
Tampak gadis berambut panjang sedang terbaring lemah dan tak mampu untuk bangun dari ranjangnya bahkan suhu badannya tinggi mencapai 38 derajat celcius. Namun dia terus merengek untuk pergi ke kampus.
"Kamu ini sakit, kok mau ke kampus? Sudah, istirahat saja dulu hari ini!" bujuk ibunya yang sudah meletakkan bubur untuk Meira.
"Tapi Meira mau balikin jaket kak Al Al." Sebenarnya bukan cuma untuk balikin jaketnya Kak Al Al nya tapi juga ingin melihatnya. Meira seperti seorang pecandu, Kak Al Al nya sudah seperti candu untuknya. Sehari tanpa melihat wajah kesalnya kak Al Al sama seperti tidak makan sehari, lemas.
"Besok lusa kan bisa? Lagi pula jaketnya juga belum kering." Meira yang tidak bisa apa-apa cuma bisa cemberut. Esok kan hari libur? dia tidak bisa melihat kak Al Al nya. "Kamu makan dulu, terus minum obat." Perintah ibu Meira dan menyuapi bubur perlahan ke mulutnya.
"Nak Al sudah membelikan obat-obat ini untuk kamu, jadi kamu harus meminumnya." mendengar nama kak Al Al nya disebut Meira langsung semangat untuk meminumnya. Dan kembali membaringkan tubuhnya setelah selesai meminum obatnya.
* * *
Seperti biasa, mereka akan latihan basket setiap harinya. Namun hari ini memang agak siangan karena tidak ada mata kuliah. Mereka ke kampus hanya untuk latihan basket. Tapi rasanya ada yang kurang, biasanya di kursi penonton paling depan sana ada seorang gadis yang selalu menyemangatinya sekaligus bikin kesal dia. Seharusnya Alando senang tidak ada yang mengganggunya hari ini. Dia juga bisa tenang karena tidak ada yang berisik di sekitarnya seperti saat dia belum mengenal gadis itu.
Tapi entah kenapa sekarang justru dia ingin melihat gadis itu lagi. Gadis yang selalu menampilkan senyum manisnya, menampilkan wajah lugunya, berceloteh nggak jelas dan memanggil namanya dengan cara yang berbeda. Belum ada dua minggu, Meira mampu masuk dalam kehidupannya bahkan membuat Alando memikirkan tentangnya.
Tapi dia belum yakin ini adalah perasaan cinta, terlalu dini untuk menyebutnya cinta. Ini hanyalah perasaan karena terbiasa. Lama-kelamaan hidupnya akan kembali seperti semula seandainya Meira bosan mengikutinya.
"Sepi juga ya nggak ada Meira?" tutur Kenny. Biasanya Kenny akan menggoda Alando karena tingkahnya Meira yang memberikan semangat di kursi penonton.
"Meira nggak ada kuliah?" tanya Zaden yang menatap ke arah Alando. Sedangkan Alando cuma mengedikkan bahunya.
"Mungkin dia sakit?" tutur Alando, setelah kehujanan Meira tampak tidak sehat. Sepertinya dia kena demam.
"Sakit...?" Zaden menatap Alando penuh tanda tanya.
"Hemm... Kemarin kami sempat kehujanan. Badannya panas." Jelas Alando yang juga khawatir akan Meira.
"Loe nggak hubungin Meira?" tanya zaden lagi, sedangkan tangannya sibuk mendribel bola basket.
"Gue nggak punya nomornya." Alando memang tidak pernah meminta nomor Meira karena buatnya Meira hanya seseorang yang tiba-tiba datang dan akan segera menghilang tiba-tiba juga.
"Apa? Loe nggak punya nomor pacar loe sendiri? Parah loe Lan...!" Ejek Christ sengaja ingin melihat Alando kesal.
"Sejak kapan kami pacaran?" Alando ngegas protes. Alando bahkan tidak pernah menembak gadis itu tapi tiba-tiba saja teman-temannya mengatakan mereka berdua pacaran.
"Sejak loe peduli padanya." jawab Christ yang menepuk punggung Alando dan kembali melempar bola.
"Mungkin terlalu dini untuk memahami perasaan loe sekarang pada Meira jadi nikmati aja dulu prosesnya. Tapi nggak ada salahnya juga memberi kesempatan untuk diri loe sendiri bahagia, gue percaya Meira bisa membuat loe tertawa lagi." Sahut Zaden yang dari tadi melihat sikapnya Alando tidak seperti biasanya.
Alando sengaja memisahkan diri dari teman-temannya, dia ingin pergi kesatu tempat lebih dulu. Alando tidak yakin dia bisa menemukan teman-teman Meira di kelas ini. Namun ini kelas yang sering digunakan Meira. Mereka memang berbeda jurusan jadi Alando tidak terlalu mengetahui tentang Meira. Untungnya Alando pernah melihat Meira berkumpul dengan teman-temannya jadi dia bisa mengenali beberapa teman-temannya.
Saat masuk kelas mereka yang untungnya belum ada dosen saat ini. Jadinya Alando bebas masuk begitu saja tanpa mempedulikan sekitarnya. Tampak mereka terdiam melihatnya, seolah dia adalah monster paling berbahaya. Dia memang suka menghajar orang namun hanya orang-orang yang patut dihajar, bukan seseorang yang tidak tahu apa-apa. Dan mereka pun, maksudnya ZACKS bukanlah orang yang main keroyokan. Satu lawan satu, itu yang selalu diterapkannya, sedangkan yang lain cuma penonton.
"Kau sini...?" Panggil Alando pada salah satu gadis yang sering dilihatnya bersama Meira. Gadis itu perlahan mendekat dengan segala ketakutannya.
"A... aku Kak...?" tanya gadis itu gugup, demi Tuhan dia tidak merasa sudah melakukan kesalahan apa pun terhadap ZACKS.
"Mana Meira?" tanya Alando dengan sikap dinginnya yang menakutkan buat banyak mahasiswa
"Me... Meira hari ini tidak masuk Kak." Jawabnya terbata-bata, mendengar suaranya saja bikin merinding ditambah dengan tatapan intimidasi kejam dari seorang Alando membuat gadis itu ketakutan.
"Tadi Meira telpon katanya dia sakit." gugup gadis itu.
"Ya sudah, berikan nomor telponnya!" perintah Alando.
Setelah mendapatkan nomor telpon Meira, Alando segera keluar dari kelas tersebut tanpa mempedulikan tatapan bertanya seisi kelas tersebut. Buatnya itu tidak penting. Karena saat ini ada yang lebih penting untuk dipikirkannya. Siapa lagi kalau bukan gadis berisik yang sudah mengganggunya beberapa hari ini. Alando menekan nomor telphone Meira yang baru saja dia save dengan nama gadis berisik.
"Derrrtt... drrrttt..." Meira masih setia di atas kasurnya yang empuk, perlahan membuka matanya saat mendengar suara handphonenya yang berbunyi.
"Iih... siapa sih telpon Meira? Meira kan masih sakit...?" seolah Meira sedang berbicara dengan seseorang tapi kenyataannya dia bermonolog sendiri.
"Hallo... siapa?" angkat Meira pelan dengan suara seraknya khas orang sakit.
"Kamu sakit?" tanya seseorang yang ada di seberang sana.
"He.. eh.. Meira sakit." jawabnya lemah.
Namun baru beberapa saat Meira tersadar. Ini kan suara kak Al Al nya. "KAK AL AL." teriaknya saking gembiranya mendapat telpon dari pangeran pemarahnya.
"Berisik! Kau sakit tapi masih bisa teriak-teriak." Suara ketus kak Al Al nya terdengar indah. Meira bisa membayangkan wajah kesal kak Al Al nya seperti apa?.
"Meira kan senang kak Al Al telpon Meira." senyum di bibirnya tampak mengembang lagi padahal sedari tadi dia terus cemberut.
"Istirahat...! Telponnya aku tutup." Perintah Alando. Dan sambungan berakhir, dia hanya ingin mengetahui keadaan Meira.
"Loh... loh... kok di tutup sih? Meira kan masih kangen." Tapi meski begitu Meira sudah sangat bahagia. Namun karena masih sakit akhirnya Meira tertidur lagi.
****
Vote, like dan koment yaa...