
Erat, itulah yang dirasakan Alando. Meira terus memeluknya tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Sungguh dia senang mendapatkan pelukan dari Meira tapi ini membuatnya semakin salah tingkah dan Alando akan semakin sulit menahan perasaannya untuk Meira. Cinta? ya itulah yang sekarang dirasakannya untuk gadis yang sedang memeluknya ini dan kini dia sudah menyadarinya.
"Duhh romantisnya, kan jadi iri masa babang tampan gini nggak dapat pelukan juga sih!" goda Christ melihat keromantisan pasangan di depannya yang lagi dilanda asmara.
"Tuh peluk aja pohon di luar sana! siapa tahu mbak kuntinya kasihan sama loe dan berubah jadi perempuan cantik." sahut Steven sadis, sengaja sih dia pengen nakut-nakutin Christ yang parnoan dengan hal-hal mistis.
"Yah Steve jahat loe, bawa bawa horor sih!" Christ bergidik sendiri membayangkannya, awas aja saat dia tahu kelemahan Steven pasti dia akan balas dendam.
"Meira udah dong! kamu nggak malu dilihatin banyak orang?" Alando mencoba melepaskan pelukan Meira namun bukannya lepas Meira malah memeluknya semakin erat.
"Kan Meira cuma memeluk kak Al Al bukan orang lain, Meira senang kak Al Al menang. Dari tadi Meira terus berdoa semoga kak Al Al dan kak Zad Zad bisa menang pertandingan." ucap Meira dengan terus memeluk kak Al Alnya tanpa mau melepasnya.
"Oh so sweet, harus diabadikan nih...!" Kenny segera mengambil handphonenya dan mengambil foto mesra mereka secara diam diam. Dia tahu seperti apa Alando itu, paling anti yang namanya kamera. Entar dia taruh aja nih foto di IG.
"Nggak enak Meira, aku juga gerah ini." bujuk Alando dan untungnya berhasil, perlahan Meira melepas pelukannya meski dengan muka cemberut dan mata yang masih berair karena tadi ikut menangis.
"Kenapa menangis?" tanya Alando, dia baru tahu kalau Meira dari tadi menangis.
"Iya. Kita kan menang bukan kalah Meira, seharusnya kamu bahagia dong." sambung Zaden yang heran melihat Meira dengan mata berair.
"Tadi dua orang di sebelah Meira menangis, soalnya idolanya Rico kan kalah dari kak Al Al. Terus Meira jadi ikutan menangis." tutur Meira menjelaskan kronologisnya kenapa dia bisa ikut menangis.
"Ya ampun Meira, seharusnya kamu itu mentertawakan mereka. Ingat mereka adalah musuh." Christ masih kesal dengan Rico yang sudah bermain keras dan arogant. Beruntung pemenang nya adalah tim dari kampusnya, jadi sedikit terobatilah rasa kesalnya.
"Sesat loe! jangan dengarin dia." perintah Alando pada Meira dia tidak suka Meira membenci orang seperti dirinya. Dia suka Meira yang polos tanpa ada rasa benci dan jahat yang melekat pada dirinya."
"Oh... Kak Kris kris sama seperti Kak Ken ken, sesat ya?" dulu kak Al Alnya juga pernah bilang kak ken ken itu sesat. Jadi tidak boleh dipercaya.
"Uhuuk... uhuuk..." Kenny tersedak minumannya, masa dia juga dikatain sesat sih. Kalau Christ sudah jadi rahasia umum dia itu emang sesat.
"Yah... Lan, loe ngomong apa sih tentang gue ke Meira?" Kenny tidak terima, dia bukan sesat cuma playboy. Baiknya Tuhan padanya memberi muka ganteng, ya harus di manfaatin lah!"
"Kenyataan!" ucap Alando dan berlalu mengajak Meira keluar, karena di dalam terlalu banyak laki-laki yang masih asing dengan Meira. Dia tidak mau orang salah tanggap tentangnya.
"Kamu tunggu aku di sini, aku harus ganti baju dulu." suruh Alando yang cuma di angguki Meira patuh tanpa embel-embel cerewet.
Cukup lama Meira menunggu Alando di luar gedung basket, duduk di sebuah kursi taman yang sudah tersedia di sana, namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampirinya, tanpa permisi langsung memeluk tubuh Meira, hingga membuat Meira kaget dan berontak kesal pada orang asing di depannya sekarang.
"Ih jangan peluk-peluk Meira." kesal Meira dan memukul laki-laki itu dengan tasnya.
"Meira ini aku, Reno." tunjuk laki-laki itu pada dirinya seolah-olah Meira akan senang bertemu dengannya lagi.
"Meira nggak kenal kamu, sana pergiii." usir Meira mendorong laki-laki asing di depannya itu yang ngaku-ngaku kenal sama dia.
"Meira aku Reno, kita satu SMA dulu dan aku..."
"Iih..., Meira kan sudah bilang nggak kenal ya nggak kenal." Meira makin kesal dibuatnya. Apalagi setelah main peluk-peluk seenaknya, jadilah Meira tambah kesal dengan orang di depannya itu.
"Oke, mungkin kamu nggak ingat lagi sama aku, tapi asal kamu tahu, aku sangat merindukan kamu Meira. Tiga tahun ini aku berusaha mencari keberadaan kamu."
Dulu setelah Meira di bawa ke rumah sakit, Reno juga ikut menyusul tapi cuma lima hari berkunjung dan dia harus mengikuti kedua orang tuanya ke Bandung setelah itu dia tidak tahu lagi keberadaan Meira. Begitu pun Ami yang tidak pernah mau menerima telponnya dan malah mengganti nomornya. Saat dia menunggu di sekolah SMA nya pun, Ami seolah menghilang karena sekalipun mereka tidak pernah bertemu lagi. Dan akhirnya Reno harus menyerah mencari tahu tentang keberadaan Meira dan sekarang seakan takdir mempertemukannya kembali, tentu dia tidak akan membuang kesempatan ini.
"Tapi Meira rindunya cuma sama kak Al Al, bukan kamu! Meira nggak mau." takut Meira berharap kak Al Alnya cepat datang.
"Dulu kita sangat dekat dan..." apakah Meira lupa dengannya karena kecelakaan waktu itu pikirnya dan siapa Al Al? apakah laki-laki yang bernama Alando tadi yang sudah mengalahkannya di pertandingan basket. Tidak, dia tidak akan menyerah kali ini.
"Kita pacaran, kau dan aku saling mencintai. Bahkan sampai sekarang kita masih pacaran, dan tidak ada kata putus."
"Bohong, kamu bohong sama Meira."
"Kamu hanya lupa karena kecelakaan itu. Ini... Lihatlah foto saat kita bersama, aku selalu menyimpan foto ini." bohongnya dan memperlihatkan foto-foto yang masih di simpan di galeri handphonenya, padahal itu adalah foto saat mereka mengikuti lomba sains antar SMA dan mereka terpilih sebagai wakil kelas sebelas dan dua belas.
"Ada apa ini...?" tanya Alando, kesal dengan orang yang berada dekat Meira apalagi kini Meira menangis.
"Apa yang loe lakukan hah...?" Alando hendak memberi pelajaran pada orang tersebut, tapi dia ingat ada Meira di sini. Meira tidak boleh melihatnya melakukan kekerasan pada orang lagi, cukup satu kali saat pertama Meira memergokinya memukul orang sebelum mereka saling mengenal.
"Bukan urusan loe, ini urusan kami. Loe nggak ada hubungan dengan ini." sahut Reno tidak suka dengan orang yang ada di depannya.
"Urusan gue kalau itu menyangkut Meira." Alando mengepalkan tangannya berusaha untuk meredam emosinya yang kian memuncak.
"Loe siapanya Meira? bukan siapa-siapanya kan. Gue pacarnya Meira." aku Reno. Tidak peduli dengan tangisan Meira.
"Kak Al Al Meira nggak kenal dia, Meira nggak mau."
"Loe dengar sendiri kan? Meira nggak kenal sama loe!" Alando mendorong dada Reno untuk menjauh dari Meira namun ditepis begitu saja oleh Reno.
"Kami memang sudah lama tidak bertemu, gue harus tinggal di Bandung dan selama ini kami LDRan. Ngerti kan maksudnya? Tapi sekarang gue sudah balik lagi ke sini. Jadi thanks sudah jaga Meira untuk gue selama ini."
"Itu benar Meira?" tanya Alando. Meira cuma menggelengkan kepalanya tidak mengerti, dia sama sekali tidak ingat sudah mengenal Reno, tapi foto-foto itu.?
"Loe perlu bukti? nih..." Reno kembali memperlihatkan foto-foto yang tadi dilihat Meira tapi kini di tujukannya pada Alando."
"Jelaskan? Meira pacar gue." senyum Reno mengembang, karena dia yang menang sekarang.
"Tapi Meira beneran nggak kenal orang itu kak Al Al." Meira memegangi tangan Alando sambil menangis.
"CUKUP MEIRA!" bentak Alando, "Jangan berbohong lagi."
"Apa yang terjadi di sini...?" Kini Zaden yang bertanya dia baru keluar dari gedung basket setelah selesai membersihkan diri dan diikuti ketiga temannya yang berada di belakang yang juga bingung melihat kemarahan Alando pada Meira dan lelaki di sampingnya yang dia tahu adalah Reno lawan tanding basketnya. Sekesal apapun Alando pada Meira dia tidak pernah membentaknya.
"Loe tanyakan saja pada mereka?" Alando tidak bisa menyembunyikan kemarahannya lagi sekaligus rasa sakit yang menyesakkan dadanya saat tahu Meira sudah memiliki kekasih dan sudah berbohong padanya. Dia paling benci pembohong, sama seperti papanya yang selalu membohongi mamanya yang menaruh kepercayaan padanya. Tanpa menoleh lagi ke arah Meira Alando langsung pergi menjauh dari mereka.
"Kak Al Al Meira nggak bohong." Meira hendak mengejar Alando namun kakinya tiba-tiba gemetar dan tidak mampu untuk mengejarnya. Meira terduduk di lantai dan menangisi kak Al Alnya yang sudah menjauh.
"Meira ayo berdiri." minta Reno dan mencoba memapah Meira.
"Lepasin, Meira nggak mau!" tepis Meira secara kasar.
"Menjauh loe dari Meira." tariknya lengan Reno dan mendorongnya ke belakang. Zaden tidak suka sikapnya Reno seolah memaksa Meira mengikuti apa yang dia mau.
"Apa hak loe menjauhkan Meira dari gue hah...?"
"Gue kakaknya, dan gue nggak suka loe mendekati Meira." tegas Zaden, menatap benci ke arah Reno.
"Loe pikir gue percaya? Meira nggak punya kakak. Gue pacarnya dan gue lebih berhak!" teriak Reno, dia kesal, karena tidak bisa mengajak Meira bicara baik-baik, dia ingin kembali memulai hubungan yang sempat gagal di masa lalunya. Meira adalah cinta pertamanya dan tidak mudah begitu saja untuk melupakannya.
"Dan loe pikir gue juga percaya kalau loe pacarnya? Meira bahkan nggak kenal sama loe!" balas Zaden balik bertanya.
"Gue punya bukti!" tantang Reno.
"Kalau bukti yang loe maksud cuma foto, gue juga punya foto bersama Meira tapi bukan berarti gue bisa mengklaimnya sebagai pacar gue! basi loe." ejek Zaden.
"Urusin tuh gula aren, males gue." suruh Zaden pada ketiga temannya yang dari tadi cuma menonton, males aja meladeni nih orang.
"Serahkan sama gue!" jawab Steven, dia bisa saja dengan mudah menghancurkan orang di depannya sekarang. Setahunya Reno bukan dari keluarga berpengaruh, orang tuanya cuma seorang manager perusahaan yang masih kalah jauh dari perusahaan milik keluarga mereka. Steven bahkan punya semua data orang-orang yang menjadi tim lawan basketnya. Kebiasaan Steven yang akan selalu mencari kelemahan setiap lawan tandingnya.
"Oke. Gue antar Meira dulu." Zaden membantu Meira bangun dan membawanya ke mobil dan mengantarnya pulang.
Vote, like dan coment yaa...