihat mulai rame, beberapa mahasiswa mulai berdatangan untuk melakukan aktivitas kampusnya, begitu pun dengan perempuan muda yang tiap harinya terlihat ceria itu, tampak hari ini dia begitu bersemangat untuk datang pagi-pagi diikuti sang suami yang justru terlihat sebaliknya.


"Lihat kan, kampus masih sepi? Siapa yang kamu tunggu di pagi seperti ini?" gerutu Alando yang kemudian menarik Meira duduk di taman kampus yang biasa mereka datangi.


"Udah mulai rame kok, tuh..." tunjuk Meira pada satu atau dua mahasiswa yang berjalan menuju gedung kampusnya. "Meira kan lagi nunggu teman-teman Meira buat selesain tugas kemaren." jelasnya kemudian.


"Tapi teman-teman kamu aja belum datang." sahut Alando, bukan apa-apa dia masih ingin menikmati paginya bermesraan bersama istrinya itu tapi Meira malah bergegas ingin cepat-cepat berangkat ke kampus padahal waktunya masih banyak sampai jam kuliah dimulai.


"Nggak apa-apa, Meira nunggu." ujarnya sambil memonyongkan bibirnya cemberut.


"Sini." tariknya tangan Meira untuk lebih mendekat padanya, "Cupp... cupp..." diciumnya bibir manis menggoda itu, perempuan yang selalu membuat Alando tersenyum sekaligus kesal secara bersamaan.


"Iih... Kak Al Al, ini kan kampus! Nanti kalau ada yang lihat, Meira bisa malu." omelnya, kalau ini di rumah tentu saja dia suka dan sampai saat ini Meira kadang-kadang masih suka malu-malu kucing kalau dapat ciuman dari suami tercintanya.


Alando hanya tersenyum melihatnya, "Biar saja! Kita kan sudah menikah." ucapnya cuek, dia tidak terlalu peduli dengan pandangan orang di sekitarnya, yang namanya manusia pasti ada yang suka dan ada yang membencinya, ya sudah biarin saja, pikir Alando.


"Hai Kak Dardar..." sapa Meira saat melihat Daren seniornya yang paling galak waktu ospek dulu.


"Dardar, loe pikir gue telur dadar. Jangan SKSD ya Meira, gue kagak kenal sama loe!" sewot Daren. Diantara mahasiswi ospek lainnya Meira memang paling ngeselin, ditambah satu temannya yang suka ikut-ikutan juga, satu hari ospek saja semua panitia dibuat naik darah terutama Daren yang menjadi pemandu kelompok mereka saat itu.


"Oh... Kak Dardar pasti lupa, tapi kok masih ingat nama Meira sih?" tanya Meira penasaran.


"Bodo amat." ucapnya yang ditujukan pada Meira. "Lan gue pergi dulu ya? Istri loe ngeselin." Daren mengangkat satu tangannya berpamitan pada Alando.


"Hemm..." balasnya dengan serupa.


Alando tidak marah, dia hanya menanggapinya dengan tersenyum, sudah biasa melihat mereka berdua tidak akur dan itu sejak Meira pertama kali ospek.


Apalagi Alando dan Daren pun sudah berteman sejak Zaden mengikuti organisasi kampus menjadi ketua senat, karena semua teman Zaden di organisasi itu juga berteman dengan Alando dan ketiga temannya yang lain, meski tidak seakrab dengan ZACKS.


Dan sudah satu tahun yang lalu Zaden berhenti dari kegiatan organisasi kampusnya itu karena ingin fokus membuat perusahaan impian mereka berlima.


"Meira selalu dibilang ngeselin, padahal kan enggak ya kak Al Al." adunya pada Alando. Dan Alando memang selalu mengiyakan omongan Meira, karena itu Meira tidak pernah takut untuk mengadu pada suaminya tersebut.


"Iya, tapi kamu bawel." sahut Alando sambil mencubit pipi Meira yang masih chubby.


Alando semakin jatuh cinta setiap harinya pada istrinya tersebut, meski kadang Meira juga membuatnya kesal dan hanya bisa mengelus dadanya tapi sejak awal dia sudah berjanji untuk menerima kekurangan Meira dan selalu memahaminya.


Mereka berdua saling bercanda, masih terlihat seperti orang yang baru pacaran dan bukannya pasangan menikah.


****


Berbanding terbalik dengan dua orang yang ada di dalam mobil tersebut, tidak ada canda atau pun tawa.


Selama di perjalanan, mereka berdua tidak banyak bicara dan suasananya pun sedikit canggung. Apalagi Kara yang memiIih banyak diam dari pada dia mendapat masalah lebih besar. Dan kini Zaden sudah memarkirkan mobilnya di parkiran kampus.


Kara sedikit kesusahan membuka sabuk pengaman mobil Zaden yang terlihat mewah tersebut, maklumlah dia memang sedikit kampungan dalam hal ini, dan itu dia akui. Menaiki mobil pribadi bisa dihitung dengan jari, dan mobil Zaden adalah mobil mewah pertama yang dia naiki, biasanya paling mobil standar yang harganya juga standar dan itu pun cuma taxi online atau mobil olivia dan Papanya.


"Zaden, bisakah kau lepaskan ini? Aku tidak bisa." ucap Kara menunjuk seatbeltnya, sedikit malu dan semoga mukanya tidak terlihat merah saat ini.


"Yang mana? Bajumu?" goda Zaden dengan muka tanpa dosa dan lagi-lagi membuat Kara gugup.


"Da... dasar lelaki mesum." dengan perasaan gugup dan malunya Kara mencoba membuka seatbelt tersebut sendiri tapi tetap saja susah.


"Dan sayangnya lelaki mesum ini kini sudah menjadi pacarmu." balasnya dan tertawa ketika melihat muka Kara yang pucat pasi.


"Sini." Zaden mendekat dan menghadap Kara, berusaha meraihnya.


Jantung Kara tiba-tiba berdetak kencang. "Jangan dekat-dekat." tangan Kara mencoba menjauhkan Zaden darinya, dan sedikit menunduk. Sedikit risih, karena Kara tidak terbiasa dengan ini, sejak SMA dia bahkan sangat jarang berteman dengan laki-laki dan kalau ada pun, itu cuma pertemanan biasa.


"Klik." seatbeltnya kini sudah terbuka dan membuat Kara lega, namun belum usai kelegaannya Zaden kembali menghimpitnya dan meraih pinggang gadis tersebut hingga membuat Kara kaget dan tidak sengaja menekan tombol kaca jendela hingga terbuka.


Dengan tatapan tajamnya seakan menghujam jantung Kara, Zaden kembali berusaha mencium gadis itu lagi, seakan bibir Kara itu adalah candu bagi Zaden dan ingin kembali merasakan untuk kedua kalinya, bahkan ketiga dan seterusnya.


Kara jadi menyesal, kenapa dia harus membuka maskernya tadi, seharusnya dia ingat kalau lelaki di sampingnya ini adalah iblis penggoda mesum yang nggak ada ahklaknya dan sayangnya sangat tampan serta pencari kesempatan.


Kara berusaha lepas dari Zaden tetapi kini tangannya dikuasai oleh lelaki tersebut hingga yang bisa dia lakukan hanya memejamkan matanya reflek, bukan karena pasrah tapi karena takut dan gugup menguasai seakan napasnya bisa saja berhenti tiba-tiba, bibir itu semakin dekat dan..."


"STOP...!!" teriakan seorang gadis yang memang sudah familiar di telinga dua orang yang berada dalam mobil tersebut, kaget, malu, lega, dan beribu rasa syukur yang terucap dari mulut Kara.


"Hahh... gagal deh bikin videonya."


Vote, like dan koment.