
Hari yang dinanti telah tiba di mana hari ini mereka akan pergi camping ke suatu tempat yang memang aman untuk di datangi, yang pastinya bukan camping di halaman rumah. Mereka memilih tempat di pegunungan yang memang sering didatangi orang-orang untuk bercamping.
Pesertanya ada sepuluh orang, Zaden, Alando, Christ, Kenny dengan seorang cewek yaitu pacar barunya Adelia, kemudian ada Steven, Meira, Sany, Ami dan terakhir Mita.
Tadinya teman-teman Meira menolak untuk ikut karena mereka takut dengan ZACKS namun karena Meira yang terus merengek agar mereka mau ikut terpaksa deh mereka akhirnya juga mau ikut, lagi pula kasian juga kalau membiarkan Meira sendirian.
Kini mereka berkumpul di depan kampus, titik pertemuan mereka. Tidak banyak yang di bawa cuma tenda, alat masak, bahan makanan dan obat-obatan selain itu untuk masing-masing paling mereka membawa beberapa baju dan jaket serta kamera untuk berfoto-foto dan selimut untuk menangkal rasa dingin saat malam hari tiba. Mereka memutuskan untuk camping cuma tiga hari jumat sampai minggu, berhubung hari jumat tanggal merah sedangkan sabtu tidak ada kuliah jadilah mereka berangkat.
"Kak Al Al..." senyum Meira merekah saat melihat kak Al Al nya yang sekarang tambah ganteng dengan kaca mata hitamnya. Namun senyum Meira seketika hilang tergantikan oleh muka cemberutnya saat kak Al Al nya melongos begitu saja tanpa sedikit pun menyapa Meira bahkan melirik saja tidak, kemudian langsung masuk ke dalam mobil yang tadinya dikendarai oleh Zaden.
"Oh ya kenalin, ini Adelia pacar gue, dia juga akan ikut sama kita." Kenny mengenalkan pacar barunya ke teman-temannya. Jangan panggil Kenny kalau tidak berganti-ganti cewek tiap minggunya.
"Hai... semuanya?" Adelia menyapa ramah pada semua teman-teman Kenny.
"Kak Sashasa nggak ikut?" tanya Meira pada Kenny, Karena sebelumnya Kenny juga bersama perempuan yang bernama Sasha kemudian mengenalkannya pada teman-temannya sebagai pacar, apalagi pada saat itu Meira sedang berada di sana dan kebetulan mereka juga satu kampus. Jadi Meira taunya pacar Kenny ya Sasha.
"Siapa Sasha?" tanya Adelia melirik ke arah Kenny, dia merasa curiga pada pacarnya itu.
"Hahaa... Mampu*" ejek Christ, sedangkan yang lain cuma menahan ketawanya.
"Meira lihat deh Alando ada di sana." tunjuk Kenny pada Alando yang sudah berada di dalam mobil Zaden. Dia sengaja untuk mengalihkan perhatian Meira. Biasalah Meira sangat mudah dialihkan fokusnya, apalagi kalau itu berhubungan dengan Alando.
"Meira sudah tau kok, kan Meira sudah lihat!" polos Meira.
"Oh kirain Meira nggak ingat lagi mukanya Alando." sahut Kenny yang berhasil mengalihkan perhatian Meira. Sedangkan Meira cuma menatap Kenny bingung, mana mungkin Meira lupa wajah kak Al Al nya yang ganteng.
"Oke, kita berangkat sekarang." seru Zaden kepada semua teman temannya. "Kalian ikut mobil saya saja." suruh Zaden dengan tatapannya menuju ke arah teman-teman Meira.
"Iya kak." seru mereka dan mulai memasukkan tas-tas mereka ke bagasi mobil Zaden.
"Kalau Meira dimana?" tanya Meira bingung, karena kak Zaden tidak memintanya untuk ikut dalam mobilnya "Meira nggak mau ikut mobil kak Ken ken dan kak Kris kris nanti Meira bisa ikut sesat." dia ingat pesan Kak Al Al nya, jangan dekat-dekat apalagi mendengarkan kata-kata mereka berdua, karena mereka berdua sesat.
"Apa... kami! sesat?" tunjuk Kenny pada dirinya dan Christ.
"Awas aja ya Meira kalau nanti kamu yang akan kami sesatin di hutan?" ancam Christ dengan pelototannya yang kesal difitnah sesat oleh Meira.
"Sebelum loe sesatin Meira, gue duluan yang akan sesatin loe di hutan sana bersama genderuwo." ancam balik Zaden pada Christ. Sedangkan Alando cuma mendengarkan pembicaraan mereka, sebenarnya dia juga kesal dengan ancaman Christ tapi dia tahu itu cuma candaan, tidak mungkin Christ tega melakukannya pada Meira.
"Yaelah, bercanda doang gue mah jangan horor dong ancamannya. Lagi pula Meira itu kan jelmaan Dora kalau nyasar tinggal bilang 'katakan peta' ketemu deh jalannya." canda Christ dengan kekehannya.
"Loe yang jadi Bootsnya, cocok!" gantian Zaden yang mengejek Christ. Boots adalah monyet yang selalu bersama Dora, dan kelakuannya miriplah sama Christ.
Meira menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nggak mau jauh-jauh! Meira mau dekat kak Al Al meski kak Al Al lagi marah sama Meira." kini muka Meira berubah sedih lagi.
"Nanti juga baik, ayo!" ajak Zaden masuk ke mobilnya.
Mereka cuma menggunakan dua mobil biar praktis, Mobil Zaden diisi enam orang. Zaden di kursi kemudi dan Alando ada di sampingnya serta Meira, Ami, Sany, dan Mita yang ada di kursi belakang.
Sedangkan mobil Kenny cuma diisi empat orang, Kenny di kursi kemudinya dan di sampingnya ada Adelia dan di kursi belakang ada Steven dan Christ yang tadi terus mengomel melihat Kenny pamer kemesraan sedangkan Steven memilih memejamkan matanya serta menutup telinganya dengan headphone dari pada harus mendengarkan dua temannya yang terus bicara nggak jelas.
Tidak terasa mereka sudah sampai di tempat pemberhentian, untuk masuk ke dalam tempat percampingan memang tidak bisa membawa mobil masuk selain medannya yang tidak mungkin bisa dilewati oleh mobil, kawasan ini juga sangat dijaga kelestariannya dari kerusakan, karena itu untuk melanjutkan masuk ke dalam kawasan ini mereka memang harus berjalan kaki. Lumayan jauh buat orang-orang yang tidak suka olah raga tapi berbeda buat orang-orang yang terbiasa berolah raga mungkin itu cuma perjalanan singkat.
Kawasan itu memang sering digunakan untuk tempat bercampingnya para pecinta lingkungan atau untuk sekedar melepas kejenuhan dengan sumpeknya perkotaan, karena tempatnya juga terkenal dengan pemandangannya yang indah dan tersembunyi.
Dari situ bisa terlihat bukit-bukit yang memanjakan mata, pohon pinus yang mengelilingi tempat itu serta pemandangan yang sangat indah karena ditumbuhi banyak bunga-bunga liar dan katanya di tempat itu ada danau-danau cantik bahkan ada air terjun yang tidak jauh dari sana serta ada kabut awan yang hanya bisa terlihat saat pagi hari.
"Oke. Dari sini kita akan jalan kaki ya. Para cewek-cewek jalannya hati-hati." ingatkan Zaden.
"Iya kak" jawab mereka bersamaan, patuh pada perintah Zaden.
Zaden seperti biasa dia akan berjalan paling depan untuk memimpin, diikuti Kenny dan pacarnya, kemudian teman-teman Meira dan Christ sebagai pengawas mereka dan paling belakang ada Steven dan Alando untuk berjaga-jaga. Namun karena lelah, apalagi kaki Meira yang tidak terlalu kuat untuk berjalan jauh, perlahan dia mulai melamban, dan entah karena lekah juga sehingga teman-temannya pun tidak menyadari kalau Meira tertinggal di belakang, untungnya ada Alando yang terus memperhatikan gerakan Meira. Hinga ketika Meira mulai berhenti berjalan begitu pun Alando yang ikut menghentikan langkah kakinya di samping Meira karena khawatir.
"Kak Al Al Meira cape, kaki Meira sakit." adunya dengan muka yang memelas pada Alando yang dari tadi cuma memandangnya diam.
"Yasudah aku gendong." Alando akhirnya luluh juga, dia tidak bisa melihat Meira sakit apalagi harus meninggalkannya di jalan ini begitu saja, dia tidak akan bisa.
"Asiik... Meira mau digendong." dengan muka cerianya Meira menaiki punggung Alando dan berpegangan di lehernya tentu saja tidak sampai mencekik leher kak Al Al nya.
Sedangkan Alando cuma berdecak dan geleng-geleng kepala dengan tingkah Meira yang justru sangat dirindukannya. Ada rasa senang dan gugup menghinggapinya saat ini, namun ada hal yang harus diketahuinya juga sebelum Alando memutuskan apakah dia tetap akan bersama Meira atau kah dia harus menjauhinya, tapi Alando juga bingung harus memulainya dari mana dan apa yang harus di lakukannya sekarang untuk mengetahui kebenarannya. Apakah dia cuma harus mempercayai apa pun yang dikatakan Meira.
Ada banyak pergolakan dalam diri Alando, yang pasti saat ini dia hanya ingin menikmati moment kebersamaannya dengan Meira yang ada digendongannya. Entah apa yang di katakan Meira sedari tadi dia sama sekali tidak menangkap apa pun, dia hanya fokus berjalan.
"Kak Al Al tau nggak Meira itu kangeeen banget, kak Al Al masih marah ya sama Meira? Meira salah ya? Kak Al Al jangan jauhin Meira lagi...!" Meira terus mengatakan isi hatinya selama seminggu ini namun Alando sama sekali tidak memberi tanggapan apa pun. Meski begitu Meira tetap berbicara, dia sudah sangat bahagia bisa sedekat ini lagi pada kak Al Al nya.
Alando mengarahkan wajahnya kesamping menatap wajah cantik Meira yang mungkin tidak disadarinya sama sekali kalau wajah mereka sekarang sangat berdekatan atau jangan-jangan Meira juga tidak mengerti dengan hal seperti ini, karena sebagai laki-laki Alando bahkan sangat ingin mengecup bibir merah Meira saat ini juga. Yah, seandainya dia seperti laki-laki di luaran sana yang mencari kesempatan dalam kesempitan atau mungkin laki-laki kurang ajar yang memanfaatkan keluguan Meira dengan mengatas namakan cinta. Tapi sayangnya dia tidak seperti itu, Alando terlalu menyayangi Meira hingga tak mau merusaknya.
"Meira jauhkan wajahmu!" perintah Alando ketus serta tatapan tajamnya seperti orang yang lagi marah. Ya, Alando memang marah saat ini, marah karena Meira seakan sedang menggodanya. Menggoda imannya yang mulai rapuh. Dan penggoda imannya itu adalah gadis lugu yang ada digendongannya saat ini, yaitu Meira.
Vote, like dan coment ya...