Meira

Meira
BAB. 58



Malam pesta terlihat meriah, teman-teman Alando dan Meira sudah berdatangan begitupun saudara laki-laki Meira yaitu Rado dan tentu saja ditemani kedua temannya Dito dan Zaki yang bahagia bisa diundang ke pesta seperti ini. Maklum saja pesta yang biasa mereka datangi cuma pesta ulang tahun, kawinan dan sunatan anak tetangga.


Tadinya Meira sudah membujuk Ayah dan Ibunya untuk ikut datang ke pesta namun mereka menolak karena katanya ini pesta untuk anak muda bukan orang-orang tua seperti mereka jadinya ya cuma Rado yang ikut. Begitu pun Alando yang tidak mengundang keluarganya satu pun, karena Alando tidak merasa memiliki kedekatan dengan mereka lagi, terutama sepupu-sepupunya, mereka sudah sangat jauh dan Alando bukan seseorang yang mudah menerima pertemanan.


Mereka bertiga yaitu Rado, Dito dan Zaki berdiri kagum di depan meja-meja yang menyediakan makanan-makanan serta kue-kue yang sering mereka lihat di TV dan medsos. Makanan restoran-restoran mahal dan cafe-cafe kekinian yang jarang mereka makan atau malah mungkin tidak pernah sama sekali.


"Waw... Kakak ipar loe keren Do, bisa buat pesta seperti ini. Seharusnya tadi gue bawa rentang mama gue biar bisa bawa pulang makanan-makanan ini." Zaki nampak ngiler melihatnya seolah makanan-makanan itu memanggilnya untuk dimakannya.


"Apaan bawa rentang, malu-maluin aja. Lihat dong penampilan-penampilan tamu-tamu di sini, jangan sampai kita terlihat kampungan. Entar aja selesai pesta, tenang aja gue sudah siapin beberapa bungkus plastik buat bawa tuh makanan." Bisiknya pada kedua teman-temannya, sambil mengawasi sekitarnya yang memang banyak dihadiri teman-teman kuliah Alando dan Zaden serta teman kerja di kantor mereka.


"Pesta ini bukan kak Ale Ale yang bikin tapi tuh..." tunjuk Rado pada kumpulan laki-laki berpakaian formal dan mewah dengan jas mahalnya yang memperlihatkan mereka bukan orang biasa tapi orang-orang yang luar biasa kaya, "Mereka sahabat-sahabat kak Ale Ale." Jelas Rado, yang ikut kagum melihat penampilan mereka.


"Oh..! Itu bukannya kak Kenny yang waktu itu kita temui di mall kan?" tanya Dito, sangat beruntung mereka bisa bertemu lagi, batin Dito.


"Iya, entar gue mau caper deh sama kak Kenny, siapa tau dia mau adopsi adik cowok." Zaki membayangkan hidupnya bagai putra mahkota di drama-drama yang bikin halu.


"Adopsi loe jadi adik! Nyadar woii... yang benar tuh adopsi loe jadi babu." Sewot Dito, sahabatnya Zaki memang pengkhayal tingkat tinggi, udah jatuh berkali-kali tetap nggak ada kapoknya juga.


"Kalau kita ngomong terus, kapan makannya nih? Udah gue mau makan sepuasnya." Tanpa menunggu kedua temannya Rado mengambil piring dan mendatangi semua stand makanan dan memenuhi kedua piringnya, bahkan dia tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.


***


Alando masih berkumpul dan mengobrol dengan keempat temannya dan menoleh ke arah Meira yang nampak cantik dengan gaun selututnya berwarna putih hadiah darinya. Alando sengaja membelikan gaun itu untuk dipakai di pesta ini dan senada dengan jas yang dia pakai. Meira duduk cantik dengan temannya yang dia ketahui bernama Sany, gadis incaran Christ namun sayang sepertinya belum ada perkembangan berarti dalam hubungan mereka. Terlihat Sany itu gadis yang cuek dan tidak terlalu suka dengan lelaki usil seperti Christ.


Sepertinya kedua teman Meira yang lainnya belum terlihat ada di pesta ini, karena saat ini mereka cuma berdua, "Gue mau temui Meira dulu." Ucap Alando pada keempat sahabatnya tanpa sedikit pun memalingkan wajahnya dari Meira.


"Oke, lagi pula ini pesta kalian. Nikmatilah." Senyum Zaden, memberi kebebasan untuk sahabatnya itu bersama tunangannya.


"Hemm... Oh ya Christ..." tolehnya, "Loe temanin tuh teman Meira." Ucap Alando dan beranjak pergi menuju ke tempat Meira duduk. Tadi mereka bertiga memang berangkat naik mobil jemputan Zaden, hingga dia dan Meira tidak memiliki obrolan yang khusus. Maklum mereka berdua harus menjaga perasaan dua jomblo, agar tidak ada perasaan yang tersakiti.


"Kalau itu sih nggak perlu disuruh, sungguh gue ikhlas lahir batin." Susulnya kemudian menuju tempat yang sama dengan Alando dengan muka yang lebih cerah. Beberapa hari ini Christ memang masih mengejar Sany meski selalu dicuekin olehnya.


"Dasar Christ, dengar nama Sany aja cepat!" omel Kenny, dia masih menunggu kekasihnya Adelia. Meski gadis itu terbilang judes dan kadang sedikit sombong, nyatanya kalau dia sudah mengenal orang itu, maka dia akan bersikap sangat peduli meski gengsi untuk mengakuinya. Dia belum tau apa hubungannya kali ini dengan Adelia akan bertahan lama yang pasti untuk saat ini dia menikmatinya dan cukup nyaman.


"Kak Al Al..." sambut Meira dengan senyum indahnya.


"Sudah makan?" tanya Alando saat menghampiri meja Meira dan membelai lembut rambut hitam panjangnya. Meira dengan segala pesonanya mampu menyihir pandangan Alando tanpa bisa melirik perempuan manapun di sekitarnya. Meski saat ini banyak perempuan yang mencuri pandang penuh minat padanya dikarenakan jas mahal berwarna putih yang saat ini di kenakan Alando menambah kesan ketampanannya.


"Belum, cuma makan kue. Kan Meira nungguin kak Al Al." Sahutnya manja. Memeluk tubuh kak Al Al nya yang berdiri di samping kursinya dengan mata memandang ke atas, karena posisi Meira yang masih duduk di kursinya.


"Ueekk... aku mau muntah Meira." Ledek Sany yang sekarang memandang kemesraan mereka dengan geli. Sany memang paling anti melihat kemesraan dua sejoli yang dilanda badai cinta.


"Sayang nanti aja ngidamnya setelah kita menikah." Cengir Christ yang berusaha menggoda Sany. Tak peduli dengan matanya yang kini sudah melotot dan siap menyemburkan lava panas dari bibir indahnya.


"Eee... ngidam itu untuk orang lagi hamil kan kak Al Al?" tanya Meira penasaran, soalnya dia sering dengar obrolan tetangganya. Tapi Meira bingung saat Sansan justru balik melotot padanya. Sansan kan selalu bilang nggak boleh 'Gitu' sebelum menikah, tapi kok Sansan ngidam.


"Hemm... Udah nggak usah mikirin mereka. Ayo, kamu harus makan." Tarik Alando tanpa mau mendengar penjelasan sahabat Meira itu. Lagi pula biarlah mereka bisa lebih dekat dengan kepergiannya dan Meira.


"Meira...! Kamu nggak boleh percaya ucapan kak Christ." Ucap Sany gelagapan, masalahnya sahabat lolanya itu selalu menelan mentah-mentah perkataan apa pun yang didengarnya, tanpa memahaminya terlebih dahulu. Berbeda dengan teman-temannya yang lain dan tau yang mana bercanda yang mana fakta.


"Kak Christ ngapain sih ngomong kayak gitu di depan Meira? Meira pasti salah paham deh, aku nggak mau tau, pokoknya kak Christ harus jelasin sejelas-jelasnya pada Meira." Kesalnya, menatap Christ dengan pandangan murkanya.


"Sayang? Ngapain sih panggil aku kayak gitu! kita nggak ada hubungan apa apa ya, kak." Tegas Sany yang semakin emosi tingkat tinggi menghadapi tingkah lelaki di depannya, "Dan jangan merayuku lagi, geli tau nggak? Iih..." Gidiknya. Mengingat kata-kata gombalan yang diberikan Christ.


Sany berharap kedua temannya cepat datang, tadi mereka memang sudah menelpon katanya akan sedikit terlambat karena macet, berhubung ini malam minggu di mana hampir separuh manusia di kota pergi hang out menikmati malam.


"Ucapan itu adalah doa, dan saat ini kita hanya belum ada hubungan apa-apa tapi besok siapa yang tau." Ucapnya percaya diri. Ini pertama kali mereka bisa bicara banyak dan dalam satu meja namun justru ini adalah moment paling langka yang bisa dia miliki. Tinggal bagaimana membuat Sany terbiasa dengannya dan sepertinya Christ perlu hati dan muka baja untuk menghadapi Sany dan mendapatkan perhatiannya.


"Terserahlah." Ketusnya, toh percuma dia mau bicara apapun Christ tetap mengabaikan peringatannya.


***


"Kak Al Al... Radodo dimana sih, bagaimana kalau hilang?" takutnya, dari tadi dia terus melihat ke sekelilingnya namun tidak dia lihat dimana pun. Meira tetap melangkah mengikuti di sampingnya sedangkan tangannya dari tadi terus digengam Alando dan akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Meira.


"Rado tidak akan hilang, dia tau jalan pulang. Paling saat ini dia menikmati makan dengan teman-temannya. Jadi nggak usah dipikirkan lagi."


"Oh gitu...? hihii... Meira lupa." Tawanya, Rado kan pintar dan tau jalan nggak kayak dirinya, batin Meira.


Alando menatap Meira dan menyelipkan rambutnya ke balik telinga, entah kenapa hari ini Meira tampak lebih cantik dengan make up tipis menghias wajahnya. Tampak polos namun sedikit dewasa dari biasanya apalagi dengan bando melekat di kepalanya justru membuatnya lebih manis.


"Kak Al Al kok lihat Meira kayak gitu, Meira cantik ya?" tanyanya polos dengan senyum malu-malu dan salah tingkah karena tidak sedetik pun Alando mengalihkan pandangannya.


"Hemm... sangat cantik, ayo kita ambil makan dulu." Pujinya dan kembali mengajak Meira menghampiri stand makanan dan minuman berbagai variasi, entah berapa uang yang harus di keluarkan sahabat-sahabatnya untuk ini, meski dia tau ini bukanlah apa-apa untuk mereka tapi tetap saja Alando tidak enak karena sudah merepotkan mereka.


Mereka mengambil makanan dan membawanya ke meja yang di tempati Zaden dan Steven, mereka terlihat asik mengobrol dan mengindahkan para cewek yang kagum melihat mereka tapi sayangnya tidak ada satu pun yang berani menyapa atau pun mendekat, diundang aja mereka sangat kegirangan jarang-jarang mereka bisa menghadiri pesta yang diadakan ZACKS. Meskipun akhirnya mereka kecewa karena ternyata pesta ini untuk merayakan hari pertunangan Alando, salah satu anggota ZACKS paling menakutkan sekaligus mempesona, yang sudah dilaksanakan sebelumnya.


"Kak Zad Zad dan kak Stip tip kok nggak makan?"


"Kami sudah makan dari tadi Meira." Sahut Zaden dan meneguk minumannya.


"Ya udah makan lagi, temanin Meira." Suruh Meira sambil melihat dua orang di depannya.


"Hahaa... kau mau perut kakak meledak." balasnya, perutnya mana bisa menerima lagi, sudah terlalu banyak makanan yang masuk ke dalam perutnya dari tadi.


"Meledak...?"


"Sudah Meira, cepat makan." Tegur Alando dan menyuapi Meira makanannya, kalau nggak begini Meira tidak akan berhenti bicara. Satu suap, dua suap dengan sabar Alando menyuapi Meira hingga banyak pasang mata yang menoleh dan iri pada hubungan mereka.


"Lan, loe mau pamer kemesraan di depan gue?" sinis Steven, dengan mata menatap kesal serta kedua tangan besedekap di dadanya, "Berhenti main suap-suapan di depan gue." Lanjutnya.


"Kak Stip tip mau disuapin juga ya?" tanya Meira dengan polosnya.


"Hahhh... gue perlu napas." Steven beranjak berdiri menjauh sementara.


"Hahaa..." Tawa Zaden.


***


Vote, like dan koment yaa...