Meira

Meira
BAB. 68



Kini mereka berada di tempat pemakaman, dihadiri anggota keluarga sekaligus sahabat Alando yang setia menemaninya, begitu pun Meira yang selalu ada di sisinya untuk menguatkan.


Meski istrinya itu tidak bisa memberikan kata-kata bijak dan dewasa seperti kebanyakan orang di sekelilingnya tapi bagi Alando justru keberadaan Meira lah obat dari segalanya, setidaknya dia masih memiliki seseorang yang bisa selalu menemaninya mulai saat ini hingga mereka tua nanti bahkan sampai ajal menjemput salah satu dari mereka.


Satu-persatu pelayat kini telah meninggalkan tempat pemakaman itu, anggota keluarga dan sahabat-sahabatnya pun mulai berpamitan padanya dan Meira.


"Lan, loe tau kan kita semua sudah seperti keluarga, jadi jangan sungkan-sungkan untuk bicara sama kami, apa pun itu," ucap Zaden menepuk bahu sahabatnya dan diangguki oleh ketiga sahabatnya yang lain.


Seandainya ini bukanlah pemakaman dan hari duka sahabatnya itu, mungkin saat ini mereka akan memberikan candaan-candaan serta godaan-godaan pada Alando dan Meira.


Begitu pun Meira, mungkin saat ini banyak kata-kata ajaib yang akan keluar dari mulutnya, sayangnya cuma tetes-tetes air mata yang bisa keluar dari matanya. Meira memang sangat cengeng, dia akan sangat mudah sedih kalau ada keluarganya yang meninggalkan dirinya.


"Oke... terima kasih kalian sudah datang," ucap Alando, dia hanya bisa memberikan kata-kata singkat atas dukungan yang diberikan sahabat-sahabatnya itu.


"Meira, kami pulang dulu yaa..."


"Iya. Dadah... Kak Zad Zad, Kak Kris Kris, Kak Stip stip, Kak Ken Ken," lambai Meira mengantar kepergian mereka.


"Alan, Meira... Om dan tante juga pulang duluan ya? Kalau ada apa-apa hubungi kami. Kami semua keluargamu," ujar Om Rendrawan dan istrinya.


"Iya Om," sahut Alando singkat.


Kini tinggal mereka sekeluarga tersisa, dan untuk saat ini Alando memilih untuk tinggal di rumah orang tua Meira, karena dalam suasana berduka seperti ini lebih nyaman kalau ada keluarga bersama mereka.


"Kak Al Al, ayo kita pulang," ajak Meira pada suaminya.


"Ayo..."


****


Empat bulan telah berlalu sejak meninggalnya Papa Alando, namun hidup harus terus berjalan. Hanya perlu waktu untuk melupakan segala kesedihan dan kembali menjalani aktivitas seperti biasanya.


Alando dan Meira tetap menjalankan kuliahnya bahkan saat ini Alando sudah mulai mencari-cari bahan untuk skripsinya, karena tiga bulan lagi dia akan mengajukan proposal skripsinya.


Meira, jangan ditanya. Dia masih dengan sikap polosnya yang selalu berteriak memanggil kak Al Al nya. Bahkan saat ini kadar kemanjaannya serta tingkah cengengnya semakin menjadi.


Alando masih sibuk dengan pekerjaan yang dia jalankan saat ini, perusahaannya pun kini semakin berkembang. Hanya saja pekerjaannya sekarang semakin bertambah karena harus mengajari Meira yang sering kesulitan dengan mata kuliahnya.


Sekarang mereka tinggal di rumah Alando yang cukup besar jika hanya di tinggalin dua orang saja. Karena itu lah Alando meminta mertuanya sekaligus Rado, adik iparnya untuk tinggal di rumah mereka yang tentunya dengan banyak renovasi untuk kamar masing-masing.


Setelah puas menikmati hari-hari mereka berdua yang semakin hari terasa sepi kini rumah itu dipenuhi canda tawa keluarga Meira, dan tentu saja tidak ketinggalan Rado dan Meira yang setiap harinya adu mulut.


Begitu pun Meira dan Alando, kadang-kadang ada riak-riak kecil dalam rumah tangga mereka, untungnya Alando semakin sabar dalam menghadapi istri lugunya itu, beruntungnya Meira juga selalu menuruti keinginan Alando, hingga dia tidak bisa marah pada istrinya tersebut.


Dan entahlah kenapa, sudah tiga hari ini istrinya itu semakin manja, selalu ingin bersamanya setiap hari. Padahal selama ini Meira tidak pernah menuntut apa pun darinya, karena Alando bekerja untuk menghidupi mereka juga.


"Ayo Meira... sebentar lagi kita harus berangkat kuliah," bujuk Alando, sedangkan Meira terus memeluknya di ranjang mereka tanpa sedikit pun mau membuka matanya apalagi bergerak.


"Nggak mau... Meira nggak mau kuliah. Kak Al Al temani Meira di sini saja," tolaknya, dan saat ini dia masih memeluk erat suaminya. sampai sekarang mereka berdua masih memanggil dengan nama panggilan seperti biasanya, bukan dengan panggilan sayang layaknya pasangan sudah menikah.


Alando yang tidak romantis masih sulit untuk membiasakan lidahnya kecuali saat mereka bercinta, begitu pun Meira yang sudah terbiasa memanggil suaminya dengan panggilan sayang khasnya sendiri.


"Kita harus kuliah biar cepat lulus dan aku juga bisa fokus pada pekerjaanku nantinya," Alando mencoba melepaskan pelukan Meira namun Meira justru semakin erat memeluknya.


"Kak Al Al, nggak usah kerja," pinta Meira dengan rengekannya.


"Kalau aku nggak kerja kita makan apa.?"


"Makan nasi dan telur." jawabnya asal.


"Iya, beli beras juga pakai uang Meira. Nggak mungkin cuma diam di sini tanpa kerja bisa dapat uang begitu saja," Alando berusaha memberi penjelasan kepada istrinya itu.


Kalau ini hari libur tentu dia akan sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bergelut sama istri manisnya ini di atas ranjang mereka, tapi kan sekarang beda. Mereka harus beraktivitas di luar rumah.


"Biar Radodo aja yang kerja, Radodo kan bilang mau punya bengkel sendiri," ujar Meira dengan lugunya.


Rado memang ingin memiliki bengkelnya sendiri, berhubung dia mau lulus dan Alando juga bisa memberikan modal yang cukup besar untuknya. Tentu saja itu semua dari warisan papanya yang sudah memberikan tabungan dan saham perusahaan untuknya.


Sedangkan Ayahnya Meira masih bekerja di pabrik makanan, namun kini ibunya sudah berhenti berjualan pisang goreng karena tempatnya juga sudah berbeda, perumahan yang mereka diami saat ini tidak cocok untuk ibunya berjualan lagi.


Sedangkan Dinda yang bukan anak kandungnya juga mendapatkan satu apartemen dan tabungan yang lumayan besar. Selain itu dia juga akan dipekerjakan di perusahaan mereka setelah lulus kuliahnya nanti.


Namun Alando menolak semua itu, perusahaan dia serahkan kembali pada Omnya, begitu pun rumah besarnya. Karena Alando sangat tidak menyukai rumah itu sedari kecil, banyak kenangan yang tidak dia sukai dari tempat tersebut. Lagi pula selama ini omnya itulah yang ikut berjasa membesarkan perusahaan selama papanya sakit.


Alando cuma mau menerima 30 persen saham dan uang tabungan yang dimiliki papanya yang sebagian juga telah dia sumbangkan.


"Mana boleh seperti itu. Aku kepala keluarga buat kamu." tutur Alando dan terpaksa dia mengangkat Meira, dan membawanya mandi bersama. Kalau tidak seperti ini dia tidak akan bisa ke kampus.


****


Bahkan kini saat di meja makan Meira masih menempeli suaminya itu tanpa mempedulikan pandangan keluarganya. Apalagi Rado, yang benar-benar mau muntah melihat tingkah manja kakaknya yang masih bersikap kekanak-kanakan.


"Kak Al Al... pokoknya Meira nggak mau kuliah, badan Meira nggak enak." adunya, dengan tangan yang terus bergelayut di tangan Alando. Sedangkan Alando terus berusaha memakan sarapannya walau tangannya terus dipegang Meira.


"Dasar manja, ya jelas lah nggak enak! mana ada sih badan yang enak dimakan, kecuali kamu seorang kanibal." omel Rado dengan kata-kata pedasnya.


Sudah menjadi pemandangan biasa melihat dua orang ini bertengkar di hadapannya, tapi meski begitu mereka saling menyayangi satu sama lain.


"Meira nggak manja, Meira juga bukan kanibal. Tapi kenapa ya... Kak Al Al suka makan Meira, suka gigitin Meira juga. Apa itu artinya kak Al Al kanibal?" ungkap Meira, rahasia kamar yang masih sering Meira bongkar tanpa sengaja. Padahal Alando sudah sering memberi pengarahan untuknya.


"Hahh...!"


"Meira... nggak sopan ngomong kayak gitu di depan makanan. Itu rahasia kalian berdua tidak boleh diucapkan di depan orang lain."


Nasihat ibunya, sekarang ibunya memang sudah terbiasa mendengar omongan ngasal putrinya itu, tidak seperti waktu pertama kali yang benar-benar membuat mereka kaget mendengarnya.


"Lama-kelamaan, bisa-bisa gue juga pengen nikah!" kesal Rado yang harus merelakan telinganya mendengar ucapan dewasa di dalam kamar rahasia mereka.


"Awas berani macam-macam, kamu menikahnya nanti aja kalau sudah berhenti godain kakak kamu." ingatkan ibunya.


Bukan apa-apa... anak laki-lakinya ini belum bisa bersikap dewasa secara mental, masih sering bermain-main dan melupakan tanggung jawabnya. Biasanya kalau ada pertengkaran seperti ini maka Ayahnya lah yang menjadi pengingat mereka, namun hari ini sang ayah pagi-pagi sekali sudah berangkat kerja.


"Radodo nikahnya sama Beby aja hihii..." ejek Meira. Soalnya selain beby, Meira tidak pernah melihat adiknya itu membawa anak cewek, tapi masalahnya cewek yang dimaksud benar-benar anak cewek dalam arti sebenarnya.


"Bocah lima tahun itu? yang benar saja Meira, keburu mati gue." sahut Rado tidak terima.


"Husss... kamu ini." tegur ibunya sekali lagi.


"Lah, kenyataannya memang seperti itu bu, masa Rado yang ganteng ini harus menunggu bocah kecil itu hingga dewasa sih." iih geli banget, pikir Rado.


Beby adalah anak tetangga mereka yang masih berusia lima tahun, dan Rado memang menyukai anak kecil dan sering membawa pulang ke rumah untuk bermain. Tapi Beby memang paling manja padanya.


Lagi pula Rado sudah memiliki tipe cewek impiannya sendiri.


"Ya sudah, kamu tidak usah kuliah hari ini. Biar aku sendiri saja yang kuliah."


"Kak Al Al, nggak usah kuliah juga hari ini. Temanin Meira," isak tangisnya semakin keras berusaha menahan tangan Alando.


"Ya ampun Meira, kamu kenapa sih aneh banget hari ini. Alan kan harus kuliah, kamu tidak boleh menyusahkan suami kamu kayak gitu." omel ibunya. "Ya udah Al... kamu berangkat aja, biar Meira ibu yang urus." tambah ibunya. Entah kenapa putrinya bersikap sangat manja, terutama hari ini.


"Ya sudah, bu. Kalau begitu aku berangkat dulu. "Cupp..." kecupnya kepala Meira dan meninggalkan istrinya yang masih menangis.


Sikap Meira beberapa hari ini memang aneh, puncaknya ya hari ini, tiba-tiba saja langsung menangis hanya karena keinginannya tidak terpenuhi.


"Nggak ngerti sama kamu. Setelah menikah kok tambah cengeng bin manja," ejek Rado kemudian, melihat kakaknya menangis dan bersikap kekanakan memang sudah sering, tapi tidak separah ini juga. Kesal Rado.


"Aaaaaa..." tangisan Meira malah tambah keras, karena omelan Rado. Hingga membuat Rado kabur menyusul kepergian kakak iparnya.


"Bu, Rado berangkat dulu," teriaknya setelah sampai di luar rumah, menghindari omelan ibunya sekaligus suara tangisan Meira yang membuat telinganya sakit.


****


Vote, like dan koment ya...


Berhubung ceritanya udah mulai membosankan dan saya juga udah kehilangan feelnya, jadi pengen secepatnya ditamatin aja. Entar malah kayak sinetron nggak ada ujungnya.😃