
Alando membawa Meira ke sebuah Mall yang cukup terkenal di kotanya, lebih tepatnya ke tempat khusus permainan atau yang lebih di kenal dengan Time Zone yang lebih didominasi anak-anak kecil beserta ayah ibunya dan anak-anak remaja sekolah, namun ada juga orang-orang dewasa yang mungkin sedang melepas stressnya sama halnya dengan mereka berdua. Alando sengaja membawa Meira ke tempat ini untuk membuat Meira kembali ceria dan melupakan ejekan yang baru diterimanya kemarin.
Nggak apa-apa lah menghabiskan sedikit tabungannya toh sebentar lagi dia gajihan. Lagi pula nggak sampai habis dua ratus ribu, maklumlah dia bukan keempat teman-temannya yang tazir melintir. Dia cuma seorang Alando pemuda sederhana yang sudah kehilangan ibunya, tinggal sendiri dan hidup mandiri hanya saja dia beruntung memiliki empat sahabat yang tidak pernah memandang rendah bahkan memperlakukannya seperti keluarga.
"Kak Al Al ayo kita main itu!" tunjuk Meira pada permainan capit boneka dan menarik kak Al Alnya mendekati permainannya. Sebenarnya Alando paling tidak suka ditarik tarik, tapi ya sudahlah demi menyenangkan Meira akhirnya dia pasrah saja. Meira mulai menjalankan mesin namun baru saja mencapitnya sudah lepas, terus diulangi lepas lagi.
"Ih kok nggak mau sih dicapit." kesal Meira yang berulang kali mencobanya tetap sama.
"Meira marah nih." omelnya pada benda tersebut dengan muka ditekuk.
"Kamu marah sama mesin ini juga nggak akan berhasil Meira."
"Sini, biar aku. Ini permainan mudah." Alando percaya diri.
"Benarkah? Kalo gitu kak Al Al ambilin kelinci itu." senang Meira, karena dia bisa bawa boneka kelinci yang diinginkannya itu.
"Oke." namun saat mencobanya ternyata tidak semudah yang dia kira. Tapi tentu saja dia tidak mau mengakui apalagi di depan Meira. Gengsinya tinggi.
"Dikit lagi kak Al Al, ayo angkat... angkat." heboh Meira karena sedikit lagi dapat.
Membuat orang-orang menoleh ke arahnya yang ribut sendiri, memberi semangat seperti saat Alando latihan basket.
"Duk... yah kok jatuh sih. Meira batal dapat boneka deh." kecewanya yang melihat bonekanya jatuh lagi.
"Mainannya aja yang rusak! Udah kita cari mainan yang lain." kesal Alando. Permainan itu membuat emosinya naik saja.
"Pokoknya jangan pernah main permainan itu lagi." perintah Alando.
"Iya. Meira nggak mau lagi main itu, mainan itu mirip Radodo!" cemberut Meira karena gak bisa bawa pulang boneka yang dia inginkan.
"Hahh..." bingung Alando tidak mengerti dengan perumpamaan Meira.
"Radodo suka ngeselin, bikin Meira kesal." adu Meira sambil menunjuk mesin pencapit boneka tersebut.
"Oh..." Alando sependapat dengan itu.
"Tapi Meira sayang, hehee..."
"Permainan ini nggak rusak kok mas, masnya hanya kudu sabar." jawab mas-mas karyawan yang berdiri dekat mereka memberi tahu.
"Sayangnya saya nggak mau bersabar." balas Alando asal dan pergi ke permainan yang lain, yang tidak membuatnya harus berurusan dengan yang namanya sabar.
* * *
"Hachiss... Hachiss..." tiba-tiba saja hidungnya gatal padahal Rado tidak sedang flu.
"Pasti ada yang jelek-jelekin gue nih." praduga Rado yang tak berasas. Itu cuma mitos sih! boleh percaya, boleh enggak.
"Loe kan emang sudah jelek dari sononya nggak perlu dijelek-jelekin lagi." ejek Dito ketawa bahagia.
"Enak aja, satu sekolahan juga tahu gue kembaran sama Dilan." pede Rado yang kini mengendap-endap mengikuti Meira dan Alando dari jauh, untungnya tempat ini dipenuhi banyak orang jadi mereka aman.
"Iya, Dilan... dilantunkan ayat Kursi hahaa..." sambung Zaki yang juga mengikuti gerakan Rado yang mengintip ke arah Meira.
Seandainya mereka tidak dalam misi memata-matai kakaknya sudah habis tuh kepala Zaki dia getokin.
"Wah... Jangan-jangan loe terkena virus corona Do? wah gawat ini..." drama Dito, untung ngomongnya nggak kenceng, gawat kalau kedengaran orang, bisa heboh nih tempat.
"Sembarangan loe ngomong! gue sehat wal'afiat. Boro-boro datang dari luar negeri, dari Bali aja gue belum pernah." kecuali di Indonesia juga sudah ikut mewabah dan Alhamdulillah nggak ada dan semoga jangan pernah ada.
"Tenang aja Do, loe nggak sendiri ada kita berdua yang memiliki nasib yang sama." sahut Zaki.
"Semoga suatu saat nanti ada seseorang yang berbaik hati mengajak kita ke Bali." doa Dito yang di amiin kan ketiganya.
"Kalian sedang apa mengendap-ngendap di sini?" tanya karyawan perempuan yang curiga dengan tingkah aneh mereka. "Jangan bilang kalian sedang...?"
"Yahh... mba jangan suudzon dong sama kami! gini-gini saya anak Sultan bukan maling." potong Zaki sebelum mba karyawannya menyelesaikan omongannya.
"Siapa yang nuduh kalian maling, saya kan belum selesai ngomong udah dipotong." sewot mbaknya.
"Iya loe, nggak sopan memotong omongan orang." tegur Dito.
"Hehee... Sorry, ya udah deh mba selesain apa yang ingin diselesain." persilahkan Zaki.
"Maksud saya kalian sedang buat video youtube ya?" tanya mbanya penasaran. Selain mereka bertingkah aneh mereka juga memegang handphone mereka seolah-olah sedang merekam dua orang yang sedang mereka ikuti.
"Oh... Ohh iya mba kita sedang buat video prank untuk kakaknya dia nih." tepuknya pada bahu Rado.
"Oh, gitu. Oke! semoga sukses!" setelah itu barulah mba-mba keponya pergi. Dikira mereka youtuber apa? Pernah sih buat satu video cover boro-boro ada yang nonton malah sudah kena hak cipta. Batal deh.
"Lah... Apanya yang salah coba, bokap gue kan dari dulu emang namanya Sultan? seingat gue belum diganti!" protes Zaki. Rado dan Dito cuma saling memandang bertanya.
"Hahaa... gue lupa, nama bokap loe emang Sultan ya! ujar Rado nyengir baru ingat. Setelahnya fokusnya kembali ke Meira dan Alando.
"Awas aja loe nanti, berani-beraninya pegang tangan kakak gue, bukan muhrim tuh." kesal Rado. Pengen menghampiri mereka takut di amuk Meira entar. Kan gawat kalau kakaknya ngambek bisa nggak ngomong seminggu dia.
"Perasaan kakak loe deh yang pegang-pegang. lihat tuh...tuh... narik-narik tangan kakak ipar loe." beritahu Dito. Kenyataannya kan memang Meira yang selalu pegang-pegang tangan Alando.
"Baru calon, ingat itu!" enak aja bilang kakak ipar, Ale Ale belum lulus tes calon kakak ipar idamannya. Prosesnya masih panjang, berliku dan memutar. Yang jelas dia tidak peduli dengan status sosial seseorang, buatnya yang penting orang itu bisa membahagiakan kakaknya dan tidak akan menyakitinya.
* * *
Bukannya Alando tidak tahu kalau sekarang dia sedang diikuti sama bodyguardnya Meira. Karena dari tadi Rado dan dua orang yang mungkin teman-temannya, sedang mengendap-ngendap layaknya detektif yang gagal tes terus mengikutinya dan Meira. Tapi ya sudahlah bodo amat dengan mereka. Setidaknya Meira beruntung memiliki orang-orang yang sangat peduli padanya.
"Sini aku ajarin." Alando mengajari Meira melempar bola basket dengan memegang tangan Meira dari arah belakang punggung Meira serta bola yang posisinya berada di kedua tangan layaknya posisi adegan legendaris titanic. Alando sengaja melakukannya untuk membuat Rado tambah kesal, dia tahu seberapa protectif adiknya Meira itu. Biar songongnya berkurang.
"Yee... Meira bisa masukin bolanya." teriak Meira kegirangan. Bikin iri cewek-cewek jomblo di sana. Bahkan banyak bisik-bisik bermunculan.
"Ya, ampun ganteng banget sih."
"Coba gue yang ada di posisi cewek itu."
"Ya ampun mereka romantis banget sih."
Ini yang paling tidak disukai Alando, orang-orang pada kepo dengan apa yang mereka lihat. Makanya Alando paling tidak suka pergi ke tempat-tempat rame seperti ini. Dia lebih nyaman berada di tempat yang sunyi.Tapi nggak mungkin kan dia bawa Meira ke tempat-tempat sepi yang ada setannya pada rame.
"Sudah kan mainnya?" Alando ingin pergi secepatnya dari tempat ini, lagi pula mereka sudah cukup lama bermainnya. Kasian juga tuh tiga nyamuk dikira orang-orang mereka pada kurang waras lagi.
"Yahh... Meira kan masih mau main." dengan tampang sedihnya.
"Aku lapar!" ucap Alando membujuk Meira supaya mau berhenti main.
"Oh... Ayo. Kak Al Al nggak boleh kelaparan." berhasilkan? membujuk Meira itu sangat gampang buatnya.
Mereka akhirnya segera keluar dari tempat itu, lega bisa bebas dari tatapan orang-orang di sana yang pada memujanya. Kesal dan risih justru yang dia rasakan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Alando dengan terus menggandeng Meira takut hilang di keramaian. Sekarang mereka menuju lantai atas menuju food court dan menelusuri tempat favorit yang biasa di datangi Alando dan teman-temannya.
"Ayam, Meira mau makan ayam aja."
"Oke!" mereka kini duduk di tempat yang sudah mereka pesan sesuai keinginan Meira. Tidak sengaja Meira menoleh ke arah pojok dan melihat muka yang familiar namun seketika menghilang.
"Meira baru lihat orang mirip Radodo tadi." beritahunya pada kak Al Al dan menoleh ke tempat tadi namun tidak melihat ada orang yang mirip Rado lagi.
"Kamu salah lihat!" Alando cuma tidak mau Meira kesal lagi sama adiknya itu. Lagi pula dia tidak masalah Rado terus mengikuti mereka, toh yang cape dia sendiri.
* * *
"Hampir aja gue ketahuan, kalian sih dorong dorong." tuduh Rado pada kedua temannya.
"Lah, kita kan juga didorong. Siapa suruh ngehalangin jalan." protes mereka berdua, yang sekarang berdiri cukup jauh dari Meira dan bersembunyi di dekat pohon hias hingga sulit untuk terlihat oleh mereka.
"Ngapain juga sih loe awasin kakak loe itu, udah gede juga?" penasaran aja sih Dito, pasalnya sekarang mereka terlihat seperti orang bodoh yang ngumpet kaya tukang intip. Untung saja urat malu mereka pada putus hingga tak peduli dengan orang-orang di sekitar mereka yang pada berbisik-bisik.
"Jangan bilang loe terjangkit sindrom sister complex kayak novel-novel yang sering dibaca anak-anak cewek kelas kita tuh!" tuduh Dito kejam dengan tatapan menyelidik dan tangan di dagu layaknya seseorang yang sedang menginterogasi.
"Plakk..." Dito dapat geplakan dari Rado yang kesal dituduh macam-macam.
"Gue manusia beragama! nggak kayak Zaki tuh!" kini sasaran Rado beralih ke Zaki
"Loh, kok gue sih?" tunjuknya pada dirinya sendiri tidak terima. "Gue kan nggak punya kakak cewek? masa iya gue sukanya sama kakak gue yang cowok, ih amit-amit! gue masih normal."
"Iya loe nggak punya kakak cewek, tapi loe punya kucing cewek cinta mati loe itu hahaa..." Rado dan Dito puas mentertawakan Zaki yang kesalnya sampai ke ubun-ubun.
"Do laper nih, masa kita cuma nonton orang makan doang sih di sini!" Dito kan jadi pengen makan juga lihat orang-orang pada masukin makanan ke dalam mulutnya.
"Hehee... gue nggak bawa duit, sumpah!" Rado senyum-senyum doang tanpa rasa berdosanya, padahal dia yang menyuruh teman-temannya pada datang.
"Dasar loe ah." kesal Dito, masalahnya dia juga nggak bawa uang cuma cukup beli bensin. Ya udah deh mungkin nasib mereka cuma mandangin kakaknya Rado dan orang-orang di sini pada makan.
"Hei bocah, loe mau ngintipin orang di sini ya! mencurigakan." tuduh orang tersebut menyelidik. Seketika dia ingat pernah bertemu dengan salah satu dari mereka. Begitu pun Rado.
"Oh... gue ingat sekarang! loe kan adiknya Meira yang sering antarin dia ke kampus." dia sangat ingat dengan adik Meira yang kata Alando songong.
Vote, like dan koment ya...