
Keinginan aneh Meira saat ini, yaitu sahabatnya yang bernama Zaden lah yang harus membelikan martabak manis rasa keju saat ini juga, malam pula.
"Tapi ini sudah malam." Alando mencoba memberikan pengertian pada istrinya yang saat ini lagi mode aneh bin ajaib.
"Aaaaaaa, hiks... hiks... Maunya kak Zad Zad." teriak Meira.
"Oke... Oke..." pasrah Alando, terpaksa kali ini dia harus merepotkan sahabatnya itu.
Mudah-mudahan istrinya ini tidak meminta hal-hal yang lebih aneh lagi.
"Biar Meira aja yang telpon." ucap Meira antusias dan bangkit dari rebahan serta pelukan nyaman sang suami dan mengambil hanphonenya yang berada di samping tempat tidurnya. "Meira kan hari ini nggak lihat wajah kak Zad Zad yang ganteng." polosnya, tanpa mempedulikan wajah suaminya yang kini berubah menjadi mode hulk.
"Meira jangan membuatku marah ya...?" tegur Alando, dia kesal istrinya memuji wajah sahabatnya itu, meski dia akui Zaden sedikit lebih ganteng dari dia.
'Tapi cuma sedikit.' batin Alando. Karena Meiranya cuma boleh memuja dirinya bukan orang lain. Walau itu sahabatnya sendiri.
"Kak Al Al kalau marah tambah ganteng, Meira jadi tambah cayang-cayang-cayang, cayang banget, eemuaachh... cup." kecup basah hadiah Meira di pipi Alando membuatnya membatalkan rasa kesalnya dan berubah jadi senyuman, melihat istrinya yang ceria adalah hal yang paling menyenangkan.
"Kamu sekarang pandai merayu ya...? Belajar dari siapa?" balas mencium istrinya balik, tetapi Alando memilih mencium Meira di bibirnya yang makin menggoda itu.
"Cupp..." hanya lumata*-lumata* pendek yang dia berikan namun mampu membuat sengatan listrik mengaliri tubuh Alando.
"Meira nggak suka belajar, cape kak Al Al... Meira itu cape."
"Iya... Iya..., jadi telpon Zadennya?" tanyanya dengan sabar, istrinya lagi senang jadi dia tidak boleh membuat moodnya buruk lagi.
"Jadi dong, Meira kan pengen makan martabak isi keju." jawabnya, dan menekan nomor Zaden.
"Klik..."
"Kak Zad Zad Meira pengeeeen banget makan Martabak manis isi keju yang banyak. Meira boleh pesen?" ucapnya langsung setelah sambungan telponnya terhubung.
"Hahh...?" terdengar Zaden yang bingung dengan permintaan Meira dari seberang sana.
"Meira pengen makan itu kak Zad Zad..., boleh ya?" minta Meira memohon dengan mukanya yang memelas, meski di seberang sana Zaden sama sekali tidak bisa melihat muka Meira yang penuh harapan.
"I iya boleh. Tapi kamu nggak salah sambungkan Meira?" tanya Zaden yang masih belum paham situasinya.
"Enggak kok, Meira tadi hubungin nomor kak Zad Zad beneran! Kak Al Al... Meira nggak salahkan?" tanyanya pada Alando.
"Iya nggak salah, sini biar aku ngomong."
Alando mengambil alih telponnya dan menjelaskan keinginan Meira, tidak peduli kalau Zaden sedang rebahan, melamun ria atau apalah yang penting pesanan Meira harus datang. Dia tidak mau Meira menangis lagi dan mungkin calon anak mereka yang ukuran sebiji kacang itu sedang mengharapkannya juga.
"Oke. Pesanan akan segera gue antar baginda raja. Klik." tutupnya.
Setelah puas menikmati rujak saus cokelat yang enak menurut Meira namun terasa aneh di lidah Alando yang mau tidak mau akhirnya dia lah yang menghabiskan sisanya atas permintaan sang ratu di hatinya itu.
Kini mereka berdua duduk santai di ruang keluarga sambil menuggu pesanan martabak yang akan diantar oleh sahabatnya sendiri, memang sih nyusahin tapi ini demi si calon ibu agar terus bahagia. Karena dari yang Alando baca, kalau ibunya bahagia maka perkembangan calon anak mereka juga ikut bertumbuh baik.
Ayah dan ibu Meira pun cuma maklum melihat kelakuan putri mereka yang makin manja dan luar biasa ajaibnya. Sekarang mereka tambah yakin jikalau Meira sekarang memang mengandung apalagi mengingat Meira yang belum dapat haid selama satu bulanan ini. Tapi untungnya sampai saat ini Meira tidak terlihat muntah-muntah kecuali saat mencium bau-bauan yang tiba-tiba menyerangnya.
"Tok... Tok..." suara ketukan kini terdengar di depan pintu mereka.
"Itu pasti kak Zad Zad." ucap Meira dan bergegas membuka pintu. Tanpa menghiraukan kengerian orang-orang yang melihatnya tiba-tiba berlari kecil.
"Meira pelan-pelan, jangan berlari seperti itu." haah... Istrinya ini benar-benar membuat jantungnya serasa lepas saat melihatnya berlarian kecil. Sepertinya Alando memang harus kudu ekstra menjaga Meira, supaya dia tidak membahayakan dirinya sendiri maupun calon bayi yang kini mulai tumbuh dan masih dugaan.
"Kreek..."
"Meira sudah nunggu dari ta..." belum selesai melanjutkan omongannya, Meira tersadar ternyata orang yang ada di depan pintu saat ini, bukanlah kak Zaden yang sudah dia tunggu-tunggu dari tadi melainkan adik resenya yang meski rese tetap dia sayang.
"Ta...? Tanah, tahun, talas?" tanya Rado, yang bahagia untuk pertama kalinya setelah kakak perempuannya ini menikah, akhirnya dia kini menyambut kedatangannya lagi. "Wah tumben banget, hari ini kok aku disambut?" tambahnya.
"Iih... bukan! Dari tadi, tau." koreksinya, "Tapi nggak jadi, Meira kan lagi nunggu kak Zad Zad bawain martabak pesanan Meira bukan Radodo." jawabnya.
"Hah...? Sekarang kak Zaden beralih profesi ya, jadi pengantar makanan gitu?"
"Iya. Nah itu...!" tunjuk Meira pada mobil berwarna hitam yang kini berhenti di depan perkarangan rumahnya. Mobil Zaden terlihat keren ditambah sang pemilik yang memiliki senyum menenangkan itu kini turun dari mobilnya dan menghampiri Meira dan Rado yang menyambutnya di depan pintu sambil tersenyum ceria.
"Kak Zad Zad..."
"Sialan loe, malam-malam nyuruh gue menjadi pengantar makanan." semburnya Alando, yang kini sudah ikut-ikutan rese seperti tiga sahabatnya yang lain. Setelah menyerahkan martabaknya pada Meira yang disambutnya dengan suka cita dan rona bahagia, dan mungkin sekarang dia dan adiknya yang juga ikutan kecipratan rezeki makanan sedang menikmatinya bersama.
Zaden memang membeli lebih, bukan hanya untuk Meira tapi seluruh keluarga dan setelah menyapa kedua orang tua Meira, kini mereka berdua mengobrol di ruang tamu. Berhubung Zaden juga sedang bosan sendri di rumahnya, maka tidak apa-apalah kali ini dia ikhlas menjadi pengantar makanan terkeren sejagad raya.
"Mau bagaimana lagi, ini keinginan Meira." cengir Alando, sedikit meledek Zaden dan bukannya sedikit merasa bersalah, Alando justru puas bisa mengerjai sahabatnya ini dan mungkin besok-besok bisa saja tiga temannya yang lain mendapatkan gilirannya sesuai suasana hati istrinya itu.
"Ckckk... Meira kayak orang ngidam aja." tawa Zaden, dia memang tidak mengikuti berita terbaru dari sahabat-sahabatnya saat mengobrol tadi siang. Zaden lebih fokus pada kerjaannya seharian ini.
"Dugaan sementara memang itu, makanya besok gue nggak kuliah dulu. Mau bawa Meira ke dokter obgyn buat periksa."
Tangannya kini meraih botol kaleng berisi soda yang menemani mereka melepas dahaga tenggorokan dikala lelah mengobrol.
****
Setelah mengantri cukup lama, kini giliran nama Meira putri yang mendapat panggilan untuk diperiksa, Alando dengan setia menemani istrinya yang masih takut menghadapi dokter apalagi dikala memasuki ruangan bersih yang memiliki aroma yang tidak dia suka.
"Kak Al Al... Meira takut, Meira kan nggak sakit lagi." ucapnya penuh ketakutan, sudah cukup lama dia tidak ke rumah sakit lagi untuk berobat terakhir ya cuma mengunjungi papa mertuanya yang kala itu meninggal dunia.
"Tidak apa-apa, kamu cuma periksa kandungan. setelah tau hasilnya kita langsung pulang." sahut Alando menenangkan istrinya yang terlihat cemas dan barulah Meira mulai mengikuti apa yang diminta perawat.
Berbagai tes kini sudah Meira jalani, dari tes urin sampai USG meski Alando juga harus selalu berada di dekatnya untuk memberi ketenangan.
"Bagaimana bu dokter, apakah istri saya memang hamil?" tanya Alando to he point, dia tidak suka basa-basi membuat rasa penasarannya makin berkuasa.
"Ya, selamat ya Pak dan Bu Meira." ucap bu dokter yang dilihat dari wajahnya dia berusia sekitar 40 tahunan, dokter yang ramah dan bisa memahami sifat Meira yang terlihat seperti anak kecil. Dia seakan bertindak seperti seorang ibu kepada anaknya.
"Meira nggak suka dipanggil Bu, Meira kan belum tua Bu dokter. Ya kan kak Al... Al...?"
"Oh begitu, baiklah." tawa dokter, yang diketahui bernama dokter Lina.
"Meira..., tidak apa-apa dipanggil ibu, karena sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang ibu." ucap Alando, penuh rasa sayang menatap istrinya.
Setelahnya mengalirlah penjelasan dari dokter Lina secara detail, dari apa saja yang boleh dia lakukan dan tidak, dari makanan sampai penjelasan mengenai kesehatan kandungan Meira sendiri yang sekarang masih berusia 5 minggu, hingga belum terlihat apa pun dari pemeriksaan USG tersebut.
"Jadi sekarang Meira hamil?" tanyanya dan meraba perutnya yang masih terlihat ramping, masih belum menemukan perbedaannya.
"Iya, karena itu kamu harus bisa menjaga diri mulai sekarang." jawab Alando posesif, mendahului apa yang ingin dikatakan bu dokternya.
"Tapi dok, apakah kami masih bisa..." Alando sedikit bingung menjelaskannya, mungkin juga sedikit malu.
"Ehmm... Maksud saya itu..."
"Oh, saya mengerti, melakukan hubungan intim sebenarnya tidak masalah untuk ibu hamil, hanya saja untuk awal kehamilan sebaiknya ditunda dulu, mungkin tunggu istrinya lebih nyaman selama masa adaptasinya. Di trimester kedua, usia kandungan sekitar 12 minggu hormon tubuh akan mulai stabil dan saat itulah kondisi ibu hamil akan membaik. Dan tentu saja buatlah posisi yang nyaman dan tidak menyakiti istri anda nantinya." penjelasan demi penjelasan yang ingin diketahui Alando kini bisa dia cerna walau agak sedikit canggung tapi demi kesehatan istrinya dan dirinya sendiri, apa boleh buat.
"Kak Al Al... Meira kan malu. Sangat malu." Meira bahkan kini menutup mukanya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
"Hahaa..." dokter Lina hanya bisa tersenyum melihatnya.
****
Selama sebulan ini Meira bahkan mendapat perlakuan bak seorang ratu yang akan selalu dilayani dan dituruti semua keinginannya.
Selain untuk menjaga mood Meira tetap stabil sekaligus membuatnya terhindar dari stress yang akan mengakibatkan kondisi tumbuh janinnya terhambat, bahkan Rado mengalah untuk kakaknya itu, dia tidak mau terjadi apa-apa padanya dan calon keponakannya yang masih tumbuh.
"Kak Al Al... Kalau nanti Meira bulat dan membesar, kak Al Al masih sayang Meira nggak?" tanyanya, memperhatikan wajah ganteng suaminya yang kini tengah memeluk dirinya di tempat tidur mereka.
"Tentu saja, aku akan makin menyayangimu karena di sini ada malaikat kecil kita yang juga semakin tumbuh besar, tidak masalah kalau nanti kamu menjadi bulat." ucap Alando sambil mengusap lembut perut Meira dengan memejamkan matanya, rasanya dia sangat mengantuk tapi Meira terus mengajaknya bicara.
Nanti kalau laki-laki, Meira kasih nama Lee Min Ho biar seganteng oppa Min Min tapi kalau perempuan Meira kasih Nama Bae Suzy biar secantik eonnie Suzy, bolehkan kak Al Al...?" tanya Meira di sampingnya.
"Eghhh..." gumam Alando, terdengar seperti mengiyakan.
"Hiihii... Meira senang."
Vote, like dan koment
Maaf ya kalau ada kesalahan dalam penjelasan kehamilan atau tanda-tandanya, namanya juga belum pernah😂, silahkan koment deh kalau ada yang salah nanti saya perbaiki.