Meira

Meira
BAB. 50



Suasana tampak hening, acara pertunangan akan segera dilaksanakan dan disaksikan hanya beberapa keluarganya. Acaranya pun sangat sederhana dan tidak ada kemewahan bahkan tempatnya pun cuma di kamar rumah sakit.


"Alan bagaimana? Kau sudah menyiapkan cincinnya kan?" tanya Om Rendrawan, saudara papanya itu.


"Sudah." Jawab Alando singkat. Dia masih memandang suasana kamar itu.


"Ya sudah, langsung saja kita mulai. Alan kamu bisa menyematkan cincinnya pada Gaby." Suruh Om Rendrawan selaku wakil dari ayahnya yang menjadi pengatur acara karena papanya sendiri tidak mampu terlalu banyak bicara lagi.


"Gaby...?" tanya Alando heran, "Tunggu Om, sepertinya ada kesalah pahaman di sini." Alando memandang semua wajah yang ada di tempat ini. Keluarga yang pernah dekat dengannya dulu saat kecil tapi nyatanya semuanya telah berbeda, mereka cuma orang asing buatnya. Dan Alando tidak berencana kembali kemasa lalu itu buatnya masa depannya lah yang terpenting. Keluarga yang sesungguhnya saat ini adalah sahabatnya dan tentu saja gadis lugunya yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.


"Kreek..." pintu terbuka, seseorang muncul dari sana sehingga pandangan tertuju padanya. Gadis manisnya yang dari tadi sudah dia tunggu-tunggu. Dia sengaja meminta Zaden membawa Meira ke tempat ini pada jam yang sudah dia tentukan.


"Kak Al Al... Meira kangen, kenapa kak Al Al tidak menelpon Meira?" dipeluknya laki-laki yang hampir dua hari ini tidak ditemuinya. Dia khawatir, bahkan pesannya saja tidak dibalas cuma dibaca. Apa yang dilakukan kak Al Al nya itu jahat, batin Meira meniru kata-kata dari tokoh Cinta film AADC.


"Hemm... maaf, yang penting sekarang kita sudah ketemu." Alando membalas pelukan Meira tidak kalah erat. Dia sangat merindukan gadisnya ini, sangat. Zaden terlihat berada di belakang Meira untuk menyusulnya. Alando sangat berterima kasih untuk sahabatnya itu.


"Iya, Meira senang ketemu kak Al Al di sini tapi Meira nggak suka tempat ini." Rumah sakit adalah tempat yang paling tidak disukai Meira, dia masih trauma. Hampir satu tahun dia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk terapinya.


"Tidak apa-apa, ada aku di sini." Dia mengerti apa yang ditakutkan Meira, kali ini Alando memang ingin bersikap manis padanya, dia ingin menunjukkan pada keluarganya terutama Papanya, kalau dia sudah memiliki pasangan hidup pilihannya sendiri. Tidak ada perjodohan diantara dia dan teman di masa kecilnya itu yang juga masih memiliki hubungan keluarga. Dia memang menyayangi temannya itu, tapi itu dulu saat mereka masih kecil dan sekarang jelas keadaannya sudah berbeda. Mereka sudah bertahun-tahun tidak bertemu mana bisa cinta tumbuh diantara mereka berdua, mungkin itu cuma ada di dalam novel perjalanan cinta orang lain. Dimana saat mereka kecil berjanji untuk selalu bersama kemudian berpisah dan saat besar mereka dipertemukan lagi dan akhirnya menikah dan happy ending Happily ever after. Dan pastinya itu bukan novel perjalanan cinta Alando dan Meira, perjalanan cinta mereka masih jauh dan entah apa yang akan mereka hadapi kedepannya, apakah akan berakhir happy ending atau kah sebaliknya. Tidak ada yang tau, saat ini dan seterusnya mereka cuma bisa berusaha mengejar kebahagiaan itu.


Dan maaf saja Alando bukan seseorang yang bisa ditekan begitu saja, penyakit papanya bukan alasan untuk dia berhenti meraih Meira. Sesulit apapun dia akan tetap berjuang, lagi pula satu-satunya kelemahannya adalah mamanya bukan papanya yang sudah meninggalkannya puluhan tahun.


"Alan, ini maksudnya apa?" tanya Gaby yang masih kaget dengan situasi di depannya, dia mengira pertunangan mereka akan berjalan lancar seperti bayangannya, tetapi gadis itu, dia siapa? batinnya bertanya.


"Dia siapa Alan...?" begitu pun sang Papa serta semua keluarga yang hadir di acara sederhana itu. Papa Alan masih heran dengan gadis yang ada dipelukan anak lelakinya itu, namun terlihat dia sangat menyayanginya.


"Dia calon tunanganku Pa, namanya Meira. Kami di sini memang ingin minta restu Papa, dan maaf aku menolak perjodohan dari kalian karena aku sudah memiliki pilihanku sendiri. Tapi kalau Papa tidak merestui kami! Kami bisa kawin lari." Jawab Alando tegas, dengan pose tidak memeluk Meira lagi dan hanya memegang tangannya.


Dan Zaden dia hanya ikut menyaksikan drama live seperti di drama-drama yang ada di televisi, dan yah... Zaden lumayan terhibur dengan tontonan yang ada di depannya saat ini, sayangnya perannya cuma sebagai figuran dan tidak banyak yang bisa dia lakukan, cuma jadi pengantar Meira yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi dan akhirnya ikut berdiri di pojokan dengan gaya yang cool, ikut menjadi penonton sekaligus pendukung cinta mereka. Kira-kira bayarannya berapa ya untuk perannya ini, batinnya.


"Emang bisa kak Al Al...? Nanti Meira cape, Meira nggak suka lari." Di saat seperti ini pun Meira masih aja bercanda, tapi maaf sayangnya itu bukan candaan. Pemikiran Meira memang seperti itu dan Alando akan terus memakluminya dan mendengarkannya.


"Kalau begitu aku yang akan menggendong kamu, sampai kita tidak bisa berlari lagi." sahut Alando, mengikuti obrolan Meira. Dia tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya yang tampak bingung, hidupnya adalah urusannya dan bukan urusan mereka.


"Tenang saja kalau kalian cape berlari kalian bisa istirahat di rumah gue." Timpal Zaden menambah suasana menjadi lebih awkward, mau bagaimana lagi, dia bosan cuma bisa menjadi penonton.


"Meira mau..." Seru Meira bahagia. Dia tidak mengerti makna dari kawin lari sesungguhnya.


"Papa tidak memaksamu Alan, seharusnya kemarin kamu bilang sama Papa kalau kamu sudah memiliki gadis yang kamu mau, Papa akan merestui kalian berdua." Ucap Papanya, dia memang ingin Alando menikah dengan seseorang yang sudah dia kenal keluarga dan kepribadiannya namun kalau anaknya itu sudah memiliki pilihannya sendiri dan apalagi anaknya terlihat bahagia, kenapa tidak. Dia akan selalu mendukung pilihan anaknya itu, anggaplah ini bentuk rasa bersalahnya selama puluhan tahun.


"Papa akan mendukungmu mulai sekarang." Jawab papanya bangga pada anak laki-lakinya itu.


"Bagaimana dengan aku Om...?" tanya Gaby dengan wajah yang sedih dan belum bisa menerima, padahal dia sudah sangat bahagia tadinya.


"Maafkan Om, Gaby. Om tidak bisa memaksa Alan, dia berhak untuk memilih jalan hidupnya sendiri serta pasangannya.


Begitu pun dengan kalian. Yuma, Fandi aku minta maaf untuk ini dan ku harap kalian bisa mengerti?" ucap Papa pada Gaby dan keluarganya.


"Iya Mas kami mengerti, cinta tidak bisa di paksakan." Ucap Fandi, ayah dari Gaby yang untungnya bisa bersikap bijaksana.


"Aku pulang." Seru Gaby dengan keadaan kesalnya bahkan dia melirik Meira dengan wajah sinisnya dan segera beranjak pulang. "Buuk..." pintu pun tidak luput dari sasaran kemarahannya, hingga membuat semua orang di sana kaget.


"Iih... Meira kaget...! dia marah sama Meira ya kak Al Al..? Tadi dia melotot sama Meira." Ucap Meira pada kak Al Al nya.


"Tidak, dia marah sama aku." Jawab Alando sekenanya, dia tidak mau Meira sedih karena dirinya.


"Oh...?"


"Aduuh... anak itu." Kesal Papanya yang merasa malu akan kelakuan putri manjanya itu, wajar dari kecil dia selalu dimanja dan selalu mendapatkan apa yang dia mau. "Kami permisi dulu Mas, biar kami yang memberi pengertian pada anak itu." Ucap Om Fandi, merasa tidak enak. Walau bagaimana pun kakak sepupunya itu sudah banyak membantu keluarga mereka.


"Iya, sampaikan maaf kami padanya." Pesan Papa Alando yang juga merasa bersalah.


"Jadi apakah pertunangan ini akan di lanjutkan...?" tanya Om Rendrawan ingin menghilangkan kecanggungan yang sedang terjadi. Dia tidak menyangka acaranya akan seperti ini, seperti di sinetron-sinetron saja, pikir Om Rendrawan.


"Pa... kami minta restu, izinkan kami melanjutkan pertunangan ini." Minta Alando, kali ini dia ingin mengikuti saran sahabat-sahabatnya, memaafkan semua yang sudah terjadi dan memulai awal yang baru.


"Iya, Papa ingin melihat kalian bertunangan hari ini juga dan Papa juga ingin melihat kalian bisa secepatnya menikah sebelum Papa tidak ada di dunia ini lagi." Permintaan Papanya selagi dia masih bisa menyaksikan kebahagiaan putra satu-satunya yang dia dapat dari istri pertamanya.


Tapi tunggu sebentar Pa ada dua orang lagi yang masih aku tunggu!" ucap Alando, dua orang yang juga sangat penting untuk kebahagiaan mereka.


Vote, like dan koment.


Semoga kita semua di beri kesehatan terus, untuk saya sendiri biar bisa menyelesaikan cerita ini dan kalian semoga terus bisa membaca cerita ini sampe selesai.


Gara-gara Efek Corona😥😥