
Alando masih terpaku di depan pintu kamar rawat papanya, dia belum sanggup menerka-nerka apa yang akan didapatnya di dalam nanti, apakah dia mampu memadamkan emosinya saat melihat papanya itu. Tapi di hati kecilnya yang paling dalam ada ketakutan saat nanti dia terlambat untuk menemui papanya. Alando masih ingat kenangan-kenangan manis yang dilaluinya saat bersama papanya beserta mamanya, ada banyak kebahagiaan yang mereka lewati.
Papanya saat itu sangatlah menyayanginya dan mamanya, apa pun yang dia minta pasti akan papanya berikan namun semua kenangan itu seakan cuma mimpi tergantikan kenyataan yang pahit. Papanya berubah, dia menjadi orang asing dalam sekejap mata, wanita itu berhasil membutakan mata dan pikiran papanya sehingga tidak mempedulikan keluarga kecilnya lagi. Yang dia tau saat ini wanita itu sudah menghilang pergi dengan lelaki baru yang lebih mengagumkan dari papanya.
"Haahh..." Alando menarik napas dalam-dalam dan "Kreek" gagang pintu mulai ditarik dan terbukalah, pandangan mata tertuju padanya seolah dia bukanlah manusia biasa, ada empat pasang mata di sana. Alando mengenal mereka semua, orang-orang yang pernah ada di masa lalunya.
"Alan... Papa senang bisa melihatmu di sini." meski keadaannya tidak terlalu baik, infus yang melekat di tangannya dan dan selang oksigen yang ada di hidungnya serta wajah yang pucat dan tubuh yang semakin kurus menunjukkan bahwa dia benar-benar sakit parah seperti apa yang dikatakan Dinda, anak papanya dengan wanita itu.
"Aku kemari karena Dinda yang memaksaku." pandangan Alando tertuju pada sekitarnya, dia tidak bisa terlalu lama melihat Papanya, apalagi dengan sakitnya sekarang. Alando mungkin lebih bahagia membenci papanya dalam keadaan sehat dari pada membencinya dalam keadaan seperti sekarang.
"Papa mengerti...! papa sudah cukup senang kamu mau mengunjungi papa... uhuuk... uhuuk..." papanya tiba-tiba tiba terbatuk, mau tidak mau Alando menoleh ke arah papanya tersebut dengan dibantu Dinda dan satu orang ibu-ibu paruh baya yang dia kenal sebagai sepupu papanya yang paling dekat begitu pun mamanya dan Alando sendiri, dulu mereka dekat tapi itu dulu keadaan sekarang sudah berubah mereka sangat asing buat Alando.
"Papa jangan banyak bicara dulu, nanti saja setelah cukup sehat." minta Dinda pada papanya, terlihat dia sangat khawatir, sepertinya gadis itu cuma beda beberapa tahun darinya. Tapi bagaimana bisa...? bukankah saat papanya menikahi wanita itu, dia sudah berumur 13 tahun lalu ini apa artinya? ada dua kemungkinan, papanya berselingkuh sejak dia masih sangat kecil atau Dinda itu bukan anak kandung papanya, mungkin dia anak wanita itu dengan suaminya terdahulu, batin Alando.
"Alan...?" panggil seorang gadis yang dari tadi cuma tertegun melihatnya tanpa ada keberanian menyapanya dan setelah dia bisa mengatasi keterkejutannya barulah dia memanggil nama Alando. "Alan, aku sangat merindukanmu." gadis itu memeluk tubuh sahabat dari kecilnya itu, sudah lama sekali mereka tidak saling bertemu sejak perpisahan kedua orang tua Alando dan sejak itulah hubungan persahabatan mereka seolah putus.
"Gaby...?" panggil Alando, dia kaget selama ini cuma Meira yang pernah memeluknya. Dan gadis ini...? Teman kecilnya, teman bermain saat mereka masih kecil. Alando memang banyak menghabiskan waktunya bersama dan mereka saling menjaga waktu itu, ada banyak kenangan manis antara mereka.
"Aku senang kau masih ingat padaku? Aku kira kau sudah melupakan aku selama ini." manjanya pada Alando, dia terus bergelayut di tangan Alando.
"Ingatan gue tidak seburuk itu? bahkan gue masih ingat dengan semua keluarga yang pernah gue punya dulu." sindir Alando pada Papanya, yang Alando tau semua keluarga papanya bahkan ikut menjauhi dia dan ibunya setelah perceraian kedua orang tuanya.
"Lan, kami dan mereka semua masih keluargamu." tutur papanya, dia sedih dengan semua yang pernah terjadi. "Papa sudah sangat senang kamu mau kembali." lanjut papanya.
"Iya, aku juga senang, kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti dulu lagi." Gaby tau ada banyak perubahan pada temannya itu, tapi dia berjanji akan mengembalikan Alan seperti teman di waktu kecilnya dulu, yang sangat peduli padanya.
Alando cuma memandang gadis itu lekat, gadis kecil cengeng yang selalu minta perlindungannya saat para sepupu-sepupu mengganggunya.
"Papa senang kalian bisa dekat kembali, dan Papa ingin sekali menjodohkan kalian berdua. Papa ingin melihat kamu menikah secepatnya Alan, sebelum Papa meninggal mungkin ini juga akan menjadi permintaan Papa untuk terakhir kalinya. Bagaimana menurutmu Alan?" tanya papanya dengan suara lemah. "Atau mungkin kalian bisa bertunangan dulu."
"Besok Pa...! Aku akan menyiapkan cincinnya segera." jawab Alando, menuruti permintaan Papanya, mungkin ini akan menjadi satu-satunya permintaan papanya yang bisa dia kabulkan.
Gaby bahagia dengan kata-kata yang barusan Alando ucapkan, dia bisa kembali bersama teman kecilnya lagi selamanya, batin Gaby.
****
Alando baru bisa pulang ke rumah saat jam 21.00 malam. Seharian ini dia juga harus menemani Papanya, Alando berusaha memaafkan Papanya apalagi dengan kondisinya saat ini, mau tidak mau membuat Alando membuang egonya untuk terus membenci papanya.
Ada banyak panggilan dan pesan di telponnya dari gadis lugu yang menemani hari-harinya selama beberapa bulan ini, namun Alando sama sekali tidak mengangkatnya bahkan membalas pesannya pun tidak. Dia belum bisa menemui Meira, ada urusan yang lebih penting yang harus dia selesaikan. Dan besok adalah hari penting untuknya dan papanya.
"Klik... Halo."
"Zaden..."
"Kau yakin dengan rencanamu...?"
"Gue yakin, ini permintaan terakhirnya."
"Oke, gue akan selalu dukung lo Lan."
"Gue mau besok loe datang."
"Oke. Gue pasti datang."
"Klik..." sambungan terputus, apa yang ingin dia bicarakan sudah dia utarakan semuanya.
Alando terus memandangi cincinnya, cincin yang akan mengikatnya seumur hidup, setelah cincin ini tersemat di jarinya maka saat itulah Alando harus bisa menjaga hatinya dari perempuan lain.
"Meira...?" Alando merindukan gadis itu, apakah dia bisa tidak melihat gadis lugunya itu. Gadis yang awalnya membuat dia kesal, heran dan frustasi menjadi satu. Dan kini gadis itu justru membuatnya tidak bisa bernapas saat dia jauh darinya.
****
Hari ini adalah hari pertunangannya, dan itu adalah permintaan papanya. Dia sudah mempersiapkan segalanya dari cincin bahkan mentalnya. Pertunangannya memang agak siang karena papanya saat ini masih menjalani kemoterapi.
"Haahhh..." Alando menarik napas dalam, mempersiapkan dirinya. Keputusan yang akan menjadi titik balik hidupnya, Alando berharap dia mampu menjalani perjalanan hidup kelak bersamanya.
Alando memasuki kamar rumah sakit tempat Papanya dirawat, cuma ada beberapa keluarga yang hadir. Papanya dan Dinda, tante Yuma dan Om Fandi selaku sepupu Papanya dan Gaby anak mereka sekaligus teman kecilnya. Juga ada saudara Papa yang sudah tidak pernah Alando lihat lagi sebelum hari ini.
"Alan...?" mereka tersenyum menyapa Alando, hanya saja dia terlalu canggung menghadapi keluarganya itu. Setelah perceraian kedua orang tuanya, sudah tidak ada komunikasi sama sekali antara mereka sekeluarga. Hingga Alando cuma tersenyum ramah untuk membalas sapaan mereka yang adalah om dan tantenya sendiri.
"Alan...?" Gaby tampil cantik dengan gaun elegan berwarna peachnya. Dia mendekat ke arah Alando dan tersenyum padanya sedangkan Alando hanya terdiam terpaku oleh kenangan masa kecil mereka.
"Oke, bagaimana kalau pertunangannya kita langsungkan sekarang." ucap Om Rendrawan saudara Papanya, saat ini keinginan papanyalah yang menjadi prioritas mereka karena entah besok apakah Papanya masih bersama mereka.
Vote, like dan koment ya...
Mudah-mudahan entar malam bisa up ya.