Meira

Meira
BAB. 25



Selama di mobil dalam perjalanan pulang, Meira cuma menangis dan menyebut nama kak Al Alnya. Dan semenjak kenal kak Al Al nya, tidak pernah sekalipun Meira mendapatkan tatapan kebencian bercampur kecewa seperti itu apalagi sampai dibentak nyaring. Paling-paling dia hanya mendapat tatapan kekesalan Alando yang bagi Meira itu tidaklah menyeramkan.


"Kak Al Al marah sama Meira." tangisnya, dan cuma bisa mengadu sama kak Zad Zad saja sekarang.


"Nanti kakak akan bicara sama Alando, kamu tenang saja." Zaden berusaha menenangkan Meira supaya berhenti menangis.


"Tapi Meira nggak kenal sama orang tadi, dia jahat sama Meira. Meira cuma kenal sama Ami, karena Ami baik." Meira sebenarnya tidak terlalu ingat juga tentang Ami sebagai teman SMAnya tapi karena Ami selalu menemaninya terapi di rumah sakit, sedikit demi sedikit Meira ingat tentang Ami tapi cuma beberapa ingatan, tidak semuanya.


"Ami teman Meira?" tanya Zaden, ingin tahu.


"Iya, Ami teman Meira dari SMA, dan Meira cuma ingat sedikit. Tapi orang tadi juga bilang dia pacar Meira dari SMA tapi Meira nggak kenal." jujur Meira yang masih sesenggukan.


"Kenapa Meira cuma ingat sedikit?" bingung Zaden, masa Meira sepelupa itu hingga lupa dengan teman SMAnya. Bahkan sekarang saja Zaden masih ingat dengan teman SDnya.


"Kata Ayah Ibu, Meira itu sakit habis kecelakaan jadi lupa banyak hal. Meira juga lamaaa... banget diobatin di rumah sakit itu, dan rasanya sakit. Meira suka menangis kalau di sana." jelas Meira lewat ingatannya selama di rumah sakit. Sedangkan Zaden mencoba untuk mencerna omongan Meira.


"Oh jadi Meira pernah kecelakaan mobil?" oke. Sekarang Zaden mengerti situasinya dan kenapa Meira tidak kenal dengan orang itu, padahal mereka saling kenal dan pernah berada di sekolah yang sama.


"Iya. Meira sangat kesakitan setiap hari di sana." saat sadar dari komanya Meira memang sulit menggerakan tubuhnya, apa lagi dengan tangan yang patah serta kepalanya yang mengalami gegar otak.


Kini Zaden sudah sampai di depan rumah Meira, namun Zaden langsung balik setelah mengantarnya. Dia harus menemui Alando dan mencoba untuk menjelaskannya.


Kantor sepi tidak seperti biasanya banyak candaan yang memenuhi ruangan itu, sedari tadi tidak ada yang berani menegur Alando bahkan hanya sekedar menyapanya saja sudah membuat mereka takut, entah kenapa aura Alando sangat menyeramkan kali ini. Bahkan Kenny dan Christ yang biasanya banyak bacot kali ini tidak berani untuk membuka mulutnya. Hanya suara ketikan keyboard dan suara gesekan kursi yang terdengar.


"Lan kita perlu bicara?" minta Zaden, dia baru datang ke kantor setelah mengantarkan Meira ke rumahnya. Kini semua mata tertuju pada mereka dengan rasa penasaran yang mengisi otak mereka masing-masing. Untuk sesaat Alando mengalihkan matanya dari komputer dan beralih ke arah di mana Zaden berada.


"Kalau itu soal Meira, gue nggak mau membahasnya sekarang. Tidak saat ini, please jangan sampai gue juga emosi sama loe!" tutup Alando dan mengembalikan fokusnya saat ini pada komputernya.


"Oke. Kita akan membahasnya saat loe sudah merasa tenang." tepuk Zaden pada bahu Alando menyerah, mungkin ini bukan waktunya. Ini sama seperti saat masa-masa Alando baru kehilangan ibunya, dia bahkan tidak mau berbicara beberapa minggu dan langsung emosi saat ada orang yang mengajaknya bicara. Zaden akan membiarkan Alando lebih tenang dulu sampai emosinya sudah stabil.


 


* * *


 


"Kak Al Al..." panggil Meira pelan tidak seperti biasanya ceria saat melihat orang yang di sukainya ada di depannya. Meira sengaja menunggu kak Al Al nya di parkiran biasa yang Alando gunakan. Namun Alando cuma menoleh sekilas tanpa mempedulikan Meira yang berdiri di dekatnya. Dengan muka kesal Alando melewati Meira begitu saja tanpa menyapa apalagi menggandeng tangannya seperti biasa. Tes... tes... lagi air mata Meira terjatuh untuk kesekian kalinya, padahal semalaman dia juga tidak berhenti menangis sampai-sampai matanya sembab untung orang tuanya dan Rado tidak menyadarinya. Meira tidak mau kalau Radodo nanti marah sama kak Al Alnya.


"Meira..." ucap Alando namun lirih sehingga semut pun tidak bisa mendengarnya, di tengah jalannya dia memalingkan tubuhnya melihat Meira yang duduk di pinggir taman parkiran dan menunduk, dia tahu Meira pasti sedang menangis, inginnya dia menghampiri Meira dan memeluk gadis itu, karena Alando juga sangat merindukannya namun harga dirinya terlalu tinggi. Alando tidak mau menjadi orang ketiga dan merusak hubungan mereka, seperti wanita yang sangat di bencinya itu, wanita perusak hubungan kedua orang tuanya. Meski masih kesal dengan Meira tetap saja hatinya sudah penuh dengan Meira dan tidak mudah buatnya untuk mengabaikan gadis itu begitu saja. Namun dia harus melakukannya, hingga Alando perlahan meninggalkan tempat itu.


 


* * *


 


Sepanjang mata kuliah ini, Meira cuma duduk manis tidak seperti biasanya membuat suasana kelas rame dengan pertanyaan-pertanyaan aneh bin lugunya pada dosen atau pada teman-temannya.


Hingga dosennya pun bingung menjelaskan takutnya Meira malah menyalah artikan penjelasannya. Semua dosen dan teman-temannya sudah mengerti kondisi Meira seperti apa jadi mereka maklum, yang terpenting Meira masih bisa mengikuti mata kuliah yang diberikan.


"Meira kenapa sih...?"


"Nggak tau dari tadi diam aja."


"Terus pagi tadi juga nangis, ditanya nggak mau jawab."


Bisik-bisik mereka bertiga, Meira itu memang menyebalkan kalau lagi mode cerianya tapi kalau lagi diam seperti ini mereka juga tidak suka, mereka lebih khawatir dengan Meira.


"Meira kamu kenapa? Apa cewek sakit kemarin menemui kamu lagi?" tanya Ami cemas, kalau sampai itu terjadi lagi dia pasti akan menarik rambut cewek itu sampai botak.


"Enggak." Meira menggelengkan kepalanya.


"Kak Al Al benci sama Meira, pengen lihat kak Al Al tapi Meira takut nanti kak Al Al tambah benci sama Meira." kini Meira baru lah mau menceritakan kesedihannya saat ini.


"Memang kamu buat salah apa? Pasti kamu bawel deh." tuduh Sany, karena setahunya kak Alando itu tidak suka dengan orang yang banyak omong.


"Huss... biarin Meira ngomong dulu." tegur Ami yang memang sifatnya lebih dewasa.


"Meira nggak bawel kok." marah Meira dengan muka cemberutnya.


"Ok. Sansan yang salah, maaf ya Meira" Sany tidak mau membuat Meira lebih kesal padanya, nggak apa-apa mengalah biar pahala.


"Terus kenapa?" tanya Ami lagi tidak sabar.


"Kemarin ada orang yang ngaku-ngaku pacar Meira tapi kan Meira nggak kenal, terus kak Al Al marah sama Meira karena sudah bohong. Tapi Meira nggak bohong." jujur Meira yang tidak mengerti apa-apa.


"Siapa sih orangnya? entar biar aku pukul kepalanya biar nggak halu lagi." bahkan Sany ikut emosi gara-gara orang itu Meira menangis.


"Siapa...? Siapa...?" Mita ikut penasaran juga nggak sabar menunggu Meira ngomong.


"Lupa." jawab Meira pelan, dia memang mudah lupa dengan nama orang yang tidak di sukainya apalagi orang yang tidak penting buat Meira.


"Yah Meira... Ingat-ingat lagi deh!" suruh Ami, kan dia juga kesal sama tuh cowok.


"Ehmm... oh iya, kemarin kan Sansan doain orang itu biar keseleo kakinya, tapi Tuhan nggak mau dengarin doa Sansan." Meira cuma mengingat kejadian yang menyenangkan buatnya.


"Hah...?" Sany saling berpandangan dengan Mita mengingat-ingat kejadian kemarin.


"Reno...?" tanya mereka berdua bersamaan.


"Iya, dia jahat. Dia bilang dia pacar Meira sejak SMA tapi Meira nggak ingat. Meira cuma ingat Ami."


"Apa...? Maksudnya Reno..." Ami sudah tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi, dia cuma tau satu Reno di SMA nya, yaitu Reno Nigara kakak kelasnya waktu SMA. Seseorang yang pernah dia sukai sekaligus orang yang menyebabkan dia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah membuat Meira celaka. Meskipun kesalahan sepenuhnya memang ada pada dirinya dan Ami mengakui itu.


"Kalian bertemu dimana?" tambah Ami.


"Dia salah satu pemain basket tim lawan kampus kita, Satria Andalan." sahut Mita yang kini membuka video di handphonenya, dia ingat kemarin sempat mengambil beberapa video saat mereka bermain basket. Tujuannya sih ingin upload di IG nya namun belum sempat.


"Nih..." Mita memperlihatkan video itu kepada Ami. Jujur itu membuat Ami kaget, kenapa dia harus melihat orang ini lagi tak habis pikir rasanya. Reno selalu mengingatkan dirinya akan kesalahan yang dia perbuat pada Meira. Karena itu Ami membenci Reno.


"Reno orang yang dulu pernah aku ceritakan sama kalian, cowok yang pernah menyatakan cintanya pada Meira saat SMA dan setelah itu kalian tahu sendiri kan?" tatapnya kepada kedua temannya itu.


"Oh, jadi ini orangnya. Pantas sejak awal aku nggak pernah suka sama nih orang." kesal Sany, rasanya dia pengen nyumpahin si Reno-Reno itu jadi katak.


"Meira, dia ini kak Reno, kakak kelas kita saat SMA dulu tapi dia ini bukan pacar kamu. Aku, kamu dan kak Reno dulunya kita berteman." Jelas Ami sambil menunjuk orang yang ada di video tersebut.


"Berarti dia bukan pacar Meira?" Meira terlihat senang, artinya dia nggak bohong sama kak Al Alnya.


"Bukan." sahut Ami, entah kenapa kak Reno bisa mengatakan hal bohong seperti itu pada Meira, memanfaatkan amnesia yang di alaminya. Bodoh, kenapa juga dia pernah suka pada lelaki itu.


"Berarti Meira bisa sama kak Al Al lagi?" tanya Meira lagi memandang Ami dan kedua temannya dengan wajah yang kembali berseri.


"Kalau itu... Kita coba bantu jelasin nanti deh." jawab Ami ragu, gimana cara menjelaskannya coba, menemui kak Alando saja dia takut.


"Serius...? Kalian aja deh." suruh Mita pada Ami dan Sany.


"Yah kok aku juga sih? Ami aja." Sany ikut menolak, takut juga sama aura hitamnya kak Alando.


"Kalian juga lah, harus setia kawan dong!" kini mereka malah saling berdebat satu sama lain, menentukan siapa yang akan menemui kak Alando itu pun kalau mereka tidak diusir lebih dulu, pikir Ami.


Vote, like dan coment yaa.