Meira

Meira
BAB. 53



Alando menarik tangan Meira berkeliling kampus, dia mencari seseorang yang dari tadi malam sangat ingin dia balas. Gara-gara orang itu Meira tidak mau dikecup olehnya lagi, dari tadi pagi kecuali saat Meira lengah.


"Kak Al Al kita mau kemana sih? Dari tadi muter-muter aja." Meira seperti anak anji** yang selalu ikut dibawa tuannya kesana kemari lebih tepatnya sih ditarik menyusuri setiap sudut kampus.


"Aku cari Kenny." Alando dengan sikap kesalnya melihat kesegala arah memeriksa apa sahabatnya itu juga ada di sana.


"Tanyain sama kak Adedel aja." Usul Meira.


"Memangnya kamu tau dimana Adelia?"


"Meira nggak tau, oh itu kak Adedel." Ternyata Adelia kumpul-kumpul bersama temannya, mungkin mereka lagi bahas tugas, nongkrong di tempat duduk yang ada di bawah pepohonan taman.


"Ya udah kita kesana." Alando menarik Meira dan menuju di mana Adelia berada dan lagi-lagi seketika teman-temannya menyingkir dari sana karena tidak mau berhadapan dengan Alando si Raja iblis versi Christ.


"Hai kak Adedel... Meira lagi bahagia loe." senyumnya, saat sudah berada di dekat Adelia.


"Hai, bahagia kenapa...?" tanya Adelia cuek, memeriksa makalah yang sudah dia kerjakan berkelompok.


"Meira sudah tunangan sama kak Al Al kemarin. Ada Ayah, Ibu, Papa dan..."


"Meira...!" tegur Alando, tujuannya kan mau menanyakan Kenny, Meira malah mengajaknya ngobrol.


"Terus kamu mau pamer gitu sama aku, denger ya Meira sebentar lagi aku juga akan tunangan sama sayang aku." Ucapnya tidak mau kalah sama Meira, "Tunggu aja." Serunya.


"Meira nunggu dimana?" tanya Meira bingung. "Nunggunya lama nggak?" tambahnya.


"Meira kok kamu bikin kesel aja sih?" sumpah nih anak bikin moodnya jelek aja, batin Adelia menahan kesalnya.


"Yakin mau tunangan sama Kenny? Tadi gue lihat dia sama cewe cipika-cipiki di parkiran." bohong Alando, tadinya dia cuma mau bertanya Kenny di mana. Tapi kayaknya lebih seru kalau dia balas Kenny dengan cara seperti ini, anggap mereka impas sekarang.


"Apa? loe nggak bohongkan sama gue!" tuduhnya, karena tadi Kenny baru menelponnya, katanya dia tidak kuliah di jam pertama karena ada urusan keluarga.


"Jadi loe mau nuduh gue berbohong!" Ketus Alando dengan tatapan tajamnya seolah dia mengatakan 'Jangan macam-macam sama gue' dan itu langsung membuat Adelia gelagapan, dia memang sudah sering mendengar Alando yang berbuat kejam pada para mahasiswa yang membuat masalah dengannya. Tentu saja Adelia menghindari itu.


"Enggak, sungguh gue nggak punya maksud seperti itu. Gue cuma butuh bukti dan penjelasan, iya... cuma itu kok." Gugupnya sambil cengengesan.


"Tanya aja sama Meira kalau nggak percaya." Alando sengaja mengajaknya kerjasama biar meyakinkan. Biasanya Meira juga akan jawab iya padanya meski dia tidak mengerti.


"Itu benaran Meira?" tanya Adelia harap-harap cemas, masalahnya Meira itu jujurnya kelewatan jadi apa yang dia bilang pasti benar, berharap saja Meira kali ini bisa berbohong untuknya karena untuk saat ini dia belum mampu melepas Kenny.


"Ehmm... dari kemarin kan Meira nggak lihat kak Ken Ken, Meira cuma lihat kak Al Al dan Kak Zad Zad." Jujurnya, sambil mengingat-ingat kejadian kemarin dan pagi tadi. Dan itu membuat Adelia sedikit lega.


"Kamu lupa Meira!" tegas Alando. Bisa gagal rencananya untuk balas dendam pada Kenny kalau Meira terlalu jujur.


"Oh iya... Meira kan pelupa." Mungkin dia memang lupa, pikir Meira. Kak Al Al nya kan pintar nggak mungkin salah.


"Lebih baik kamu cari dia, sebelum pergi lagi." saran Alando dengan senyum liciknya, rasain loe Ken berani-beraninya cari masalah dengannya.


"Oke." Tanpa pamit lagi, Adelia pergi dari tempat mereka berdua. Diikuti dengan pandangan Meira yang bingung.


"Kak Al Al memang lihat kak Ken Ken sama cewek lain di mana? Meira kok bisa lupa sih?" polos Meira, dia sudah berkali-kali menggali ingatannya namun sampai saat ini Meira belum mampu mengingatnya walau sedikit.


"Dalam mimpi." Jawab Alando, mengajak Meira duduk di sampingnya berhubung mata kuliahnya belum dimulai.


"Oh, pantas Meira nggak lihat. Tapi kenapa kak Al Al mimpiin Kak Ken Ken, kenapa nggak Meira aja?" cemberutnya, sepertinya Meira sudah mulai memahami arti kata cemburu.


"Kenapa aku harus mimpiin kamu?" tanya Alando, ingin melihat reaksi Meira seperti apa. Selama ini sikap Meira tidak pernah menunjukan kecemburuan meski ada beberapa orang yang mendekatinya.


Meira memanyunkan bibirnya lucu dan malah terlihat seperti menggoda Alando untuk menciumnya dan cupp... Alando mencuri kesempatan itu. Sayangnya cuma beberapa detik namun itu mampu membuat Alando seperti tersengat listrik dan seolah itu adalah candu yang tidak bisa hanya dinikmati satu kali saja. Bahkan dia tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang lewat sana dan secara tidak sengaja melihatnya. Selama mereka tidak terang-terangan dan sengaja melihat mereka.


"Ihh... Meira nggak mau dicium lagi, kak Al Al kok nggak mau denger Meira sih?" omelnya, dia kan takut dosa. Lagi pula dia nggak mau dimarahin teman-temannya lagi dan Meira juga sudah janji pada mereka. Orang yang berjanji itu nggak boleh ingkar, itu nasehat Ayahnya yang selalu diingat Meira.


"Apa yang kalian lihat hah...!!" bentak Alando pada tiga mahasiswi yang lewat di dekat mereka dan kaget namun terpaku melihat ke arah Alando dan Meira yang sedang mesra-mesraan.


"Kak Al Al jangan marahin mereka, kasian." Minta Meira dengan mukanya yang memelas tidak tega dengan tiga cewek cantik yang ketakutan tersebut.


"Tutup mulut kalian! Awas kalau ada gosip jelek sedikit saja tentang Meira kalian bertiga yang gue cari!" peringatan dari Alando mutlak tidak bisa dibantah.


"Iya... Kami tidak akan bergosip." Ucap mereka takut dan saling berpandangan satu sama lainnya.


"Sudah pergi sana!" usir Alando dan menarik napas dalam meredakan emosinya. Dan kembali fokus pada kekasih di sampingnya, dia tidak peduli dengan penolakan Meira toh dia masih bisa mencuri kesempatan dalam kesempitan dari Meira. Lagi pula seru juga membuat Meiranya mengomel, hal yang jarang dilakukan olehnya seperti kebanyakan gadis di luar sana.


"Meira... Aku nggak mimpiin kamu karena kita selalu bersama, lagi pula nggak enak kalau cuma mimpi." Jelas Alando menatap gadisnya dan menyampirkan rambut Meira yang sedikit berantakan karena tiupan angin.


"Kenapa nggak enak?" polosnya.


"Karena aku nggak bisa cium kamu." Jawabnya jujur, nggak ada rasanya juga, pikirnya. Beda kalau di dunia nyata rasanya seperti ada manis-manisnya.


"Nggak boleh!" tegas Meira, menatap Alando dengan mata bulat penuhnya.


"Boleh!" tatap Alando tajam.


"Ee... boleh." ucapnya pelan, sedikit takut kalau kak Al Al nya kembali seperti dulu yang selalu kesal dan abai padanya.


"Pinter! Ayo aku antar ke kelasmu." Tariknya dan menggenggam tangan Meira melewati puluhan mahasiswa yang melirik mereka secara sembunyi-sembunyi selama melewati koridor kampus. Karena kalau mereka berani memandang terangan-terangan apalagi berbisik-bisik sudah dipastikan mereka akan disemprot Alando lebih parahnya masa-masa perkuliahan mereka akan seperti neraka dunia.


****


"Lan! loe tega sih nggak undang kita-kita kepertunagan loe dan Meira, masa loe cuma ngundang Zaden doang sih? Kami kan juga pengen hadir." Ucap Christ yang dari tadi sudah menunggunya di kelas kemudian disusul oleh Steven.


"Pertunangannya mendadak lagi pula pertunangan kami dilaksanakan di rumah sakit, cuma beberapa orang yang boleh masuk dan Zaden, dia yang mengantar Meira ke rumah sakit." Jawabnya jujur, karena kejadiannya memang seperti itu dan untuk Zaden, Alando sangat beruntung memiliki sahabat sepertinya yang selalu bisa membantu kesusahannya. Dia percaya semua sahabatnya bisa melakukan apa yang dilakukan Zaden tapi yang bisa bersikap dewasa dan tenang ya cuma Zaden, sahabat dari SMA nya.


"Terus kapan pernikahannya?" Steven buka suara, dia penasaran apakah mereka akan secepatnya menikah seperti yang sudah direncanakan atau malah menunggu kesehatan Papanya Alando membaik.


"Satu bulan lagi." Sahutnya santai. Keluarga Papanya yang akan menyiapkan semuanya, mereka bilang itu cara mereka menebus kesalahannya dan itu juga permintaan dari Papanya. Lagi pula pernikahannya cuma akan diadakan secara sederhana mengingat kondisi Papanya tersebut dan yang terpenting adalah akad nikahnya.


"Apa? Secepat itu." Kaget Christ. "Loe benar-benar sudah nggak tahan ya Lan?" cengirnya kemudian setelah mampu mengatasi keterkejutannya dan memikirkan hal-hal berbau dewasa. Diakan juga laki-laki tentu saja tau apa yang sedang dipikirkan sahabat pemarahnya itu.


"Kalau iya kenapa? Loe mau ikutin jejak gue juga?" sinisnya pada Christ dan berjalan menuju kursi paling belakang, mungkin dia bisa tidur sebentar berhubung dosennya belum ada tanda-tandanya memasuki kelas.


"Lan, loe lihat Kenny nggak?" tanya Zaden yang baru datang dan tiba-tiba masuk dan menanyakan sahabatnya yang berwajah bule itu yang dari tadi juga dicari Alando.


"Nggak, dari tadi gue juga mencarinya tapi nggak ada tuh anak di mana-mana." Sahutnya menoleh ke arah Zaden.


"Ngapain kalian nyari tuh buaya, kok nggak ngajak-ngajak gue sih." Gerutu Christ yang merasa tidak diikut sertakan dalam pencarian Kenny, memang Kenny sepenting itu hingga mereka berdua mencari-carinya.


"Buat gue hajar!! Kemarin seenaknya dia ngerjain gue dan sekarang gue mau beri pelajaran sama tuh anak. Loe kan sudah gue pelajaran juga lusa kemarin." Ingatkan Zaden akan kesalahanya Christ.


"Yah diingatin lagi, gue janji nggak akan asal ngomong lagi di depan Do.." hampir aja keceplosan, Christ lupa di sini ada Alando, bisa gawat kalau dia juga ikutan tau.


"Do apa?" Alando dibuat penasaran masalahnya Christ cuma ngomong separo-separo.


"Itu Lan, Mei..."


"Zad mending loe cari lagi Kenny di depan, mungkn sekarang dia sudah datang. Gue temanin deh." Debelum Zaden mengatakan kebenarannya, Christ secepatnya mendorong Zaden keluar menjauh dari Alando dan ikut mencari Kenny.


"Kenapa lagi tuh anak?" tanya Alando pada Steven namun cuma ditanggapi santai olehnya.


"Oh itu, sepertinya dia mengucapkan kata kiss mark di depan Meira." Cengirnya.


"Apa...?" dasar Christ, kesalnya. Bukan apa-apa, yang boleh mengajari Meira kata-kata atau hal-hal berbau dewasa itu cuma Alando bukan yang lain.


Vote, like dan koment yaa...