Meira

Meira
BAB. 73



Edisi Christ dan Sany


"Huuh..." hembusan nafas berat dari Sany berkali-kali menandakan dia merasa sangat bosan, entah kenapa hari ini sangat berbeda baginya. Tidak seperti hari biasanya yang terasa menyenangkan namun hari ini justru ada yang kurang.


"Ada kak Christ...!" teriak Mita ke arah pintu, seolah-olah ada seseorang yang dari tadi ingin dilihat sahabatnya.


"Hah... Mana?" toleh Sany mengarahkan matanya ke belakang badannya, di mana letak pintu kelas berada.


"Hahaaa..." tawa dua sahabatnya, sekarang mereka cuma bertiga, karena sejak dua bulan yang lalu Meira sudah mengajukan cuti kuliah.


Suami Meira yaitu Alando terlalu menghkawatirkannya, dia takut terjadi apa-apa pada istrinya dan calon anak mereka, apalagi dengan sifat cerobohnya Meira serta ada beberapa orang yang mungkin tidak menyukai istrinya yang diakibatkan oleh dirinya juga. Contohnya aja Olivia, meski kini gadis itu sudah tidak berani mengusiknya lagi tapi tetap aja ada kekhawatiran dalam dirinya.


Tentu Alando tidak mau mengambil resiko, dan buat Alando tidak masalah kalau Meira tidak bisa melanjutkan kuliahnya lagi, karena mungkin semakin ke sini sepertinya Meira makin kesulitan menerima mata kuliahnya, dan Alando tidak ingin melihat Meira banyak berpikir. Dia sebagai kepala rumah tangga, dia cukup mampu menghidupi istrinya tanpa Meira harus bekerja juga, memang tujuan kuliah bukan cuma untuk mendapat pekerjaan, tapi juga bisa untuk bersosial di masyarakat dan agar kelak bisa memberi bimbingan pada anak-anak mereka namun kalau Meira tidak mampu menjalaninya apa boleh buat, namun sepertinya Meira bukan orang yang mudah putus asa.


"Kalau suka ya sudah bilang saja suka, jangan sok jual mahal. Entar kak Christ malah berpaling pada yang mau jual murah." goda Mita, sejak tadi dia sudah memperhatikan gelagat Sany yang terlihat menunggu atau malah merindukan seseorang.


"Cinta datang karena terbiasa, sehari tidak terlihat rasanya ada yang kurang, hahaaa..." tambah Ami.


"Apaan sih, siapa juga yang suka pada orang seperti itu." gengsinya, sejak awal dia sudah bilang tidak akan tertarik dengan anggota ZACKS itu, masa sekarang dia harus menjila* lidahnya sendiri.


"Benaran ya?, jangan nangis entar saat dia berpaling kelain perempuan." sahut Mita. Teman satunya ini memang keras kepala.


"Udah ah, aku pulang duluan aja lagian dosennya nggak bakal datang." ketus Sany, sudah hampir satu jam namun belum ada tanda-tanda dosennya muncul, ya udah dia pulang duluan aja.


Sepanjang jalan kampus, Sany terus merenungi pembicaraannya dengan dua sahabatnya tadi. Ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dia jawab.


'Apakah dia mulai menyukai kak Christ yang pecicilan itu?, apakah kak Christ akan bosan mendekatinya dan menemukan perempuan yang lebih respon padanya?'


Sany belum mengerti dengan perasaannya saat ini, tapi jujur dia merindukan tingkah lelaki itu yang selalu berusaha mendekatinya meski ujung-ujungnya akan dia abaikan begitu saja, tapi sekarang, kenapa rasanya sedikit sakit saat dia membayangkan kak Christ saat ini menemukan perempuan lain.


Bahkan saat ini pesan WA nya pun masih kosong tidak seperti sebelum-sebelumnya, ada banyak kata-kata rayuan atau sekedar kata-kata perhatian yang receh menurut Sany.


"Drrrttt... Drrrttt..." handphonenya terus berbunyi, panggilan dari Meira ternyata.


"Halo...!"


"Sansan maafin Meira ya, Meira sudah jahat sama Sansan, hiks... hiks..." terdengar suara tangisan Meira setelah mengatakan maaf dari seberang sana.


"Maafin kenapa?" Sany nampak bingung, masih mencerna omongan Meira dan mengingat-ingat kembali kesalahan apa saja yang sudah Meira buat.


"Meira udah bikin kak Kris Kris sakit, Meira bikin kak Kris Kris sakit perut dan nggak bisa bangun lagi, hiks... hiks... hiks... tadi Meira minta kak Kris Kris nyicipin kue buatan Meira." tambahnya, dengan tangisan lebih kencang.


"Apa...? Maksud kamu nggak bisa bangun lagi, dia mati?" Sansan tidak bisa memikirkan hal lain lagi, dia panik.


"Enggak, Sansan nggak boleh doain kayak gitu, nggak boleh." kesal Meira dari seberang sana.


"Meira...!" sedikit frustasi, karena Meira tidak menjawab pertanyaannya.


"Kak kris kris sakit dan nggak bisa bangun dari tempat tidur doang tapi nggak mati, udah ah... Sansan kalau mau tau keadaan kak kris Kris, cari tau aja sendiri."


"Klik...!"


"Meira hei...!! kok dimatiin!."


Sansan sudah khawatir dengan keadaan kak Christ, tapi Meira malah dengan seenaknya mematikan telponnya.


"Hiks... hiks..." Sany sudah tidak mampu membendung air matanya lagi, dia sadar dia sudah mulai menyukai kak Christ, tanpa pikir panjang lagi Sany bergegas menaiki motor matiknya dan menuju ke alamat yang sudah dikasihkan oleh Meira.


*****


Sany akhirnya sampai di depan pagar rumah yang ada di alamat yang tertera, sempat ragu untuk masuk setelah melihat rumah yang begitu megah dan indah tersebut berdiri tegak dengan gaya angkuhnya, membuat seorang Sany yang gadis biasa sedikit tidak percaya diri untuk memasukinya namun saat membayangkan mungkin ini adalah terakhir kali dia bisa melihat lelaki itu dengan tekad kuat akhirnya dia memberanikan dirinya untuk menginjakkan kakinya di rumah itu.


Dengan mata sembab dan air mata yang mengalir tanpa henti Sany diantar seorang asisten rumah tangga memasuki kamar di mana katanya tuan muda mereka terbaring sakit dan sudah menunggu kedatangannya.


"Krek." saat pintu itu terbuka munculah pemandangan yang semakin membuatnya menangis, lelaki yang mulai memasuki hatinya itu terbaring sakit dengan infus yang yang menancap di tangan kirinya.


Sany mendekat, dia duduk di samping lelaki yang sedang terbaring itu. "Aku minta maaf, hiks... hiks... Kak Christ maaf, selama ini aku selalu menolak dan mengabaikanmu, aku terlalu jual mahal dan egois hiks... hiks... bisakah sekali lagi kau mengatakan perasaan itu, aku janji setelah ini aku akan menerima perasaanmu hiks... hiks... ak.. sepertinya aku juga suka padamu, kumohon jangan pergi... hiks... hiks..."


"Benarkah...?" tanya Chris tiba- tiba membuka matanya dengan senyum sejuta bunga.


"Iya, aku baru sadar, aku suka..." Sany melotot, ternyata lelaki yang dari tadi dia tangisi terlihat sehat walafiat, terlihat dari senyum cerahnya.


"Aaaaa... brengse*, ternyata kau membohongiku, buk... buk..." Sany kesal dan teras memukul badan Christ dengan tanagannya, meski pukulan Sany tidak ada apa-apanya sama sekali.


"Hahaaa... maaf, kalau tidak seperti ini, gue kan nggak akan tau tentang perasaan loe saat ini my Sansan."


"Jahat, hiks... hiks..., kau tau? Aku bahkan sudah ketakutan kalau kau benar-benar akan pergi." tangisnya.


Sementara Christ berusaha meredakan tangis si gadis pujaan dengan membawa kepelukannya, "Kalau begitu kali ini loe mau terima gue kan?" tanya Christ, serasa ada angin segar menerpanya.


Sany menjauhkan tubuh mereka. "Oke, tapi awas. Kalau kau berani selingkuh, kau mati di tanganku, kreek." tangannya bahkan memperagakan seperti seseorang yang lagi memenggal lehernya.


"Hehee..." Christ cuma bisa cengengesan melihat kesadisan gadis yang kini telah resmi menjadi pacarnya. Mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur jatuh cinta pada gadis tomboi itu.


"Terus ini apa?" tunjuknya pada infus yang melekat di pergelangan tangannya.


"Oh ini cuma mainan doang hehee..." tawanya, hanya untuk lebih meyakinkan, kalau dia benar-benar sakit. Untung saja si Dora kali ini mau diajak kerja sama dan mau membantunya dengan sogokan buah mangga yang susah payah harus dia petik dari pohon tetangganya.


"Dasar ka..."


"Cupp..."


"AAAAA... MATI KAU CHRIST."


****


"Meira kok harus bohong sih, Meira kan nggak boleh berbohong kak Al Al?"


"Tidak apa-apa sesekali berbohong untuk membantu Christ, lagi pula dia kan sudah pernah susah payah memetik mangga buat kamu." ujar Alando, mungkin dengan cara seperti ini mereka bisa semakin dekat, pikirnya.


"Oh iya... Meira kan dapat banyak mangga dari kak Kris Kris waktu itu." mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana Christ harus berusaha keras memetik mangga milik tetangga Meira yang memang sudah dapat izin dari pemiliknya, Christ terlihat bersemangat dan antusias saat dia mulai memanjat pohon itu apalagi setelah bisa memetik beberapa mangga namun setelah sampai ke bawah omelan pedasnya pada Meira kembali ditumpahkan dan seperti biasa akan ditanggapi Meira dengan cengengesan tanpa dosanya.


****


Vote, like dan koment...


Cerita Meira mau saya tamatin ya... tinggal 1 atau 2 bab lagi.