
"Siapkan presentasi kalian minggu depan! Selamat siang." tutup Pak Tio setelah selesai memberikan kuliahnya.
"Iya Pak." seru mahasiswa kelas mereka.
Kemudian satu-persatu teman-teman satu kelasnya mengikuti jejak Pak Tio keluar dari kelas, masing-masing memilki tujuannya.
Hingga tersisa Kara dan Zia yang memang lebih suka keluar lebih akhir dan mendahulukan yang lain.
"Kar, kamu belum cerita tentang tadi malam ya!" itu pernyataan dan bukan pertanyaan. Zia ternyata masih ingat akan pesannya tadi malam. Dan jujur Kara benar-benar malas membahasnya, Kara takut ini akan menjadi konsumsi warga kampus, tau sendirilah posisi seorang Zaden itu seperti apa? Meski banyak yang takut dan segan tidak dapat dipungkiri Zaden merupakan salah satu idola kampus yang paling diincar apalagi Zaden pernah menjabat sebagai presiden mahasiswa yang menambah kewibawaannya di mata cewek-cewek kampusnya.
Meski tidak semua orang bisa mendekati Zaden dengan mudah, bisa dikatakan Zaden seperti memberikan batas pada orang-orang di sekitarnya, dan kesan pertama yang akan mereka lihat dari lelaki tersebut yaitu sombong dan angkuh, dan faktanya memang seperti itu untuk sebagian orang.
"Cerita apaan?" tanya Kara seolah tidak mengerti.
"Pura-pura lupa lagi." kesal Zia. "Kalian beneran sudah jadian?" lanjut Zia, semakin Kara menghindari pertanyaannya semakin Zia penasaran dan ingin tau. Bahkan kini dia melupakan perutnya yang minta diisi.
"Tau ah, aku juga bingung." jawab Kara, dibilang pacaran kesannya Kara merasa seperti seseorang yang terpaksa pacaran, tidak ada cinta diantara mereka yang ada cuma sekedar ketertarikan fisik. Dibilang tidak pacaran, tapi nyatanya Zaden menyatakan kalau mereka memang pacaran dan kepemilikan atas dirinya, bahkan Zaden sudah berani mencium dirinya.
"Bingung kenapa? Zaden terlalu hot! Hareudang... hareudang." nyanyi Zia sambil kipas-kipas wajahnya dengan tangan untuk menggoda temannya yang bodoh akan cinta itu.
Padahal dirinya juga sama bodohnya, tapi ya begitu lah, mengejek orang lain lebih menyenangkan dari pada mengejek dirinya sendiri.
"Kok nyebelin sih?" sungut Kara, membicarakan Zaden memang bikin kesal.
Kara berharap Zaden tidak terlalu mengganggunya setiap hari, biar dia fokus pada kuliah dan pekerjaannya, kehadiran Zaden mau tidak mau membuat Kara banyak berpikir. Dia tidak mau mendapat masalah dengan cewek-cewek centil yang merasa merekalah yang berhak di posisi Kara saat ini.
"Baru diomongin, sudah nongol orangnya." ucap Zia yang sedikit tidak percaya, faktanya seorang Zaden ketua dari ZACKS kini adalah pacar dari temannya yang sering tidak dianggap dalam kelasnya. Bagaimana reaksi Olivia dan Rena ya, kalau mereka mengetahui ini. Karena setahu Zia dua cewek tersebut suka sekali membuat Kara susah tapi untunglah mereka sudah out dari kampus.
ZACKS benar-benar membuat mereka tidak betah berada di kampus, ada saja ulah yang mereka buat untuk mengerjai dua gadis sombong itu.
"Apa?"
"Tuh lihat di depan pintu." tunjuk Zia dengan lirikan matanya. "Ya sudah, aku tidak mau ganggu kalian." Zia bangkit dari kursinya dan pergi dari kelas meninggalkan Kara yang sedikit bingung.
Lelaki itu dengan santainya menghampiri Kara yang jelas-jelas masih kesal padanya, tanpa menghiraukan Zaden, Kara memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Kara jelas-jelas mengabaikan kehadiran sang kekasih dadakannya.
"Mengabaikan ku sama saja dengan menentangku!" ucap Zaden dingin dan memilih duduk di kursi depan Kara.
Ruangan itu hanya ada mereka berdua, sehingga Kara lebih mudah untuk membalas setiap ucapan Zaden.
"Siapa yang menentangmu, dan apa aku harus selalu antusias setiap kali melihatmu?" sahut Kara, dia tidak suka sikap boss yang dimiliki Zaden tersebut. Selalu memaksakan apa yang dia mau dan suka.
"Bagaimana kalau aku menentang?" tanyanya, iseng-iseng berhadiah. Siapa tau Zaden lagi mode malaikat dan tiba-tiba ada secuil niat untuk melepasnya dan memberi ampunan.
"Seperti yang sudah kubilang, kau dan temanmu itu akan ku buat keluar dari kampus ini. Bahkan mungkin akan ku buat kalian tidak bisa kuliah di mana pun." sahut Zaden santai dan memandang Kara yang tambah kusut, muka ditekuk dan entah dilipat berapa tapi anehnya tetap terlihat cantik.
"Ancam aja terus."
"Sejak lahir takdirku memang mengancam orang-orang lemah seperti kalian." ejeknya, dan tangannya tiba-tiba gatal untuk melepas ikat rambut Kara, hingga rambut panjang sepunggung nan cantik itu terurai mempesona.
Sejak pertama melihat Kara, rambut panjang itu selalu terikat asal-asalan.
Awalnya biasa tapi lama-kelamaan Zaden malah tergoda dengan ingin mencium leher jenjang gadis itu, rasanya Zaden tidak rela membagi pemandangan indah tersebut dengan kaumnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" seketika tatapan mata mengarah pada Zaden yang terlihat senang.
Kara berusaha bangkit dan ingin mengambil ikat rambutnya tersebut tapi seketika ikat rambut tersebut berpindah pada kantong celana lelaki tampan tersebut, dan Kara tidak sebodoh itu untuk mengambilnya kembali.
"Kau tidak ingin mengambilnya?" goda Zaden. Zaden bahkan merasa ini bukan dirinya yang biasa, Zaden bukan lah lelaki yang pandai menggoda perempuan apalagi bertingkah mesum dan kekanak-kanakan seperti saat bersama Kara.
Apa karena Kara merupakan gadis yang mudah ditindas, berbanding terbalik dengan kebanyakan cewek yang dekat dengannya selama ini. Rata-rata mereka yang mendekatinya adalah perempuan berkelas yang memang menyukainya apalagi mereka juga bukan dari kampung seperti Kara.
"Haahh..." tariknya napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya, menghadapi Zaden memang memerlukan energi dan kesabaran.
"Tidak perlu." ucapnya dan mencari ikat rambut lainnya yang dia simpan di dalam tas dan kembali mengikat rambutnya asal-asalan seperti biasa.
Dan itu tidak luput dari pandangan Zaden, leher jenjang dan putih yang tampak menggodanya. "Kau ingin mengundangku ya?" sinis Zaden, jangan sampai dia jadi bucin seperti Alando. Itu tidak cocok untuknya, Zaden hanya tergoda dan itu wajar karena dia laki-laki normal, dan tidak bisa dipungkiri Kara memang cantik dengan kesederhanaannya.
"Mengundang ke mana?" tanya Kara bingung, perasaan dia tidak ngomong apa pun tentang undang-mengundang.
"Cupp...!" bibir itu melekat tanpa peringatan di leher Kara dengan sedikit jilatan beberapa detik dan rasanya seperti sengatan listrik yang membuat Kara geli sekaligus merinding. Parahnya lelaki itu tampak bahagia tanpa ada sedikit pun merasa bersalah.
'Benar-benar lelaki mesum tak tau malu.' maki Kara dalam hatinya yang paling terdalam.
***
Vote, like dan koment.
Maaf ya baru bisa up hari ini, ini juga baru sembuh, jadi kalau pendek maklumi ya, masih nge blank.