
"Kenapa, emang Meira salah apa?" muka Meira tampak sedih, ini pertama kalinya dia dilarang masuk, apalagi orang yang melarangnya adalah teman kak Al Al nya.
"Ini ambil..." Christ menaruh sesuatu di tangan Meira.
"Bunga dan cokelat, kak Kris Kris ngasih Meira?" Meira sudah tampak senang dengan apa yang ada di tangannya, cokelat kesukaannya.
"Enak aja, ya bukanlah. Minta sama Alando sana." Seru Christ, lagi pula kalau dia memberi Meira hadiah bisa-bisa dia kena bogem Alando dan itu bukan pilihan yang bijak.
"Ya udah, Meira mau minta sama kak Al Al aja." Meira sudah ingin beranjak namun sekali lagi dihalangi oleh Christ.
"Eeh tunggu dulu, kamu nggak boleh masuk." ulangnya.
"Apaan sih kak Kris kris tadi Meira disuruh masuk sekarang nggak boleh lagi. Meira kan jadi kesal." Jawab Meira dengan wajah di tekuk
'Kak Kris kris emang sesat tidak bisa dipercaya.' Pikir Meira.
"Kapan aku menyuruh kamu masuk? Aku cuma menyuruh kamu ke sana." Sahut Christ, dia sudah mengerti Meira itu seperti apa, jadi mudah untuk dia bohongi.
"Oh iya... Meira yang salah. Tapi kenapa Meira nggak boleh masuk?"
"Kamu boleh masuk asalkan kamu mau memberikan bunga dan cokelat ini untuk Sany, teman kamu itu. Kalau sudah baru aku bolehin kamu untuk masuk, gimana?" Christ dengan segala tipu muslihatnya.
"Iya. Meira kasihkan sama Sansan tapi nanti Meira boleh masuk kan?" tanya Meira penuh harap.
"Iya. Kamu boleh masuk selama yang kamu mau, bahkan kalau pun sampai malam hari kamu bebas memasukinya."
"Oh. Kalau begitu Meira cari Sansan dulu." dengan antusias Meira kembali berjalan mengelilingi koridor bermaksud mencari Sany.
"Oke." Sahut Christ senang tapi kasian juga, dia sudah memanfaatkan keoon'an Meira untuk kepentingannya. Tapi tidak apa-apa, Christ janji dia akan memberi Meira hadiah permen satu toples seandainya Meira sudah memberikan hadiahnya pada Sany.
"Loe ngapain berdiri di sini kaya patung selamat datang aja?" Alando sedikit curiga, tidak biasanya Christ lebih memilih berdiri di luar kelas.
"Gue lagi bosan di kelas lagi pula udaranya enakan disini." Jawab Christ seadanya, padahal dia kan lagi menunggu Meira. Kalau Alando tahu dia sudah memanfaatkan Meira wah bisa-bisa dia jadi lawan tanding taekwondo Alando nih.
"Loe lihat Meira?" tanya Alando pada Christ untuk memastikan. Karena tadi Meira kirim pesan mau menemuinya.
"Enggak. Mungkin belum sampai aja kesini. Sudah loe masuk aja entar gue suruh masuk saat Meira sudah datang." Dorongnya tubuh Alando kembali masuk ke ruang kelas.
"Apaan sih loe! Aneh banget." Kesal Alando ketika dia di dorong-dorong. Tapi akhirnya Alando menurut juga meski masih kesal.
"Huuhh... untung selamat, duh Meira lama banget sih datangnya." Christ masih harap harap cemas menunggu Meira. Sebenarnya dia ingin memberikannya sendiri namun Sany itu gadis yang cuek dan sulit untuk didekati mau nggak mau dia meminta Meira untuk membantunya meski dengan cara licik.
****
Meira menyusul ketiga temannya ke taman kampus karena biasanya kalau jam istirahat gini Meira dan teman-temannya akan berkumpul di kantin atau kalau enggak di taman. Tapi tadi Sany baru kirim pesan kepada Meira kalau dia ada di taman biasa mereka kumpul, jadilah Meira menyusul kesana. Dan saat melihat ketiga temannya sedang berkumpul Meira langsung mendekat.
"Ini untuk Sansan..." Meira memberikan bunga dan cokelat titipan dari Christ untuk Sany sahabatnya.
"Untukku? Dari siapa...?" tanya Sany penasaran, pasalnya selama ini dia tidak memiliki seorang pacar atau pun pengagum. Jadi kalau ada yang memberinya barang barang seperti ini kan jadinya aneh.
"Dari kak Kris Kris."
"Wah... Sany dapat bunga dari Kak Christ." Seru Mita.
"Cie... cie... Kak Christ kayanya suka deh sama Sany." Goda Ami. Ini pertama kali ada yang memberikan bunga untuk Sany, biasanya cowok-cowok pada minder dengan kegalakan Sany. Mereka lebih suka menjauh dari Sany dari pada kena semprot.
"Aku nggak mau. Nih... kamu balikin lagi sama orangnya." Suruh Sany dan mengembalikan bunga dan cokelatnya kembali pada Meira, dia tidak suka dengan cowok seperti Christ. Diakan anggota genk kampus yang suka buat ulah, pikir Sany.
"Kok dibalikin sih? Meira kan sudah cape-cape bawain kesini, terus Meira nggak bisa ketemu kak Al Al kalau Sany menolak ini. Nanti kak Kris Kris nggak bolehin Meira masuk menemui kak Al Al." Tutur Meira panjang lebar padahal dia sudah senang setelah memberikan hadiahnya pada Sansan berarti dia sudah boleh menemui kak Al Al nya.
"Apa hubungannya sama kak Alando?" sahut Sany, yang sudah tidak mempedulikan hadiahnya itu dan hanya fokus pada cemilan cemilan di tangannya.
"Kak Kris kris bilang Meira harus kasihkan ini baru boleh masuk kelas kak Al Al dan ketemu sama kak Al Al, tapi kalau enggak Meira nggak bisa ketemu." Jelas Meira dengan wajah memelas.
"Aduuh Meira..., kamu dibohongi tuh sama Kak Christ, harusnya kamu teriakin aja kak Alando dari luar. Pasti kak Alando juga nungguin kamu." Omel Sany, sahabat satunya ini benar-benar lugu atau kelewat oo* sih kok mau-maunya dengerin kebohongan orang itu.
"Oh... jadi Meira dibohongin kak Kris kris ya..? terus Meira harus gimana?" Meira memandang ke arah Sany meminta jawaban dengan masih memasang wajah polosnya.
"Iya." Sahut Sany cepat.
"Ehh... nggak bisa gitu dong! Meira kamu harus balikin nih bunga dan cokelat ini sama kak Christ pokoknya aku nggak mau terima. Nanti dia kepedean lagi." lanjut Sany kekeh dengan pendiriannya.
"Ya udah, Meira balikin ini dulu deh." Pamit Meira dan beranjak kembali ke tempat kak Al Al nya berada.
"Setelah itu langsung balik ke kelas kita." Ingatkan Ami cepat.
****
Meira rasanya sangat lelah harus bolak-balik, seharusnya tadi dia tidak perlu mendengarkan kata kak kris kris itu. Bahkan setiap Meira menginjakkan kaki di jurusan kak Al Al nya itu dia selalu mencuri perhatian banyak mahasiswa di sana pasalnya Meira adalah satu-satunya gadis yang bisa dekat dengan Alando dan gengnya, selama ini mana ada yang bisa seperti itu kecuali cewek-cewek yang dekat dengan Kenny, itu pun hanya sebatas Kenny nya doang dan mereka para cewek-cewek itu juga tidak pernah dekat dengan anggota geng yang lain.
Meski banyak mahasiswa yang agak sedikit iri dengan keberuntungan Meira bahkan kadang-kadang mereka diam-diam menggosipkan hal-hal buruk tentangnya namun tidak ada satu pun yang berani terang-terangan apalagi sampai membully gadis itu karena resiko yang akan mereka tanggung justru merugikan diri mereka sendiri. Mereka pun hanya berani bergosip secara berbisik dan antara sesama teman di kelompok mereka saja kecuali Olivia yang sampai saat ini dia masih belum bisa menerima kalau gadis aneh itu yang justru bisa mendapat perhatian dari cowok yang dia suka.
Olivia sering menggosipkan Meira kepada teman-temannya di kampus secara terang-terangan, mengatakan Meira cuma gadis bodoh yang miskin dan caca* mental karena itu Alando menjadikannya mainan. Namun sayang gosip itu tidak sampai terdengar ke telinga Alando dan gengnya.
Meira sudah berada di depan kelas kak Al Al nya namun sayang masih dijaga oleh penjaga pintunya. Tampak Christ senang melihat kemunculan Meira yang sudah dia tunggu-tunggu dari tadi.
"Meira... bagaimana Sany mau menerima hadiah dariku kan?" tanya Christ dengan semangat.
"Nggak mau." Meira menggelengkan kepalanya dan menyerahkan kembali bunga dan cokelatnya.
"Lah kok dibalikin sih?" Christ tampak kecewa, usahanya gagal dong meski dia sudah menggunakan Meira.
"Kan Sansan nya nggak mau terima, tapi Meira suka cokelat kok." Meira tersenyum manis berharap kak kris kris mau memberikannya cokelat itu padanya.
"Kamu mintanya sama Alando aja!" ketus Christ yang masih kecewa pemberiannya di tolak gadis pujaannya.
"Iya... Kalau begitu Meira boleh ketemu sama kak Al Al kan?" Tanya Meira lagi dengan wajah cerianya.
"Enggak...!" wajah Christ kembali tersenyum licik di otaknya sedang merencanakan sesuatu.
"Kecuali Meira mau bantu aku mendekati Sany." Christ lagi-lagi mengajukan kesepakatan.
"Kak kris kris duduk di sebelah Sansan aja nanti biar dekat!" suruh Meira.
"Dekatnya bukan seperti itu Meira...!" kesal Christ, dia jadi bingung sendiri cara menjelaskan pada Meira takutnya justru Meira malah salah mengartikannya.
"Terus seperti apa?"
"Tau ah, sudah kamu balik sana. Kuliah yang benar biar tambah pintar." Usir Christ.
"Nggak mau! Meira mau teriak aja."
"KAK Al Al. .. TOLONGIN MEIRA...!!" Teriak Meira dari luar kelas untungnya cuma ada beberapa orang yang ada di sana.
"Duh Meira, aku cuma bercanda." Christ berusaha menutup mulut Meira dengan tangannya, gawat kalau ketahuan Alando.
"Apa yang loe lakukan hah...?" Alando muncul di depan pintu dan melihat Christ yang mencoba menutup mulut Meira. "Jauhkan tangan loe!"
"Kak Al Al Meira dilarang kak Kris Kris ketemu sama kak Al Al." Adu Meira dan mendekati kak Al Al nya.
"Apa...?" Alando menatap Christ tajam seolah minta jawaban.
"Hehee... gue cuma bercanda kok tadi." Elak Christ.
"Meira tadi disuruh memberikan bunga dan cokelat buat Sansan setelah itu Meira baru boleh ketemu sama kak Al Al." Lanjut Meira, bukannya mau mengadu hanya saja Meira paling tidak bisa menyimpan rahasia, dia hanya ingin menceritakan apa yang dilaluinya hari ini.
"Christ loe mau mati?" ancam Alando, seenaknya saja dia mau memanfaatkan Meira untuk kepentingannya.
"Heehee... Meira ini kamu ambil saja buat kompensasi ya...!" Christ lansung kabur setelah memberikan bunga dan cokelatnya untuk Meira.
"Asyik... Meira dapat cokelat." Meira kesenangan setelah mendapat cokelat yang dari tadi dia lirik.
"Jangan diambil...! Nanti aku belikan yang baru buat kamu." Perintah Alando posesif. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering cemburu kalau Meira didekati cowok-cowok meski itu sahabatnya sendiri.
Vote, like dan koment yaa...