Meira

Meira
BAB. 18



"Steve benaran loe habis dari psikiater?" tanya Crisht penasaran ketika melihat Steven baru datang ke kantor mereka dan mendudukan diri di kursi kerjanya. Seperti biasa setelah mereka selesai kuliah, ZACKS akan berkumpul di kantor untuk melakukan pekerjaan mereka.


"Menurut loe?" tanya Steven balik. Sebenarnya nggak separah itu sih, Steven hanya butuh menenangkan otak dan telinganya akibat celotehan Meira. Steven bukan orang yang suka ikut campur dengan permasalahan seseorang, apalagi bersikap baik menjadi pendengar curhatan orang lain. Nah, baru saja dia harus menjadi pendengar yang baik untuk Meira yang pemikirannnya nggak beda jauh dari keponakannya yang baru berusia 6 tahun. Rasanya kepalanya penuh dengan celotehan-celotehan ingin tahunya Meira atau pun sesuatu yang sudah dia ketahui.


"Menurut gue, loe harus secepatnya menemukan Meira jilid 2 yang bisa mengganggu ketenangan hidup loe selama ini. Lihat saja Alando sekarang dia sudah jinak." sahut Kenny yang ikut dalam pembicaraan mereka.


"Loe pikir gue buaya yang perlu dijinakan." ketus Alando.


"Yang buaya bukannya loe ya...?" timpal Zaden.


"Gue bukan buaya, gue Arjuna yang mencari cinta." koreksi Kenny, membela dirinya. Yang diabaikan oleh teman-temannya.


"Tadi gue dengar pembicaraan sekelompok mahasiswa laki-laki dan mereka menjadikan Meira sebagai target taruhan mereka." ucap Steven tiba-tiba yang mengagetkan keempat temannya terutama Alando. Dia tidak suka kalau ada orang yang mencoba menyakiti Meira yang sekarang perlahan sudah mengisi hatinya.


"Siapa?" tanya Alando dingin, sarat akan kemarahan pada sekelompok orang tersebut.


"Gue sudah selidiki. Mereka anak seni rupa, senior di jurusan yang sama dengan Meira."


"Oke. Besok kita bereskan mereka!" tegas Zaden sebagai ketua ZACKS.


"Satu lagi, Loe pasti tahu dengan keluarga Aditama kan?" tanya Steven yang di tujukannya untuk sang ketua, Zaden.Yang cuma menatap bingung dengan pertanyaan Steven.


"Gio Aditama, dia salah satu dari mereka. Dan dia juga yang memilih Meira sebagai target taruhan mereka." jelas Steven.


"Kurang ajar!" maki Zaden, dia tahu siapa itu kelurga Aditama, salah satu pemimpin perusahaan yang berada di bawah naungan Pramudya Group yaitu perusahaan raksasa yang dimiliki kakeknya secara turun-temurun dan sekarang diwariskan pada kedua anaknya, yang salah satunya adalah papanya.


"Oke. Gue sudah lama nih istirahat, gatal juga mau ngerjain orang lagi." ucap Christ semangat.


Kembali di mana sekarang mereka berada, setelah puas mengerjai keempat orang itu mereka memutuskan kembali ke kelas mereka. Beruntung tidak ada perlawanan dari mereka, biasanya siapa pun yang berani menentang atau pun melawan mereka barulah Alando bertindak. Paling parah ya babak belur sampai mereka meminta maaf dengan sendirinya.


 


* * *


 


"Meira jangan nangis terus dong!" suruh Sany. Yang dengan melihatnya saja, anak kecil pun akan teriak ketakutan melihat sosok perempuan ini. Dengan rambutnya yang aut-autan serta rambut kusut bagai tertimpa angin putin* beliung, karena baru saja mengikuti lomba tarik tambang antar rambut masing-masing. Begitu pun dengan Ami yang tak kalah mengenaskannya dari Sany.


"Udah dong Ra, jangan nangis lagi. Kami juga nggak apa-apa kok dan kamu nggak usah mendengar omongan cewek sakit itu." Ami berusaha menenangkan sahabatnya yang terus menangis. Meira itu jarang menangis bahkan saat banyak orang yang menatapnya aneh dan menjauhinya dia tetap ceria, dia lebih banyak bahagianya kecuali saat-saat menjalani terapi yang membuatnya kesakitan.


"Ami kok baru nyuruh Meira sih? Tau gitu kan tadi Meira tutup telinga biar nggak dengar, dan Meira juga baru tahu kalau kakak cantik tadi sedang sakit, pantas marah-marah sama Meira." Kini tangis Meira mulai mereda. Mereka bertiga saling berpandangan lega.


"Huuh syukurlah." Ucap mereka bertiga. Setidaknya Meira tidak memendam rasa sakitnya di dalam hati. Mereka tahu meski Meira terlihat tidak mengerti pasti ada lah perasaan sakit saat seseorang mengejeknya dengan kejam.


"Iya. Dia cewek sakit dan seharusnya sekarang dirawat di rumah sakit kejiwaan." kesal Sany yang masih tampak dendam dengan perempuan tadi.


"Telat. Terus kenapa tadi cuma nonton doang." balas Sany ketus.


"Ya, nggak bisa gitu dong. Aku itu sportif, nggak ada dalam kamus hidupku yang namanya main keroyokan, sayang aja mereka cuma berdua."


"Iih Mimit nggak boleh gitu! gak boleh berkelahi!" ceramah Meira yang nggak suka lihat teman-temannya terlibat perkelahian apalagi gara-gara dia.


"Nggak apa-apa Meira! Kadang-kadang dalam hidup itu kita nggak bisa jadi orang baik terus, ada saatnya kita berbuat onar dan kenakalan asal jangan keterusan." Sahut Mita.


"Ajaran sesat mana tuh." tanya Sany yang mencibir Mita. Namun Mita cuma bersikap santai, sudah biasa juga menerima kejutekan sahabatnya ini.


"Ada benarnya juga sih...? Kita kan manusia bukan malaikat, lagi pula kalau kita selalu diam dan mengalah mereka akan terus menindas kita. Karma memang ada tapi kan menunggunya lama." Ami setuju dengan pendapat Mita.


"Iya, lagi pula karma dari Tuhan kan lebih menyakitkan, kayak di sinetron ajab tuh yang sering ditonton ibu aku sampai lupa masak. Padahal ending cuma gitu-gitu aja, ketabrak lalu nggak bisa ngapa-ngapain lagi terus jatuh miskin deh." balas Mita, yang cuma di iya'in dan diketawain oleh teman-temannya.


"Mending langsung dapat karma dari kita kan? Mereka jual kita beli." tambah Mita yang memang nggak pernah suka menerima ketidak adilan. Kayaknya berbakat deh jadi seorang hakim.


"Kalo gitu Meira juga mau beli ah. Memangnya mereka lagi jualan kurma ya? Meira kira kurma cuma dijual bulan puasa!" kriik.. kriik.


"Aku mau ke toilet dulu ah." ucap Sany yang makin gemes melihat tingkah Meira, jangan sampai dia berubah jadi seorang sniper! eh bercanda deh... jadi Teletubbies aja.


"Aku juga." sahut Mita.


"Aku juga." diikuti Ami.


"Meira ikut." seperti biasa Meira selalu mengintilin mereka.


* * *


"Tumben Meira nggak ke sini, biasanya kan jam segini waktunya dia setor muka ke eloe Lan?" tanya Christ. Yang cuma diabaikan Alando, dia juga penasaran kenapa Meira nggak seperti biasanya yang selalu menemuinya jam segini meski hanya dadah-dadah doang atau cuma bilang kangen.


"Emang uang disetor." balas Zaden.


"Jangan-jangan tuh anak sudah bosan mengejar Alando! Kan cape dicuekin mulu, sakitnya tuh di sini." dengan tangan yang berada di dadanya, Kenny hanya menggoda dan ingin melihat reaksi Alando. Memang sih akhir-akhir ini sikap Alando lebih baik dan lembut sama Meira namun sikap cueknya juga masih mendominasi, apalagi nggak ada romantis-romantisnya terhadap gadis polos itu. Meski mereka semua tahu Alando dan Meira belum menjadi sepasang kekasih.


"Meira sudah bucin sama Alando, nggak mungkinlah?" ujar Steven. Kenny menatap kesal pada Steven yang tidak peka dengan tujuannya menggoda Alando. Tujuannya cuma satu yaitu menyadarkan Alando dengan perasaannya pada Meira. Biar dia tahu Meira itu langka, jarang loe ada cewek yang mau mengejar cowok yang selalu abai terhadapnya dan Meira mengejar Alando jelas bukan karena uang, karena Alando bukanlah cowok kaya tapi murni hanya karena dia suka tanpa memandang status sosialnya. Meski benar sih, mengutip dari ucapan Christ yang mengatakan Meira kloningan Dora itu tepat tapi tidak dipungkiri Meira itu lucu dan kadang-kadang menggemaskan hingga Kenny ingin memasukkan Meira ke dalam toples.


"Steve loe nggak pernah rasain jus pare kan? nanti deh gue buatin." ujar Kenny dengan dendam kesumatnya. Namun hanya dicuekin Steven dengan tatapan sinisnya.


"Mungkin Meira menghabiskan waktu dengan teman-temannya itu, bukankah mereka selalu bersama." sahut Zaden yang tahu kebiasaan Meira. Namun begitu, Alando merasa cemas apa benar Meira sudah bosan mengikutinya.


Jangan lupa vote, like dan koment yaa.